
"Silahkan duduk dulu pak Harigo dan pak Bonarly, saya akan menemui pak Dirga terlebih dahulu," ucap Monaliza, mempersilahkan dua tamu itu duduk disofa dekat meja Firans.
"Baik, terima kasih Nona," Keduanya lalu mengambil posisi duduk yang dirasa nyaman menurut mereka, lalu mulai mengobrol dengan Firans.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, terdengar suara Dirga mempersilahkan masuk. Monaliza mendorong pintu pelan dan masuk kedalam ruangan. Tidak lupa ia kembali menutupnya lagi dengan rapat.
"Selamat pagi Pak," Sapa Monaliza sopan seperti biasanya, setibanya ia didepan meja Dirga, CEO-nya itu.
"Selamat pagi," sahut Dirga datar. Pandangannya yang sedang menatap layar laptop kini beralih pada Monaliza yang sudah berdiri dihadapan mejanya, ia menatap pegawai wanitanya itu dengan cermat.
"Pak Harigo dan Pak Bonarly sudah menunggu diruang tunggu pak Firans Pak," ucap Monaliza memberi keterangan, ia berusaha bersikap seperti biasa walau melihat manik mata pimpinannya itu seolah menembus hingga kejantungnya.
"Baik, nanti saya akan segera kesana," sahut Dirga masih datar menatap Monaliza.
"Bila sudah tidak ada lagi, saya permisi untuk kembali berkerja," ucap Monaliza untuk pamit, ia berhatap tidak perlu berlama-lama dengan sikap Dirga yang seperti itu melihatnya.
"Tunggu," Dirga segera menahannya, ketika Monaliza akan membalikkan tubuhnya, berniat segera keluar dari ruang kerjanya. Ia berdiri dari duduknya, melangkah mendekati Monaliza yang masih berdiri didepan mejanya.
"Benar kau sudah tidak sakit lagi?" tanya Dirga semakin mendekat. Monaliza menggeser posisi berdirinya dengan memundurkan dua langkah kakinya kebelakang, ia merasa tidak nyaman karena posisi Dirga sekarang hanya berjarak beberapa jari saja dengan dirinya.
"Iya, saya sudah sehat Pak," sahut Monaliza mengangguk sopan. Tatapan Dirga kearahnya membuat Monaliza sedikit kikuk, karena CEO-nya itu tidak pernah menatapnya seperti itu sebelumnya.
Dirga terdiam sejenak, tatapan matanya turun ke rok mini yang dikenakan Monaliza. "Apakah 'itu-mu' tidak sakit lagi?" tanya Dirga spontan, dengan sorot matanya menatap ke pusat tubuh pegawai perempuannya itu, lalu kembali beralih menatap wajah Monaliza yang nampak kebingungan dibuatnya.
"Maksud pak Dirga apa?" tanya Monaliza tidak mengerti. Ia merasakan bos-nya itu nampak aneh pagi itu, mungkin ia sudah salah makan saat sarapan tadi pagi, batinnya.
"Itu-mu," tunjuk Dirga memperjelas dengan jarinya menunjuk ke rok mini, pada pusat tubuh Monaliza.
Pandangan Monaliza mengikuti arah jari Dirga. Wajahnya langsung memerah, saat melihat jari CEO-nya itu menujuk tepat pada area sensitifnya, seketika matanya membola menatap garang pada Dirga.
__ADS_1
Plakk!
Tangan Monaliza spontan menepis sambil memukul keras jari telunjuk Dirga yang menurutnya tidak sopan itu.
"Agghh!" Ringis Dirga mengangkat tangan kanannya dan menggerak-gerakan jari-jarinya rusuh keudara.
Monaliza hanya menatapnya tanpa merasa bersalah, ia merasa puas karena sudah memberi hukuman pada tangan yang tidak tahu etika itu.
"Monaliza, kau bisa mematahkan jari-jariku kalau begitu caranya," sungut Dirga yang berusaha menahan sakit pada jari-jarinya.
"Itu pelajaran pada tangan yang tidak punya etika dan sopan santun pada tubuh wanita," ucap Monaliza dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, ia merasa geram pada bos-nya yang tiba-tiba bersikap aneh padanya.
""Aku kan hanya menunjuk untuk memperjelas pertanyaanku, bukankah kau sebelumnya tidak mengerti?" Dirga berusaha membela diri, kali ini ia mengusap tangannya yang masih terasa panas dan memerah akibat pukulan telapak tangan Monaliza.
