
Plakk!
Satu tamparan telak mendarat dipipi kiri Monaliza hingga membuat wajahnya berpaling arah. Rasa pedis dan panas di permukaan pipinya membuat Monaliza terpaksa menghentikan segala kegiatannya.
"Sudah kukatakan berhenti! Tapi kau seolah tidah memiliki telinga untuk mendengar!" Hardik nyonya Gamsonrich dengan nada meninggi sambil menatap tajam pada Monaliza.
Semua yang berada disana terkesiap melihat apa yang dilakukan nyonya Gamaonrich pada Monaliza. Dirga yang sedari tadi waspada-pun tidak sempat melindungi Monaliza karena jarak diantara mereka.
"Monaliza, kau tidak apa-apa?" tanya Dirga seraya mendekat. Ia merapikan rambut Monaliza yang menutupi wajahnya, dan memeriksa pipi kiri calon ibu bayinya yang terkena tamparan keras nyonya Gamsonrich.
Wanita itu tidak menjawab sepatah katapun, hanya matanya saja yang terlihat semakin berkaca-kata menahan sesak didadanya. Dirga merasa geram saat melihat memar pada pipi calon isterinya itu.
"Nyonya terlalu kasar pada Monaliza. Sebagai calon suaminya saya tidak terima atas apa yang telah Nyonya lakukan padanya," ucap Dirga dengan nada meninggi menatap nyalang pada nyonya Gamsonrich.
"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan! Aku bahkan ingin tahu sampai dimana kemampuanmu dalam melindungi wanita itu," tantang nyonya Gamsonrich ikut meninggikan suaranya.
"Sudahlah Ma! Apakah kau tidak lihat disini masih ada jasad Leon, kenapa kau tidak lebih sabar sedikit, kasihan putra kita," tegur tuan Gamsonrich pada isterinya.
"Perempuan miskin itu yang sudah membuat gara-gara Pa! Leon yang sudah tidak bernafas masih saja ingin ia siksa dengan teriakan dan menggoyang keras tubuhnya," sahut nyonya Gamsonrich masih dengan emosi yang menguasai dirinya.
"Hentikan, hinaan Anda itu Nyonya!" Teriak Dirga yang sudah tidak tahan mendengar hinaan dan celaan yang sering dilontarkan oleh mulut nyonya Gamsonrich pada Monaliza.
"Cukup pak Dirga, semua ini memang salah saya," ucap Monaliza seraya memegang erat lengan Dirga, ia khawatir pria itu akan melakukan tindakan yang tidak diinginkannya.
"Tapi Sang Nyonya Terhormat itu selalu menghinamu mulai dari tadi pagi kita berada disini Monaliza, jadi aku harus membuat perhitungan dengannya," kata Dirga dengan suara sedikit menggeram, berusaha menahan gejolak emosinya yang ingin meledak didalam dadanya.
"Sudah cukup Pak, cukup. Ayo kita pulang saja," Monaliza berusaha menarik lengan Dirga untuk membawanya pergi dari ruangan itu.
"Baiklah," Dirga mengalah, saat dilihatnya tatapan permohonan dari sorot mata Monaliza .
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan dan Nyonya, Kak Keny dan kak Nadine, karena sudah membuat keributan dan ketidak-nyamanan disini. Kami pamit," ucap Monaliza sedikit membungkuk. Hatinya memang sakit karena sering di perlakukan dengan tidak baik oleh ibu Leon, namun norma kesopanannya harus tetap terus ia jaga dalam situasi apapun.
Walau tidak setuju dengan apa yang dilakukan Monaliza yang selalu berusaha bersikap baik pada keluarga Leon, namun Dirga tetap menghargai apa yang dilakukan calon isterinya itu, dan setelah ini, dirinya tidak akan membiarkan keluarga Leon itu untuk mengulangi perbuatan buruk mereka yang menyakiti baik secara fisik maupun batin Monaliza lagi.
"Monaliza maafkan apa yang dilakukan Mama padamu," ujar Keny, saat Monaliza melangkah kearah pintu.
"Iya, maafkan kami Monaliza," tuan Gamsonrich turut meminta maaf seperti yang dilakukan putranya Keny.
Monaliza menghentikan langkahnya, dan membalikkan sedikit tubuhnya, ia mengangguk dan berusaha menyunggingkan senyum diujung bibirnya yang hampir tidak terlihat.
"Tidak perlu meminta maaf Pa, dan kau juga Keny. Semuanya itu memang salahnya," kata nyonya Gamsonrich dengan tatapan nyalangnya.
