
Seluruh bagian tubuh Monaliza serasa pegel-pegel. Rasanya dirinya tidak mau bangun dan beranjak dari kasurnya pagi itu, kalau saja saat ini perutnya tidak selapar seperti sekarang ini.
Ia merentangkan kedua tangannya dengan bebas, membolak-balik tubuhnya kekiri- kekanan, dan mengeliat-geliat sejenak disana. Tiba-tiba Monaliza terlonjak kaget, ia langsung duduk saat sepasang matanya beradu pandang dengan Dirga yang duduk santai disofa sambil memperhatikannya.
"Aduh, bener -bener malu-malu'in, kenapa aku bisa lupa kalau saat ini tidak sedang berada dirumah sendiri," Monaliza pura-pura mengemasi selimutnya, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Dirga masih memandang kearah Monaliza yang terlihat salah tingkah.
"Saya-, saya sedang membereskan tempat tidur Pak," sahut Monaliza berusaha membentangkan selimut tebal-lebar dan berat itu.
"Jangan lakukan itu, biarkan housekeeping yang mengerjakan tugasnya. Apakah kakimu masih sakit?" tanya Dirga lagi seraya mendekat.
"Sudah sembuh, iya sudah sembuh Pak," sahut Monaliza cepat. Ia takut pria itu akan menggendongnya lagi kemana-mana bila dikatakan kakinya masih sakit.
"Benarkah? Mari kulihat," tidak menunggu jawaban, Dirga menyingkap selimut tebal yang menutupi sepasang kaki Monaliza dibawahnya. Ia mulai menyentuh dan menekan dengan pelan, sambil memperhatikan wajah Monaliza, apakah isterinya itu memberi reaksi atau tidak pada sentuhan tangannya.
"Apakah disini tidak sakit?" tanya Dirga masih menekan.
"Sudah tidak Pak," sahut Monaliza berbohong, didalam hati ia berteriak kencang menahan rasa sakit, hingga wajahnya merona.
Dirga tersenyum didalam hati, ia tahu bila Monaliza sedang berbohong. Dari pergelangan kakinya saja sudah bisa terlihat masih sedikit membengkak, menandakan belum sembuh benar.
"Kalau begitu bersiaplah, kita akan keluar makan siang bersama Papa dan Mama, Papa-Mama Han, ibu dan juga adik-adikmu," kata Dirga seraya berdiri dan beranjak kembali ke sofa.
"M-makan siang?" wajah Monaliza nampak kaget.
__ADS_1
"Iya, makan siang. Kenapa?" Dirga balik bertanya, merasa aneh dengan tingkah isterinya yang terlihat kaget.
"Jadi ini sudah siang?" Monaliza kembali melontarkan pertanyaannya untuk memastikan. Ia memegang perutnya yang memang terasa sangat lapar. Ia teringat bila dirinya baru bisa terlelap saat menjelang pagi, itu semua karena Dirga suaminya, yang terus menempel padanya sepanjang malam, membuatnya terpaksa terus terjaga walau sedang memejamkan mata. Ditambah lagi tubuhnya yang sulit bergerak, khawatir mengganggu tidur suaminya, sehingga saat bangun tubuhnya terasa begitu pegel.
"Iya, kau sudah melewatkan sarapan pagimu. Ini vitamin dan susu-mu, aku sudah menyiapkannya untukmu." Dirga kembali menghampiri Monaliza dan menyodorkan vitamin dan susu ibu mengandung pada isterinya itu.
"Terima kasih," Monaliza menerima beberapa butir vitamin dan memasukannya satu persatu kedalam mulutnya lalu menelannya dengan segelas air putih yang tidak ia habiskan. Setelahnya, ia menyambut segelas susu yang diberikan Dirga, masih terasa hangat ditenggorokan saat ia meneguknya hingga habis.
"Maafkan saya Pak," Monaliza menatap Dirga sebentar lalu segera mengalihkan pandangannya pada gelas susunya yang telah kosong ditangannya.
"Maaf untuk apa?" tanya Dirga masih berdiri disisi tempat tidur menanti Monaliza mengembalikan gelas susu kosong padanya.
