CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
69. Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

"Leon, selepas berkerja sore ini kau langsung pulang kerumah, bukan ke apartemenmu lagi," kata nyonya Gamsonrich pada putranya. Walau Leon tidak menjawab, tapi nyonya Gamsonrich tahu bila putranya mendengar apa yang ia katakan.


"Persiapkan dirimu dengan baik, keluarga tuan Wirelles Nongka akan datang kerumah kita malam ini untuk membicarakan pernikahan, kau tidak boleh terlambat," ucap nyonya Gamsonrich lagi seraya berdiri dari duduknya.


"Aku tidak mau menikah dengan Nadya Ma. Aku hanya menginginkan Monaliza, bukan Nadya, perempuan yang sama jahatnya seperti Mama," geram Leon dari belakang meja kerjanya.


"Bukan sama, tapi lebih jahat dari Mama!" ralat Leon dengan nada meninggi.


Nyonya Gamsonrich menatap putranya, ia sedikit limbung hingga berpegangan erat pada pinggiran meja kerja Leon. Tidak biasanya putranya itu menjawab kasar saat berbicara dengannya.


"Leon! Apakah kau mau menjadi anak durhaka?! Menolak saja keinginan Mama, apalagi sampai mengatai Mama seperti yang kau ucapakan tadi, itu sudah bagian dari anak durhaka!" sahut nyonya Gamsonrich tidak kalah meninggi.


"Selalu bertameng kata anak durhaka! Itu yang selalu menjadi senjata para orang tua untuk menjadikan anaknya boneka! Demi apa?! Demi bisnis! Demi status sosial! Demi apa lagi?!" teriak Leon yang sudah tidak tahan lagi ada dalam kungkungan ibunya yang selalu memaksakan kehendaknya.


"Bagus! Ini hasil pergaulanmu dengan Monaliza. Kau yang selalu menjadi anak penurut mulai kecil tidak seperti Keny kakakmu yang pembangkang itu, sekarang sudah berani menyaringkan suaramu saat berbicara pada Mama,"


"Itu sebabnya, Mama sangat menentang hubunganmu dengan perempuan miskin dan murahan itu. Dia membawa pengaruh buruk dalam dirimu Leon!" tuduh nyonya Gamsonrich.


"Stop! Monaliza tidak seperti yang Mama katakan," ucap Leon tidak terima.


"Keinginan Mama untuk menjadikan Nadya menantu, akan membuat Mama menyesal," sambung Leon lagi.


"Sudahlah! Mama tidak mau melanjutkan perdebatan ini," ucap nyonya Gamsonrich tidak mau mendengar.


"Mama menunggumu dirumah malam ini. Dan kau tidak punya alasan untuk tidak hadir dalam pertemuan penting malam ini," lanjutnya menyudahi perdebatan dengan putra kesayangannya. Ia berbalik lalu meninggalkan ruangan itu, menyisakan Leon yang menahan amarahnya hingga memperlihatkan rahangnya yang mengeras.


...***...


"Tante, Leon pasti datang kan?" tanya Nadya yang nampak gelisah, ia bolak balik melihat arloji dipergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul delapan malam.


"Tenang saja Nadya, Leon pasti datang," sahut nyonya Gamsonrich mengulas senyumnya, namun dalam hatinya ia pun merasa khawatir bila putranya itu benar-bemar tidak datang, ia pasti merasa malu dengan keluarga calon besannya itu.


"Maklum Nyonya, Nadya sudah tidak sabar meresmikan hubungannya dengan Leon. Hampir setiap saat dia membicarakan Leon dirumah," kata nyonya Wirelles Nongka membuka rahasia membuat wajah Nadya memerah menahan malu.


Ucapan nyonya Wirelles Nongka disambut tawa oleh kedua keluarga itu kecuali tuan Gamsonrich, ayah Leon. Dirinya hanya tersenyum kecil, merasa ganjil akan perkataan nyonya Wirelles Nongka yang menekankan tentang peresmian hubungan antara Leon dengan Nadya. Sepengetahuannya, Leon tidak sedang menjalin hubungan apapun dengan Nadya, hanya mereka saja yang mengaku-ngaku.


"Bagaimana bila kita berpindah keruang makan saja sambil menunggu kedatangan Leon?" ucap nyonya Gamsonrich memberi tawaran ketika merasa jam makan malam mereka sudah tertunda karena putra kebanggannya yang mulai tidak patuh itu.

__ADS_1


"Ide bagus," respon nyonya Wirelles Nongka menyetujui."Begitu Leon datang kita bisa langsung pada pembahasan," imbuhnya.


Mereka lalu melangkah menuju ruang makan. Kembali obrolan mereka berlanjut disana, mulai pembahasan ringan tentang keluarga hingga bisnis kerjasama mereka yang tengah berjalan.


Setelah menyelesaikan makan malam, kedua keluarga itu kembali beranjak untuk berpindah keruang tamu. Tuan Gamsonrich menarik lengan isterinya saat melihat keluarga Wirelles melangkah lebih dulu keruang tamu.


"Ada apa Pa?" tanya nyonya Gamsonrich yang terhenti langkahnya.


"Aku rasa, perjodohan antara Leon dan Nadya perlu kita pertimbangkan ulang. Kasihan Leon, dia tidak mau menikah dengan Nadya."


"Pikirkan dengan baik Ma, Leon adalah putra kita, apalagi Mama sangat menyayanginya, jadi biarkan Leon memilih pasangannya sendiri, bukan karena kita yang menjodohkannya."


