
Di ruang VIP, yang sudah didesain begitu rupa, dengan dapur lengkap didalamnya, disana Monaliza dan ibu Han sedang sibuk menyiapkan makan malam mereka sambil mengobrol ringan tentang makanan kesukaan masing-masing.
"Nyonya," panggil Monaliza ragu, setelah dirinya selesai memotong sayuran dan menyiapkan bumbu sesuai arahan ibu Han.
"Ada apa nak Mona?" tanya ibu Han tanpa mengalihkan pandangannya dari daging yang sedang ia panggang diatas pemanggangan.
"Maafkan saya," kata Monaliza pada wanita paruh baya yang terus memperhatikan daging panggangannya supaya tidak kematangan.
"Maaf untuk apa nak Mona?" tanya ibu Han lagi.
"Karena telah mengambil posisi mendiang nona Megan disisi pak Dirga," setelah mengatakan hal itu, Monaliza menjadi kikuk, ia melihat ibu Han menghentikan gerakan tangannya diatas pemanggangan seolah sedang berfikir.
Hal itu tidak berlangsung lama, ibu Han cepat-cepat mengangkat daging panggangannya lalu meletakannya diatas piring saji karena sudah cukup matang.
"Kau tidak perlu minta maaf nak Mona, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Megan sudah tiada, posisimu disisi Dirga adalah takdir," ucap ibu Han, mengelus punggung Monaliza lembut.
"Beberapa hari lalu Dirga datang menemui kami untuk meminta restu menikahi seorang wanita, yaitu dirimu nak Mona," ucap ibu Han sambil mengaduk pasta didalam panci yang sedang ia masak diatas kompor.
Monaliza tertegun menatap tangan cekatan ibu Han yang sedang membuat pasta, sebenarnya ia tidak pokus pada apa yang sedang dilakukan wanita paruh baya itu, melainkan ucapannya. Sedekat itu kah orang tua Megan dengan Dirga, hingga pria itu sangat perlu mendapat restu mereka? batin Monaliza.
"Dirga juga sudah menceritakan semuanya tentangmu pada kami, termasuk calon janin yang ada dalam kandunganmu," lanjut ibu Han dengan terus terang.
"J-janin?" Monaliza terkesiap, ia merasa malu karena ibu Han juga telah mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung, bahkan sebelum dirinya resmi menjadi isteri Dirga.
"Kau tidak perlu malu nak Mona," ucap ibu Han seolah mengerti apa yang tengah di fikirkan oleh Monaliza ketika mendengar suara kegugupan wanita muda itu, sambil menuangkan pasta keatas daging panggang, lalu mulai menumis bumbu yang diracik oleh Monaliza untuk asam manis kepiting pedas kesukaan suaminya dan Dirga.
"Seperti yang Mama katakan tadi, Dirga sudah menceritakan semuanya, termasuk kenapa kau bisa mengandung anaknya," lanjut ibu Han lagi.
"S-semuanya?" wajah Monaliza memerah, ia merasa semakin malu akan keberadaan dirinya yang aibnya diketahui oleh ibu Han dan suaminya juga tentunya.
"S-saya merasa sangat malu Nyonya," ucap Monaliza dengan jujur mengungkapkan apa yang tengah dirinya rasakan saat itu.
"Sudah Mama katakan, kau tidak perlu malu akan apa yang telah terjadi padamu nak Mona, Dirga sudah menceritakan semuanya secara jelas, bila apa yang menimpamu bukanlah salah dirimu nak Mona," kata ibu Han lagi dengan nada mengibur.
__ADS_1
"Kalau boleh Mama menasehatimu, kau tidak boleh berhubungan lagi dengan mantan kekasihmu itu," ucap ibu Han menatap Monaliza dengan wajah serius.
"Apapun alasannya," imbuh ibu Han. Setelah mengucapkan perkataannya itu, ia kembali melanjutkan memasak sayuran yang telah dibersihkan oleh Monaliza.
Monaliza kembali tertegun, haruskah Dirga menyampaikan tentang Leon juga pada keluarga Han, batinnya. Mengetahui semua itu, Monaliza merasa Dirga terlalu percaya pada kedua mantan calon mertuanya itu.
Merasa Monaliza tidak mengatakan apa-apa, ibu Han menoleh, "maafkan Mama, kita baru saja bertemu dimalam ini, tapi Mama sudah terlalu banyak bicara tentang dirimu dan Dirga," ucapnya, seakan mengetahui apa yang tengah difikirkan Monaliza.
"Oh, tidak apa-apa Nyonya. Dari semua yang telah Nyonya tahu, saya merasa yakin, hubungan pak Dirga dengan keluarga Nyonya memanglah sangat dekat," tutur Monaliza yang merasa ibu Han tahu apa yang sedang ia fikirkan.
