
Monaliza berusaha turun dari ranjang pasiennya dengan menurunkan kaki kirinya terlebih dahulu. Setelah dirasanya pijakannya cukup kuat ia lalu menurunkan kaki kanannya yang masih terasa sangat ngilu karena terkilir, lalu mulai melangkahkan kakinya perlahan-lahan menuju kamar mandi.
Brukkkk!
Dirga yang sedang membersihkan tangannya di wastafel terkejut mendengar suara keras, seperti benda besar terjatuh. Sabun ditangannya masih belum bersih benar, namun ia sudah bergegas meninggalkan toilet untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Monaliza?!" Dirga cepat menghampiri Monaliza yang terjatuh dilantai menimpa tempat sampah mini yang pecah karena tertimpa bobot tubuhnya.
"Bagaimana kau bisa terjatuh seperti ini?" tanya Dirga sambil membantu Monaliza untuk berdiri.
"Sakit pak," keluh Monaliza menunjuk pergelangan kaki kanannya yang sudah membengkak dari semalam. Ia terduduk dilantai sambil meluruskan kaki kanannya itu.
Dirga memperhatikan pergelangan kaki Monaliza saat gadis itu menunjuk dengan jarinya," kakimu terkilir?" tanya Dirga melirik sekilas wajah Monaliza yang meringis kesakitan.
"Iya," sahut Monaliza.
"Kenapa kau tidak bilang kalau tidak bisa berjalan sendiri kekamar mandi, jadi aku bisa membantumu," ucap Dirga mengomel sambil duduk berjongkok didepan Monaliza.
"Tahan dulu, aku akan memijat sedikit urat yang ada didaerah pergelangan kakimu," Dirga mulai menekan-nekan pergelangan kaki Monaliza yang membengkak, mencari urat yang salah dari jalurnya untuk membenarkannya.
Wajah Monaliza semakin meringis menahan rasa sakit, karena tekanan-tekanan dari jari-jari Dirga pada kakinya yang membengkak itu.
"Lemaskan peegelangan kakimu dan bersiaplah," perintah Dirga.
Prafft! Prafft! Prafft!
"Aww! Aww! Aww!" Pekik Monaliza kencang, saat Dirga menarik pergelangan kakinya, lalu memutar kekiri dan kanan hingga beberapa kali, setelah selesai memijat. Wajah gadis itu memerah menahan rasa sakit yang luar biasa pada pergelangan kaki kanannya itu. Air matanya tidak terasa ikut merembes keluar.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah masih terasa sakit?" tanya Dirga setelah melakukan aksinya tanpa merasa bersalah.
Monaliza menggerak-gerakan pergelangan kaki kanannya perlahan, wajahnya yang tadinya meringis kini mulai tersenyum," sudah lumayan pak, tidak sesakit sebelumnya," ucap Monaliza menatap Dirga dengan wajah senangnya, sambil mengusap airmatanya yang merembes kepipinya.
"Sini aku bantu kekamar mandi, kaki kananmu yang masih membengkak ini jangan dipaksa untuk berjalan dulu sementara waktu," Dirga mengangkat tubuh Monaliza dengan kedua tangannya menuju kamar mandi.
Hati Monaliza berdebar, posisi sedekat ini tidak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya. Sejak lama ia memang mengagumi pria yang sedang menggendongnya ini.
Monaliza menatap wajah Dirga yang ada diatasnya, walaupun bulu-bulu halus diwajahnya itu belum dicukur, dimata Monaliza, pria itu masih terlihat mempesona dan mengagumkan.
Ia memang sering mencuri-curi pandang setiap kali Dirga datang pagi-pagi kekantor dan melintas didepan meja resepsionis tempatnya berkerja, demikian pula disore hari. Bahkan Monaliza rela mempersiapkan dirinya jauh beberapa menit sebelumnya untuk buru-buru menyelesaikan semua pekerjaannya, sehingga saat Dirga lewat didepannya ia bisa dengan leluasa memandangi dan mengagumi setiap gerak tubuh pria itu yang berjalan melintas diepannya dengan tidak pernah merasa bosan.
Entah harus merasa senang atau bagaimana, tapi musibah yang menimpanya membuat Monaliza bisa berdekatan dengan pria yang dikaguminya itu semenjak hari pertama ia berkerja sebagai seorang resepsionis di perusahaan Surya Otomotif.
