CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
104. Di Jemput Petugas


__ADS_3

📞"Daddy, kalian di klinik mana? Kenapa bayi itu dibawa pergi? Aku sudah membeli segala keperluannya," terdengar suara nyonya Gamsonrich dari seberang sambungan telepon, kejarnya tidak sabar seperti biasanya dengan melontarkan beberapa pertanyaannya.


Tuan Gamsonrich teringat, saat mereka pergi, ia sudah berpesan pada asisten rumah tangganya bila mereka akan membawa bayi yang diasuh oleh Nadya ke klinik, supaya isterinya itu tidak curiga.


Di dalam hati, ia sudah sangat geram pada isterinya itu yang sudah berbuat sesuka hatinya tanpa memikirkan keselamatan seorang bayi merah yang baru saja lahir, dan belum genap dua hari.


Kali ini ia sudah tidak bisa mentolerir apapun lagi, perbuatan yang dilakukan isterinya itu memang perlu mendapatkan ganjarannya. Selama ini dirinya mendiamkan saja karena berharap isterinya bisa berubah.


📞"Bayi itu bisa mati, kalau Daddy, Leon, dan Nadya tidak segera membawanya ke dokter Mom!" sahut tuan Gamsonrich dengan suaranya meninggi.


Nyonya Gamsonrich langsung bungkam, perkataan suaminya benar karena saat ia meninggalkan bayi itu pada Nadya, bayi merah itu terus saja menangis karena dirinya tidak memiliki persiapan apa-apa saat bayi itu dibawa ke rumahnya.


📞"Mommy tunggu saja di rumah, kami akan segera kembali setelah dokter selesai memeriksa keadaan bayi itu," ucap tuan Gamsonrich menurunkan nada suaranya.


📞"Baiklah kalau begitu, kabari Mommy ya Dad bila ada sesuatu," sahut nyonya Gamsonrich dengan nada khawatir.


📞"Heum," sahut tuan Gamsonrich lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Nyonya Gamsonrich menatap ponselnya, baru kali ini ia menerima perlakuan suaminya seperti itu, ia sedikit merinding dan merasa tidak tenang, firasat tidak baik tiba-tiba menyerangnya.


Wanita paruh baya itu buru-buru masuk ke kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya, namun suara ketukan pintu kamarnya membuatnya mengurungkan niatnya untuk mandi.


Ceklek.


"Ada apa ya Bi," tanya nyonya Gamsonrich, ketika melihat asisten rumah tangganya sedang berdiri didepan pintu kamarnya.


"Ada polisi di depan Nyonya," sahut asisten rumah tangga itu.


"Katakan pada mereka kalau Tuan tidak ada di rumah," ucapnya lagi lalu memundurkan tubuhnya berniat untuk menutup pintu.


"Maaf Nyonya, kata pak polisi mereka ingin bertemu dengan Nyonya," ucap asisten rumah tangga itu lagi, sebelum pintu kamar sang majikan tertutup rapat.


Mendengar ucapan sang bibi, wanita paruh baya itu tidak jadi menutup pintunya, ia mengernyitkan keningnya memikirkan tentang keperluan para polisi itu untuk menemuinya.


"Suruh tunggu, aku akan turun setelah mandi," ucapnya kemudian.


"Baik Nyonya," asisten rumah tangga itu lalu membungkuk hormat sebelum undur diri, lalu meninggalkan tempat itu untuk kembali menemui tamu yang ada didepan rumah.

__ADS_1


Nyonya Gamsonrich kembali menelpon suaminya, namun tidak kunjung diangkat. Merasa panggilannya diabaikan, ia lalu menelpon ponsel Leon, juga tidak dijawab, begitu pula saat ia menelpon Nadya.


"Sesibuk apa mereka? Panggilan telepon pentingku tidak dijawab," gerutu nyonya Gamsonrich melemparkan ponselnya ke ranjangnya dan bergegas menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tuhuhnya yang terasa semakin gerah karena rasa kesalnya.


...🍓🍓🍓...


Di kantor polisi, Nadya menatap ponselnya yang terus berdering hingga akhirnya tidak berbunyi lagi.


"Mommy pasti akan marah padaku Dad," ucap Nadya merasa tidak enak, mengingat hubungannya akhir-akhir ini memang sedang memburuk dengan ibu mertuanya itu.


"Tidak usah difikirkan Nadya," sahut tuan Gamsonrich. Pandangan pria itu terus tertuju pada pintu yang tertutup rapat, dimana putra kesayangannya ada didalamnya sudah lebih dari 2 jam.


Sementara itu, didalam sana Leon sudah selesai dengan puluhan pertanyaan seorang penyidik yang sedang meminta keterangannya.


