
Monaliza melangkah terburu-buru memasuki ruang rawat Leon, ia masih belum percaya pada berita yang ia dengar sebelum melihatnya sendiri. Langkah kakinya mulai melambat, saat melihat Keny yang telah mengabarkan kematian Leon padanya lewat telepon sedang menangis dalam pelukan Nadine isterinya.
Sementara itu tuan Gamnsonrich tengah duduk diam dengan pandangan kosong menatap pada Monaliza yang baru saja tiba. Dokter yang menangani Leon-pun, ia masih berada diruangan itu dan baru saja memberi penjelasan tentang kematian Leon pada pria paruh baya itu.
Tangan Monaliza berhasil menyentuh kenop pintu dan mendorongnya pelan. Air matanya langsung jatuh berderai tatkala melihat tubuh Leon terbujur kaku diatas ranjang pasien, masih sama saat ia meninggalkannya beberapa jam yang lalu, hanya bedanya waktu ia tinggalkan Leon masih koma walau belum sadar. Sedangkan sekarang monitor kondisi vital ICU sudah menampilkan garis lurus tanpa ujung.
Tubuh nyonya Gamsonrich yang tengah bersimpuh dilantai, dibawah ranjang pasien dimana Leon berada, spontan berdiri ketika melihat kehadiran Monaliza.
"Perempuan pembawa sial! Semua malapetaka ini karena dirimu!" seru nyonya Gamsonrich menatap Monaliza penuh dendam.
"Untuk apa kau kemari? Kau yang menyebabkan putraku meninggal! Pergi dari sini sekarang!" usir nyonya Gamsonrich menyeret tangan Monaliza dengan kasar dan mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"Mama jangan kasar seperti itu, Keny yang menelpon Monaliza supaya dia bisa melihat Leon untuk terakhir kalinya Ma," ucap Keny seraya menangkap tubuh Monaliza supaya tidak roboh kelantai.
"Andai saja kau tidak mendukung wanita itu dekat dengan Leon, adikmu itu pasti masih hidup!" sesal nyonya Gamsonrich pada putra sulungnya itu sambil menangis histeris.
"Kau! Perempuan hina dan miskin! Aku sangat membencimu!" setelah berkata demikian, nyonya Gamsonrich kembali menyerang Monaliza yang ada dalam dekapan Keny.
"Cukup Ma! Cukup!" cegah Keny, dengan sekuat tenaga ia berusaha melindungi Monaliza hingga membuat tubuhnya harus limbung kekiri dan kekanan demi menghindarkan Monaliza dari amukan ibunya.
"Ma, kendalikan dirimu Ma!" tegur tuan Gamsonrich yang turut masuk ke ruang dimana Leon berada. Kegaduhan yang ditimbulkan isterinya itu membuat dirinya dan sang dokter berlari masuk keruangan itu.
"Perempuan itu yang sudah menyebabkan putra kita meninggal Pa! Jadi dia juga harus mati!" seru nyonya Gamsonrich menjawab teguran suaminya, setelah berkata demikian, ia kembali menyerang Monaliza. Ia menarik tangan Monaliza supaya bisa terlepas dari dekapan Keny yang tetap berusaha memberi perlindungan.
Monaliza yang diperlakukan demikian hanya bisa menangis menahan rasa takutnya sambil memeluk Keny dengan erat.
"Mohon berhenti Nyonya! Jangan lakukan itu pada calon isteri saya," ucap Dirga yang tiba-tiba muncul dan berdiri diambang pintu. Ia sudah menduga hal itu akan terjadi, mengingat ibu Leon yang sangat tidak menyukai Monaliza, itu sebabnya ia segera menyusul.
__ADS_1
Semua orang yang ada didalam ruang rawat menatap kearah Dirga, pria itu mendekati Monaliza yang telah melepaskan dirinya dari dalam pelukan Keny.
"Baguslah bila pak Dirga sudah ada disini," nyonya Gamsonrich menatap Dirga dingin sambil memperbaiki posisi berdirinya.
"Bawa pergi calon isterimu ini, dan jangan pernah membiarkan perempuan ini muncul dihadapan keluargaku lagi. Aku sudah sangat muak melihat wajahnya," tutur nyonya Gamsonrich.
"Ayo kita pulang," ajak Dirga memandang Monaliza yang berdiri disampingnya.
"Tolong beri aku kesempatan untuk bertemu Leon untuk terakhir kalinya Pak," pinta Monaliza memohon.
Mendengar permintaan Monaliza, Dirga merasa kasihan pada ibu calon bayinya itu, walau dilubuk hatinya ia tidak terima akan perlakuan kasar ibu Leon pada Monaliza dan ingin segera membawa pergi calon isterinya dari sana.
