CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
32. Ingatan Semalam


__ADS_3

"Den Dirga?!" Bibi Mila, asisten rumah tangga keluarga Surya sangat terkejut, saat membuka pintu di pagi buta, melihat wajah majikannya yang babak belur penuh memar didaerah bibir dan rahangnya.


"Apa yang terjadi Den?" tanya bibi Mila dengan mimik khawatir. Ia memapah Dirga untuk masuk dan membantunya duduk disofa tamu. Dirga tidak menjawab apapun, ia hanya terdiam, mengusap bibir pecahnya yang mengeluarkan darah yang sudah mengering.


"Tunggu sebentar ya Den saya ambilkan air panas dulu untuk mengompres wajah Den Dirga," ucap bibi Mila lagi. Ia segera beranjak kebelakang dengan langkah tergesa-gesa, tidak ingin majikannya itu menunggu lama.


Tidak lama bibi Mila sudah kembali, membawa sebaskom kecil air hangat.


"Maaf ya Den, saya permisi untuk mengompres wajah Den Dirga." Dengan hati-hati bibi Mila mulai menyentuh bagian bibi Dirga yang pecah, mengusap pelan darah yang sudah mengering disana. Dirga terlihat meringis. menahan rasa sakit akibat sentuhan kain yang menggosok bibirnya.


"Maaf ya Den bila terasa sakit," ucap bibi Mila berhenti sebentar, kemudian ia melanjutkan mengompres wajah Dirga yang memar lainnya dengan lebih hati-hati lagi.


Begitu selesai, Dirga naik kelantai atas menuju kamarnya. Ia mematut dirinya didepan cermin toilet didalam kamar mandinya, wajahnya memang terlihat banyak memar, terutama didaerah bibir dan rahangnya.


Dirga berdiri dibawah guyuran shower air dingin, untuk membebaskannya dari pengaruh alkohol dan membersihkan tubuhnya yang telah melakukan hal kotor beberapa jam yang lalu.


Walaupun ia sedang mabuk, Dirga masih ingat bahwa ia telah melakukan perbuatan terlarang dengan seorang gadis. Gadis yang ia sangka sebagai Megan itu, telah membuat dirinya terpedaya oleh pesonanya, dalam halusinasinya menganggap gadis itu benar-benar Megan yang selama ini ia rindukan.


Setelah merasa lebih baik, Dirga meraih handuk dan mengenakannya. Ia berjongkok memungut pakaian kotornya yang tergeletak sembarangan dilantai kamar mandi, ia memeriksa CD-nya yang berbau amis dan meninggalkan jejak berupa pulau-pulau kecil disana dan sedikit lendir yang hampir mengering.


"Maafkan aku Monaliza, aku sudah bersalah padamu," gumam Dirga lirih, ia sudah benar-benar bebas dari mabuknya. Ia memasukan semua pakaian kotor itu kedalam keranjang kotor dibawah meja wastafel.

__ADS_1


Dirga keluar dari kamar mandi, menuju kotak obat. Dari sana ia mengambil salep lalu mengolesnya pada setiap luka memar diwajahnya. Ia melirik sejenak jam dinding yang berdenting dikamarnya, menunjukan pukul empat pagi.


Butuh perjuangan bagi Dirga untuk sampai dengan selamat dirumahnya ini. Kondisinya yang dalam keadaan mabuk, memaksanya harus menepikan mobilnya hingga beberapa kali dipinggir jalan, itupun karena beberapa pengemudi yang membunyikan klakson mereka sambil mengumpat kasar saat melihat mobil Dirga yang berjalan serong kekiri dan kekanan sehingga mengganggu pengemudi yang lain. Ya, mobilnya juga ikut mabuk dan sempoyongan sama seperti pengemudinya.


Dirga naik ketempat tidurnya, membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah, ia memejamkan matanya, berusaha untuk tidur, tapi tidak bisa.


Pikirannya melayang, memikirkan seorang gadis yang tidak pernah sama sekali singgah dikepalanya. Bila ia memikirkan seorang gadis, hanya Megan saja yang memenuhi pikiran dan hatinya walaupun tunangannya itu sudah tiada. Tapi kini, ingatannya tentang Megan sudah mulai sirna, terhapus oleh Monaliza yang baru ia tiduri beberapa jam yang lalu.


