CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
96. Takut Kehilangan


__ADS_3

Monaliza kembali terpana, menatap senyum yang kembali mengembang diwajah suaminya itu. Kemanakah perginya wajah kaku suaminya yang ia lihat selama ini? gumamnya didalam hati.


Setelah selesai menyuapi Monaliza makan, Dirga memberikan beberapa butir vitamin dan susu ibu hamil pada isterinya itu seperti biasanya.


Monaliza tidak beranjak kemana-mana, ia tetap duduk dikursinya, menemani Dirga yang sedang menyantap makan malamnya.


"Pak Dirga, maafkan atas kelakuanku pagi tadi, sudah mengata-ngatai pak Dirga semauku," ucap Monaliza setelah dilihatnya suaminya itu telah menyelesaikan makan malamnya.


Dirga kembali tersenyum, saat melihat rona merah pada wajah Monaliza yang menunjukan rasa malunya atas apa yang telah ia lakukan pagi itu.


"Tidak masalah, aku memaklumi tingkah wanita hamil yang kadang sulit dipahami dan sulit dikendalikan," sahut Dirga sedikit meledek. Semburat rona merah diwajah isterinya yang kembali terlihat membuatnya turut merasakan debaran dihatinya, seolah memberitahu padanya bila isterinya itu sudah mulai dan mau membuka hati untuknya.


"Apakah kau tahu, apa alasanku tidak membolehkanmu berkerja, dan memintamu hanya tinggal dirumah?" Dirga menatap lekat wajah isterinya yang duduk dihadapannya.


"Aku, aku tidak tahu," sahut Monaliza tidak berani menduga-duga.


Dirga bangkit dari duduknya, ia melangkah mendekati pagar balkon, menatap lurus kedepan, seakan ingin menembus langit malam yang gelap tanpa satu bintangpun karena mendung yang sebentar lagi akan menurunkan hujan.


"Aku, kehilangan Megan, tunanganku, untuk selamanya." Dirga menghentikan ucapannya sejenak, mengatur napasnya yang tiba-tiba terasa sesak, ingatannya pada Megan memang masih sangat membekas didalam relung hatinya.


"Padahal saat itu, aku sudah memperingatkannya untuk tetap tinggal, dan menikah denganku. Tapi dia tetap pergi untuk meraih cita-citanya untuk menjadi seorang violinist."


"Dan akhirnya tragedi itu terjadi. Langit diatasku serasa runtuh menimpaku, saat aku melihat jasadnya terbujur kaku dirumah sakit," suara Dirga terdengar mulai serak, ia harus berkali-kali menghentikan kalimatnya hanya untuk mengatur pernapasannya yang entah mengapa serasa begitu sesak.


"Aku takut kehilangan untuk yang kedua kalinya. Itu sebabnya aku bersikap posesif padamu, aku memecatmu secara sepihak, dan aku mengurungmu dirumah, ditemani bibi Nia dan pak Rido saja,"

__ADS_1


"Aku takut, takut kehilangan dirimu Monaliza, juga anakku yang sedang kau kandung," Dirga menghentikan suara seraknya yang terdengar bergetar. Ia memegang erat pagar balkon supaya tetap kuat berdiri dengan kedua kakinya.


Monaliza yang terbawa perasaan setelah mendengar alasan yang diungkapkan oleh Dirga, beringsut dari duduknya mendekati suaminya. Ia memberanikan diri untuk memeluk dari belakang, pria yang telah menjadi suaminya beberapa bulan ini. Berharap, pelukannya dapat meredakan rasa trauma suaminya yang masih tersisa.


Pelukan hangat yang dirasakannya, membuat perasaan Dirga kembali tenang. Ia mengusap lembut sepasang tangan Monaliza yang melingkar dipinggangnya.


Tak ingin kehilangan momen langka itu, Dirga dengan hati-hari membalikkan tubuhnya perlahan. Ia turut memeluk erat tubuh Monaliza yang berbadan dua itu, saat sudah berhasil berhadapan sempurna dengan sang isteri.


Dengan penuh kelembutan diciumnya pucuk rambut Monaliza, begitu lama. Aroma wangi menguar dari rambut dan tubuh isterinya, membuat dirinya betah berlama-lama dengan posisinya itu.


Dirga perlahan mendongakan wajah Monaliza keatas, kearah wajahnya dengan bantuan kedua jarinya. Pandangan keduanya saling beradu untuk beberapa saat lamanya, hingga akhirnya terpokus pada bibir ranum dihadapannya yang sedikit terbuka. Saat kelopak mata Monaliza perlahan terpejam, seolah mengisyaratkan bila dirinya boleh melakukan apa yang sedang dikandung hatinya.


