
Dirga buru-buru merapikan pekerjaannya yang baru saja ia selesaikan. Sepanjang hari itu, ia merasa tidak tenang dalam melakukan pekerjaannya. Mungkin saja karena dirinya baru saja memiliki bayi, dan Monaliza masih dalam perawatan dirumah sakit pasca melahirkan.
"Firans, aku duluan ya," pamit Dirga pada sahabatnya itu.
Firans melirik arloji pada pergelangan tangannya yang baru menunjukan pukul 16.40, "Belum waktunya pulang," protes Firans, kembali menatap Dirga.
"Sudahlah, dilarang protes! Memang siapa bosnya disini?! Heum?" ucap Dirga dengan mendelikan matanya. Firans terkekeh. Membuat bosnya gusar memang salah satu hobby anehnya yang sangat sulit dihilangkan.
"Baiklah Bos! Yang punya bayi, gelisah nian sepanjang hari," ledek Firans masih terkekeh.
Dirga masih menatap Firans, ia meraih satu berkas dari atas meja kerja asistennya itu dan mengibaskannya kepunggung Firrans dengan gemes.
"Kau belun tahu saja, betapa menyenangkannya mendengar tangisan bayimu, hingga kau terjaga sepanjang malam," ungkap Dirga menampilkan senyum bahagianya, mengingat dirinya rela bergadang menggantikan Monaliza yang kelelahan setelah melahirkan.
"Terjaga sepanjang malam?" Firans mengernyitkan keningnya heran. "Itu bukan menyenangkan Dirga, tapi melelahkan!" pungkasnya tak mengerti letak menyenangkan yang dimaksud Dirga.
"Sudahlah, kau memang tidak akan mengerti, sebelum mengalaminya sendiri. Makanya, cepat punya pacar dan menikahlah Firans, supaya kau tahu apa yang aku rasakan sekarang," ucap Dirga sembari berlalu pergi dengan menenteng tas kerjanya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, lalu lintas nampak ramai, dan macet, namun Dirga merasa tidak ada masalah dengan macetnya perjalanan, ia terus bersiul gembira, karena hatinya begitu bahagia. Menjadi seorang ayah, adalah kebanggaan tersendiri baginya. Ingin rasanya ia segera sampai dirumah sakit, bertemu dengan isteri dan anaknya itu. Namun, ia berusaha sabar, supaya bisa selamat sampai tujuan.
__ADS_1
Setelah beberapa menit bergelut dalam kemacetan lalau lintas, mobil yang dikendarai Dirga akhirnya memasuki area rumah sakit dimana Monaliza dan bayinya masih dalam perawatan disana.
Setelah memarkirkan mobilnya, Dirga bergegas menuju ruang rawat inap isterinya. Ia sempat melihat kegaduhan kecil, beberapa perawat dan dokter berlari-lari kecil dari arah ruang bayi menuju ruang para perawat.
Dirga mempercepat langkahnya, rasa tidak enak yang sebelumnya telah ia rasakan sejak siang tadi kembali menyerangnya. Lamat-lamat ia mendengar tangisan histeris seorang wanita dari salah satu ruang inap.
Semakin dekat, warna suara itu semakin dikenalnya. Dirga semakin mempercepat langkah kakinya, hingga tidak sadar kini dirinya berlari menuju sumber suara.
Brakk!!
Dirga membuka pintu dengan tidak sabar. Ia langsung menghambur kearah Monaliza dan memeluk isterinya yang tengah menangis histeris. Beberapa perawat yang semula berusaha menenangkan Monaliza segera mundur teratur.
"Isteri saya kenapa Sus?" Dirga beralih menatap pada para perawat yang tengah berdiri berjejer di dekat ranjang Monaliza.
Ketiga perawat itu saling berpandangan satu sama lain, wajah mereka terlihat takut dan pucat. Tidak seorangpun dari mereka yang berani memberi keterangan.
"Tolong jelaskan Sus, apa yang menyebabkan isteri saya seperti itu?!" sentak Dirga semakin panik, karena Monaliza masih terus menangis dalam pelukannya.
"Ar--Arseano hi--hilang Mas," ucap Monaliza tiba-tiba dari dalam pelukan Dirga, suaranya tersendat-sendat, hampir tidak terdengar jelas.
__ADS_1
Langit diatasnya seakan runtuh, mendengar kalimat yang diucapkan isterinya itu. "Hi-hilang?? Arseano hilang?" Seluruh sendi-sendi Dirga seakan melemas, tidak kuasa mendengar berita buruk itu.
"B-bagaimana mungkin putra kita bisa hilang sayang? Ini tidak mungkin!" Dirga terlihat begitu gugup, ia mengeratkan pelukannya pada Monaliza yang masih terus menangis. Inikah firasat yang ia rasakan sejak siang tadi? Batinnya kacau.
"Suster! Bagaiamana putraku bisa hilang?! Kenapa kalian tidak menjaganya dengan baik?! Rumah sakit macam apa ini! Bagimana bayi pasiennya bisa hilang!" pekik Dirga marah dengan wajahnya yang memerah.
"Saat nyonya Monaliza akan menyusui, kami berniat mengambil bayi Tuan dari sana, ternyata bayinya sudah tidak ada dibox bayi Tuan," jelas salah satu suster dengan terbata-bata. Takut pada kemarahan yang ditunjukan Dirga pada mereka.
"Ceroboh! Kalian semua ceroboh! Bagaimana mungkin bayi kami bisa hilang diruangan bayi?! Bukankah disana sudah ada penjagaan ketat?!" Dirga melepaskan pelukannya dari tubuh Monaliza, lalu beranjak pada ketiga suster itu.
"M-maafkan kami Tuan, pihak rumah sakit akan berupaya menemukan bayi Tuan," ucap salah satu dari suster itu ketakutan.
"Cepat lakukan, bayi itu belum genap 24 jam tapi dia sudah berada jauh dari ibunya, itu sangat berbahaya!" pekik Dirga lagi. ia begitu khawatir dengan kondisi bayinya yang masih merah dan membutuhkan ibunya.
"Sabar Dirga," ibu surya dan suaminya tiba-tiba muncul didepan pintu dan segera masuk. Wanita paruh baya itu segera menepuk-nepuk punggung putranya lembut untuk menenangkannya, begitu pula dengan pak Surya suaminya.
"Papa dan Mama sudah membuat laporan polisi sayang. Dan pihak rumah sakit juga sudah nelakukan upaya, menyisir seluruh sisi dan sudut rumah sakit, juga memeriksa CCTV, agar penculik bayi itu segera ditemukan." jelas ibu Surya.
"Sekarang, kau tenangkan Monaliza dulu sayang, kasihan isterimu itu, dia pasti sangat terpukul karena kehilangan bayinya," ucap ibu Surya melihat iba pada menantunya yang masih terus menangis sejak tadi.
__ADS_1
"Bersambung...👉