
Dirga meletakan ponselnya diatas meja kerjanya dengan hati-hati. Hatinya merasa sangat lega setelah berhasil men-transfer kembali dana yang pernah di transfer oleh Leon beberapa hari yang lalu sebelum insiden dirinya dan Monaliza dikamar hotel itu.
Sekarang tinggal ia berfikir bagaimana dirinya harus berkerja keras mendapatkam nilai rupiah yang sama dengan nominal yang telah dikirim oleh Leon sebagai balas budi untuk menjaga kehormatan Monaliza kekasihnya, karena tanpa sengaja Dirga telah merenggut kehormatan kekasih Leon dimalam naas itu.
Sebagai seorang pria sejati, Dirga berusaha menunjukan itikad baiknya pada Monaliza, namun saat ini ia merasa bingung harus memulainya dari mana, mengingat perkataan Leon saat ia dan rivalnya itu berada direstoran.
Ditambah lagi gelagat Monaliza saat ia menyapa di lobi tadi terkesan biasa saja, tidak menunjukan rasa gugup atau pun malu-malu pada dirinya yang pernah menidurinya. Itu semakin memperkuat perkataan Leon yang diucapkan padanya saat direstoran itu.
Mungkinkah Monaliza benar-benar tidak tahu, bila yang menidurinya dikamar hotel itu bukan Leon, melainkan dirinya? batin Dirga. Ia menatap layar monitor komputer yang ada disudut mejanya yang sengaja ia klik untuk memperlihatkan CCTV di ruang lobi, yang mana disana terlihat Monaliza dan Rullina sedang sibuk dan saling berkerja sama dalam menyambut tamu perusahaan sambil mengangkat telepon masuk.
Walau dalam pengaruh alkohol, masih segar dalam ingatan Dirga, bahwa gadis itu selalu menyebut nama Leon, bukan dirinya selama ia menggaulinya. Dirga menggigit ujung ibu jarinya hingga terasa sakit, matanya terus mengawasi gerak-gerik Monaliza dari monitor CCTV disudut meja kerjanya.
Sejak malam naas itu, bayangan Monaliza selalu hadir menari-menari dalam ingatannya, mungkinkah ia telah jatuh cinta pada gadis itu dalam waktu semalam, karena sempat bercinta dengannya dimalam itu.
Dan yang sangat menyedihkan, wanita yang mulai menggeser ingatannya tentang Megan, mendiang tunangannya itu, tidak tahu menahu akan apa yang telah terjadi diantara mereka yang telah melewati malam panas itu.
Kring! Kring! Kring!
Dirga tersentak kaget, telepon kantor yang berada diatas meja kerjanya tiba-tiba berdering kencang, membuyarkan lamunannya tentang Monaliza.
Dengan rasa malas dan lesu, Dirga akhirnya terpaksa mengangkat telepon yang terus-menerus berdering menggema memenuhi ruang kerjanya.
"Hallo pak Dirga,"
Dirga kembali tersentak kaget, ketika mendengar suara wanita dari ujung sambungan telepon kantor. Ternyata, wanita yang baru saja ia lamunkan, dialah yang sedang menelponnya saat ini. Pucuk dicinta, ulam tiba, batinnya.
__ADS_1
Ia mengatur posisi duduknya sambil mengatur napasnya yang tiba-tiba terasa sesak karena debar jantungnya yang mendadak berdetak tidak beraturan.
"Pak Dirga, apakah anda ada disana?" tanya Monaliza dari ujung sambungan telepon, ketika ia tidak mendengarkan suara jawaban dari CEO-nya itu.
"I-Iya, saya disini," sahut Dirga yang tiba-tiba merasa gugup berbicara pada Monaliza, padahal ia sudah berusaha setenang mungkin menjawab telepon Monaliza.
"Pak Harigo dan pak Bonarly dari PT. IFF datang ingin bertemu, katanya sudah membuat janji," kata Monaliza lagi dari ujung sambungan telepon.
"Suruh naik saja, dan aku minta kau yang mengantar mereka kemari," sahut Dirga. Ia sudah mendapat cara untuk bisa berbicara langsung pada Monaliza tentang apa yang akan ia sampaikan, supaya ia tidak merasa seperti orang gila karena menyimpan rahasianya seorang diri.
Sebenarnya bukan rahasianya sendiri, karena ada Leon yang mengetahuinya, namun pria muda itu, kekasih Monaliza berusaha menyembunyikannya karena obsesinya memiliki Monaliza.
"Saya Pak?" tanya Monaliza memastikan. Selama ini sangat jarang pegawai resepsionis diminta untuk mengantarkan tamu yang ingin bertemu dengan CEO, karena tugas itu biasanya ditangani langsung oleh asisten Firans.