Dirga menurunkan tubuh Monaliza perlahan dari gendongannya, saat keduamya sudah berada didalam kamar mandi.
Didalam kamar mandi, Monaliza segera membersihkan tubuhnya, karena mulai semalam ia memang belum mandi. Sejujurnya ia merasa malu, mungkin saja pria yang ia kagumi itu telah mencium aroma tidak sedapnya. Apa boleh buat, batinya.
Monaliza mematut dirinya sebentar didepan kaca cermin toilet, memandangi wajahnya yang masih terlihat pucat dan sayu.
Setelah dirasa cukup ia mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum memanggil Dirga, bos-nya. Mengingat namanya saja sudah membuat nafasnya tidak beraturan.
"Pak Dirga! Saya sudah selesai!" Teriak Monaliza dari dalam kamar mandi, suaranya terdengar parau.
Monaliza mendengar suara langkah kaki mendekat, tidak lama pintu dibuka dari luar. Wajah pria yang ditunggunya muncul didepan pintu membuat Monaliza merasa gugup, namun dirinya berusaha bersikap tenang.
Monaliza menahan nafasnya, saat Dirga yang dipanggilnya kembali mengangkat tubuhnya dari kamar mandi menuju ranjang pasien. Hatinya kembali berdebar, merasakan tangan kokoh pria itu merangkumnya dalam gendongannya.
__ADS_1
Sekalipun Dirga selalu bersikap dingin padanya saat dikantor bahkan pada semua orang kecuali ayahnya dan Firans, namun perasaan euforia itu selalu mumcul saat bisa melihat Dirga sekedar melintas apalagi sampai sedekat seperti sekarang ini.
Monaliza benar-benar menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya hanya untuk memandangi detail wajah Dirga yang entah kapan lagi bisa sedekat seperti sekarang ini. Dagunya yang lebar, rahangnya yang kuat, hidungnya yang mancung seperti menara, matanya yang tajam dipayungi bulu-bulu mata yang panjang dan hitam, alisnya yang hitam dan tebal melengkung. Ah, Monaliza terlalu betah memandangnya tanpa berkedip.
"Beristirahatlah, supaya kau cepat pulih," ucap Dirga, sesaat setelah ia menurunkan tubuh Monaliza diranjang pasiennya, lalu membantunya berbaring dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut.
"Terima kasih banyak pak Dirga," lirih Monàliza dengan suaranya yang serasa bergetar menyebut nama pria dihadapannya itu.
"Sama-sama," sahut Dirga datar.
"Aku harus segera kembali, ada banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan," ucap Dirga memandang wajah Monaliza yang kembali terlihat cemas.
"Kau tidak perlu takut, ini rumah sakit. Pria-pria jahat yang kau takuti itu tidak mungkin datang kemari untuk berlaku jahat lagi padamu, malah mereka sekarang sudah menjadi buronan polisi," ucap Dirga yang seolah memahami apa yang dicemaskan oleh Monaliza.
"Kau harus banyak istirahat untuk memulihkan kesehatanmu, supaya kau juga bisa segera memberikan keterangan pada pihak kepolisian atas kasus yang menimpamu semalam," imbuh Dirga.
Mendengar ucapan Dirga, Monaliza menggigit ibu jari tangannya, rasa cemasnya semakin meningkat, mengingat peristiwa semalam yang menimpanya.
"Apakah kau baik-baik saja?" Dirga memperhatikan perubahan wajah Monaliza yang semakin memucat.
"Bi-bisakah pak Dirga menemani saya sebentar lagi, saya benar-benar merasa takut," ucap Monaliza dengan penuh harap.
Dirga terdiam, ia memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya sambil berfikir, karena saat ini dia harus segera ada dikantor, pekerjaannya yang bertumpuk sudah tidak bisa ditunda lagi, tapi kondisi Monaliza juga perlu mendapatkan perhatian fikirnya.
"Baiklah, aku akan menemanimu disini sebentar lagi, sekarang kau tidurlah, sudah waktunya istirahat siang," ucap Dirga mengalah.
Ia lalu duduk dikursinya, sedikit jauh dari ranjang pasien milik Monaliza.
__ADS_1
"Monaliza," panggil Dirga, saat gadis itu baru saja akan memejamkan matanya. Ia ingat sesuatu yang menjadi pertanyaannya sejak semalam.