
"Apa kau yakin?" tanya Dirga menatap Monaliza yang duduk dihadapannya.
"Iya, saya yakin Pak," sahut Monaliza tanpa ragu, ia turut menatap wajah Dirga, dirinya harus belajar membiasakan diri menerima tatapan suaminya itu.
"Baiklah, selesaikan makan malammu. Setelah itu ambil barang itu dari kamar kita. Aku akan mengeluarkan mobil dari garasi," kata Dirga menyetujui. Keduanya kembali melanjutkan makan malamnya dengan suasana senyap. Hanya terdengar suara sendok yang saling berdenting saat berbenturan dengan piring dan peralatan makan lainnya.
...***...
Dirga memandang berkeliling sambil duduk santai menunggu dikursi lobby. Baginya, sangat jarang bertandang ke tempat seperti itu. Beberapa gadis dengan dandanan minor bolak balik melintas di lobby itu. Jangan ditanya pakaian mereka, Dirga harus beberapa kali memalingkan wajah, dan bila tidak sempat dirinya harus segera memejamkan matanya supaya tidak melihat apa yang seharusnya tidak ingin dirinya lihat.
Kelab malam itu biasa buka larut malam, tapi sebelum dibuka, para pekerjanya sudah datang lebih awal untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Monaliza yang megintipnya dari pintu toilet hanya bisa tersenyum didalam hati melihat tingkah suaminya itu. Ia kembali teringat, saat Dirga belum menjadi suaminya, pria itu sempat merasa jijik padanya karena berfikir dirinya adalah salah satu kupu-kupu malam saat menemaninya dirumah sakit kala itu.
"Kak Shansan," panggil Monaliza pada seorang perempuan cantik dan seksi yang baru selesai berbenah diri dari dalam toilet dan hendak keluar melewatinya.
"Ada apa sayang," sahutnya seraya berhenti disisi Monaliza.
"Kak Shansan liat pria yang duduk sendiri disana," tunjuk Monaliza pada Dirga.
Shansan melihat kearah yang ditunjuk Monaliza, ia memperhatikan sejenak lalu kembali menatap pada Monaliza.
"Ya, aku melihatnya. Bukankah pria itu suamimu?" kata Shansan yang mengenali Dirga, karena beberapa kali ia sempat melihat Dirga mengantar jemput Monaliza selama seminggu sebelum pernikahan mereka. Saat pernikahan, Shansan memang tidak hadir karena sedang pulang liburan kerumah orang tuanya dikota sebelah.
Monaliza lalu membisikan sesuatu pada Shansan hingga membuat perempuan itu membelalak.
"Kau gila Mona, dia itu suamimu!" ucap Shansan mengeraskan suaranya tanpa sadar. Monaliza buru-buru membekap mulutnya dan menariknya masuk kembali kedalam toilet, takut terdengar oleh Dirga walau jarak mereka cukup jauh.
"Udahlah, lakuin aja. Aku mengijinkanmu kak. Aku yakin kau bisa melakukannya dengan sempurna," kata Monaliza sambil tersenyum, ia sudah bisa membayangkan bagaimana gelagat suaminya nanti.
__ADS_1
"Baiklah, asal kau tidak cemburu saja," kata Shansan setuju, ia ikut tertawa kecil lalu bergegas meninggalkan Monaliza yang tiba-tiba merasa tegang atas apa yang telah ia rencanakan sendiri. Bagaimana bila suaminya itu tergoda?
Shansan melangkah dengan gaya gemulainya. Tubuh seksi dan menggodanya berjalan menuju satu arah sambil menatap orang yang menjadi targetnya.
"Huuffhh!" Dirga terkejut bukan kepalang, saat seorang gadis dengan dandanannya yang sangat minor, berpakaian seksi, dua gundukan didadanya yang hampir meluber keluar dari tempatnya tiba-tiba sudah duduk dalam pangkuannya.
"Maaf Nona, Anda salah tempat," kata Dirga spontan. Setelah beberapa detik sanggup menetralkan kegugupannya pada hal yang tidak biasa baginya.
"Silahkan duduk disebelah Nona, masih banyak kursi yang kosong," ucap Dirga kemudian, berusaha mendorong tubuh gadis itu dari pangkuannya.
"Aku tidak terbiasa duduk dikursi. Tempat dudukku adalah dipangkuan pria tampan seperti anda Tuan," Gadis itu, yang tidak lain adalah Shansan semakin menjadi-jadi, ia menarik erat leher Dirga hingga merunduk kewajahnya.
