
Apa?! Megan?!" Firans tersentak dengan mata mendelik, ia menatap Dirga dengan tatapan aneh. Ia meraba tengkuknya sendiri, bulu kuduknya tiba-tiba meremang, mungkinkah Dirga sudah tidak waras, benaknya. Tidak mungkin orang yang sudah meninggal bangkit lagi hanya untuk bercinta.
"Tidak! Tidak mungkin," kata Firans sambil memundurkan dirinya menjauh dari meja kerja Dirga.
"Megan sudah tiada Dirga, bagaimana mungkin kau bisa tidur dengannya semalam. Kau pasti sedang berhalusinasi saja, atau kau sedang bermimpi, atau bahkan mungkin kau sekarang sedang memerlukan seorang psikolog untuk membantumu," cerocos Firans yang masih shock pada pengakuan Dirga yang sangat mengejutkannya.
"Aku tidak sedang bermimpi Firans, aku juga tidak memerlukan seorang psikolog seperti yang kau katakan itu, tapi-," sahut Dirga berusaha memberi penjelasan pada Firans.
"Stop Dirga! Stop!" Firans memotong ucapan Dirga yang menurutnya sudah tidak menggunakan akal sehatnya.
"Aku tidak mau dengar omong kosongmu Dirga. Megan sudah tiada! Megan sudah meninggal! Kau ingat, pusaranya masih ada, dan kau bilang tidak bermimpi bertemu Megan," Firans merasa Dirga benar-benar sudah terganggu jiwanya.
Dirga menutup mulutnya rapat, membiarkan Firans terus berbicara hingga puas. Dalan hatinya, ia merasa kesal pada asistennya itu. Bukannya mendengar, tapi Firans malah mengemukakan asumsi-asumsinya sendiri tanpa mau mendengarkan ceritanya terlebih dahulu.
"Firans! Bisakah kau menutup mulutmu yang sangat membuatku gemes itu? Aku belum menceritakan semuanya secara utuh. Tapi perkataanmu sudah panjang lebar dan bercabang-cabang kemana-mana," tegur Dirga akhirnya. Ia sudah lelah menunggu ocehan Firans yang tidak ada ujungnya.
Spontan, Firans menutup mulutnya dengan merapatkannya sambil mata memandang kearah Dirga yang sudah kesal pada apa yang dilakukannya.
"Sorry, sorry, my Boss," ucap Firans tersadar, sambil mengangkat kedua tangannya keudara tanda.
"Sekarang berbicaralah Dirga, aku akan berusaha mendengarkanmu dengan baik," Firans memajukan langkahnya dan menarik kursi lalu duduk dusana, dihadapan meja Dirga dan siap untuk mendengar cerita utuh dari sahabatnya itu.
"Dalam pengaruh alkohol, aku melihat dan membayangkan bahwa gadis itu adalah Megan. Aku sangat sadar bila Megan sudah pergi selama kurang lebih dua bulan ini, dan aku sangat merindukannya Firans," ucap Dirga dengan wajah sedihnya
"Bahkan gila-nya lagi, aku menipu diriku sendiri, berharap dia benar-benar Megan, tunanganku yang sudah meninggal itu, sampai akhirnya aku melakukan perbuatan terlarang itu padanya," ucap Dirga lirih diakhir kalimatnya.
"Siapa gadis itu?" tanya Firans tidak kalah lirih. Ia turut terhanyut akan kesedihan Dirga yang tidak pernah melupakan tunangannya yang sudah meninggal itu, hingga dirinya dapat mengerti kenapa Dirga sampai jatuh kedalam dosa itu.
"Monaliza,"
"Apa?! Monaliza?! Resepsionis kita, dan kekasih Leon, tuan muda keluarga Gamsonrich?!" Firans kembali tersentak untuk kedua kalinya.
__ADS_1
"Semua yang kau katakan itu benar Firans," jawab Dirga membenarkan. Firans semakin terpana mendengar jawaban Dirga padanya, hingga membuat mulutnya sedikit terbuka.
"Dirga, semoga saja Leon tidak tahu apa yang telah kau lakukan pada Monaliza kekasihnya," ucap Firans cemas.
"Semua memar didaerah bibir dan rahangku ini, Leon-lah yang melakukannya," kata Dirga menatap wajah Firans sambil menyentuh wajahnya dengan kedua jarinya.
"Kau serius Dirga?!" Firans tambah terkejut, ia tidak menyangka hal yang ia takutkan benar-benar terjadi.
