CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
21. Para Tetangga Monaliza


__ADS_3

Dirga dan Firans meninggalkan rumah keluarga Monaliza. Beberapa tetangga melihat kearah mereka, karena keduanya terlihat asing dilingkungan itu.


"Perimisi bu, numpang lewat," kata Firans, saat keduanya melewati sekelompok ibu-ibu yang tengah berkumpul didekat rumah Monaliza.


"Iya silahkan mas," sahut salah satu dari ibu-ibu itu sambil tersenyum menatap wajah tampan Firans dan Dirga yang terlihat sopan.


"Mas-mas ini teman kerjanya Mona ya?" tanya salah satu ibu dari kelompok ibu-ibu itu.


"Iya bu, kami teman kerjanya Monaliza," sahut Firans berusaha ramah.


"Monaliza kemana ya? kok dua hari ini tidak terlihat, kasihan adik-adiknya menangis terus mulai kemarin." tanya ibu-ibu lainnya pada Firans, karena hanya dirinya saja yang berbicara, sementara Dirga mengunci mulutnya dengan wajah datarnya.


"Kalau Monaliza pulang malam, adik-adiknya pasti punya uang belanja," ujar ibu itu lagi.


"Mungkin saja Monaliza lelah, tanggungannya terlalu banyak, belum lagi para penagih hutang mendiang ayahnya datang menagih hutang," celoteh ibu yang lainnya lagi dengan mimik sok paling tahu.


Dirga menelan salivanya, ia merasa ngeri tinggal dilingkungan seperti ini, apapun itu selalu saja dijadikan konsumsi para ibu-ibu yang haus bergosip.


"Monaliza sedang sakit ibu-ibu, ini kami mengambil pakaian gantinya untuk dibawa kerumah sakit," sahut Firans menunjukan tas merah yang ia jinjing. Dirinya mulai tidak tahan mendengar omongan-omongan ibu-ibu berdaster itu.


"Mas ini pacarnya Mona-kah?" celetuk satu ibu pada Firans.


"Bukan bu, kami ini teman-temannya Mona seperti kata kami tadi," sahut Firans cepat, sementara Dirga mulai memberi isyarat dengan wajahnya supaya Firans segera menyudahi perbincangan dengan para ibu-ibu itu karena dirinya sudah sangat jengah mendengar celotehan-celotehan yang semakain menjadi-jadi dari para ibu-ibu itu.


"Oh, saya fikir mas ini pacarnya Mona tadi. Temen-temenya Mona yang datang kemari ganteng-ganteng ya, sayang sekali kalau tidak dipacari," ujarnya sambil terkekeh, lalu disambut ibu-ibu lainnya dengan tawa lepas mereka.


"Kami permisi dulu ya ibu-ibu," pamit Firans dengan buru-buru, ia merasa sudah tidak bisa berlama-lama lagi berdiri ditempat itu.


"Iya mas hati-hati!" sahut para ibu-ibu itu berbarengan. Mereka masih menatap kepergian Dirga dan Firans hingga keduanya menghilang dibalik tembok yang menghalangi pandangan mereka.


...***...

__ADS_1


Dirga kembali bergelut dengan pekerjaannya, semua berkas yang menumpuk dimejanya membuatnya harus memeriksanya satu persatu sebelum ia tanda-tangani. Wajahnya terlihat sangat serius mulai beberapa jam yang lalu.


Firans datang memasuki ruang kerja Dirga, dengan membawa satu amplop berkas ditangannya.


"Tolong kau tanda-tangani ini," ucap Firans, sambil menyodorkan berkas yang ia bawa.


"Apakah kau tidak lihat aku sangat sibuk Firans?" sungut Dirga.


"Aku melihatnya, tapi berkas itu sangat penting, jadi kau harus segera menanda-tanganinya untuk pencairan dana besok pagi Dirga," jelas Firans.


"Tidak bisakah kau menungguku sampai selesai dulu Firans," omel Dirga menatap kesal pada Firans yang tidak perduli pada perkataannya.


"Aku tidak bisa menunggu, berkas ini akan segera aku bawa ke kantor PT. IFF sore ini juga, agar segera diproses pencairannya, pihak keuangan memerlukan kas masuk Dirga," ucap Firans masih bersikeras.


"Lumayan untuk membayar beberapa tagihan yang sudah jatuh tempo Dirga," imbuh Firans lagi.