"Tolong Nona, jangan tidak sopan seperti ini, saya pria beristeri," ucap Dirga berusaha sabar, ia menahan tengkuknya sekuat tenaga supaya wajahnya tidak bertemu dengan wajah Gadis yang sangat berani itu.
"Justru yang tidak sopan itu saat ada tamu datang dicuekin, membiarkannya duduk termenung sendiri seperti tadi," sahut Shansan semakin menjadi-jadi dan menggeliat-geliat dalam pangkuan Dirga.
"Dan aku sangat menyukai pria beristeri, karena sudah berpengalaman dalam bercinta," Shansan memandang wajah Dirga, sementara pria itu sama sekali tidak ingin memandangnya balik.
Shansan tersenyum menyeringai, ia tertawa puas didalam hati, ternyata sangat mudah menaklukan Dirga, saat dirasanya, pria itu mengangkat tubuhnya dan berjalan menuju meja resepsionis.
Pria berumur ini pasti sangat pandai bercinta batinnya, sambil menatap rahang tegas milik Dirga dan beberapa bulu halus yang mulai tumbuh didagu putihnya.
"Nona, tolong urus Nona ini," Dirga menurunkan tubuh Shansan tepat diatas meja resepsionis, dan dengan sedikit kasar menarik dan menghempaskan tangan perempuan itu yang melingkar dilehernya.
"Baik tuan," sahut sang resepsionis menanggapi sikap Dirga, wanita itu ingin tertawa melihat Dirga yang menahan rasa kesal yang sangat kentara diwajahnya.
"Tuan, urusan kita belum selesai!" teriak Shansan tidak terima.
Dirga tidak menjawab, ia kembali ke kursi yang ia duduki semula, mengambil barang titipan Monaliza, lalu segera pergi dari sana menuju toilet wanita, dirinya khawatir karena Monaliza terlalu lama berada didalam sana.
__ADS_1
"Maaf, saya terlalu lama didalam," ucap Monaliza berpura-pura baru keluar dari dalam toilet saat melihat Dirga datang dari kejauhan.
"Hmm," sahut Dirga hanya bergumam.
"Kita keruangan kak Keny sekarang," kata Monaliza. Dirga hanya mengangguk lalu mengikuti Monaliza dan berjalan disebelahnya.
Monaliza mendorong pintu, setelah mengetok dan mendengar suara seseorang mempersilahkan mereka masuk.
"Selamat Datang Mona, tuan Dirga," sapa Keny ramah, ia berdiri dari belakang meja kerjanya, menghampiri Monaloza dan Dirga lalu bersalaman dengan keduanya.
"Ayo, kita duduk santai disana," ajak Keny pada kedua tamunya sambil berjalan menuju sofa tamu dimana Nadine tengah duduk dengan perutnya yang membuncit besar.
"Mona, senang bisa bertemu denganmu lagi," ucap Nadine seraya memeluk Monaliza.
"Aku juga kak. Gimana kandungan kak Nadine, sehat?" tanya Monaliza setelah melepas pelukannya lalu menatap perut Nadine yang sudah sangat besar.
"Sehat, seperti yang kau lihat," sahut Nadine sambil tertawa kecil dan sengaja memajukan perut buncitnya.
"Ayo duduk," ajak Nadine pada kedua tamu mereka. Dirga lalu mengambil posisi tempat duduk disamping Monaliza, berhadapan dengan Keny dan Nadine.
"Kak Keny, aku kemari hanya ingin mengantarkan ini. Mengembalikan milik Leon," kata Monaliza tanpa basa basi, menggeser kotak hadiah yang diletakan Dirga didepan mereka kedepan Keny dan Nadine.
"Apa itu?" tanya Keny menatap kotak yang didekat Monaliza, lalu menatap wajah Monaliza dan Dirga bergantian.
"Itu hadiah pernikahan yang Leon berikan, tapi aku tidak bisa menerimanya kak," sahut Monaliza.
"Kenapa tidak bisa? Tidak baik menolak pemberian, apalagi itu adalah hadiah Mona," ucap Keny menatap Monaliza.
"Kak Keny benar. Tapi aku tidak bisa menerima hadiah dengan nilai yang besar seperti itu," sahut Monaliza lagi.
__ADS_1
Bersambung...👉