
Dirga menatap Monaliza yang masuk ke mobil Leon. Ada rasa tidak nyaman menyelinap didalam hatinya. Bukan itu saja, kata-kata Firans tadi siang kembali terlintas dibenaknya.
Mungkinkah ibu calon bayinya itu akan lebih memilih Leon dibandingkan dirinya. Leon memang memiliki banyak kelebihan dibandingkan dirinya, lebih tajir, tampan, dan tentunya jauh lebih muda darinya yang sudah hampir mencapai usia tiga puluh tahun.
"Tidak perlu ditatap terus, mereka sudah pergi, ayo pulang," Firans yang baru tiba diparkiran menyenggol lengan Dirga dengan lengannya.
Dirga menoleh, "bukankah kau bawa mobil sendiri?" tanya Dirga mengernyitkan keningnya.
"Apakah kau fikir aku mau nebeng pulang denganmu? Aku hanya mengingatkanmu supaya kau tidak lupa pulang karena menatap sepasang kekasih yang telah menghilang dari pandanganmu," sindir Firans lalu berjalan menuju pintu mobilnya.
Sebelum masuk ke mobilnya, Firans berhenti sejenak dan menoleh ke arah Dirga yang juga sudah siap membuka pintu mobilnya.
"Dirga aku melihat ada kecemburuan dimatamu. Bila kau kalah cepat, kau tidak akan mendapatkan pegawai resepsionismu itu,"
"Kau fikir saja Dirga, Leon adalah kekasih Monaliza, kapan saja mereka bisa menikah bila mendapat restu dari orang tua Leon dan Monaliza."
"Aku pernah mendengar ibu Leon tidak menyetujui hubungan mereka, jadi kau masih punya celah untuk mendapatkan ibu calon bayimu itu," kata Firans mengingat pertemuan pertama kali dirinya dengan ibu Leon dirumah sakit waktu itu.
"Dan jangan mengeluh padaku, karena aku sudah mengingatkanmu akan hal ini Dirga," Firans lalu masuk ke mobilnya dan duduk dibelakang kemudi.
Tidak menunggu lama, mobil milik Firans mulai merayap perlahan meninggalkan Dirga yang masih termangu disamping pintu mobilnya yang terbuka memikirkan ucapan Firans yang sukses mengganggunya.
...***...
"Leon, apa ini rumahmu?" tanya Monaliza, ia belum beranjak dari duduknya, menatap rumah Leon dari balik kaca mobil. Mereka tiba dihalaman luas rumah Leon saat malam mulai tiba.
"Iya Mona, aku mau mengajakmu menemui Mama dan Papa," ujar Leon. Ia membantu Monaliza melepas sabuk pengaman dari tubuh kekasihnya itu.
"Leon, aku takut. Aku gugup," Monaliza menatap Leon, wajah cemasnya sangat jelas terlihat.
"Jangan takut Mona, kau bersamaku. Aku ingin segera mendapat restu papa dan mama untuk menikahimu."
"Apakah orang tuamu mau menerimaku?" tanya Monaliza ragu.
__ADS_1
Leon tersenyum mendengar ucapan kekasihnya, hatinya pun sebenarnya merasa cemas, namun tekadnya untuk menikahi Monaliza sudah bulat. Ia berusaha tenang dan mengabaikan rasa cemas dihatinya.
Leon membuka pintu mobil untuk Monaliza, lalu mengulurkan tangannya membantu kekasihnya keluar dari kabin mobil.
Walau sempat ragu, Monaliza akhirnya menyambut uluran tangan Leon. Ia berdiri disamping mobil menatap bangunan yang sangat megah dihadapannya. Ini kali pertama ia menginjakan kakinya disana, rasa gugup semakin menyerangnya.
"Tenanglah Mona, aku akan selalu ada disisimu, kita akan menghadapinya bersama," ucap Leon yang mengerti perasaan kekasihnya itu, didalam hatinya, ia pun sebenarnya merasa cemas dan gugup. Namun ia tetap bertekad membawa Monaliza menemui kedua orang tuanya demi sebuah restu. Tanpa restu orang tuannya, tentu ibu Bianka, calon mertuanya pun tidak akan memberi restu.
Leon menautkan jari jemarinya pada jari-jemari Monaliza, berharap apa yang ia lakukan itu dapat lebih menenangkan dirinya dan Monaliza saat bertemu kedua orang tuanya nanti.
Monaliza mengikuti langkah kaki Leon yang membawanya masuk kerumah megah itu. Didalam hatinya, tidak hentinya Monaliza berdecak kagum memandang rumah besar yang dibalut kemewahan bak istana dijaman modern.
Dari jauh Monaliza sudah melihat sepasang suami isteri sedang duduk di ruang tamu dan memperhatikan kedatangan dirinya dan Leon.