"Silahkan di baca tuan, bila sudah sesuai dengan keterangan yang Anda berikan tadi, tolong di paraf pada setiap lembarnya lalu bubuhkan tanda tangan hasil pemeriksaan kami malam ini," ucap polisi itu, menyodorkan beberapa lembar kertas yang baru ia cetak, hasil BAPnya pada Leon.


Leon menerimanya, lalu mulai membaca satu persatu hasil pemeriksaannya dengan teliti selama lebih dari 2 jam itu. Setelah dirasanya sesuai keterangannya, Leon lalu memberi paraf pada setiap lembar BAP itu dan membubuhkan tanda tangannya disana.


Seorang pria tambun dengan kedua tangan diborgol, berkepala plontos, dan berpakaian tahanan masuk dengan setengah diseret oleh seorang petugas.


Leon memperhatikan pria yang di borgol itu, kepala plontosnya sepertinya telah sengaja dicukur paksa, dan wajah pria tambun itu terlihat lebam disana-sini.


"Tidak Pak," sahut Leon.


"Pria ini yang tertangkap kamera CCTV rumah sakit saat penculikan bayi pak Dirga." ungkap polisi itu sedikit memberi keterangan.


"Baiklah, tuan Leon boleh pulang sekarang, kami akan memanggil Tuan lagi bila memang dibutuhkan. Terima kasih atas kerjasamanya Tuan," ucap polisi itu sembari mengulurkan tangannya.


"Sama-sama Pak," Leon menerima uluran tangan polisi yang menjabat tangannya.


Setelahnya ia keluar meninggalkan ruangan pemeriksaan, sementara pria tambun yang terborgol itu masih mematung dengan kepala tertunduk saat Leon melewatinya.


...🍓🍓🍓...


"Daddy!!"


Tuan Gamsonrich menoleh, begitu juga dengan Nadya yang sudah duduk selama 2 jam lebih menunggu Leon.

__ADS_1


Keduanya memandang kearah nyonya Gamsonrich yang semakin mendekat, dengan kedua tangannya dicekal oleh dua polisi yang berada dikiri dan kanannya.


"Syukurlah, Daddy dan Nadya ada disini," ucap nyonya Gamsonrich, begitu dirinya sudah ada didekat suaminya juga menantunya. Walau ia sempat binggung, kenapa mereka ada di kantor polisi itu.


"Daddy, tolong Mommy! Polisi-polisi ini pasti salah," ucap nyonya Gamsonrich dengan raut memelas, wajahnya terlihat kusut dan terus berusaha melepaskan diri dari dua polisi yang masih mencekalnya.


Ceklek!


Perhatian tuan Gamsonrich langsung beralih pada pintu yang terbuka, karena sejak 2 jam yang lalu dirinya terus menanti dengan perasaan was-was, begitu pula dengan Nadya.


"Leon, kau baik-baik saja?" tuan Gamsonrich segera menghambur kearah Leon yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan diikuti oleh Nadya yang nampak khawatir.


"Aku baik-baik saja Dad," sahut Leon tenang. Tuan Gamsonrich dan Nadya akhirnya bernapas lega.


"Leon? Apakah kau yang melaporkan Mommy?" tanya nyonya Gamsonrich salah faham dengan raut sedihnya. Tubuhnya terasa lemas, tidak mengangka putranya setega itu padanya.


"Justru Leon ada disini karena ulah Mommy!" geram tuan Gamsonrich, sementara Leon dan Nadya hanya diam saja.


"Bagaimana bisa Mommy membawa bayi pak Dirga dan Monaliza ke rumah kita?!" ledak tuan Gamsonrich yang sejak tadi memendam amarahnya.


"Aku membawa cucu kita Dad, anak Leon! Bukan anak pak Dirga!" sahut nyonya Gamsonrich.


"Apa?!!" Leon ikut memekik kaget bersama ayahnya dengan mata mendelik.


"Mommy sudah gila!!" teriak tuan Gamsonrich menatap tajam pada isterinya.


"Aku tidak gila Dad! Aku waras! Bayi itu memang anak Leon! Dia cucu kita!" ucap nyonya Gamsonrich bersikeras.


"Terserah Mommy! Mommy membuat kami semua pusing!" ucap tuan Gamsonrich semakin kesal, ucapan isterinya sungguh mengada-ada menurutnya.


"Silahkan periksa saja isteri saya itu pak polisi," ucap tuan Gamsonrich lagi pada dua polisi yang masih mencekal isterinya.


"Daddy tega! Mommy tidak bersalah!" teriak nyonya Gamsonrich yang dibawa paksa oleh dua petugas itu masuk ke ruang pemeriksaan.


Tuan Gamsonrich hanya bisa menggelengkan kepalanya, ternyata kelakuan isterinya bukannya membaik, malah semakin parah.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2