"Iya, kau Monaliza. Apakah kau keberatan mengantarkan tamu Perusahaan?" ungkap Dirga dengan nada penekanan, berharap Monaliza tidak berani membantah perintahnya.
"Bagus, setelah sampai dilantai dua belas, minta tamu dari PT. IFF itu menemui asisten Firans terlebih dahulu. Dan kau-, kau harus masuk keruang kerjaku terlebih dahulu, ada sesuatu yang harus kusampaikan," ucap Dirga dipenghujung ucapannya. Telepon langsung diputus sepihak oleh Dirga sebelum Monaliza sempat menjawabnya.
Monaliza menatap gagang telepon ditangannya, begitulah sikap seorang bos, memutuskan sambungan pembicaraan sesuka hatinya, batin Monaliza.
"Mona, ada apa?" tanya Rullina, ketika melihat temannya itu memandangi gagang telepon ditangannya.
"A-, tidak ada Ru, aku diminta pak Dirga mengantarkan pak Harigo dan pak Bonarly ke ruang kerjanya," sahut Monaliza yang tersadar dari lamunan singkatnya.
"Mengantarkan?" tanya Rullina memastikan sambil memiringkan wajahnya sedikit, menatap kearah Monaliza yang duduk disampingnya.
__ADS_1
"Heum," sahut Monaliza sambil menganggukan kepalanya, mengiyakan pertanyaan sahabatnya itu.
"Tidak biasanya pak Dirga seperti itu," kata Rullina mengerutkan keningnya dengan perasaan heran. Ia memperhatikan Monaliza yang kini mulai berdiri, bersiap mengantarkan para tamunya.
"Aku tinggal dulu ya Ru," pamit Monaliza pada teman semejanya itu. Ia menghampiri dua tamu yang sedari tadi menunggu diruang tunggu lobi.
"Pak Harigo, dan pak Bonarly, maaf bila terlalu lama menunggu," ucap Monaliza berbasa-basi sambil mengulas senyum ramahnya.
"Tidak masalah Nona, kami bahkan sanggup menunggu hingga satu jam lagi, asalkan resepsionisnya seramah dan secantik Anda. Bukankah begitu pak Bonarly?" kelakar pak Harigo turut mengulas senyum sambil melirik rekannya yang juga ikut tersenyum bersamanya memandang Monaliza, pria itu hanya menjawab dengan anggukan saja, tanpa mengeluarkan satu patah katapun dari mulutnya.
Monaliza hanya bisa tersenyum mendengar candaan kedua pimpinan PT. IFF, ia tidak berani merespon.apalagi menimpalinya, karena jabatan kedua petinggi itu setingkat dengan Dirga, sang CEO-nya.
"Mari Pak Harigo, dan pak Bonarly, saya antar untuk menemui pak Dirga dan pak Firans diruang kerja mereka yang ada dilantai dua belas," ucap Monaliza mengalihkan candaan kedua tamu pimpinannya itu dengan sikap hormatnya.
Monaliza berjalan lebih dahulu diikuti oleh kedua tamu Perusahaan tempat dirinya berkerja menuju lift. Sesekali keduanya terlihat berbincang dengan Monaliza.
Ting! Tong!
Lift terbuka, Monaliza lebih dulu keluar dari dalam lift lalu diikuti oleh dua petinggi PT. IFF dibelakangnya.
"Selamat pagi pak Firans," sapa Monaliza sopan sambil mengulas senyum diwajahnya, saat dirinya dan dua tamu Perusahaan yang bersamanya mendekati meja asisten Firans yang ada didepan ruangan Dirga.
Ketika melihat Monaliza muncul dihadapannya, Firans langsung menatapnya dengan tatapan intens, pengakuan Dirga dua hari lalu kembali bermain-main dalam kepalanya.
"Pak Firans?" panggil Monaliza, ketika dilihatnya Firans hanya menatapnya tanpa menjawab sapaannya.
__ADS_1
"Sepertinya pak Firans terpesona melihat Anda pagi ini Nona Monaliza," pak Harigo yang berdiri dibalakang Monaliza kembali berkelakar, ketika menangkap tatapan asisten pribadi Dirga pada pegawai resepsionis yang mengantar mereka. Ucapanya disambut tawa kecil oleh pak Bonarly rekannya, sementara Monaliza hanya tersenyum kecil, tidak berani ikut tertawa, karena dirinya hanya pegawai biasa, tidak sebanding dengan para petinggi itu.
"Se-selamat pagi juga Monaliza, pak Harigo, dan pak Bonarly, maafkan saya, maklum belum sarapan," sahut Firans tergagap, ia asal saja berkata dan terpaksa ikut menertawai dirinya sendiri, karena terlanjur merasa malu telah tertangkap basah menatap Monaliza dengan pandangan tidak biasa dihadapan tamu Perusahaan mereka.