CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
53. Ucapan Yang Melukai


__ADS_3

"Benar menurut penilaian Mama selama ini, kekasihmu itu wanita yang tidak baik Leon. Bagaimana mungkin bisa hamil diluar nikah?" ucap ibu Leon.


"Ma-," Leon menatap ibunya dengan pandangan tidak terima, sementara Monaliza tidak berkata apapun disampingnya, hanya bisa menahan rasa sakit mendengar ucapan dengan nada merendahkan dari nyonya Gamsonrich.


"Ma, tolong jaga ucapan Mama, hargai perasaan Monaliza." tegur tuan Gamsonrich pada isterinya, ia dapat melihat tatapan ketidak sukaan dari pandangan isterinya, namun ia tidak tahu apa alasannya.


"Papa dan Leon tidak perlu membelanya," sergah nyonya Gamsonrich, "Katakan dengan jujur, anak siapa yang sedang kau kandung itu? Itu bukan anak Leon kan?" cecarnya memandang tajam Monaliza yang masih menunduk disamping Leon.


"Ma-," kembali tuan Gamsonrich menginterupsi isterinya supaya tidak melampaui batasnya dalam memperlakukan tamunya dirumah mereka, namun ucapannya segera dipotong oleh isterinya.


"Pa, ini Mama lakukan untuk kebaikan Leon, jangan sampai putra kita bertanggung jawab pada apa yang tidak dilakukannya," sanggah nyonya Gamsonrich pada suaminya.


"Katakan Monaliza, siapa ayah bayi yang kau kandung? Katakan dengan jujur," lanjut nyonya Gamsonrich pada Monaliza dengan penuh penekanan.


Monaliza menegakkan sediikit wajahnya dengan rasa takut, menatap sebentar lalu menunduk lagi, "Ini-, ini-," suaranya terdengar bergetar menahan tangis, berusaha mendapat kekuatan untuk memberi penjelasan sesuai yang diminta.


"Aku yang salah pada Monaliza Ma, aku yang menyebabkan dia sampai hamil, itu sebabnya aku yang harus bertanggung jawab padanya," potong Leon.


"Mama tidak bicara padamu Leon, Mama bertanya pada Monaliza," timpal nyonya Gamsonrich.


"Katakan Monaliza, aku tahu kau adalah orang yang jujur. Atau kau mau kami membawamu test DNA? Dan bila terbukti itu bukan anak Leon, aku akan memenjarakanmu karena berniat menipu kami," ancam nyonya Gamsonrich tanpa perasaan.


Monaliza mengeleng-gelengkan kepalanya rusuh, antara sedih, marah, terpojok, karena dituduh mau menipu," tidak Nyonya yang terhormat, saya tidak serendah itu berniat menipu keluarga ini," ucapnya menegakkan kepalanya dengan air mata yang telah berlinang, namun suara tangisnya ia tekan supaya tidak keluar dari mulutnya.


"Monaliza benar Ma, dia tidak menipuku," Leon cepat ikut angkat bicara untuk membela Monaliza dihadapan ibunya yang memojokan kekasihnya itu.


"Monaliza korban! Dia ditiduri pria lain gara-gara meminum minuman yang ada dipesta ulang tahun pernikahan Papa dan Mama!" jelas Leon jujur dengan emosi meluap.


"Jika, aku tidak memaksanya ke pesta malam itu, Monaliza tidak akan mengalami nasib malang ini!" kata Leon lagi dengan wajah memerah. Ayah Leon, tuan Gamsonrich terpana mendengar penuturan putranya.

__ADS_1


"Itu, salahnya sendiri Leon, kenapa tidak bisa menjaga dirinya dengan baik," timpal ibu Leon tidak perduli.


"Mama!" teriak Leon dan ayahnya bersamaan dengan wajah tidak percaya bila nyonya Gamsonrich mampu bersikap seolah tidak punya hati seperti itu.


"Saya permisi," Monaliza tiba-tiba berdiri, lalu meninggalkan tempat itu membawa luka hatinya atas ucapan nyonya Gamsonrich padanya. Ia sudah tidak sanggup lagi bertahan ditempat duduknya dan mendengar cercaan yang terus diarahkan pada dirinya oleh nyonha rumah itu.


"Mona! Tunggu!" teriak Leon seraya berlari mengejar kekasihnya itu.


"Leon! Biarkan wanita itu pergi, tidak perlu kau kejar!" larang nyonya Gamsonrich pada Leon yang sudah menjauh.


