CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
81. Memeriksa Lebih Detail


__ADS_3

"Apa ini den?" tanya bibi Nia, saat Firans menurunkan tiga koper berukuran jumbo dari bagasi mobilnya dan meletakan dihadapannya.


"Satu koper ini berisi jas pengantin pak Dirga dan gaun pengantin Nona Monalisa beserta pernak-perniknya. Dan semuanya sudah di laundry oleh pegawai hotel," terang Firans menunjuk koper berwarna hitam.


"Satu koper ini lagi milik Pak Dirga, dan satu kopernya lagi milik Nona Monaliza, dua koper itu berisi pakaian mereka Bi," kata Firans lagi menunjuk koper berwarna biru laut dan pink salem.


"Baik den," ucap bi Nia pada Firans.


"Kang, kemari!" panggil bibi Nia pada suaminya.


"Iya Bune," mang Rido menghentikan aktifitasnya. Ia segera mendatangi isterinya yang melambaikan tangannya sambil berteriak memanggilnya.


"Firans! Kau sudah datang." Dirga yang muncul didepan pintu lalu datang menghampiri asistennya itu.


"Ayo, duduk dulu, kau mau minum apa?" tawar Dirga.


"Tidak perlu, aku sebentar saja Dirga. Hanya mengantarkan semua barang-barangmu dari hotel itu sesuai perintahmu."


"Persiapanku belum kelar untuk berangkat liburan besok," tolak Firans yang bergegas akan pulang.


"Jangan buru-buru. Kau berangkat besok malam juga kan?" kata Dirga seraya mendudukan dirinya.


"Iya, tapi persiapanku belum beres. Besok juga aku akan kekantor lagi memberikan beberapa berkas yang perlu kau tanda tangani," sela Firans.


"Iya-iya, aku mengerti. Tapi kau harus minum dulu, setelah itu kau boleh pulang. Aku juga tidak mau menahanmu lebih lama disini, keberadaanmu menggangguku yang baru saja menikah," kata Dirga menyunggingkan senyum yang hampir tidak terlihat.


Firans mendengus kesal, namun ia tahu Dirga sedang menggodanya, walau teman baiknya itu bukan seorang yang humoris.


"Kau mau minun apa?" tanya Dirga lagi, berusaha menjadi tuan rumah yang baik dan ramah.


"Apa saja, yang penting bukan racun," sahut Firans sambil mendudukan dirinya dikursi, tepat disebelah Dirga.

__ADS_1


"Bi, tolong buatkan minum ya? Apa saja, yang penting bukan racun," pinta Dirga pada asisten rumah tangganya, meniru kata-kata yang dilontarkan sahabatnya itu.


"Baik Den," bibi Nia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh sendiri mendengar ucapan majikannya. Walau ia baru sehari mengenal sang majikan, ia dapat melihat sang majikan adalah orang yang baik dari obrolan kedua pria yang seumuran itu.


Bibi Nia segera beranjak kebelakang menyusul suaminya yang lebih dulu membawa dua koper jumbo itu, sementara koper satunya lagi masih tertinggal menunggu giliran berikutnya.


...***...


"Dimana Leon tante?" tanya Nadya begitu dirinya tiba di apartemen milik Leon.


"Dikamarnya," sahut nyonya Gamsonrich. Keduanya lalu menuju kamar Leon, dan membukanya perlahan-lahan.


Nampak Leon sedang tengkurap dipembaringannya begitu saja tanpa melepas sepatunya.


Nadya tersenyum puas, ia mengalihkan pandangannya pada ibu mertuanya. "Tante boleh pulang, biar aku mengurus Leon, sekarang dia adalah suamiku."


"Baiklah, tante pulang dulu, Tolong jaga Leon dengan baik. Buatlah dia benar-benar mencintaimu Nadya, supaya dia bisa melupakan wanita miskin itu," ucap nyonya Gamsonrich balas tersenyum. Ia beranjak dari sana, meninggalkan putranya yang ditemani isterinya.


"Kau membuatku hampir saja gila mencari keberadaanmu Leon," gumam Nadya, ia duduk ditepi tempat tidur, menundukkan tubuhnya perlahan dan mengendus punggung Leon yang sudah tidak mengenakan kemejanya.


"Hmm, tidak ada aroma wanita lain ditubuhmu," Nadya kembali bergumam, ia tersenyum menyeringai memikirkan apa yang ada diotaknya.


"Aku harus memeriksa semuanya lebih detail, aku tidak akan membiarkan ada wanita lain yang kau sentuh selain diriku," Nadya mulai melakukan apa yang ada didalam kepalanya. Ia membalikan tubuh Leon yang memiliki bobot tubub cukup berat dengan susah payah. Aroma alkohol semakin jelas tercium oleh indera penciumannya, saat tubuh Leon berhasil ia balikkan.