Dirga hanya membolak-balikan tubuhnya diatas ranjangnya hingga langit menjelang terang. Pria itu memeluk gulingnya, dan membawanya kesana-kemari kemana-pun ia bergerak, seolah tubuh Monaliza yang ia bawa berguling-guling dikasur hotel beberapa jam yang lalu.


Dirga bangkit dari ranjangnya, ia masuk kekamar mandi, dan kembali mengguyur kepalanya menggunakan air dingin, ia berusaha menghilangkan bayang-bayang Monaliza yang terus mengganggunya dengan pose yang menantang.


"Dirga, apa yang terjadi padamu, kenapa wajahmu sampai jadi seperti itu?" tanya ibu Surya khawatir, memandang Dirga yang sedang menarik kursi dihadapannya.


"Apakah semalam kau berkelahi dengan para preman Dirga?" Duga sang ayah turut meneliti wajah putranya yang sedikit membengkak pada bagian bibir dan rahangnya.


"Kami mencarimu Dirga, kau kemana saja? Saat Firans mengatakan kau pergi ketoilet, kau tidak kembali lagi sampai pesta usai," ujar ibu Surya lagi.


"Aku-, aku merasa kurang enak badan Ma, setelah minum beberapa gelas. Jadi, setelah dari toilet aku berencana pulang kerumah saja, namun dijalan aku diserang beberapa orang tidak dikenal," sahut Dirga berbohong, ia bingung harus berkata apa. Ayah dan ibunya pasti shock bila ia mengatakan hal yang sebenarnya, meniduri pegawai resepsionisnya lalu dihajar oleh Leon kekasihnya. Tidak, dia tidak mungkin mengatakan perkara itu sekarang, batinnya.


"Diserang dengan beberapa orang tidak dikenal? Apakah kau punya musuh Dirga?" tanya ibu Surya bertambah khawatir.

__ADS_1


"Tidak Ma, hanya saja mereka tidak suka dengan caraku mengemudi dengan pengaruh alkohol," sahut Dirga asal. Ia berharap orang tuanya percaya pada penuturannya.


"Kalau begitu, kau buat laporan ke pihak kepolisian saja Dirga, Mama khawatir mereka akan mengulangi apa yang telah mereka lakukan padamu," ucap ibu Surya memberi saran pada putranya itu.


"Tidak perlu Ma, justru Dirga yang salah, karena mengemudi dalam pengaruh alkohol," cegah Dirga. Ia saja bingung bila harus melapor seperti saran ibunya, justru dirinya-lah yang malah diproses oleh pihak kepolisian. Bila itu sampai terjadi, itu adalah peristiwa yang paling memalukan sepanjang sejarah hidupnya, ketahuan meniduri seorang gadis yang bukan isterinya.


"Terserah kau saja Dirga," ucap ibu Surya, ia lalu mengambil roti panggang dan mengolesi selai dan memberikannya pada suaminya.


Sementara Dirga mengambil roti panggangnya sendiri lalu mengolesinya dengan saos tomat segar kesukaannya seperti yang biasa ia lakukan setiap pagi saat sarapan.


...***...


Monaliza mengerjap-ngerjapkan matanya, ia melihat langit-langit kamar, mengingat sejenak dimana sekarang ia berada.


"Leon?!" Monaliza tersentak, ketika menyadari Leon sedang berbaring disampingnya dalam selimut yang sama, dan sedang menghadap kearah Monaliza dengan tatapan sedih.


"Aghh," rintih Monaliza merasakan sakit pada pusat tubuhnya dibawah sana, saat ia berusaha bergerak untuk bangkit dengan niat menjauhi Leon. Ia merasakan ada yang tidak beres. Tangannya lalu meraba tubuhnya yang masih ditutupi oleh selimut tebal diatasnya.


"Leon?! Apakah kita melakukannya semalam?" Monaliza semakin terkejut saat mendapati tubuhnya yang berada didalam selimut tidak mengenakan apapun, ditambah ada rasa nyeri dan perih dipusat tubuhnya itu.


Leon terdiam, ia memang berharap Monaliza akan berfikir bahwa dirinya yang semalam menidurinya, bukan Dirga. Dan apa yang Leon harapkan itu benar terjadi, ketika melihat reaksi Monaliza yang kaget melihat dirinya tidur bersama kekasihnya diranjang itu.

__ADS_1


__ADS_2