
Dirga dan Firans baru saja pulang dari makan siang, keduanya sudah mulai berkutat dengan pekerjaan yang begitu rumit.
Bagaimana tidak rumit, perusahaan yang sedang dipimpin oleh Dirga surya, yang baru saja berusaha move on dari perkabungannya, sudah tidak memiliki uang kas direkening perusahaannya.
"Pihak marketing menggonggong meminta kita memenuhi unit-unit baru pesanan para konsumen, bila tidak segera dipenuhi, uang yang sudah disetor sebagai uang muka akan ditarik kembali oleh konsumen bersangkutan." Jelas Firans sambil menjelaskan banyaknya pesanan konsumen yang telah diajukan team marketing pada manager marketing dari layar laptopnya.
"Bila uang mukanya ditarik, pihak finance tidak memiliki kas untuk mengembalikannya Dirga," imbuh Firans.
Dirga menatap layar laptop dihadapannya, memperhatikan semua laporan yang dijelaskan oleh Firans padanya satu demi satu.
Pantas saja ayahnya tadi pagi bersikeras membawanya mengobrol mengenai perusahaan mereka.
Ia tidak mengangka, ketidak perduliannya pada perusahaan dalam waktu hanya dua puluh hari perkabungannya membuat perusahaan yang dirintis oleh ayah dan ibu-nya terancam bangkrut dalam tempo yang singkat.
Firans terus berkicau tanpa lelah, memberikan penjelasan secara terperinci pada Dirga, karena ada banyak yang harus ia laporkan selama Dirga meliburkan dirinya.
"Firans, bisakah kau berhenti sejenak? Kepalaku seakan mau pecah mendengar semua kekusutan ini," kata Dirga sambil memijit keningnya yang terasa pusing dan berdenyut.
"Baiklah," sahut Firans, ia dapat memaklumi keadaan Dirga. Pria dihadapannya itu baru saja berusaha bangkit dari keterpurukan dukanya, kini harus menghadapi perusahaan yang sedang bermasalah dengan keuangan.
Ia menyandarkan punggungnya yang lelah dikursi kebesarannya, yang dulu ia idam-idamkan, saat melihat ayahnya sangat berkharisma ada disana.
Dua tahun menggantikan ayahnya, Dirga mampu membawa perusahaan ayahnya itu berkembang lebih maju, prestasi yang sangat baik ia ukir selama sejarah perusahaan Surya Otomotif berdiri.
Dirinya sangat membuat ayahnya bangga saat itu. Namun, kecelakan tunggal yang mengakibatkan meninggalnya Megan, tunangan Dirga, secara singkat membuat perusahaan yang menjadi tanggung jawabnya langsung merosot secara drastis.
Belum sembuh benar kemelut duka yang ia alami, kini dirinya harus berhadapan dengan kerumitan masalah keuangan yang menjadi dasar bergeraknya aktifitas perusahaannya.
Bagaimana caranya ia harus membangkitkan perusahaan ini seperti yang pernah ia lakukan dahulu, tentu tidak mudah. Bisa saja ia akan benar-benar membuat perusahaan ayahnya itu bangkrut ditangannya bila ia salah mengambil langkah.
Tok! Tok! Tok!
Dirga dan Firans sama- sama melihat kearah pintu.
"Masuklah!" kata Dirga mempersilahkan.
Begitu pintu didorong dari luar, muncul wajah Hardi Surya, Ayah Dirga didepan pintu, ia segera melangkah masuk mendekati Dirga dan Firans yang tengah sibuk dengan fikirannya masing- masing.
__ADS_1
"Papa?!" Dirga langsung menegakan punggungnya yang tengah bersandar dikursi kerjanya.
"Papa kemari, karena mendengar kau akhirnya mau turun berkerja kembali Dirga," ucap Hardi yang sudah berada didekat Dirga dan Firans.
"Papa senang sekali," Ungkap Hardi dengan menyunggingkan senyum tipis dibibirnya.
"Maafkan Dirga pa, sudah membuat perusahaan yang papa bangun ini menjadi seperti ini," sesal Dirga dengan wajah menyesal.
"Sudah-lah, tidak mengapa Dirga. Semoga ini menjadi pelajaran buatmu, bahwa kau jangan terlalu berfokus pada kesedihanmu saja, hidup harus terus berjalan," kata Hardi berusaha menyemangati putranya.
"Iya pa," sahut Dirga lirih.
"Apakah kau sudah memikirkan, tindakan yang akan kau ambil Dirga?" tanya sang ayah.
"Aku belum tahu pa, aku belum pernah melewati situasi seperti ini," sahut Dirga. Ia memang masih merasa bingung.
