CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
88. Kita Harus Bicara


__ADS_3

Dirga tersenyum puas didalam hati, saat Monaliza patuh dan melakukan semua yang ia perintahkan. Ujung bibirnya sedikit tertarik untuk menunjukan senyumannya yang hampir tidak terlihat, memandang Leon yang menatapnya dingin. Dirga berlalu, melewati Leon yang akan memasuki lobby.


"Dari mana pak Dirga tahu?" tanya Monaliza yang tak habis fikir akan apa yang dilakukannya dapat dengan mudah terungkap oleh suaminya itu.


"Setelah aku mendengar suara seorang wanita yang berbicara cukup keras, aku menoleh kearah datangnya suara, dan aku sempat menangkap gerakanmu sepersekian detik menarik tangannya untuk masuk sambil membekap mulutnya," jelas Dirga.


"Dan tidak lama, wanita itu muncul kembali," lanjut Dirga lagi dengan tangannya yang sibuk memasang sabuk pengaman pada tubuh Monaliza.


"Maafkan saya Pak," ucap Monaliza setelah Dirga selesai memasang sabuk pengaman untuk dirinya.


"Maaf, untuk apa?" tanya Dirga kembali dengan mode datarnya.


"Yang tadi," sahut Monaliza sedikit melirik pada Dirga yang baru memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri.


"Tentang wanita itu?" tebak Dirga masih sibuk menarik sabuk pengaman lalu menguncinya.


"I-iya," kata Monaliza membenarkan. Ia kemudian merasa gugup, saat Dirga menoleh kearahnya dan menatapnya lekat, ia lalu memalingkan wajahnya, namun tangan Dirga sudah lebih dulu menahannya supaya tidak berpaling.


"Kau tahu, sebesar apa kesalahan yang telah kau lakukan pada suamimu?" kata Dirga masih menatap lekat wajah Monaliza yang tidak berani menatapnya. Wanita itu hanya berani mengarahkan pandangannya pada tangan Dirga yang masih menahan wajahnya agar tidak berpaling.


"A-aku," Otak Monaliza seketika terasa buntu, tidak tahu apa yang harus ia ucapkan.


"Bagaimana kalau suamimu ini tergoda? Apakah kau bisa menerima kesalahan yang suamimu lakukan dengan kesengajaan yang telah kau lakukan itu?" cecar Dirga.


"Atau mungkin kau sengaja melakukannya karena tidak suka menikah denganku? Lalu bila aku tergoda, itu akan menjadi senjatamu untuk bercerai dariku?" sambung Dirga lagi.


"T-tidak Pak, saya tidak ada niat seperti itu. Sungguh, sumpah mati Pak," ucap Monaliza terbata-bata. Ia tidak menyangka suaminya akan berfikir sampai sejauh itu.


Pria yang menikahinya ini, ternyata dia benar-benar pria kaku, tidak bisa diajak bercanda, sifat CEO-nya tidak bisa ditinggal barang sejenak, sungut Monaliza didalam hati, ia tidak menyadari kejahilannya itu memang berbahaya.


"Benarkah?" tanya Dirga untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"I-iya, itu benar."

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban Monaliza, Dirga lalu melepaskan tangannya yang menahan wajah isterinya. Ia lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya, lalu perlahan menjalankannya meninggalkan area tempat itu.


Semnetara dibelakang pintu lobby, Leon ternyata masih berdiri disana. Memperhatikan mobil Dirga yang pergi meninggalkan halaman parkir.


Setelahnya, ia berjalan gontai melewati tiga pegawai resepsionis tanpa menjawab sapaan mereka. Seperti biasanya, para pegawai itu tidak merasa heran ataupun risih akan sikap Leon, adik pemilik tempat itu. Ia sudah dikenal dengan sikapnya yang dingin bila berhadapan dengan para pegawai disana, kecuali Monaliza yang menjadi kekasihnya saat itu.


Namun, walau begitu mereka tetap bersikap hormat padanya, dan salah seorang resepsionis itu langsung menelpon pimpinan mereka, karena bila Leon kesana dia hanya ingin bertemu kakaknya saja.


Tok! Tok! Tok!


Leon mengetuk pintu beberapa kali, setelah terdengar suara seseorang mempersilahkan, ia lalu mendorongnya dan masuk.


"Leon, kemarilah!" panggil Keny, saat melihat wajah adiknya itu muncul didepan pintu.


Leon hanya tersenyum tipis. Ia melangkah mendekati Keny dan kak iparnya yang tengah duduk di sofa tamu ruang kerja menatap kearahnya dengan hangat.


Langkah Leon terhenti, saat melihat kotak hadiah yang sangat ia kenal. Apakah Monaliza dan Dirga yang mengantar itu kemari, batinnya.


