CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
36. Janji Bertemu


__ADS_3

"Apakah kau sudah menelpon ibu? Aku takut ibu khawatir Leon," kata Monaliza memandang wajah Leon.


"Sudah, aku sudah mengurus semuanya, jangan khawatir Mona. Kau hanya perlu beristirahat saja hari ini disini, setelah kau merasa lebih baik, aku pasti akan mengantarkanmu pulang, aku janji," ucap Leon menenangkan Monaliza.


Leon kembali menyuapi Monaliza, wanita itu tidak bertanya lagi, ia membuka mulutnya menerima suapan demi suapan yang diberikan Leon padanya hingga habis. Leon menyodorkan segelas jus, dan langsung diminum habis oleh Monaliza.


Setelah membereskan peralatan makan yang kotor dan menaruhnya diluar kamar untuk diambil para waiters, Leon kembali menemani Monaliza yang berbaring ditempat tidurnya.


"Leon, kenapa aku merasa kau bukan seperti dirimu yang kukenal?" tanya Monaliza, ia menelisik wajah tampan Leon, berusaha menemukan keganjilan dari sikap kekasihnya semalan yang ingin ia ketahui.


"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud Mona?" sahut Leon yang duduk ditepi pembaringan.


"Aku mengenalmu Leon, kita sudah saling mengenal bertahun-tahun lamanya, itu sebabnya aku setuju menjalani hubungan sebagai kekasih denganmu sejak sebulan yang lalu," ucap Monaliza pelan sambil menatap wajah Leon.


"Kau juga tidak pernah berusaha mengambil kesempatan yang berlebihan saat kita berdua," kata Monaliza sambil mengingat perjalanan asmaranya bersama Leon yang terbilang memiliki hubungan yang sehat.


"Tapi semalam-," Monaliza menghentikan ucapannya, suaranya tercekat dilehernya, hatinya terlalu gundah, memikirkan akibat perbuatan terlarang yang telah ia lakukan bersama Leon, punggungnya kembali berguncang-guncang karena sesenggukan.


"Mona-," Leon segera mendekati Monaliza dan memberi pelukan untuk menenangkan wanita yang ia cintai itu.


"Mona, maafkan aku, aku yang salah, aku laki-laki payah yang tidak bisa menjaga kehornatanmu," ungkap Leon penuh penyesalan. Saat ini dirinya pun masih merasakan rasa sakit dihatinya, wanita yang selama ini ia jaga sepenuh hati dengan baik bisa ternoda di kamar hotel miliknya sendiri yang seharusnya aman.


"Tapi-, tapi kenapa aku merasa itu bukan dirimu Leon?" ucap Monaliza disela-sela tangisnya yang menyayat hati.


Degg.


Leon menelan salivanya, hatinya berdebar, rasa khawatir tiba-tiba menyerangnya, mungkinkah kekasihnya itu tahu bila dirinya berbohong, batinnya.


"Mona, sudahlah. Kau harus segera beristirahat, bukankah tubuhmu terasa hangat? Kau jangan terlaku banyak berpikir lagi," kata Leon sambil mengusap lembut rambut Monaliza yang tergerai.


"Saat itu, samar-samar aku merasa itu bukan aroma parfum-mu Leon, tapi parfum seseorang yang sepertinya tidak asing bagiku," ucap Monaliza disela-sela tangisnya yang mulai mereda, ia berusaha mengingatnya, dan tetap mengatakan apa yang sedang ia pikirkan karena merasa ada sesuatu yang ganjil.

__ADS_1


"Mona, saat kau terbangun dari tidurmu, bukankah kau hanya melihat diriku saja yang berbaring disampingmu?" Leon masih berusaha menggiring Monaliza berfikir bahwa kekasihnya itu hanya bersama dirinya, bukan pria lain. Ia tetap berusaha menutupi apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Iya, aku melihatmu Leon." sahut Monaliza lirih.


Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Leon. Pria itu segera mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya yang tergeltak diatas nakas. Pandangannya terlihat datar saat melihat pesan yang tertera di layar ponselnya. Tanpa membalas pesan itu, Leon kembali meletakkan ponselnya diatas nakas.


"Tidurlah Mona, aku akan menemanimu disini." ucap Leon sembari menyelimuti tubuh Monaliza dengan selimut tebal.


Monaliza hanya menurut, walau dalam hatinya masih banyak hal yang mengganjal, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.


...***...


Leon turun dari mobilnya, ia menatap sejenak restoran dihadapannya, seseorang pria berjas rapi, manager restoran yang melihatnya segera menghampirinya.


