CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
41. Mual dan Muntah


__ADS_3

Hoekk! Hoekk! Hoekk!


Sudah beberapa kali Monaliza bolak-balik toilet demi memuntahkan semua isi perutnya. Makanan yang ia makan bersama Keny sudah berpindah semua kedalam toilet.


Monaliza menyandarkan punggungnya ke dinding toilet, mengatur nafasnya yang sesak, wajahnya nampak pucat karena sedari tadi muntah-muntah tanpa henti.


Setelah dirasa sedikit nyaman, Monaliza membasuh wajah lusuhnya menggunakan air kran wastafel. Mengeringkan wajahnya dengan tissue dari dalam tasnya. Setelahnya, ia kembali memoles wajahnya dengan make-up yang sempat luntur.


"Mona? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Keny, semenjak tadi, ia menunggu diluar toilet wanita, ia merasa khawatir ketika melihat Monaliza bolak-balik masuk toilet dan muntah-muntah disana.


"Sepertinya kau sakit," Keny menempelkan punggung tangannya di dahi Monaliza, ia merasakan suhu tubuh gadis itu terasa begitu dingin.


"Entahlah kak, tadinya aku merasa baik-baik saja. Mungkin aku masuk angin, atau perutku saja yang tidak bisa menerima makanan yang kita makan tadi," ucap Monaliza dengan suara lemasnya.


"Begini saja, kau beristirahat saja dulu diruang kerjaku. Nanti aku akan menelpon Leon supaya datang untuk mengantarmu pulang," kata Keny. Ia lalu membantu Monaliza, dan memapahnya keruangannya yang tidak jauh dari toilet.


Monaliza menurut, ia membaringkan tubuhnya disofa yang ada dalam ruang kerja Keny. Pria itu menurunkan suhu ruangan agar tidak terlalu dingin untuk Monaliza.


"Mona beristirahatlah disini, Leon akan menjemputmu sebentar lagi, ia masih menyelesaikan pekerjaan lemburnya dikantor," kata Keny, ketika ia baru saja selesai menelpon Leon, adiknya.


"Iya, terima kasih kak," sahut Monaliza lirih.


"Mona, bagaimana kalau aku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu. Aku khawatir kalau kau bukan masuk angin biasa," ungkap Keny memberi ide.


"Tidak perlu kak, terima kasih. Sudah empat hari ini aku sering mual-mual namun tidak sampai muntah seperti malam ini. Biasanya setelah dibawa beristirahat, aku akan menjadi lebih baik," ungkap Monaliza.


"Aku minta minyak kayu putih saja kak kalau ada," pinta Monaliza.


"Tunggu sebentar, aku akan mengambilnya dikotak obat," Keny bergegas menuju kotak obat yang ada didekat lemari berkas-berkasnya. Tidak lama ia sudah kembali membawa sebotol minyak kayu putih ditangannya lalu memberikannya pada Monaliza.

__ADS_1


"Terima kasih kak," Monaliza menyambut botol minyak kayu putih dari tangan Keny. Setelah Keny menjauh ia mulai mengoles dan membalur minyak kayu putih pada bagian-bagian yang dibutuhkan tubuhnya.


Tubuhnya terasa menghangat setelah mendapatkan sentuhan minyak kayu putih ditubuhnya, ditambah lagi aroma yang menyegarkan masuk ke indera penciumannya, membuat Monaliza sudah sedikit lebih rileks dari sebelumnya.


Degub hingar bingar diluar ruang kerja Keny tidak terdengar, karena ruangan itu sudah dilapisi anti kedap suara, sehingga Monaliza tidak perlu terganggu dengan suara-suara kencang dari luar ruangan.


Tok! Tok! Tok!


Keny segera berdiri dan nelangkah menuju pintu. Begitu pintu dibuka, Leon sudah berdiri disana, menatap wajah kakaknya penuh tanya.


"Bagaimana keadaan Monaliza kak?" tanya Leon.


"Dia sedang beristirahat didalam, tidak perlu khawatir, dia sudah lebih baik," sahut Keny tenang.


"Ayo, masuklah. Suara berisik diluar bisa mengganggu Monaliza yang sedang beristirahat," kata Keny mengajak adiknya untuk segera masuk. Keduanya lalu masuk dan tidak lupa menutup pintu dengan rapat.


