CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
92. Ketegasan Yang Tertunda Membuahkan Peyesalan


__ADS_3

Morgan Gamsonrich memegang kepalanya yang mendadak terasa berdenyut setelah mendengar penuturan dari putra sulungnya, mengenai apa yang telah dilakukan oleh Nadya, menantu kesayangan isterinya itu.


Usianya yang sudah terbilang senja sebenarnya sudah tidak mungkin memikirkan hal-hal berat seperti yang tengah menimpa keluarganya saat ini.


"Pa, Papa baik-baik saja?" tanya Keny khawatir, ia memegang lengan ayahnya.


"Papa sedikit pusing saja," sahut Morgan Gamsonrich berbohong, hanya untuk menenangkan putranya.


"Sebenarnya ini semua salah Papa, tidak bersikap tegas untuk menolak pernikahan adikmu Leon dengan Nadya," ucap Morgan Gamsonrich menyesali dirinya.


"Jangan menyalahkan diri Papa. Aku mengerti, kenapa Papa tidak bisa menolak pernikahan Leon dan Nadya waktu itu. Bukankah semuanya itu karena Mama?" ucap Keny menghibur ayahnya supaya tidak larut dalam penyesalannya.


"Iya, kau benar Keny. Papa tidak ingin penolakan Papa itu nantinya akan berdampak buruk pada sakit jantung Mamamu," ucap Morgan Gamsonrich mengingat alasan sederhananya waktu itu.


"Tapi nyatanya-, pembiaran yang Papa lakukan waktu itu akhirnya kita rasakan akibatnya sekarang," ucapnya lagi dengan wajah kembali penuh penyesalan.

__ADS_1


"Sudahlah Pa, mungkin ini memang sudah jalannya. Anggap saja apa yang telah terjadi didalam keluarga kita adalah pelajaran berharga yang dapat kita ambil hikmahnya," hibur Keny kembali, berusaha membuat ayahnya tidak menyalahkan dirinya lagi.


Mendengar ucapan Keny, Morgan Gamsonrich mengangguk pelan, menyetujui apa yang dikatakan putranya itu, sekalipun ia menyesalinya ribuan kali, tidak akan mengubah apapun yang sudah terlanjur terjadi. Ia lalu menyandarkan punggungnya disandaran kursi dibelakannya, dan kembali menghela napasnya, seolah berusaha menyingkirkan beban fikirannya yang terasa berat.


"Keny, Papa harap kau bisa bergabung di perusahaan milik keluarga kita. Papa sangat memerlukan bantuanmu sekarang," ucap Morgan Gamsoneich mengalihkan pembicaraan.


"Pa, aku benar-benar minta maaf. Aku terlalu sibuk dengan usahaku sendiri. Apa lagi sekarang, aku telah mengembangkannya lagi di pulau lain. Jadi, aku harus lebih pokus lagi menekuni usahaku ini Pa," ucap Keny jujur, walau merasa tidak enak pada ayahnya.


"Lalu siapa lagi yang bisa membantu Papa sekarang selain dirimu Keny? Adikmu Leon sudah lepas tanggung jawab, semenjak dia menikah, dia sudah tidak pernah kekantor lagi, apalagi mengurus perusahaan keluarga kita," adu Morgan dengan raut wajah lesunya bercampur sedih.


"Maafkan Keny Pa. Bukannya Keny tidak ingin membantu, Keny benar-benar tidak bisa sekarang," ucap Keny penuh kehati-hatian, ia memandang wajah ayahnya dengan raut sedih.


"Waktu itu Keny sudah meminta ijin pada Papa dan Mama untuk mandiri, merintis dan membangun usaha Keny ini dari nol seorang diri. Dan sekarang usaha Keny sudah membuahkan hasil seperti yang Keny impikan, tidak mungkin Keny meninggalkannya begitu saja," ucap Keny lagi ditengah ketidak berdayaannya memenuhi permintaan sang ayah.


Mendengar ucapan Keny, Morgan Gamsonrich teringat, bagaimana dirinya dulu, saat masih sangat muda, membantu ayahnya mewujudkan membangun usaha. Itu memang sangat tidak mudah, banyak hal yang harus ia korbankan, pendidikan, kebebasan, dan juga cinta.

__ADS_1


Untuk pendidikan, walau agak terlambat, ia masih bisa menyelesaikannya setelah belasan tahun menjadi pengusaha muda mendampingi ayahnya. Kebebasan, tidak terlalu ia risaukan. Sedangkan cinta, ia hampir bernasib sama dengan putra bungsunya, tidak bisa menikahi gadis yang ia cintai, dan terpaksa menerima perjodohan untuk menikahi wanita yang menjadi isterinya sekarang.


"Papa mengerti, maafkan Papa Keny. Papa terlalu pusing memikirkan banyak masalah, jadi Papa berkata seperti itu padamu," ucap Morgan Gamsonrich berusaha mengulas senyum diwajahnya.


"Iya Pa, Keny juga mengerti mengapa Papa bersikap seperti tadi. Sekali lagi Keny minta maaf," ucap Keny lagi dengan tulus pada ayahnya.


"Sudahlah, lupakan saja semuanya. Temani Papa makan siang sekarang. Tidak ada penolakan," ujar Morgan sambil menggerakan jari telunjuknya ke udara didepan wajah putranya dengan wajah tegas.


Keny tertawa, tentu saja kali ini dirinya tidak akan menolak, perutnya juga terasa lapar minta diisi.


"Baiklah Pa, Keny juga lapar. Lama juga tidak menikmati makan siang bersama Papa," sahut Keny seraya berdiri dari duduknya.


Keduanya lalu beranjak, melangkah meninggalkan ruang kerja Morgan Gamsonrich, pria kaya, yang masih terlihat menarik di usia senjanya. Itu sebabnya, ketampanannya dikala muda telah diwarisi oleh kedua putranya, Keny dan Leon.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2