Ibu Han tersenyum, sepasang tangannya menyentuh kedua pundak Monaliza dengan lembut. "Jangan panggil Nyonya, panggil saja Mama," ucapnya.
"I-iya Ma-ma," kata Monaliza canggung, ia masih merasa sungkan walau ibu Han bersikap baik padanya dari awal mereka bertemu.
Ibu Han hanya tersenyum melihat Monaliza yang terlihat masih sungkan dan merasa canggung padanya, "nanti lama-lama kau akan terbiasa memanggilku Mama."
"Ayo kita bawa semua hasil masakan kita ini kemeja makan," kata ibu Han seraya beralih pada piring-piring sajian yang sudah siap.
Monaliza hanya menjadi pendengar yang baik sambil menikmati makan malamnya, saat keluarga Han membahas restoran milik mereka itu pada Dirga.
Walau sambil mengobrol dan menikmati makan malamnya sendiri, Dirga tidak lupa memperhatikan piring Monaliza dan mengisinya dengan lauk dan sayuran tambahan.
"Aku sudah kenyang," protes Monaliza melihat piringnya yang kembali diisi.
"Makanlah, kau memerlukan asupan dua kali lipat dari biasanya yang harus kau makan," sahut Dirga menatap Monaliza yang berusaha menolak.
"Iya, tapi perutku sudah terasa penuh," ucap Monaliza lagi mempertahankan argumennya, ia merasa malu karena makan terlalu banyak melebihi dari yang lainnya.
"Kau memang harus makan banyak nak Monaliza. Karena apa yang kau makan harus cukup untuk dua orang. Isteriku dulu juga begitu. Iya kan Ma?" kata pak Han pada isterinya.
"Iya nak Mona. Dirga dan Papa benar, kau memang harus makan lebih banyak dari biasanya, supaya perkembangan janin dalam kandunganmu juga selalu mengalami kemajuan," kata ibu Han ikut mendukung perkataan Dirga dan suaminya.
Wajah Monaliza langsung bersemu merah, antara malu karena kehamilannya sudah diketahui oleh ibu dan pak Han, bahagia karena dirinya mendapat perhatian dan diterima baik oleh keluarga Han ditempat itu. Dalam hati ia berharap, semoga keluarga Han yang baru ia kenal itu memang benar-benar adalah orang-orang yang baik hingga nanti.
__ADS_1
Ibu dan pak Han, juga Dirga saling tersenyum satu sama lain melihat Monaliza yang akhirnya menuruti apa kata mereka dengan memakan kembali makan malamnya.
...***...
"Jangan lupa minum susu dan vitaminmu sebelum tidur malam ini," ucap Dirga mengingatkan.
"Iya," sahut Monaliza singkat.
"Ibu, saya pulang dulu. Selamat malam," pamit Dirga. Ia meraih tangan ibu Bianka, lalu mencium punggung tangannya.
"Iya nak Dirga. Hati-hati dijalan," pesan ibu Bianka seraya tersenyum hangat.
Monaliza dan ibunya lalu mengantarkan Dirga hingga kedepan pintu. Mereka memandang kepulangan Dirga hingga ia menghilang dibalik tembok yang sempit dan sepi.
"Mona, tadi Leon datang kemari mencarimu. Sepertinya dia baru saja mengalami kecelakaan, ibu melihat luka didahinya yang masih diperban," kata ibu Bianka seraya masuk dan memperhatikan Monaliza yang sedang menutup pintu rapat dan menguncinya. Wanita itu memang baru mengetahui bila Leon kecelakaan, karena Monaliza tidak pernah mengatakan apapun tentang kecelakaan yang menimpa Leon sepulang dari rumah mereka.
"Leon? Apa yang dia katakan Bu?" tanya Monaliza menatap ibunya.
"Dia masih ingin bersamamu," sahut ibu Bianka sambil mendesah.
"Lalu apa kata Ibu?" tanya Monaliza penasaran.
"Ibu katakan bahwa itu sudah tidak mungkin. Karena kau sudah harus menikah beberapa hari lagi dengan nak Dirga," sahut ibu Bianka.
"Monaliza, ibu harap kau bisa menjaga dirimu dengan baik, itu sama halnya kau menjaga kehormatan calon suamimu. Lupakan Leon. Dia memang pria yang baik, tapi kau tidak berjodoh dengannya," kata ibu Bianka sambil mengusap lembut pundak putrinya itu.
"Iya Bu," sahut Monaliza mengerti.
"Sekarang pergilah tidur, malam sudah mulai larut," setelah berkata demikian, ibu Bianka beranjak dari ruang tamu memasuki kamarnya.
Sementara itu Monaliza beranjak kedapur, menyeduh susu hamilnya dan tidak lupa meminum vitamin seperti yang dipesankan Dirga padanya.
Bersambung...
__ADS_1