Keny dan Nadine yang menyadari tatapan Leon tertumpu pada kotak hadiah itu kini saling berpandangan sesaat. Keny lalu menggerakan dagungnya sedikit dan dibalas anggukan oleh Nadine. Dari isyarat gesture tubuh keduanya saja, terlihat mereka sudah sepakat menjalankan misi yang telah mereka atur sebelumnya.


"Oh, ini-. Ini kue buatan ibu Bianka, tadi aku dari rumahnya," sahut Leon sambil melihat tas plastik yang ia tenteng sejak tadi. Ia mulai beringsut dari tempatnya berdiri dan menuju sofa lalu duduk disana berhadapan dengan kakak dan kakak iparnya.


"Kue? Kue apa?" tanya Nadine penasaran.


"Entahlah, aku juga belum sempat membukanya kak. Tadi aku sudah sampai didepan apartemenku, tapi saat aku ingat kak Nadine sangat suka kue buatan ibu Bianka, jadi aku kemari untuk mengantarkannya," ucap Leon seraya menyodorkan plastik yang ia bawa kehadapan Nadine.


Tanpa banyak bertanya lagi, Nadine langsung mengeluarkan kotak kue dari dalam plastik dan membuka penutupnya.


"Pie susu!" wajah Nadine langsung berbinar saat melihat isi kotak kue itu. Ia mencomotnya satu dan memasukan kue berbentuk circle pipih itu kedalam mulutnya, menggigitnya, lalu mengunyahnya dengan nikmat.


"Lezaattt! Aku suka," ucapnya sambil terus mengunyah, membuat Keny dan Leon tersenyum melihat tingkahnya yang lupa menawari keduanya.


"Kak, tadi aku melihat Monaliza didepan, apa dia sempat bertemu kak Keny?" tanya Leon menatap kakaknya. Keny yang ditanya menahan nafasnya sejenak, ia melirik kearah isterinya yang pura -pura tidak mendengar pertanyaan Leon.

__ADS_1


"Iya, Monaliza kemari bersama suaminya," sahut Keny. Ia menatap wajah adiknya, untuk melihat perubahan raut wajah sang adik, ternyata tidak seperti yang ia bayangkan. Ya, wajah itu terlihat tanpa ekspresi. Sebagai seorang kakak yang sangat mengenal Leon, bahkan perasaan adiknya itu pada Monaliza, ia tahu Leon hanya berpura-pura dihadapannya.


"Untuk apa?" tanya Leon lagi, dan tetap sama, datar, tanpa ekspresi.


"Hanya berkunjung," sahut Keny. Ia sengaja menjawab seadanya, penasaran pada sikap adiknya itu.


"Oh," Leon tidak bertanya lagi.


"Sepertinya aku harus pulang dulu. Hari ini sangat melelahkan, aku mau istirahat," kata Leon sembari berdiri dari duduknya.


"Kau lelah? Lelah tanpa berkerja?" cecar Keny yang tahu kalau adiknya itu sudah tidak pernah kekantor lagi setelah dirinya menikah. Hampir tiap hari ibunya mènelpon dirinya untuk meminta bantuan memberi nasihat pada adiknya itu.


Mendengar perkataan kakaknya, Leon yang akan melangkah pergi mengurungkan niatnya.


"Bukan hanya pekerjaan yang membuat kita lelah kak, tapi fikiran kita juga, bahkan tertawa pun bisa," ucap Leon tanpa berbalik kearah kakaknya, ia bergumam lirih namun masih bisa didengar oleh Keny dan Nadine.


"Apa itu artinya kau lelah karena memikirkan Monaliza," tembak Keny.


"Kak Keny jangan sok tahu," sahut Leon dengan raut tak suka, lalu melangkah pergi.


"Tunggu Leon, kita harus bicara," Keny menyusul Leon yang tetap melangkah menuju pintu.


"Maaf, aku lelah kak. Aku ingin istirahat," kata Leon saat Keny berhasil menahan punggungnya untuk berbalik arah.


"Leon, maafkan kakak. Kali ini kakak memaksamu untuk tetap disini. Kita harus bicara."


Leon terdiam sejenak," baiklah," sahutnya mengalah, berharap ada hal baik dari hasil perbincangan itu nanti. Ia dan Keny lalu kembali ke sofa tamu dimana Nadine masih sibuk menikmati kue pie susu kesukaannya.


"Apa kau butuh privacy? Kita cari tempat lain untuk mengobrol?"tanya Keny.


"Disini saja," sahut Leon singkat.


"Katakan saja apa yang kak Keny ingin sampaikan," lanjut Leon lagi.

__ADS_1


Sebelum mengucapkan kata-katanya, Keny menatap Leon yang tengah menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Ia dapat melihat kekusutan dan beban berat yang terbaca dari raut wajah adiknya itu.


Bersambung...👉


__ADS_2