"Apakah pak Dirga memanggil saya kemari hanya bertanya hal tidak penting ini?" Suara Monaliza terdengar marah.
Monaliza mengatur nafasnya yang tiba-tiba memburu, ia berusaha menahan gejolak emosi dalam dadanya, bagaimana mungkin bos-nya itu membahas hal yang terlalu pribadi tentang dirinya.
"Maaf pak, saya keberatan bila Bapak membahas ranah pribadi saya. Apa lagi yang tidak ada hubungannya dengan Bapak," Monaliza berusaha tetap berbicara dengan suara rendah.
"Justru apa yang saya bahas ini adalah hal pribadimu yang ada hubungannya dengan saya, dan saya ingin semuanya jelas."
"Cukup Pak. Diluar sudah ada pak Harigo dan pak Bonarly dari PT. IFF, itu lebih penting dari apa yang kita bahas sekarang, saya permisi." Monaliza bergegas pamit.
"Kau jangan pergi, kita belum selesai," Dirga langsung memegang pergelangan tangan Monaliza, supaya gadis itu tidak dapat pergi dari ruangannya.
"Maaf pak Dirga, ini masih jam kerja, dan saya harus kembali berkerja," Monaliza melirik pergelangan tangannya yang masih dipegang erat oleh bos-nya itu. Perasaan kagumnya pada Dirga selama satu tahun belakangan ini tiba-tiba sirna begitu saja dan berubah menjadi ilfil saat Dirga memperlakukannya seperti itu.
Dirga kembali terdiam, namun ia belum melepaskan tangan Monaliza dari genggamannya. Wajahnya nampak ragu ingin mengungkapkan apa yang telah terjadi diantara mereka, padahal sebelumnya ia sudah bertekad menyampaikan semuanya pagi ini.
__ADS_1
"Pak Dirga, tolong lepaskan tangan saya. Bagaimana bila tiba-tiba ada yang masuk kemari dan melihat ini, tentu akan menimbulkan kesalah fahaman," kata Monaliza pelan.
"Baiklah, maafkan saya," ungkap Dirga akhirnya. Dengan terpaksa ia lalu melepaskan tangan Monaliza, karena ada tamu yang sedang menunggunya diluar.
"Kau boleh pergi sekarang," ucap Dirga.
Tanpa melihat kearah pria itu, Monaliza langsung beranjak menuju pintu dan keluar dari ruangan itu. Dirga menatap kepergian Monaliza, ia mengusap wajahnya kasar setelah Monaliza menghilang dibalik pintu.
"Kenapa aku tidak bisa mengatakan apa yang telah terjadi diantara kami? Kenapa hal itu terlampau sulit untuk aku ungkapkan?" gumam Dirga pada dirinya sendiri.
Kring! Kring! Kring!
"Hallo," sambut Dirga, sesaat setelah ia mengangkat gagang telepon dan menempelkannya pada daun telinganya.
"Pak Harigo dan pak Bonarly sudah lama menunggu diluar, kapan kau kemari?" terdengar suara Firans dari ujung sambungan telepon.
"Baiklah, aku ke sana sekarang," Dirga menutup teleponnya, ia merapikan sejenak penampilannya. Setelah dirasa cukup, ia lalu beranjak keluar menemui para tamunya.
...***...
"Mona, apakah kau baik-baik saja?" tanya Rullina, ketika melihat Monaliza lebih banyak termenung pagi itu.
"Ah, iya. Aku, baik-baik saja Ru, jangan khawatir," sahut Monaliza yang tertangkap basah tengah melamun.
"Syukurlah kalau begitu. Setelah mengantarkan tamu dari PT. IFF itu aku lihat kau lebih banyak termenung, apakah pesona pak Dirga sudah mengalihkan duniamu?" goda Rullina sambil tersenyum, tangannya masik sibuk menulis buku tamu yang sedang ia periksa.
"Ah, kau ada-ada saja Ru. Kita ini pegawai biasa, tidak perlu berfikir yang bukan-bukan pada orang yang menggaji kita," sahut Monaliza.
Didalam Hati sebenarnya Monaliza merasa khawatir, takut dipecat oleh Dirga gara-gara perlakuan kurang sopannya pada bos-nya itu, itulah yang membuatnya beberapa kali terlihat termenung sendiri. Biar bagaimanapun Dirga tetaplah CEO sekaligus pemilik perusahaan dimana dirinya berkerja.
__ADS_1