
"Monaliza, tolong lepaskan tanganmu, aku sulit bernapas," pinta Dirga. Monaliza menurut, ia melonggarkan pelukannya, dan melepaskan tangannya dari tubuh Dirga.
"Aku bukan Leon, aku Dir-,"
Cup.
Dirga tidak bisa melanjutkan kata-katanya, ketika ia membalikan tubuhnya menghadap Monaliza untuk memberi penjelasan, bibir gadis itu sudah menempel pada bibirnya sambil melingkarkan tangannya dileher Dirga.
Dirga terkesiap, ia tidak menduga mendapat serangan Monaliza yang tiba-tiba. Tubuhnya terpaku merasakan sentuhan Monaliza yang terasa liar ******* bibirnya, namun ia tidak berusaha menolak.
Untuk sesaat lamanya Dirga tidak bereaksi, walau bersikap pasif, namun ia tetap menikmatinya. Dirga mendorong tubuh Monaliza pelan hingga menempel pada dinding dibelakang gadis itu.
Tautan bibir keduanya tidak terlepas, bahkan saling memagut satu sama lain. Dirga meraba paha dan naik keatas. Jantungnya berdegup kencang saat merasakan sudah tidak ada pembungkusnya lagi disana.
Erangan Monaliza terdengar hampir seperti bisikan, saat tangan Dirga menelusup ke area sensitifnya, membangunkan juniornya yang meronta-ronta ingin menembus keluar dari sarangnya.
"Megan," lirih Dirga, saat berhasil membawa tubuh Monaliza kepembaringan, wajah dibawah kungkungannya itu membuatnya ingin segera melepaskan rindunya yang selama ini tersimpan didadanya.
"Leon, agghh" rintihan itu terdengar pilu, saat sesuatu menembus tubuhnya dengan tersendat-sendat, terasa sangat ngilu.
...***...
Leon berjongkok dengan menekukan salah satu lututnya kelantai lorong hotel, saat dilihatnya benda kain segitiga teronggok tidak jauh dari kamar hotel Monaliza.
"Bagaimana mungkin pemiliknya tega menelantarkan barang keramatnya ini begitu saja ditempat umum seperti ini," batin Leon, ia kembali berdiri tegak, tidak berani menjamah sedikitpun barang yang terhampar dilantai itu. Leon menuju pintu kamar, mengeluarkan access card dari saku-nya lalu menempelkannya ditempat semestinya.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu terbuka, suasana kamar Monaliza terasa tenang dan penerangan masih redup. "Syukurlah, Mona sudah bisa tertidur," gumam Leon didalam hati, ia merasa lega, terakhir ia meninggalkan Monaliza, kondisi gadis itu sangat memprihatinkan.
"Apa ini?" Leon memperhatikan benda yang terinjak oleh sepatunya, ia sedikit berjongkok meraih kain yang teronggok dilantai saat ia menutup pintu kamar.
"Bukankah ini gaun Monaliza," Leon mengernyitkan keningnya sambil berfikir sejenak. Perasaannya tiba-tiba tidak enak, ia segera mendekati tempat tidur. Perasaannya semakin terasa tidak enak saat melihat pakaian pria berhamburan dilantai, disisi tempat tidur.
"Bajingan!" Pekik Leon, ia langsung menghajar pria yang berbaring disisi Monaliza tanpa ampun.
"Agghhh," Dirga yang baru saja akan terlelap karena kelelahan akibat adegan panasnya dengan Monaliza beberapa menit yang lalu tersentak kaget mendapat pukulan bertubi-tubi dari Leon. Ia dengan sigap menangkap tangan Leon yang masih hendak memukul wajahnya lagi.
"Kau! Bagaimana kau bisa ada disini?!" tanya Leon, ia begitu terkejut saat menyadari pria yang bersama Monaliza diranjang itu adalah Dirga, bos kekasihnya.
Sementara, Dirga juga tidak kalah terkejutnya, ia menatap heran pada Leon lalu beralih pada Monaliza yang telah tertidur pulas terbungkus dengan selimut tebal disampingnya, tanpa terganggu sedikitpun akan keributan yang diciftakan oleh kedua pria beda usia itu.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada disini, dikamarku dan Megan!" ucap Dirga merasa marah pada Leon yang mengganggu dirinya dan tunangannya.
Dirga terpelating jatuh kelantai dibawahnya, tanpa satu benang-pun yang menempel ditubuh polosnya.
