CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
37. Dia Milikku


__ADS_3

"Leon," panggil Dirga tanpa embel-embel didepan namanya, ia menatap Leon yang masih memandangnya dingin, pria itu terlihat sedang menyimpan rasa benci terhadapnya.


"Hmm," guman Leon.


"Katakan, apa tujuanmu mengundangku kemari? Ternyata kau masih punya nyali juga ingin bertemu denganku," ucap Leon datar, pandangan dinginnya tidak menyurutkan niat Dirga untuk menyampaikan maksud dan tujuannya pada pria yang terbilang jauh lebih muda darinya itu.


"Aku ingin kita bicara sebagai laki-laki," ucap Dirga tenang. Ia tetap menatap wajah Leon yang hanya diam memandangnya dengan ekspresi sama seperti sebelumnya.


"Mengenai kejadian semalam, aku benar-benar minta maaf padamu. Dalam pengaruh alkohol aku sudah meniduri kekasihmu," aku Dirga terus terang, walau ia sebenarnya sudah tahu Leon mengetahuinya, karena pria dihadapannya itu telah menangkap basah dirinya bersama Monaliza diranjang hotel berdua.


Leon mengepalkan tangannya yang berada dibawah meja. Ia berusaha mengendalikan emosi darah mudanya. Rasanya ingin sekali ia melenyapkan pria yang berani-beraninya tanpa rasa malu mengakui kesalahan fatalnya itu, walaupun sebenarnya ia sudah melihatnya sendiri. Ia merasa pengakuan Dirga tersebut seolah-olah sengaja menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang laki-laki.


"Apakah kau mengira Monaliza adalah Megan, tunanganmu yang sudah meninggal beberapa bulan yang lalu karena kecelakaan tunggal dijalan tol menuju bandara?" ucap Dirga geram, namun ia tetap berusaha mengontrol emosinya.


"Iya-," sahut Dirga membenarkan.


"Aku tahu Megan sudah meninggal, tapi saat melihat Monaliza semalan, aku berharap dia adalah Megan, mendiang tunanganku, aku sangat merindukannya," kata Dirga dengan wajah berubah sayu.


"Kau! Berarti kau sengaja melakukannya! Dasar pria brengsek!" Leon berdiri dari duduknya, ia meraih kerah baju Dirga dengan kasar, membuat wajah pria itu mendongak keatas dan siap menerima pukulan tinju tangannya.


Melihat Dirga diam saja dan tidak ada perlawanan diperlakukan demikian, Leon langsung melepaskan cengkraman tangannya dari kerah kemeja Dirga dengan kasar dan mendorongnya, hingga membuat Dirga kembali terduduk dikursinya.


Setelah Leon melepaskannya, Dirga lalu merapikan kemejanya yang sempat tertarik akibat ulah Leon yang hampir memukulnya kembali.


"Lalu, apa maksudmu membuat pengakuan basi itu?" tanya Leon dongkol.


"Aku ingin bertanggung jawab atas segala perbuatan yang telah aku lakukan pada Monaliza semalam," sahut Dirga. Pernyataannya serasa menyentak jantung Leon yang mendengarnya.


Leon mendelik, merasa tidak terima dengan apa yang didengar telinganya, wajah tampannya terlihat garang memandang kearah Dirga yang masih duduk dihadapannya.


"Siapa yang memintamu untuk bertanggung jawab? Heuh?!" Leon memegang tepi meja dengan kedua tangannya, rahangnya mengeras dengan giginya yang gemeretak marah.


"Aku ingin bertanggung jawab, menikahi Monaliza," sahut Dirga berani.

__ADS_1


"CUKUP!" Sergah Leon, sambil berdiri dari duduknya, kedua tangannya bertumpu pada tepi meja, nampak gemetar menahan amarah yang hampir keubun-ubun.


"Kau tidak perlu menikahi Monaliza! Dia itu milikku! Hanya milikku!" Teriakan amarah Leon menggema didalan ruang private itu, membuat gendang telinga berdengung mendengarnya.


"Sadar Leon, Monaliza sudah aku tiduri! Mungkin saja nanti dia akan mengandung anakku! Tidak mungkin kau mau menerima anak yang bukan darah dagingmu!" Dirga ikut berteriak sambil berdiri dari duduknya.


"Aku tidak perduli, Monaliza kekasihku! Apa yang terjadi pada kalian berdua adalah kecelakaan! Semua anak yang dilahirkannya adalah anakku!" sahut Leon sengit.


"Kau gila Leon, bagaimana mungkin kau beranggapan semua anak yang dilahirkannya akan menjadi anakmu, sementara statusmu dengannya masih sebatas kekasih, bukan suaminya," kata Dirga tidak mau kalah.


"Kau yang gila, manusia aneh. Bagaimana kau mau merebutnya dariku hanya karena sudah tidur bersamanya semalam." sahut Leon masih tidak terina.


"Lagi pula, Monaliza juga tidak tahu kalau kau yang sudah tidur dengannya. Yang dia tahu aku yang sudah tidur dengannya semalam, karena tadi pagi saat dia terbangun aku yang bersamanya. Dan apa yang telah terjadi antara kalian, itu semua karena Monaliza berada dalam pengaruh obat," jelas Leon datar


Dirga mendadak terpaku setelah mendengar pernuturan Leon yang terakhir. Ia teringat bagaimana Monaliza selalu menyebut dirinya Leon sepanjang ia mencumbunya.


