CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
31. Mencari Tahu


__ADS_3

"Maafkan saya bu, tadi malam benar-benar tidak sempat memberi kabar. Mungkin karena Monaliza baru keluar dari rumah sakit dan faktor kelelahan, jadi saya harus membawa Mona kembali kerumah sakit," ucap Leon berbohong. Ia benar-benar merasa bersalah pada ibu Bianka karena sudah menyembunyikan sesuatu masalah yang sangat besar.


"Mona sakit lagi?!" tanya ibu Bianka semakin panik.


"I-Iya bu, maafkan saya, tidak bisa menjaga Mona dengan baik," sahut Leon tergagap. Ia merasa tidak enak karena telah berbohong, menutupi apa yang telah terjadi sebenarnya.


"Tolong jaga putri ibu dengan baik Leon, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya. Sejak semalam perasaan ibu sangat tidak enak, ibu takut sesuatu yang buruk terjadi padanya, ditambah Mona dan dirimu sama-sama tidak bisa ibu hubungi sama sekali," ujar ibu Bianka dengan suara sendunya.


"Kasihan Mona, sejak kecil dia sudah terlalu banyak menderita. Ditinggal ibunya yang meninggal, kemudian disusul ayahnya, dan harus menanggung beban hidup, ibu, dan adik-adiknya," imbuh ibu Bianka sedih mengingat putri sambungnya yang malang itu.


Leon terhenyak, perkataan ibu Bianka seakan menampar wajahnya. Pasalnya, sesuatu yang buruk memang telah terjadi pada Monaliza, dan dirinya yang sudah meminta ijin membawa Monaliza keluar rumah ternyata tidak bisa menjaga anak gadis ibu Bianka dengan baik. Ia merasa menjadi seorang pria yang sangat tidak berguna.


"Iya bu, nanti kalau Monaliza sudah baikan dan keluar dari rumah sakit, saya akan membawanya pulang," ucap Leon. Rasa bersalahnya, membuat dadanya serasa begitu sesak.


Leon menyimpan ponselnya diatas nakas, setelah ibu Bianka menutup sambungan telepon darinya. Ia mengacak kasar rambutnya yang sudah tersisir dengan rapi. Ia belum tahu bagaimana caranya memberitahu ibu Bianka, apa yang telah terjadi sebenarnya pada putrinya itu. Ia benar-benar merasa menjadi seorang pria yang gagal, tidak bisa menjaga kekasihnya sendiri.


Pesan notifikasi terdengar, Leon segera meraih ponselnya dari atas nakas dan segera membukanya. Satu pesan tentang video rekaman CCTV yang ia minta pada manager hotel beberapa menit yang lalu.


Mata Leon tidak berkedip, saat melihat seorang pria didalam rekaman CCTV itu mendatangi pintu kamar Monaliza, beberapa detik setelah ia meninggalkan Monaliza seorang diri dikamar hotelnya.


Dengan perasaan kesal, Leon kembali mengacak kasar rambutnya. Semalam, karena terburu-buru memenuhi panggilan ibunya, ia benar-benar lupa memerintahkan bodyguard-nya untuk berjaga-jaga didekat kamar Monaliza.

__ADS_1


Leon Menahan nafasnya saat pintu yang diketuk pria itu berulang-ulang tiba-tiba terbuka. Pria itu dengan mudahnya menyergap dan memeluk Monaliza dengan kencang tepat diambang pintu. Untuk beberapa saat lamanya memang ada perlawanan dari gadis itu, namun ia tidak bisa melihat sepenuhnya, karena posisi Monaliza dan pria asing itu tepat berada diambang pintu, sebagian tubuh mereka terlindung dinding, karena Monaliza terlihat berusaha masuk kedalam kamarnya untuk mencari perlindungan.


Kelopak mata Leon menyipit dan wajahnya nampak meringis, hatinya terasa pilu, ketika menyaksikan Monaliza berjuang menyelamatkan dirinya seorang diri. Ia semakin merasa menjadi seorang pria yang sungguh tidak berguna.


Sampai akhirnya, Leon melihat pria asing itu melemparkan sesuatu benda ringan yang melayang kelorong hotel. "Mungkinkah benda keramat yang kulihat tadi yang dilemparkan pria brengsek itu," gumam Leon didalam hatinya.


Leon menekan layar ponselnya untuk menghentikan putaran video rekaman yang sedang ia tonton. Dengan langkah cepat, Leon menuju pintu dan membukanya. Dilihatnya apa yang ia cari masih teronggok dilorong tidak jauh dari kanar dimana dirinya berada. Setelah memastikan keadaan diluar tidak ada orang, Leon segera memungut benda yang ia lihat sebelumnya dan bergegas membawanya masuk lalu menutup pintu dengan rapat.