Dirga menurunkan wajahnya. Turun, turun dan semakin turun, hingga jarak itu sudah tidak ada lagi. Bibirnya menempel sempurna dengan bibir Monaliza yang berada dibawah wajahnya.


Sentuhan kedua bibi* itu terasa dingin, tidak adanya saling menuntut hingga puluhan detik berlalu.


Gerakan lembut itu mulai terasa lebih kuat, saat sesapan-sesapan itu secara intens dilancarkan oleh Monaliza pada bi*ir bagian bawahnya yang lebih tebal.


Dirga masih membiarkan Monaliza beraksi dengan caranya, hingga akhirnya lidah tidak bertulang, yang sempat mengata-ngatai dirinya tadi pagi tengah menjulur liar dan menembus rongga mulutnya yang entah kapan ia membukanya, memberi akses masuk pada isterinya itu.


Sepasang tangan Monaliza dengan cepat berpindah dan melingkar pada leher Dirga, dan menekan tengkuknya untuk memperdalam pagutannya.


Pagutan itu begitu memabukan, hingga tanpa sadar, Dirga membopong tubuh isterinya itu meninggalkan balkon dan membaringkannya dipembaringan empuk mereka tanpa melepaskan tautan mereka.


Tangan bibi Nia yang telah mengayun keudara, untuk mengetuk daun pintu sang majikannya, terhenti begitu saja saat mendengar suara desa*an dan era**an yang sangat mencurigakan dari dalam sana.

__ADS_1


Bibi Nia berniat mengambil peralatan makan kotor dari dalam kamar, namun setelah mengerti apa yang tengah terjadi, wanita paruh baya itu buru-buru meninggalkan tempat keramat yang tidak boleh dikunjungi sementara waktu.


Ia beruaaha berjalan dengan langkah sangat hati-hati , supaya suara alas kakinya tidak terdengar oleh penghuni kamar yang ia tinggalkan.


Ya, sehati-hati tangan Dirga yang sudah menelusup dan bergerilya didalam piyama sang isteri hingga memicu keluarnya suara-suara aneh yang didengarkan oleh sang bibi.


Desisan itu terdengar tertahan, saat salah satu tangan Dirga naik turun bergantian pada dua gundukan kenyal yang padat berisi itu. Jari-jarinya mulai memutar membentuk pusaran dan sedikit menekan hingga mengeluarkan era**an sexy.


Sementara diluar rumah, mendung semakin menebal. Bunyi guruh dan guntur sesekali terdengar bersahut-saahutan, menandakan bila sebentar lagi, awan mendung itu akan menumpakan air hujannya yang menyejukan dan bahkan sanggup mendinginkan panasnya bumi yang sempat tertimpa panasnya sorotan sinar matahari disiang hari.


Sentuhan-sentuhan pria berumur itu membuat Monaliza harus menanggalkan kewarasanya sementara waktu, menitipkan rasa malunya pada dinding-dinding dan langit-langit kamar yang mendengar semua jeritan kenikmatan yang keluar dari bibirnya akibat ulah liar Dirga yang disukai oleh Monaliza.


"Pak Dirga! Aku mencintaimu!" pekik Monaliza tertahan, saat keduanya sama-sama memuntahkan lahar cinta yang menghangat diinti tubuh keduanya.


Mereka sama-sama mengatur nafas yang tengah terseng-sengal, dengan terbaring tidak berdaya tanpa tenaga yang tersisa, semuanya sudah dikerahkan dengan semaksimal mungkin, dan hanya lelah, keringat saja yang masih tersiaa.


"Setelah apa yang telah kita lakukan, kenapa kau masih betah memanggilku dengan sebutan Pak?" protes Dirga sambil memeluk tubuh Monaliza yang masih menempel erat ditubuhnya.


"Aku, aku tidak tahu harus memanggil apa selain sebutan Pak?" ucap Monaliza memberi alasan.


"Panggil saja Daddy," ucap Dirga memberi ide setelah sempat berfikir sejenak.


"Apa itu tidak terdengar aneh?" sela Monaliza.


"Tidak, tujuannya untuk membiasakan diri pada anak kita yang masih ada didalam kandunganmu memanggilku Daddy-nya," ujar Dirga beralasan. Memang sudah sejak lama dirinya mau mengganti panggilan isterinya untuk dirinya yang terlalu kaku sehingga membuat hubungan mereka berdua tanpa disadari ikut menjadi kaku.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2