Bagi Dirga, tanpa adanya dana yang cukup dalam kas perusahaannya, itu sangat menyulitkan dirinya bergerak, apapun tindakan yang ia lakukan, tidak terlepas dengan namanya uang, fikirnya.
Dan uang yang ia perlukan saat ini tidak ada, karena penjualan yang sedang menurun akibat unit yang diinginkan para konsumen yang telah memesannya belum dikirim oleh distributor yang menunggu pihak perusahaan Surya Otomotif menyelesaikan tungakan-tunggakan yang telah jatuh tempo.
"Coba kau cek, berapa stock unit mobil dan sepeda motor yang masih kau miliki," kata Hadi menatap wajah putranya.
Dirga segera melihat stock terbaru yang telah dikirim oleh Firans lewat emailnya. Ia terhenyak, tidak pernah stock mobil melebihi dari tujuh ribu unit, dan stock sepeda motor melebihi dari dua belas ribu unit, belum lagi sparepartnya.
"Jadi kau tahu 'kan? dimana uang perusahaan ini berada sekarang?" kata Hardi masih bersikap santai saat melihat Dirga tepana menatap layar laptopnya.
"Perputaran dana perusahaan kita tidak lancar, karena tertahan disana, pada banyaknya stock unit yang belum terjual itu," lanjut Hardi.
"Papa percaya, kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan sekarang Dirga." Hardi mengulas senyumnya sambil menepuk lembut punggung putranya.
"Kau punya waktu 8 hari sebelum akhir bulan, untuk mengubah stock unit-mu itu menjadi uang untuk membayar gaji para pegawaimu dan semua tunggakan tagihan pada distributor." kata Hardi lagi.
"Terima kasih pa, Dirga mengerti," sahut Dirga yang akhirnya bisa mengulas senyumnya.
"Papa kembali keruangan papa dulu, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian berdua," kata Hardi sambil berlalu meninggalkan Dirga dan Firans.
"Firans, panggil manager Davien Bare kemari," pinta Dirga pada asistennya itu.
__ADS_1
"Baik," sahut Firans, ia lalu meraih gagang telepon dari atas meja kerja Dirga dan mulai menekan nomor yang ia tuju.
"Manager Davien, anda diminta menemui pak Dirga diruangannya," ucap Firans, sesaat setelah teleponnya tersambung.
Setelah mendengar jawaban dari Manager Davien Bare, Firans menutup teleponnya dan meletakan kembali gagang telepon diatas meja. Ia lalu duduk dimeja khusunya bila berada didalam ruang kerja Dirga.
Tidak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu.
"Masuklah!' ucap Dirga.
Pintu terbuka, seorang pria setengah baya masuk, dan mendekati meja kerja Dirga.
"Pak Dirga memanggil saya?" tanya pria itu.
"Iya, silahkan duduk manager Davine," sahut Dirga.
"Terima kasih," ucap pria yang dipanggil manager Davine itu lalu duduk pada kursi yang ada dihadapan meja Dirga.
"Apa kendala manager Davien dalam pekerjaan?" tanya Dirga pada pria yang telah duduk dihadapannya itu.
"Anggota marketing saya memerlukan unit untuk memenuhi pesanan para konsumennya." sahut manager Davien.
"Para konsumen itu sudah meminta pengembalian uang muka mereka yang sudah mereka masukan kekasir, bila besok mereka tidak mendapat unit yang mereka pesan," imbuh manager Davien.
"Saya seolah diteror setiap hari selama dua minggu terakhir, semenjak pak Dirga tidak masuk,' keluh manager Davien dengan wajah lesu.
"Dan pak Firans-," manager Davien menoleh sejenak pada asisten Firans yang duduk dimeja khususnya yang ada disudut ruang kerja Dirga.
"Ia tidak bisa memberi solusi akan kebutuhan team marketing saya selama pak Dirga tidak berada dikantor," kata manager Davien melanjutkan ucapannya.
Dirga melirik sekilas kearah Firans, asisten dan sekaligus sahabat kentalnya itu. Ia merasa, ucapan manager Davien Bare menyudutkannya. Pegawainya itu secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya-lah yang menjadi penyebab tersendatnya pekerjaan manager Davien bersama team marketingnya.
Sementara Firans, ia tetap fokus pada pekerjaanya, walaupun ia mendengar ucapan manager Davien juga menyudutkannya.
"Manager Davien, aku memintamu untuk membuka stcok unit terbaru," kata Dirga menatap datar kearah manager marketingnya itu.
Manager Davien Bare menurut, ia membuka tablet yang sengaja ia bawa setiap kali menemui atasannya itu.
__ADS_1