"Selamat siang, dan selamat datang tuan Leon," sapa manager itu sambil menampilkan senyum ramahnya.


"Selamat siang juga manager Jonas," sahut Leon, ujung bibibirnya sedikit tertarik keatas menampilkan senyum tipisnya.


"Terima kasih." Leon segera melangkah bersama sang manager yang membawanya menuju ruang VIP yang ia pesan.



Dirga menutup pintu mobilnya, ia menekan remote pada kontak mobil lalu meninggalkan parkiran menuju restoran dimana dirinya sudah membuat janji dengan Leon.


"Selamat siang, dan selamat datang direstoran kami tuan," sapa seorang pelayan menyambut kedatangan Dirga dengan senyum ramahnya.


"Selamat siang, saya sudah memesan satu meja atas nama Dirga Surya," kata Dirga pada sang pelayan restoran yang menerimanya.


"Baik Pak, saya akan mengantarkan Anda dimeja yang telah Anda pesan," sang pelayan membungkuk hormat lalu mengantarkan Dirga kemeja yang telah dipesannya.


Suasana restoran nampak ramai siang itu, para pengunjung sudah menempati mejanya masing-masing sesuai dengan pesanannya.

__ADS_1


Ia menyapu ruangan restoran dengan sekali pandangan, mencari keberadaan Leon yang belum dilihatnya sejak ia masuk kerestoran itu.


Dirga melirik arloji dipergelangan tangannya, sudah lewat lima menit dari janji yang sudah ia tetapkan, mungkinkah pria muda itu tidak mau menghadiri undangan makan siangnya, batin Dirga.


Dirga meraih ponselnya, hendak menghubungi Leon. Belum sempat ia menekan kontak yang ia temukan, Leon sudah lebih dulu menghubunginya.


"Tuan Leon, Anda dimana? Saya sudah menunggu anda sedari tadi, dimeja yang sudah saya pesan untuk kita bertemu," kata Dirga, saat ia mengangkat telepon Leon.


"Seorang pelayan akan mengantarkan pak Dirga kemari," terdengar suara Leon datar. Telepon langsung terputus secara sepihak.


Dirga memperhatikan layar ponselnya yang sudah tidak tersambung lagi, ia hanya mendesah ringan diperlakukan demikian oleh seorang Leon, pria muda yang lebih kaya dari dirinya.


"Pak Dirga Surya?" seorang pelayan datang menghampiri Dirga dengan mimik wajah bertanya.


"Iya, saya sendiri," sahut Dirga. Ia yakin pelayan ini dikirim oleh Leon untuk membawanya menemui dirinya.


"Mari, ikutlah bersama saya pak Dirga, saya akan mengantarkan Anda pada tuan Leon," kata pelayan itu sopan. Ia lalu melangkah lebih dulu diikuti Dirga dari belakang.


Dirga menghentikan langkahnya didepan pintu, saat sang pelayan mengetuk pintu VIP yang dimiliki oleh restoran itu. Dirinya hanya menyewa ruangan seperti itu bila menjamu tamu kehormatannya yang membutuhkan ruang private.


"Silahkan masuk pak Dirga, tuan Leon telah menunggu Anda didalam," ucap sang pelayan mempersilahkan dengan sopan, sambil menahan pintu untuk tetap terbuka menggunakan tangan kirinya.


"Terima kasih," Dirga masuk, sang pelayan lalu menutup pintu dibelakangnya dengan rapat dan sangat hati-hati. Ia melihat Leon sudah duduk dikursinya dengan pandangan dingin menatap kearahnya. Sementara dua pelayan tengah berdiri disudut ruangan.


"Silahkan duduk pak Dirga," sambut Leon berusaha menahan dirinya melihat kehadiran Dirga dihadapannya, ia melihat memar diwajah area bibir dan rahang Dirga masih terlihat terang akibat ulahnya semalam pada pria itu.


"Terima kasih," sahut Dirga datar, ia mendudukan dirinya tepat dihadapan Leon yang masih menatapnya dengan pandangan dingin.


"Pelayan, catat pesanan pak Dirga," perintah Leon.


"Baik tuan," sahut salah satu pelayan itu, ia lalu mendekati Dirga, memberikan buku daftar menu dan mencatat apa yang dipesan oleh Dirga.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan tugasnya, kedua pelayan itu berpamitan dengan sikap hormat meninggalkan Dirga dan Leon didalam ruangan private itu.


__ADS_2