"Lihatlah Monaliza, sedikitpun tidak ada kebaikan pada diri wanita tua itu," gumam Dirga yang berdiri disebelah Monaliza.
"Ayo kita pulang sekarang," kata Dirga kemudian, ia meraih pergelangan tangan Monaliza untuk mengajaknya pulang.
"Dokter! Dokter! Detak jantungnya!" Teriak Keny.
"Jantungnya kembali berdetak!" Teriak Keny lagi semakin kencang, seraya mendekat kearah Leon.
"Semuanya! Mohon tunggu diluar!" sang dokter bertindak sigap sambil membunyikan bel darurat untuk memanggil para perawat.
Semua mata memandang kearah Leon dan layar monitor vital ICU yang tiba-tiba menampilkan gelombang elektrokardiogram pendeteksi detak jantung.
Semuanya berdoa didalam hati, berharap suatu keajaiban bisa terjadi pada Leon.
Tidak lama, beberapa perawat masuk dengan tergesa-gesa." Mohon tunggu diluar dulu Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, kami akan segera melakukan tindakan pada pasien," setelah berkata demikian pintu langsung ditutup dengan rapat.
Semua yang ada diluar terlihat tegang, tidak terkecuali dengan Dirga dan Monaliza yang berdiri dibelakang keluarga tuan dan nyonya Gamsonrich.
__ADS_1
"Ijinkan saya menunggu kabar terakhir Leon pak Dirga," pinta Monaliza sedikit ragu memandang kearah Dirga yang berdiri disampingnya.
"Saya berjanji, ini untuk terakhir kalinya," sambung Monaliza lagi. Ia sadar, terlalu banyak permohonan yang ia ajukan pada pria yang sebentar lagi menjadi suaminya itu untuk seorang Leon, mantan kekasihnya, namun bila ia pergi tanpa mengetahui keadaan Leon, itu akan menjadi bahan fikirannnya terus-menerus.
Menjawab permintaan Monaliza, Dirga hanya mengangguk tanpa berkata sepatah katapun. Ia berusaha memahami posisi Monaliza yang pernah memiliki hubungan istimewa dengan Leon, itu sebabnya sebisa mungkin ia memakluminya, dan inipun untuk terakhir kalinya sesuai janji Monaliza batinnya.
Ceklek!
Setelah menunggu lama, pintu ruang tindakan tiba-tiba terbuka, sang dokter yang melakukan tindakan pada Leon muncul didepan pintu dengan wajah lesu dan berkeringat.
"B-bagaimana putra saya Leon Dok?" tanya nyonya Gamsonrich tidak sabar.
"Putra Anda Leon, masih diberi kesempatan kedua untuk hidup oleh Sang Maha Kuasa," ujar sang dokter disela-sela senyum lelahnya.
"Syukurlah," ucap semua orang yang mendengarkan perkataan sang dokter sambil menghela nafas lega.
"Ayo kita pulang sekarang pak Dirga," ucap Monaliza pada Dirga yang berdiri disebelahnya. Tanpa menunggu jawaban, Monaliza melangkah lebih dulu meninggalkan tempat itu, hatinha kini sudah benar-benar lega. Baginya, mendengar Leon selamat dan masih hidup, itu sudah lebih dari cukup. Sementara Dirga mengekornya dari belakang tanpa mau mensejajarkan langkahnya disamping wanita itu. Ia sengaja membiarkan Monaliza membenahi perasaannya.
"Terima kasih banyak Dokter, Anda sudah membantu menghidupkan putra saya kembali," ungkap nyonya Gamsonrich dengan wajah diwarnai kebahagiaan. Mereka semua mengikuti sang dokter memasuki ruangan dimana Leon berada. Tidak ada satupun diantara mereka yang menyadari bila Monaliza dan Dirga sudah pulang dengan diam-diam karena rasa bahagia yang tengah menyelimuti hati mereka.
"Ini adalah suatu keajaiban dari Yang Maha Kuasa, bukan saya Nyonya. Tuan Leon sudah dinyatakan telah tiada hampir tiga jam yang lalu, tapi ia bisa kembali hidup, itulah mujizat," ucap sang dokter lagi.
"Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya boleh menemuinya, tapi usahakan jangan mengajak tuan Leon banyak bicara, biarkan ia beristirahat dulu," ucap dokter mengingatkan.
"Saya permisi dulu. Ada pasien lain yang sedang menunggu," pamit sang dokter.
"Baiklah dokter, terima kasih banyak," ucap tuan Gamsonrich membiarkan sang dokter berlalu untuk melakukan tugasnya selanjutnya.
...***...
__ADS_1