"Tidak mungkin, tidak mungkin Monaliza tidak ingat sama sekali," kata Dirga menatap nanar pada Leon yang kembali memandangnya dengan tatapan dingin. Ia terduduk kembal dikursinya dengan perasaan kecewa.


"Kau lucu sekali PAK DIRGA," ucap Leon sengaja menampilkan senyum ejekan.


"Monaliza itu kekasihku, lalu kau mau merebutnya begitu saja dengan alasan tanggung jawab. Monalisa tetaplah Monaliza, dia tidak akan pernah berubah dan menjelma menjadi Megan tunanganmu." tegasnya sambil menatap tajam pada Dirga.


" Ingat! Dan sadarlah dengan cepat. MEGAN-mu sudah TIADA, dan jangan ganggu MONALIZA-ku," Setelah berucap demikian, Leon berjalan menuju pintu keluar.


"Tunggu! Bagaimana kau bisa tahu, tentang Megan?" tanya Dirga penasaran, ia melirik Leon yang akan menarik knop pintu ditangannya.


"Itu perkara mudah bagiku, bahkan aku sanggup membalik hidupmu dengan mudah, semuda aku membalikan telapak tanganku, karena semua tentangmu sudah ada dalam genggamanku," sahut Leon datar. Ia berbalik, kembali melangkah mendekati Dirga yang masih duduk dikursinya.


"Lihat ini,"Leon menghadapkan layar ponselnya kewajah Dirga. Dirga memperhatikan sejenak layar ponsel milik Leon, air mukanya langsung berubah, saat Leon menggeser halaman demi halaman untuk dilihat Dirga.


"Bagaimana semua data pentingku bisa ada padamu? Aku bisa melaporkan-mu pada yang berwajib karena sudah mencuri data rahasiaku," ancam Dirga geram memandang wajah Leon yang masih menunjukan senyum mengejeknya.


"Silahkan saja kalau kau sanggup, aku juga mau melihat sampai dimana kemampuanmu untuk melindungi data-data yang kau sebut rahasia itu," sambung Leon masih dengan senyum mengejeknya.

__ADS_1


"Pria sepertimu, mau menikahi kekasihku. Jangan bermimpi. Saat aku menemukan ponselmu dilift waktu itu, hanya sekali sentilan saja, semua data pribadimu disana langsung ter-connect pada ponselku." Leon tertawa kecil, ia menarik ponselnya dari hadapan Dirga dengan rasa puas.


"Ternyata kau manusia licik Leon." geram Dirga yang hanya bisa mengepalkan tangannya diatas meja. Leon semakin tersenyum lebar, ia puas melihat Dirga yang tidak mampu membalas apa-apa padanya


"Aku pulang dulu, nikmati makan siangmu. Jangan khawatir, aku masih berbaik hati padamu, semua tagihan makan siang akan aku tanggung lengkap dengan ruang VIV ini." ucap Leon kembali datar.


"Ternyata kau memang tidak tahu menjaga privasi. Pembicaraan sepenting ini, kau mau bicarakan diruang terbuka? Atau kau tidak punya uang yang cukup untuk mengundangku? Heumm?" setelah berucap demikian Leon lalu kembali menuju pintu.


Dirga tidak menjawab perkataan pedas dan merendahkan yang Leon lontarkan padanya. Fikirannya hanya tertuju pada Monaliza, wanita yang bisa merebut hatinya dalam waktu semalam.


Ia tidak percaya bila Monaliza sama sekali tidak mengingat tentang dirinya, akan apa yang mereka lakukan bersama, walau itu perbuatan terlarang, tapi itu terlalu manis setiap kali ia mengingatnya. Dirga yakin, apa yang Leon katakan hanya akal-akalannya saja supaya dirinya menyerah.


"Pak Dirga, hidangan sudah siap, selamat meniknati makan siangnya," ucap dua pelayan yang telah selesai menyajikan hidangan diatas meja.


Dirga terpana, melihat makanan tersaji diatas meja begitu banyak. Ia tidak menyadari kapan pelayan masuk, dan kapan mereka menyajikannya hingga seperti disulap saja.


"Bagaimana tiba-tiba sudah tersaji? Kapan kalian masuk?" tanya Dirga dengan wajah heran.


"Pak Dirga tadi sepertinya sedang melamunkan sesuatu, jadi kami tidak mau mengganggu," sahut salah satu pramusaji dengan sopan.


"Kalian berdua duduklah, makanlah denganku, aku tidak mungkin menghabiskannya seorang diri," ajak Dirga pada kedua pramusaji yang masih berdiri disisi meja makan.


"Tapi Pak-," Kedua pelayan itu saling berpandangan.


"Maafkan kami, kami tidak berani, nanti kami bisa ditegur atasan kami," tolak keduanya bersamaan.


"Jangan takut, aku yang mengajak kalian makan. Dari pada makanan ini aku buang, karena tuan Leon sedang buru-buru pergi, jadi ia tidak sempat menyantapnya," jelas Dirga menatap keduanya.


"Ayo, duduklah," ucap Dirga lagi setengah memaksa.


"B-baiklah Pak," kedua pelayan itu terpaksa menerima tawaran Dirga walau terlihat ragu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2