"Selamat malam Pa, Ma," sapa Leon, Monaliza yang berdiri disisnya hanya diam saja, wajahnya masih memperlihatkan kegugupannya.
"Selamat malam," balas kedua orang tua Leon bersamaan. Leon merasa sedikit lega mendengarnya.
Monaliza yang mendapat pandangan tidak biasa dari kedua orang tua Leon semakin bertambah gugup.
"Siapa gadis yang kau bawa ini Leon?" tanya tuan Gamsonrich, ayah Leon, ini kali pertama ia melihat Monaliza.
"Monaliza Pa, kekasih Leon," sahut Leon cepat membuat tuan Gamsonrich sedikit terkejut, tapi tidak dengan isterinya.
"Kekasihmu?" tanya tuan Gamsonrich dengan nada menegaskan, setelah ia sempat memandangi istrinya dengan tatapan bingung, namun isterinya hanya bersikap datar menerima tatapan suaminya.
"Iya Pa, Monaliza kekasih Leon." sahut Leon.
"Hmm, duduklah dulu," ucap tuan Gamsonrich mempersilahkan pada Monaliza dan putranya.
"Jadi apa maksud kedatanganmu membawa kekasihmu ini kemari Leon?" tanya tuan Gamsonrich lagi, pandangannya menatap pada Leon dan Monaliza yang tengah duduk dihadapannya.
"Leon minta restu pada Papa dan Mama untuk menikahi Monaliza," jawab Leon tanpa basa basi.
__ADS_1
"Tidak boleh Leon!" seru nyonya Gamsonrich tiba-tiba. membuat Leon dan suaminya menatap kearahnya. Sementara Monaliza yang sempat melirik sebentar ke arah ibu Leon segera menunduk takut dengan hati berdebar.
"Kau tidak boleh menikahi wanita ini Leon, tidak boleh," kata nyonya Gamsonrich berusaha menurunkan volume suaranya.
"Ma, dengarkan Leon sampai dia selesai bicara," tegur tuan Gamsonrich pada isterinya.
"Tidak bisa Pa. Kita sudah mendengar maksud kedatangan putra kita," sanggah nyonya Gamsonrich dengan wajah tidak suka.
"Papa mengerti Ma, biarkan dulu Leon menyelesaikan perkataanya," ucap ayah Leon dengan gaya bijaksananya seperti biasa.
"Ayo Leon, selesaikan maksud tujuanmu, Papa mau mendengarnya," ucap tuan Gamsonrich pada putranya itu lagi, sementara nyonya Gamsonrich terlihat mendengus kesal.
"Aku minta Papa dan Mama melamar Monaliza untukku, aku mau menikahinya dalam waktu dekat," ucap Leon menatap ayahmya penuh harap.
Tuan Gamsonrich menarik napas dalam setelah mendengar permintaan Leon, ada perasaan berat saat harus memutuskan apa yang harus ia katakan pada putra kebanggaannya itu.
"Leon, maafkan Papa. Papa tidak bisa melamar Monaliza untukmu," ucap pria paruh baya itu hati-hati seraya menatap Leon dan Mlnaliza bergantian.
"Kenapa Pa?" tanya Leon tidak sabar.
"Keluarga kita sudah bersepakat dengan keluarga tuan dan nyonya Wirelles Nongka untuk melakukan perjodohan bisnis, menikahkan dirimu dan putri mereka Nadya, dan malam ini, sebentar lagi mereka akan datang untuk membicarakan rencana kami itu." kata ayah Leon.
"Tapi Leon maunya menikah dengan Monaliza Pa, bukan Nadya," sanggah Leon cepat.
"Maafkan Papa Leon, kami sudah merencanakan ini belasan tahun yang lalu, saat kau dan Nadya masih sama-sama sekolah di Taman Kanak-Kanak," kata tuan Gamsonrich memberi sedikit penjelasan.
"Tidak bisa begitu Pa, itu kesepakatan antara Papa dan Mama dengan keluarga tuan dan nyonya Wirelles Nongka, aku tidak mau," ucap Leon berusaha menolak, sementara Monaliza masih setia menundukkan kepalanya sambil mendengarkan percakapan Leon dan kedua orang tuanya tanpa berani ikut bicara sepatah katapun.
Ayah Leon berfikir sejenak sambil bersandar pada duduknya," Baiklah Leon, katakan pada Papa, apa kelebihan Monaliza selain kecantikannya itu dibandingkan Nadya?" tantang ayah Leon.
"Monaliza-," Leon nampak ragu melanjutkan kalimatnya, ia melirik sejenak kearah Monaliza yang duduk diam disebelahnya.
Dengan lembut diraihnya tangan Monaliza dan menggenggamnya erat,"Monaliza, dia telah mengandung, dan aku harus segera menikahinya," ucap Leon akhirnya, membuat terpana kedua orang tuanya termasuk Monaliza dengan mulut mereka sedikit terbuka.
__ADS_1