"Tentu saja aku tidak membual Firans," sahut Dirga dibarengi mimik wajahnya yang bersunguh-sungguh.
"B-Bagaimana caranya Leon bisa memukulmu Dirga, apa dia telah mengetahuinya dari orang-orang kepercayaannya," Firans semakin tegang, namun rasa penasarannya menuntut dirinya terus bertanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya.
"Tidak-, Leon bahkan melihat dengan mata dan kepalanya sendiri saat aku masih tidak berbusana dan berbaring disebelah Monaliza," ucap Dirga terus terang, tanpa ada yang ia tutup-turupi dari Firans.
"Crazy! You're Crazy Dirga!" teriak Firans. Kejutan demi kejutan yang didengarnya dari mulut Dirga membuatnya benar-benar mencemaskan sahabatnya itu.
"Dirga, kau membawa dirimu masuk dalam masalah besar kalau begitu." kata Firans dengan tubuhnya yang terasa lemas.
"Kau benar Firans, aku sekarang memang tengah mengalami masalah besar, aku sendiri bingung, apa yang harus aku lakukan Firans," sahut Dirga.
"Apa maksudnya ini Dirga?" tanya Firans tidak mengerti, saat melihat dua tranaaksi yang ditransfer oleh yang bernama Leon Gamsonrich.
Dirga mulai menceritakan pada Firans bagaimana dana-dana fantastis itu bisa masuk kedalam rekeningnya. Firans hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah yang kembali terpana setelah mendengar penuturan Dirga secara terperinci.
"Jadi-, apa yang akan kau lakukan selanjutnya Dirga," tanya Firans yang tengah merasakan kerumitan yang dihadapi oleh Dirga.
"Entahlah Firans, aku belum tahu. Untuk saat ini, aku harus mengembalikan dana Leon yang telah ia transfer padaku." kata Dirga dengan wajahnya yang terlihat murung.
"Tapi Dirga," kata Firans terlihat ragu.
"Tapi kenapa Firans?" tanya Dirga menatap asistennya.
__ADS_1
"Perusahaan kita sekarang benar-benar sedang memerlukan dana untuk membayar utang dagang yang telah jatuh tempo Dirga," Firans mengingatkan.
"Tidak Firans, aku tidak mau menggunakan uang itu. Kita semua akan berkerja keras untuk mendapatkan dana perusahaan yang kita butuhkan," ucap Dirga yang selalu memegang prinsip kerja kerasnya.
"Pantang bagiku, menggunakan uang yang bukan hasil kerja kerasku," imbuh Dirga dengan semangatnya yang bangkit lagi.
"Aku suka dengan prinsipnu Dirga," ucap Firans dengan tulus memuji, menunjukan senyum manisnya
"Terima kasih Firans" ucap Dirga ikut tersenyum tipis.
...***...
"Tubuhmu panas Mona? tanya Leon, ia tampak khawatir, sambil membopong kekasihnya itu kembali ketempat tidur.
"Apakah kau demam?" Ia menyentuh kening Monaliza dengan punggung tangannya. sambil melihat bola mata Monaliza yang memerah karena hawa panas pada tubuhnya.
"Aku panggilkan dokter sekarang," Leon segera meraih ponselnya untuk menelpon dokter keluarganya semalam.
"Jangan Leon," Cegah Monaliza menarik tangan Leon.
"Kenapa Mona?" tanya Leon heran, Ia memandang kearah Monaliza yang duduk ditempat tidurnya.
"Mungkin aku kelelahan saja. Setelah beristirahat aku pasti sudah membaik." kata Monaliza meyakinkan Leon.
"Kalau begitu, kita sarapan sekarang, supaya kau segera bisa beristirahat." ucap Leon. Ia menuju meja, mengambil hidangan yang sudah tersaji diatasnya, lalu membawanya mendekati Monaliza ditempat tidur.
"Aku akan menyuapimu Mona,"
"Jangan Leon, kau juga harus sarapan. Aku masih bisa melakukannya sendiri." tolak Monaliza.
"Aku akan makan kalau kau sudah kenyang, aku ingin kau cepat sembuh dan kesehatanmu cepat pulih Mona." Leon langsung menyendok makanan dari dalam piring lalu memberikannya kemulut Monaliza. Gadis itu terpaksa menerimanya, takut Leon merasa tersinggung.
__ADS_1
"Leon," lirih Monaliza memanggil nama kekasihnya itu, sambil mengunyah sarapan dalam mulutnya.
"Iya, ada apa Mona?" Leon memandang sejenak kearah Monaliza.