"Ma, biarkan Leon mengejarnya. Menurutku, Mama sangat keterlaluan malam ini, tidak semestinya Mama bicara seperti itu," kata tuan Gamsonrich dengan wajah kecewa sambil berlalu pergi meninggalkan isterinya diruang tamu.


"Jadi Papa menyalahkan Mama?!" nyonya Gamsonrich mendengus kesal pada sikap suaminya, lalu melipat tangannya didepan dada dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dibelakangnya.


"Mona," panggil Keny dan Nadine disisi pintu, keduanya tidak sengaja mendengarkan semua percakapan antara Leon, Monaliza, dan kedua orang tua.mereka.


Monaliza berhenti sejenak, menatap dengan air matanya yang berlinang dan langsung direngkuh oleh Nadine dalam pelukannya.


"Aku, aku mau pulang kak," Monaliza merenggangkan pelukan Nadine yang memeluknya erat.


"Mona, aku akan mengantarmu pulang," Leon yang berhasil mengejar Monaliza memegang erat pergelangan tangan kekasihnya itu.


"Tidak perlu Leon, aku bisa pulang, sendiri," Mona menepis tangan Leon dengan kasar. Leon terpana, tidak pernah kekasihnya berlaku demikian padanya.


"Mona, sebaiknya Leon mengantarmu pulang, bukankah dia yang membawamu kemari. Jadi dia harus mengembalikannu pulang sampai dirumah," kata Keny.


"Tapi kak-," Monaliza berusaha menolak.


"Tidak ada tapi-tapian Mona, kau tidak boleh pulang sendiri dalam kondisimu seperti ini," kata Keny tak mau dibantah karena turut merasa khawatir.

__ADS_1


"Baiklah," dengan terpaksa Monaliza menyetujui, selama ini Keny dan Nadya isterinya memang selalu baik dan perduli padanya, termasuk juga Leon.


"Leon?! Kau ada disini, aku senang sekali," Nadya yang tiba-tiba muncul didepan pintu merasa sangat girang melihat Leon, ia lalu menghampiri pria itu dan meraih lengannya.


"Maaf, aku harus pergi Nadya," Leon melepas tangan Nadya dari lengannya.


"Kau tidak boleh pergi, apalagi dengan perempuan murahan ini," ucap Nadya kesal menatap Monaliza yang memandang kearahnya.


"Aku tidak suka mendengar ucapanmu seperti itu pada Monaliza, dia kekasihku." sentak Leon marah.


"Ayo Mona, ikut aku," Leon menarik lengan kekasihnya untuk meninggalkan ruangan itu.


"Leon! Tunggu Leon! Kau tidak boleh pergi dengan wanita liar itu! Wanita pekerja klub malam yang tidak jelas itu!" teriak Nadya tidak terima Leon meninggalkannnya begitu saja, dan pergi bersama Monaliza..


Leon menulikan telinganya seolah tidak mendengar jerutan Nadya. Ia menghentikan langkahya saat berpapasan dengan kedua orang tua Nadya diteras rumahnya, ia membungkuk hormat diikuti Monaliza disebelahnya.


"Selamat malam tuan dan nyonya Wirelles, saya permisi dulu, silahkan masuk, didalam ada Papa dan Mama juga kak Keny dan kak Nadya," kata Leon tetap bersikap hormat.


"Baiklah Leon," sahut tuan Wirelles sambil tersenyum bersama isterinya. Sebenarnya dirinya ingin banyak bertanya ketika melihat Leon menggenggam tangan seorang gadis didepan mata mereka. Namun ia mengurungkan niatnya karena merasa ada sesuatu yang kurang beres.


...***...


Leon menepikan mobilnya dekat pintu gang sempit di area rumah Monaliza.


"Kau tidak perlu turun Leon, cukup sampai disini saja," cegah Monaliza, ketika Leon mematikan mesin mobilnya dan hendak membuka sabuk pengamannya.


"Aku harus memastikan dirimu sampai dirumah dengan aman Mona, aku tidak mau kemalangan kembali menimpamu," ujar Leon tetap membuka sabuk pengamannya lalu berniat membuka pintu mobil disebelahnya.


Monaliza tersenyum getir mendengar ucapan Leon padanya. "Nyatanya kemalangan itu telah menimpaku, dan sekarang aku harus berani menghadapinya seorang diri," Monaliza menatap mobil didepannya yang sudah lebih dulu terpakir disana sebelum mereka tiba. Monaliza seperti mengenal mobil itu, namun pikiran kalutnya tidak mau pusing memikirkannya.

__ADS_1


Leon menghentikan gerakannya yang akan membuka pintu disebelahnya, ia berbalik menatap wajah Monaliza yang sedang menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong.


__ADS_2