"Karena selama ini, Leon sudah menjadi anak yang selalu patuh dan menuruti semua keinginan Mama sejak dirinya masih kecil. Jadi, khusus untuk pasangan hidup, berilah Leon kelonggaran untuk memilih siapa wanita yang menjadi isterinya," ujar tuan Gamsonrich berusaha memberi pemahaman pada isterinya yang lebih dominan bila urusan putra mereka.


"Justru karena aku sangat menyayangi putra kita, aku menginginkan yang terbaik untuknya Pa. Dan Nadya adalah calon isteri yang terbaik, bukan perempuan murahan itu," sahutnya.


"Tapi Ma, Leon tidak menyukai Nadya-,"


"Percayalah pada Mama, Mama tahu apa yang terbaik buat putra kita," potong nyonya Gamsonrich.


Tuan dan Nyonya Gamsonrich menoleh kearah suara Nadya. "Ayo Pa, Leon sudah datang." Nyonya Gamsonrich menarik tangan suaminya untuk segera bergabung diruang tamu.


Leon melirik Nadya yang tengah bergelayut manja dilengan kuatnya, "Bisakah kau melepaskan tanganmu dari lenganku? Aku merasa cukup lelah karena sudah berkerja seharian," pinta Leon dengan raut datarnya.


"B-baiklah," Nadya terpaksa melepaskan tangannya dari lengan Leon, wajahnya menekuk, kecewa pada sikap Leon yang selalu dingin padanya.


"Nadya sayang, duduk disini," panggil nyonya Wirelles sambil menunjuk ruang kosong disebelah dirinya duduk.


"Biarkan Leon meregangkan otot- ototnya dulu sebelum kita membicarakan hal penting tentang kalian berdua," imbuhnya lagi sambil mengulas senyum diwajahnya. Sejujurnya, ia merasa tersinggung melihat putri kesayangannya yang menja diperlakukan tidak hangat oleh Leon.


"Leon, makanlah terlebih dahulu, setelah itu barulah kita melanjutkan pertemuan kita malam ini. Papa khawatir kau akan sakit bila terlambat makan malam. Bukankah kau baru keluar dari rumah sakit?" kata tuan Gamsonrich mencari alasan supaya bisa berbicara empat mata dengan putranya.


"Leon sudah makan diluar sebelum datang kemari Pa," kata Leon berbohong. Dirinya belum mengisi perutnya sejak pagi, selera makannya hilang setelah pertemuannya tadi pagi dengan Monaliza, hingga kini ia masih menahan rasa sakit dihatinya, saat melihat Monaliza yang sangat ia cintai pergi bersama pria lain didepan matanya.


"Mari kita segera mulai apa yang perlu dibahas malam ini," ucap Leon dan duduk tenang disisi ayahnya.


"Kau sepertinya kurang sehat Leon," kata tuan Wirellea Nongka melihat wajah pucat Leon yang duduk berseberangan dengan dirinya.

__ADS_1


"Saya sehat Om," ucap Leon sedikit menyunggingkan senyum diujung bibirnya yang hampir tidak terlihat.


"Baiklah, kalau demikian kita mulai saja sekarang, supaya semuanya segera selesai, jadi Leon bisa segera beristirahat," kata tuan Gamsonrich membuka pembicaraan penting malam itu.


"Apakah kau setuju menikahi putriku Leon?" tanya tuan Wirelles tanpa basa-basi. Suasana nampak hening menanti jawaban Leon yang tidak langsung menjawab.


Nadya meremas telapak tangan ibunya, ia merasa was-was, karena selama ini Leon sslalu bersikap dingin padanya hingga membuatnya takut bila Leon akan menolak perjodohan mereka.


Tidak jauh berbeda dengan kedua orang tua Nadya, nyonya Gamsonrich juga merasa tegang menanti jawaban putra kesayangannya, hanya tuan Gamsonrich yang nampak santai, ia yakin, Leon putranya pasti memutuskan yang terbaik untuk masa depannya.


"Saya setuju," sahut Leon akhirnya memecah keheningan dalam ruangan itu, sontak membuat mereka yang mendengarnya kaget atas jawabannya yang tidak terduga.


Nadya langsung memeluk erat ibunya, wajahnya terlihat sangat bahagia, demikian pula dengan kedua orang tua Nadya dan nyonya Gamsonrich.


"Leon, apakah Papa tidak salah dengar?" tanya tuan Gamsonrich tidak percaya seraya mengusap tangan putranya.


"Iya, Papa tidak salah dengar," sahut Leon.


"Kau yakin mau menikah dengan Nadya?" tanya tuan Gamsinrich memastikan.


"Iya, Leon yakin Pa, bukankah itu yang diinginkan Mama? Leon hanya tidak ingin dikatakan anak yang durhaka dan tidak patuh pada orang tua," ucap Leon masih dengan raut datarnya.


"Saya permisi dulu untuk beristirahat Om dan Tante," kata Leon berpamitan, ia merasa sangat tidak betah berada disana.


"Tapi kita harus menentukan dulu tanggal pernikahannya," kata nyonya Wirelles Nongka membuat Leon menghentikan langkahnya.


"Tentukan saja tante, saya ikut saja hasil keputusan," sahut Leon tidak bersemangat.


"Bagaimana kalau tiga hari lagi, lebih cepat lebih baik," ide nyonya Gamsonrich bersemangat.


"Iya, kami setuju Nyonya," sahut nyonya Wirelles Nongka cepat.


Leon kembali memegang dadanya yang tjba-tiba terasa sakit didalam sana, saat didengarnya tanggal pernikahanya bersamaan waktu dengan pernikahan Monaliza dan Dirga.


Leon sudah tidak mendengar lagi pembahasan kedua orang tuannya dengan orang tua Nadya lebih lanjut, konsentrasinya sudah beralih pada rencana pernikahan Monaliza yang ia peroleh dari orang suruhannya.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2