"Andai saja tanda tanganku ini laku, aku pasti tidak akan memaksamu seperti ini," ucap Firans masih berusaha memaksa.


"Lihat, berkas-berkas yang ada saja masih terlalu banyak harus aku periksa dengan cepat," tunjuk Firans pada berkas yang menggunung diatas mejanya.


"Tenang saja, kau tidak perlu memeriksanya, aku sudah mengeceknya untuk membantumu Dirga, jadi kau cukup membubuhkan tanda-tangan saja diatas namamu yang tertulis disana," tunjuk Firans dengan wajahnya.


"Apakah benar kau sudah mengeceknya dengan teliti?" tanya Dirga memastikan.


"Tentu saja, aku tanggung jawab bila ada kesalahan dikemudian hari," jamin Firans meyakinkan.


"Baiklah, aku akan tanda-tangan disini, aku mempercayai kata-katamu Firans." Dirga meraih berkas yang diberikan Firans padanya, ia mengeluarkannya dari dalam amplop. Tanpa membaca ia langsung membubuhkan tanda-tangannya disana, matanya hanya melirik sekilas nominal rupiah yang akan dicairkan sesuai yang diterangkan oleh Firans asistennya itu.


"Ini, sudah ku tanda-tangani," Dirga menyerahkan berkas yang baru saja ia tanda-tangani pada Firans.


"Terima kasih my boss!" Firans menerima berkas yang dikembalikan Dirga padanya, ia segera membolak-balik lembar demi lembar supaya jangan ada yang terlewatkan.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu, untuk mengantarkan berkas ini langsung ke perusahaan PT. IFF, lalu mampir kerumah sakit menemui Monaliza," ucap Firans sambil memasukan berkas-berkas tersebut kedalam amplop berwarna cokelat.


"Untuk apa kau menemui gadis itu," tanya Dirga menatap Firans.


"Apakah kau lupa kalau ibunya Monaliza menitipkan pakaian putrinya untuk diantar kerumah sakit?" ucap Firans mengingatkan.


"Iya, aku ingat, apakah kau akan kembali lagi kekantor setelah mengantarkan pakaian gadis itu?" tanya Dirga.


"Kalau sempat, aku akan kembali, bila tidak, aku akan langsung pulang kerumah," kata Firans sambil berlalu pergi.


"Oh, ya. Apakah kau mau ikut kerumah.sakit lagi?" tanya Firans, ia menghentikan langkahnya didepan pintu dan berbalik menghadap Dirga yang masih melihat kearahnya.


"Aku lupa bila Monaliza tidak mau bertemu sembarang orang," ungkap Firans.


"Maafkan aku Firans, aku tidak bisa pergi sekarang, pekerjaanku sangat banyak," ucap Dirga memberi alasan.


"Kalau begitu, bagaimana caranya aku memberikan tas yang diitipkan ibu Monaliza itu bila tidak ada dirimu?" Firans nampak bingung.


"Berikan saja pada suster, nanti mereka yang akan memberikan tas-nya pada gadis itu," sahut Dirga memberi saran.


"Baiklah kalau begitu, nanti aku titipkan saja pada suster seperti katamu itu tadi." ucap Firans, ia kembali berbalik, meraih knop pintu, membukanya, dan segera keluar dari ruangan Dirga.


Dirga menatap kepergian Firans yang meninggalkan ruangannya dan menutup pintu dibelakangnya dengan rapat.


Bayangan keluarga Monaliza kembali melintas dibenaknya. Ia tidak menyangka ada pegawainya yang ekonominya sangat sulit seperti keluarga Monaliza. Tinggal di


pemukiman kumuh, memiliki banyak adik yang masih keci-kecil, dan ia harus berkerja keras membiayai hidup keluarganya itu.


Belum lagi keadaan lingkungan yang tidak nyaman, berdampingan dengan para tetangga yang sukanya bergosip ria, selalu mau tahu apa yang seharusnya tidak perlu mereka ketahui.


Dirga berusaha menghalau fikirannya itu, ia berusaha kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya yang ada dihadapannya. Ia bertekad berkerja lebih keras, dan lebih giat lagi. Benar kata kedua orang tuanya, para pegawainya itu menumpukan harapan mereka pada pekerjaan mereka diperusahaan kelurganya untuk menafkahi keluarganya, salah satunya adalah keluarga Monaliza.

__ADS_1


__ADS_2