"Bangun kesiangan, saya fikir tadi masih pagi, tidak sesiang ini," ucap Monliza merasa bersalah bercampur rasa malu.
"Oh itu, tidak masalah. Ini kan baru hari pertama kau menjadi isteriku," kata Dirga datar.
"Iya Pak, saya ingat semuanya," kata Monaliza menunduk sambil mengangguk pelan, tidak berani menatap Dirga, karena baru dihari pertama mereka menikah, dirinya sudah melakukan salah satu yang tidak disukai suaminya itu.
"Berikan gelas kosongmu itu, dan segeralah mandi, kita sudah ditunggu," kata Dirga dengan tangan kanannya terulur pada Monaliza.
"I-iya," Monaiza segera menyerahkan gelas kosongnya ke tangan Dirga. Setelah menerimanya, Dirga lalu beranjak kembali ke sofa nya dan duduk disana sambil memeriksa ponselnya.
Monaliza bergeser ke tepi pembaringan dengan hati-hati, meraih handuk kimononya yang sudah siap diatas nakas, siapa lagi kalau bukan Dirga yang menyiapkannya, membuat Monaliza semakin tidak enak. Dalam hati ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan mengulangi kesalahan yang serupa.
Monaliza meringis didalam hati saat kaki kirinya menjejak dilantai, masih terasa cenat-cenut disana, ia berusaha menahannya supaya suaminya tidak mengetahuinya. Ia tidak ingin menjadi wanita manja seperti dikatakan suaminya.
__ADS_1
Sebenarnya Dirga tidak tega melihatnya, ia khawatir bila Monaliza sampai terjatuh, apalagi saat ini Monaliza sedang mengandung anaknya, namun ia mau melihat sampai dimana wanita yang ia peristeri itu bisa bertahan dengan sikapnya itu.
Monaliza berjalan hati-hati, ia berusaha supaya tidak terlihat melangkah tertatih-tatih menuju kamar mandi. Sementara Dirga terus mengawasinya, karena ia pun tidak ingin sampai terjadi sesuatu yang membahayakan isterinya itu.
Tidak lama, terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, menandakan orang yang ada didalamnya sedang melakukan ritual mandinya. Dirga segera bangkit menuju lemari pakaian, memilih warna dress yang cocok untuk Monaliza berpergian siang itu bersamanya.
Ceklek!
Monaliza keluar kamar mandi mengenakan handuk kimononya dengan rambutnya yang masih basah. Ia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan suaminya. Entah kenapa, ia merasa sangat lega, ketika tidak melihat keberadaan Dirga disana, setidaknya ia bisa merasa hidupnya sedikit bebas sekarang tanpa bayang-bayang suami CEO-nya yang kaku itu.
Ketika melihat dress dan satu set pakaian dalamnya sudah siap ditepi tempat tidur, wajah Monaliza kembali merona, ia menoleh kiri dan kanan, mencari keberadaan Dirga yang memang tidak terlihat dimana-mana dalam kamar itu.
Dengan langkah tertatih-tatih, karena tidak ada Dirga yang melihatnya, Monaliza segera menghampiri pakaiannya dan segera mengenakannya.
"Ternyata size-nya pas semua. Bagaimana dia bisa tahu?" Monaliza bergumam dalam hatinya sambil mematut diri didepan cermin melihat pantulan bayangannya.
Ceklek!
Monaliza kaget, menatap kearah pintu kamar yang terbuka.
"Kau sudah siap?" Dirga datang mendekat membawa satu paper bag ditangannya.
"S-sudah Pak," sahut Monaliza kembali bersikap kikuk, aura bos dan bawahan sangat terasa membuatnya tidak sesantai sebelumnya. Dirga berjongkok didepan Monaliza, mengeluarkan alas.kaki dari dalam peper bag yang ia bawa dari luar.
"Pakai ini, wanita hamil sepertimu tidak boleh mengenakan high heels untuk sementara waktu," kata Dirga sambil membantu Monaliza mengenakan alas kaki tepleknya yang terbuat dari satin, kulit lembut pilihan.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Dirga, setelah dirinya selesai membantu Monaliza mengenakan sepatu tepleknya.
"Nyaman, dan lembut dikaki," sahut Monaliza seraya menggerak-gerakan kakinya pelan.