Dipungutnya pula gaun Monaliza yang juga masih terhampar dibelakang pintu dan membawanya menuju nakas dan menaruhnya disana bersama kain segitiga yang ia pungut diluar.


Leon kembali melanjutkan kegiatannya menonton rekaman CCTV yang sempat tertunda. Ia melihat seorang pria lain dari kejauhan yang sedang berlari mendekati pintu kamar Monaliza. Walau wajahnya terlihat samar, ia tahu bahwa itu adalah Dirga, karena pakaiannya sama persis dengan yang dikenakan Dirga saat ia mengusir pria itu dari kamar Monaliza.


Leon dapat melihat Dirga menarik kasar kerah baju pria asing yang sedang menggumuli Monaliza, lalu memukul rahang dan wajah itu berkali-kali, lalu mendorong dan menendangnya hingga tersungkur dilantai lorong. Saat pria itu bangkit dan hendak menyerang Dirga, kembali Dirga memberikan tendangan mematikannya pada dada pria itu, hingga ia terpelanting kelantai lorong hotel. Pria asing itu bangkit lalu lari terbirit-birit meninggalkan Dirga.


"Dirga Sialan!" Leon mengepalkan tinjunya dengan rahangnya yang mengeras.


"Kenapa kau harus masuk heuh?! Seharusnya kau cukup membantu pegawaimu itu saja!" Leon memukulkan tinjunya berkali-kali diatas meja nakas, rasa sakit dan perih pada buku-buku tulangnya tidak ia rasakan.


"Kenapa? Kenapa kau harus menyentuh wanitaku? Dia milikku! Aku akan melenyapkanmu!" Tubuh Leon kembali melorot kelantai, ia kembali menangis dengan pedihnya, meratapi semua yang telah terjadi.


Perasaan marah, benci, kesal, dan sesal, semuanya berkecamuk menjadi satu. Ia sadar, ini semua bukan mimpi, tapi ia tidak bisa menerima semua kenyataan itu, terlalu pahit, dan teramat pahit untuk ia terima.

__ADS_1


Leon kembali meraih ponselnya yang tergeletak diatas nakas, ia membuka pesan masuk saat mendengar ada notifikasi diponselnya itu.


Manager hotel kembali mengirim daftar nama Waitress sekaligus foto diri sesuai permintaan Leon. Ia mengernyitkan keningnya karena tidak menemukan satupun dari wajah-wajah difoto itu yang membawakan minuman jus untuk Monaliza semalam. Dengan cepat ia menghubungi sang manager hotel.


"Satu-pun dari foto yang kau berikan padaku, tidak ku lihat waitress itu, mungkinkah waitress itu bukan salah satu pegawaimu, tapi ada orang lain yang ikut menyamar dalam pesta semalam?" suara Leon terdengar marah dan menggeram.


Sementara diseberang sana, sang manager sudah sangat gugup, tubuhnya terasa panas dingin, ia merasa tidak menginjak lantai lagi. Bila benar ada orang yang berani menyusup dipesta majikannya itu, ia sudah bisa memprediksi, bahwa karier yang telah ia bangun selama ini dengan susah payah akan melayang.


"Sekarang juga, periksa rekaman CCTV dari dapur hotel hingga kedalam ruangan acara pesta semalam, segera berikan laporan padaku bila kau mendapatkan sesuatu yang ganjil didalamnya," perintah Leon.


"Satu lagi, musnahkan rekaman CCTV yang telah kau kirimkan beberapa menit yang lalu padaku, aku tidak ingin satu orangpun menontonnya, termasuk dirimu manager Goo," Setelah berucap demikian. Leon kembali memutuskan teleponnya secara sepihak.


Leon kembali menelpon orang yang berbeda.


"Hallo tuan," terdengar suara tegas seorang pria diujung telepon.


"Cari tau, siapa wanita yang bernama Megan, dia tunangan pak Dirga, CEO Surya Otomotif." Perintah Leon.


Seingatnya, Dirga beberapa kali menyebut Monaliza adalah Megan, tunangannya, itu-lah yang membuat Leon penasaran. Apakah Monaliza dan Megan adalah orang yang sama? Ia sedikit curiga karena beberapa waktu lalu ia pernah melihat poto Dirga dan wanita yang mirip dengan Monaliza diponsel Dirga yang ia temukan di dalam lift, ditambah lagi Monaliza adalah pegawai resepsionis di perusahaan milik Dirga, bukan tidak mungkin antara keduanya bisa saja ada hubungan yang tidak ia ketahui, fikirnya.


"Baik tuan, segera akan saya lakukan," sahut suara pria diseberang sana.

__ADS_1


...*** ...


:


__ADS_2