"Kau benar-benar bajingan! Jangan bilang kau sudah meniduri kekasihku," emosi Leon sudah memuncak saat melihat kenyataan didepan matanya, hatinya begitu sakit. Tanpa pikir panjang lagi, ia kembali menghajar Dirga tanpa ampun. Dirga yang tidak siap akan serangan Leon, karena masih dipengaruhi oleh alkohol, dibuatnya babak belur dan terkapar dilantai hingga tak berdaya.
"Pergi! Pergilah sekarang dari sini, sebelum aku membunuhmu!" teriak Leon marah dengan nafasnya yang memburu.
Dirga menggerakkan tubuhnya yang terasa sulit digerakan, namun ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk bangkit, dan mengenakan pakaiannya yang terhampar dilantai kamar dengan susah payah.
Dengan langkah sempoyongan, ia mendekati Leon yang masih menatapnya tajam sambil mengatur nafasnya yang masih memburu menahan amarah yang semakin memuncak sampai ke ubun-ubun.
"Hei Leon! Bukan aku, tapi kau yang harus pergi dari sini. Megan itu tunanganku, kau jangan berani-beraninya mendekatinya," ucap Dirga sambil memegang erat krah baju Leon, tapi tubuhnya terlihat lemah hampir terjatuh.
__ADS_1
"Persetan dengan Megan-mu! Kalau kau tidak segera enyah dari sini, aku pastikan akan melenyapkanmu!" Leon menarik tubuh Dirga yang sempoyongan kearah pintu, lalu mendorongnya keluar dengan kasar hingga terpental dan terkapar dilantai lorong hotel.
Braakkk!
Dengan keras, Leon membanting pintu, ia sama sekali tidak perduli pada Dirga yang sudah berada diluar kamar. Tubuhnya melorot lemas kelantai dan tersandar pada daun pintu dibelakangnya. Betapa pedih hatinya, menangkap basah seorang pria yang sudah merenggut kehormatan kekasihnya.
Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya kalau saja tidak mengingat dimana dirinya sekarang berada. Mimpi buruk ini, bagaimana caranya ia harus segera terjaga bila itu benar-benar kenyataan yang harus ia terima.
Leon yang selama ini kuat, melakukan segala sesuatu keinginan orang tuanya tanpa bersungut-sungut dan membantah walau usianya terbilang muda, kini terlihat lemah tidak berdaya. Tanpa terasa ia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan rasa sakit, kecewa, marah, benci, yang berbaur kacau menjadi satu dalam jiwanya.
Untuk sekian lamanya ia larut dalam kekalutannya, berharap apa yang sedang ia hadapi ini adalah mimpi, dan saat bangun semuanya akan baik-baik saja.
Leon mematikan alarm ponselnya yang sengaja ia pasang untuk membangunkan dirinya disetiap pagi buta untuk mempersiapkan dirinya menyambut hari yang baru dalam melakukan pekerjaan. Ia kemudian menghubungi seseorang lewat ponselnya.
"Cepat, berikan rekaman CCTV dilorong lantai enam, antara pukul delapan malam hingga pukul empat pagi ini. Ingat, aku tidak mengijinkan seorang-pun yang menonton rekaman CCTV itu, apa kau mengerti?" ucap Leon datar.
"Berikan padaku, daftar nama para waitress sekaligus foto mereka, yang bertugas dipesta orang tua-ku semalam. Aku tidak akan mentolerir sedikit-pun bila kau dan anak buahmu melakukan kelalaian," ucap Leon masih datar.
Setetelah memutuskan sambungan telelonnya, Leon bangkit dari lantai, ia menuju ranjang dimana Monaliza masih tertidur disana. Di pandangnya wajah kekasihnya yang terlihat lusuh dan berantakan, kembali rasa pedih itu menyusup kedalam hatinya, ia mengepalkan tinjunya dan memukul guling didekatnya berkali-kali, dadanya terasa sangat sesak.
Leon masuk kekamar mandi, ia menenggelamkan dirinya didalam bathtub, berusaha mendinginkan kepalanya yang masih panas.
...***...
"Hallo," terdengar suara lembut seorang wanita dari ujung sambungan telepon. Leon menarik nafasnya dalam, lalu segera mengeluarkannya kembali sebelum memulai obrolannya.
"Hallo bu, ini Leon." ucap Leon, ia berusaha mengatur kata-katanya supaya terdengar setenang mungkin.
__ADS_1
"Leon, kenapa kau tidak membawa Mona pulang semalam? Dan kenapa kau tidak memberi kabar? Ibu sangat khawatir, Mona baru saja keluar dari rumah sakit," terdengar suara cemas dari ibu Bianka, sangat terlihat bila ia sangat menunggu telepon, baik dari Monaliza maupun dari Leon.