CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
59. Dokter Pasti Salah!


__ADS_3

"Bagaimana dengan putra saya Leon Dok? Dia pasti berhasil melewati masa kritisnya bukan?" cecar nyonya Gamsonrich dengan wajah penuh harap ketika dokter keluar dari ruang tindakan.


"Maafkan kami Nyonya, nyawa putra Anda Leon sudah tidak tertolong lagi," sahut sang dokter dengan raut sedih.


"Tidak mungkin! Leon tidak mungkin meninggal Dokter! Leon putra saya yang sangat kuat! Dia tidak pernah menyerah begitu saja! Anda pasti salah Dokter!" teriak nyonya Gamsonrich tidak terima. Ia mencekal kedua lengan sang Dokter dengan sangat kuat.


"Sekali lagi, maafkan kami Nyonya, kami sudah berusaha semampu kami," ucap sang dokter berusaha tenang. Ia sudah terbiasa menghadapai sikap garang keluarga pasien yang tidak terima saat mendengar berita yang tidak diharapkan.


"Kalian! Kalian semua tidak berguna! Rumah sakit ini lebih baik ditutup saja!" teriak nyonya Gamsonrich semakin kencang sambil mendorong tubuh sang dokter kesamping dengan kasar. Ia lalu berlari masuk diikuti oleh Keny dan Nadine.


Dunia terasa berhenti berputar, lutut nyonya Gamsonrich bergetar hebat, semua sendi-sendinya terasa lemas tidak bertenaga, ketika dilihatnya tubuh Leon terbujur kaku diranjang pasien dengan wajah pucat. Alat monitor kondisi vital ICU terdengar berbunyi panjang dengan layar monitornya menampilkan garis panjang lurus horizontal dari ujung kiri ke ujung kanan.


"Leon, kau tidak boleh meninggal secepat ini sayang, kau masih sangat muda. Kau adalah harapan mama dan papa putraku," nyonya Gamsonrich menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh dingin Leon yang masih terpasang alat-alat medis.


...***...


Dirga memarkirkan mobilnya diparkiran kantor ditempat biasanya ia parkir, lalu mematikan mesin mobilnya. Ia membuka sabuk pengamannya sambil melirik dengan ekor matanya pada Monaliza yang masih duduk membisu dan mematung dijok sebelah kirinya.


"Apakah kau masih sangat betah tinggal didalam mobil ini?" tanya Dirga memecah kesenyapan diantara mereka setelah ia berhasil melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya.


Monaliza tidak menjawab, ia masih pada posisinya semula tanpa ekspresi apapun, seolah Dirga tidak sedang berbicara padanya saja.


"Wanita terkadang aneh, tidak tertebak, dan sangat sulit untuk difahami," gumam.Dirga dalam hati.


"Baiklah, bila kau masih betah disini, aku akan meninggalkanmu seorang diri," setelah berkata demikian, Dirga keluar dari mobilnya, berharap Monaliza mengikutinya. Setelah sepersekian detik, tidak ada pergerakan dari Monaliza.


Dirga tidak berusaha membujuk apalagi memaksa Monaliza, ia malah melangkah pergi meninggalkan mobilnya dan Monaliza yang masih ada didalamnya. Sebenarnya ia tidak bersungguh-sungguh melakukannya. Nyatanya, sebelum kakinya menginjak lantai lobby, ia kembali menoleh kebelakang, kearah mobilnya.

__ADS_1


Setelah menanti beberapa detik, Monaliza belum keluar juga, Dirga buru-buru kembali dengan perasaan cemas, khawatir terjadi sesuatu pada calon isterinya itu.


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Dirga, ketika dilihatnya Monaliza masih pada posisinya semula, tidak bergerak apalagi bersuara, menyandarkan punggungnya pada jok kabin dan menatap lurus kedepan.


Dirga menghirup oksigen disekiarnya, lalu menghembuskannya kembali dengan pelan. Mendengar belum ada jawaban dari Monaliza, ia lalu masuk dan duduk dibelakang kemudinya, menyandarkan punggungnya dan menatap lurus kedepan sama seperti yang tengah dilakukan Monaliza. Hanya ada keheningan didalam mobil yang tertutup rapat itu.


"Pak Dirga," setelah beberapa detik berlalu akhirnya terdengar suara Monaliza memanggil nama bos-nya itu. Sorot matanya masih menatap lurus kedepan tanpa menoleh sedikitpun pada Dirga yang duduk dibelakang kemudi.


"Hm," sahut Dirga hanya dengan gumaman, pria itu pun tidak menoleh sedikitpun pada Monaliza yang duduk disebelahnya dengan pandangan kosong.


"Untuk apa pak Dirga melamar saya semalam?" tanya Monaliza masih menatap lurus kedepan dengan pandangan kosongnya.


"Tentu saja ujungnya untuk menikahimu," sahut Dirga datar, tatapannya juga masih lurus kedepan.


"Untuk apa pak Dirga menikahi saya?" tanya Monaliza lagi.


"Untuk bertanggung jawab pada darah dagingku yang sedang kau kandung itu," sahut Dirga santai, datar, dan tanpa beban.


"Iya, sungguh," sahut Dirga lagi tanpa bumbu-bumbu pada setiap jawabannya. Begitulah Dirga, seorang yang dingin, tidak bisa menghangatkan suasana, terkesan apa adanya.