"Tuan dan Nyonya Gamsonrich, tuan Keny dan nona Nadine, saya mohon ijinkan Monaliza untuk melihat mendiang tuan Leon dari dekat," ucqp Leon memohon.
"Saya janji, setelah ini Monaliza tidak akan menunjukan dirinya dihadapan keluarga Tuan dan Nyonya lagi," imbuh Dirga lagi sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dada dengan sikap hormatnya.
"Apa maksud Papa mengijinkan perempuan itu-" kata nyonya Gamsonrich tidak setuju.
"Cukup Ma, Monaliza hanya ingin melihat mendiang Leon untuk terakhir kalinya," potong tuan Gamsonrich menatap isterinya penuh tekanan.
"Monaliza, temuilah Leon," suruh tuan Gamsonrich. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Semalam, saat Leon membawa Monaliza menemui dirinya dan isterinya, ia dapat melihat betapa besar cinta putranya pada gadis itu.
"Terima kasih Tuan," ucap Monaliza senang dengan wajah sembabnya menatap ayah Leon. Sebelum melangkah pergi, ia menatap sebentar kearah Dirga. Dirga yang turut memandang Monaliza menganggukan wajahnya pelan, seakan mengerti Monaliza meminta ijin padanya menemui Leon.
Setelah mendapatkan sinyal persetujuan, Monaliza melangkah pelan mendekati tubuh Leon yang terbaring diranjang pasien. Peralatan medis masih bergelayut ditubuhnya dan belum dilepas oleh para perawat.
Tatapan Monaliza kembali berkaca-kaca saat melihat tubuh Leon yang terbujur kaku, wajah pria yang pernah menjadi kekasihnya itu nampak pucat, tidak ada senyum yang tersungging lagi disana, cahaya wajahnya sudah hilang tanpa sisa.
__ADS_1
Monaliza kembali membanjiri pipinya dengan air matanya yang berderai mengingat kebersamaannya dengan Leon selama ini. Pria itu begitu baik, dan selalu berusaha memberikan rasa aman padanya disaat ada orang yang hendak berbuat jahat padanya.
Kini, pria yang berusaha melakukan semua hal baik sesuai kemampuannya itu sudah pergi meninggalkan kenangan dan kesedihan dihatinya.
"Leon," lirih Monaliza setengah berbisik.
"Kenapa kau pergi meninggalkan kami tanpa pamit? Dan menutup usia secepat ini Leon?" gumam Monaliza, suaranya bergetar dan nyaris tidak terdengar, kerongkongannya terasa tercekat menahan tangis.
"Leon, kenapa Kau menyerah?!" suara Monaliza yang bergetar tiba-tiba terdengar lantang, ia meluapkan perasaan sedihnya, Leon memang sudah bukan kekasihnya, tetapi Leon tetaplah sahabat baginya. Tangisnya akhirnya tumpah dan menggema memenuhi ruangan itu.
Semua yang ada disana memandang kearah Monaliza yang berdiri disamping pembaringan Leon termasuk Dirga.
"Leon ini bukan dirimu! Kau bukan pria lemah!" Teriak Monaliza terbawa perasaan.
"Perempuan itu-" nyonya Gamsonrich nampak kesal melihat tingkah Monaliza pada putranya.
"Ma biarkan saja, diamlah dan tenang disini, biarkan Monaliza meluapkan isi hatinya," tegur tuan Gamsonrich merangkul bahu isterinya supaya tidak pergi mengganggu Monaliza.
"Papa selalu saja begitu," gerutu nyonya Gamsonrich pada suaminya dengan raut kesal lalu membungkam kembali mulutnya.
"Bangun Leon! Bangun!" Monaliza terus meracau, ia berkata seolah pria yang sedang berbaring kaku itu hanya sekedar tiidur atau sedang koma saja.
"Ini bukan dirimu Leon! Ayo bangun! Kau bukan pria lemah! Kenapa Kau tidak bersikap seperti Leon yang kukenal! Ayo bangun Leon!" Tanpa terasa tangannya menggoyang-goyang tubuh Leon dengan kuat membuat nyonya Gamsonrich yang melihatnya menjerit geram.
"Hentikan ulah bodohmu itu perempuan tidak tahu diri! Bukankah kau yang menyebabkan putraku itu meninggal?!" teriaknya. Monaliza tidak perduli, ia seakan-akan tidak mendengar teriakan marah ibu Leon dan terus saja meracau, mengungkapkan apa yang ingin ia katakan sambil terus menggoyang tubuh Leon dengan hebatnya.
Sementara Dirga terus waspada akan segala kemungkinan yang terjadi, bila tiba-tiba calon isterinya itu kembali diserang oleh ibu Leon.
__ADS_1