Leon mengampiri Monaliza yang baru saja terlelap, aroma wangi minyak kayu putih dari tubuh Monaliza tercium oleh hidung Leon. Ia berjongkok disisi sofa dan menatap mata Monaliza yang sedang terpejam dengan tenang. Disentuhnya dahi Monaliza dengan punggung tangannya. Keny sudah menjelaskan apa yang terjadi pada Monaliza ditelpon.


"Mona, bangunlah. Ayo kita pulang, ini sudah sangat larut malam," panggil Leon lagi. Monaliza yang merasakan sentuhan tangan Leon yang terus menggerakan wajahnya, akhirnya terbangun juga.


Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, sambil mengumpulkan ingatannya. Ia melihat Leon yang sedang menatapnya dengan senyuman.


"Leon, kau sudah datang?" Monaliza berusaha bangun dari berbaringnya, Leon yang melihatnya dengan sigap segera membantunya untuk duduk.


"Maafkan, aku. Aku terlalu lama, sehingga kau sempat ketiduran disini Mona," kata Leon lembut.


"Tidak apa-apa Leon, akulah yang minta maaf karena selalu merepotkanmu, bukankah kau sedang sibuk menyelesaikan pekerjaanmu?" ungkap Monaliza dengan rasa tak enak.


"Jangan berkata demikian, aku tidak merasa kau repotkan Mona. Justru aku senang bila kau mau merepotkanku, aku merasa menjadi kekasih yang berguna," kata Leon tanpa maksud merayu.

__ADS_1


"Ehem!" Keny berdehem keras, mendengar obrolan sepasang kekasih itu.


"Kemesraan kalian membuat aku ingin pulang menemui Nadine saja," kata Keny penuh sindiran, sambil tersenyum penuh arti. Monalisa dan Leon yang mendengar perkataan Keny ikut tersenyum.


"Ayo Mona, kita pulang sekarang, ini sudah larut malam," ajak Leon. Ia berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Monaliza untuk membantu kekasihnya itu ikut berdiri.


"Kak, kami pulang dulu. Terima kasih sudah menjaga Mona," kata Leon pada sang kakak.


"Baiklah, kalian hati-hati dijalan," pesan Keny pada keduanya.


"Iya kak," sahut Lelon, ia menggandeng tangan Monaliza. Keduanya lalu keluar dari ruang kerja Leon menuju pintu darurat keluar.


"Mona, apakah kau masih merasa mual?" tanya Leon.


Monaliza menoleh pada Leon yang sedang menyetir disampingnya, "Sudah tidak lagi," sahutnya. Ia kembali menatap jalan yang nampak sepi karena sudah larut malam.


"Mona, kita harus bicara pada ibu, apa yang telah terjadi," kata Leon sambil menatap kejalan raya.


"Leon, aku takut ibu marah, dan kecewa padaku," sahut Monaliza khawatir seperti yang sudah-sudah setiap kali Leon membahas hal itu dengannya.


"Tapi kita tidak bisa membiarkan ini berlarut-larut Mona, bagaimana kalau tiba-riba kau-," Leon menghentikan ucapannya, ia tidak berani meneruskannya kalimat terakhirnya, membayangkannya saja ia sudah tidak sanggup.


Monaliza menggigit ujung bibir bagian bawahnya, ia tahu kata-kata terakhir yang akan Leon katakan, ia pun takut bila hal itu terjadi, ibunya pasti marah besar padanya.


Mona, aku harus melamarmu pada ibu secepatnya, kita sebaiknya segera menikah, aku tidak mau akibat kejadian malam itu, kau menanggung bebanmu sendiri. Aku menciantaimu Mona," ucap Leon. Ia terlihat serius dengan ucapannya.


"Aku rasa itu saja solusi yang terbaik, bila kau tidak mau mengatakan kejadian malam itu pada ibu," Leon melirik sekilas kearah Monaliza, lalu kembali fokus pada jalan didepannya.


"Bagaimana dengan kedua orang tuamu Leon? Bagaimana kalau mereka tidak setuju?" tanya Monaliza dengam wajah khawatir.

__ADS_1


Leon terdiam sejenak, sebenarnya yang dikhawatirkan Monaliza juga menjadi kekhawatirannya. Karena hingga kini, ia belum mendapatkan restu dan kedua orang tuanya untuk menikahi Monaliza.


__ADS_2