"Lalu-, kenapa pak Dirga harus meminta hasil DNA dari dokter kandungan itu? Seolah Pak Dirga tidak percaya kalau janin didalam perut saya ini adalah darah daging pak Dirga? Bukankah pak Dirga sendiri yang mengatakan bahwa anak ini adalah anak Anda Pak, walau pada awalnya saya tidak mau percaya. Tapi kenapa setelah saya dan ibu saya menerima lamaran pak Dirga bersama keluarga Bapak, pak Dirga meminta hasil DNA. Apakah pak Dirga sengaja mau mempermainkan dan mempermalukan kami?" setelah mengeluarkan semua uneg-uneg dikepalanya, tangisan Monaliza yang ia tahan langsung meledak hingga pundaknya berguncang hebat. Ia menumpahkan seluruh emosinya dalam air mata dan sedu sedannya.


Dirga nampak panik, ia segera menggeser duduknya dan mendekati Monaliza, namun ia bingung harus berbuat apa untuk membujuk dan mendiamkan calon ibu bayinya itu.


"Mona, Monaliza maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Tolong maafkan aku," kata Dirga masih terlihat panik. Sementara Monaliza masih menangis sesenggukan dengan pundaknya yang terus berguncang karena tangisnya yang belum bisa ia kendalikan.


Dirga akhirnya terpaksa merangkul dan memeluk Monaliza dalam dekapannya, hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia ingat, saat mendiang Megan menangis, satu pelukan menenangkan yang ia berikan akan membuat mendiang tunangannya menghentikan tangisnya.

__ADS_1


Untuk beberapa waktu berikutnya, Monaliza masih tetap menangis dalam dekapan Dirga, membuat pria itu akhirnya terpaksa memangkunya supaya bisa mendekapnya lebih erat untuk menenangkannya, namun lidahnya sangat berat untuk berkata-kata walau hanya sekedar membujuk untuk mendiamkannya.


"Batalkan saja rencana pernikahan itu pak Dirga," kata Monaliza dengan suara seraknya, setelah tangisnya mulai mereda, namun sisa-sisa sesenggukannya masih bisa terdengar sesekali disela-sela ucapannya.


"Tidak Monaliza, aku tidak mau. Kita harus tetap menikah. Aku akan mempercepat jadwalnya dari yang telah direncanakan," ujar Dirga kalang kabut, suranya tidak lagi terdengar datar, ada nada kekhawatiran dalam perkataannya itu. Ia tidak mungkin menyetujui permintaan Monaliza untuk membatalkan pernikahan mereka, sesungguhnya hatinya sudah terpikat pada wanita itu sejak kejadian dikamar hotel itu.


"Untuk apa pak Dirga? Permintaan pak Dirga untuk test DNA itu sudah cukup menjelaskan semuanya, bahwa pak Dirga menyangsikan janin ini adalah darah daging pak Dirga." ketus Monaliza yang kembali merasakan emosinya naik.


"Apakah kediamanmu tadi karena kau memikirkan tentang test DNA itu?" tanya Dirga memastikan.


"Iya," sahut Monaliza lugas, berusaha membendung emosinya.


"Maafkan aku, seharusnya aku menjelaskannya terlebih dahulu padamu supaya kau tidak salah faham seperti ini Monaliza," ujar Dirga menatap wajah Monaliza yang hanya terlihat dahi, alis, dan bulu matanya yang bergerak-gerak karena sedang menundukan wajahnya didalam dekapan Dirga.


"Aku melakukan itu hanya untuk berjaga-jaga saja," sambung Dirga dan segera di sahut oleh Monaliza.


"Apa.maksud pak Dirga dengan berjaga-jaga?" tanya Monaliza seraya menatap wajah CEO-nya itu.


"Berjaga-jaga dari mantan kekasihmu Leon," sahut Dirga.


"Apa hubungannya dengan Leon?" tanya Monaliza lagi tidak mengerti.


"Mantan kekasihmu itu, bukankah dia sangat menginginkanmu? Dan demi ambisinya untuk memilikimu, dia rela mengakui janin yang ada dalam kandunganmu itu adalah anaknya, walau harus berbohong," mendengar perkataan Dirga, ingatan Monaliza kembali terdampar pada Leon yang saat itu dengan sungguh-sungguh mengatakan bila dirinya-lah yang tidur bersama Monaliza dikamar hotel itu.


"Aku tidak mau suatu hari nanti dirinya akan merusak pernikahan dan rumah tangga kita, dengan dalih bahwa anak yang kau kandung itu adalah anaknya. Aku tidak mau itu terjadi Monaliza, dan aku tidak akan pernah rela," ucap Dirga bersungguh-sungguh.


"Supaya aku tenang, jadi aku melakukan test DNA itu. Jadi bila itu terjadi, aku sudah punya senjata untuk melawannya. Leon, dia bisa saja melakukan apapun yang ia mau dengan uangnya," kata Dirga mengakhiri segala alasannya.

__ADS_1


Monaliza tidak berkata apa-apa, ia hanya memikirkan semua perkataan Dirga, walau dalam hatinya tidak mudah untuk mempercayainya. Baginya, Dirga adalah sosok pria asing yang banyak hal belum ia ketahui dan fahami, sedangkan dirinya sebentar lagi akan menikah dengan pria itu.


...***...


__ADS_2