Nadya memandangi wajah Leon yang nampak kusut dengan rambutnya yang berantakan. Disela-sela bibir pria itu, tersisa muntahannya membuat Nadya sedikit mual melihatnya. Ia mulai melucuti pakaian yang masih tersisa ditubuh Leon. Mulai dari sepatu, kaos kaki, ikat pinggang kulitnya, lalu berlanjut pada jeans hitam gelapnya.


Dada Nadya berdebar saat jarinya menarik dan menurunkan resleting milik Leon, otaknya sudah lebih dulu membayangkan apa yang akan ia lihat kemudian dibalik jeans suaminya itu.


Nadya meneguk salivanya, saat melihat sesuatu yang mengembung d iinti tubuh Leon setelah resleting itu berhasil turun sempurna. Ia menariknya perlahan dari kedua kaki Leon hingga menyisakan pembungkus aset pria itu saja.


Tanpa ragu, Nadya menarik sisa pembungkus itu dengan tidak sabar hingga membuat Leon terbangun.

__ADS_1


"Kau, apa yang kau lakukan!" kata Leon dengan wajah paniknya. Ia menatap dirinya yang sudah bugil, lalu beralih menatap Nadya yang sedang memegang kain pembungkus aset berharganya.


Nadya kembali tersenyum puas, melihat wajah Leon yang demikian, menjadi hiburan yang sangat menyenangkan baginya.


"Beraninya kau melakukan ini tanpa seijinku!" ketus Leon marah. Sekalipun kepalanya masih terasa pening akibat mabuk yang menguasai dirinya saat ini, namun kewarasan Leon masih terjaga baik bila berhadapan dengan isterinya itu.


"Memeriksa ini," Nadya menunjukan CD milik Leon lalu menciumnya, "ternyata tidak ada noda disini. Aku memang tidak salah memilihmu," Nadya tertawa senang lalu melemparkan benda yang dipegangnya ke sembarang arah.


"Hmfff!" Leon yang melihat apa yang dilakukan Nadya mendadak ingin muntah, sambil membekap mulutnya.


Nadya kembali meneguk salivanya saat melihat Leon bangkit terburu-buru dari ranjang dengan tubuh bugilnya menuju kearahnya. Belalai Leon seolah-olah sedang melambai-lambai menggodanya.


Leon menarik kasar tangan Nadya dan membawanya kearah pintu kamarnya. "Siapa yang mengijinkanmu masuk kekamarku, hahh!"


"Leon kumohon, jangan begini! Aku isterimu Leon!" pekik wanita itu dengan nada merengek.


"Pergi kau!" Leon mendorong kasar Nadya keluar dari kamarnya, lalu membanting pintunya.


Brakkk!


Nadya tersungkur dilantai, ia segera bangkit, lalu mengedor-gedor pintu yang terkunci rapat dari luar sambil berteriak-teriak tidak karuan dengan amarahnya karena sudah diperlakukan Leon dengan tidak baik.


Leon menulikan telinganya sambil berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Di pungutnya satu persatu-satu pakaian kotornya yang berserakan dilantai akibat ulah Nadya, dan membawanya masuk kamar mandi, menaruhnya begitu saja didalam keranjang kotor pakaian yang ada disana.


Leon merendam tubuhnya dan menenggelamkan dirinya di bak mandi. Sekeras apapun ia mencoba untuk melupakan sejenak, peristiwa dua hari belakangan ini, namun usahanya sia-sia.


Ikrar janji pernikahan yang diucapkan Monaliza pada Dirga, selalu terngiang-ngiang dikepalanya. Seharusnya janji itu untuknya, bukan pria lain, batinnya. Dan Monaliza membiarkan pria lain itu memberikan kecupan didahinya setelah mereka selesai mengucapkan ikrar janji setia. Semua ingatan itu begitu menyakitkan.


Ingin mati saja rasanya, supaya ingatan itu bisa terkubur bersama jasadnya dibawah tanah sana. Tapi hal itu sudah pernah ia lakukan, menabrakkan mobilnya ke pohon tua yang ada dibahu jalan dengan sengaja. Semesta seolah tidak mendukungnya, ia masih bisa hidup lagi setelah sekian lama koma dan menyisakan luka sobekan didahi kirinya yang menjadi cacat baru baginya.


Setelah hampir dua puluh menit menenggelamkan dirinya didalam bak mandi, Leon menyembulkan wajahnya kepermukaan, kali ini ia nemutuskan untuk tidak bunuh diri seperti yang pernah ia lakukan dulu, ketika Monaliza memutuskan menikah dengan Dirga.

__ADS_1


...***...


__ADS_2