CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
71. Hari Pernikahan


__ADS_3

Pada barisan kursi nomor dua dari belakang, Leon duduk bersama beberapa warga jemaat yang menyaksikan pemberkatan nikah antara Monaliza Zhue dan Dirga Surya yang tengah berlangsung akhir pekan itu.


Beberapa kali Leon harus mengatur napasnya yang serasa sesak didalam dadanya ketika mendengar kata demi kata keluar dari mulut Monaliza secara lancar mengucapkan ikrar janji nikahnya pada Dirga.


Bukan tanpa alasan pria itu datang dalam pemberkatan nikah mantan kekasihnya itu, dirinya ingin memastikan apakah wanita yang masih sangat dicintainya itu benar-benar menikah dengan Dirga, laki-laki yang menjadi ayah biologis dari bayi yang sedang dikandungnya.


Leon memegang dadanya, menahan rasa sakit yang serasa menusuk disana, walau ia menyadari sepenuhnya bila tidak sepatutnya ia hadir ditempat itu, hanya menambah dalam lukannya saja, luka yang tidak berdarah.


Seorang pria yang duduk disebelah Leon sesekali melirik kearahnya, merasa aneh melihat wajahnya yang murung, tidak seperti warga jemaat lainnya yang nampak berseri dan turut bahagia bersama kedua mempelai yang hari ini akan diikat dengan tali pernikahan.


Leon spontan memalingkan wajahnya, ketika sesi acara sudah sampai pada Dirga yang memberikan kecupan ringan di kening Monaliza setelah keduanya selesai menyematkan cincin pernikahan pada jari manisnya masing-masing.


"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Dirga dengan suara setengah berbisik, setelah dirinya dan Monaliza sudah menyelesaikan semua prosesi sakral itu.


"A-, ti-tidak ada," sahut Monaliza gugup dengan suaranya yang setengah berbisik pula, melirik kearah Dirga sekilas yang berbicara padanya. Ia segera memalingkan wajahnya, memberi senyuman pada warga jemaat yang datang menghampiri mereka satu-persatu untuk memberi ucapan selamat pada dirinya dan Dirga di altar.


Diujung paling belakang kursi, Monaliza kembali melihat Leon yang berjalan berlawanan arah dari warga jemaat lainnya. Pria itu meninggalkan tempat duduknya dan keluar dari gedung gereja itu.


Setelah semua warga jemaat selesai memberi ucapan selamat, Dirga meraih tangan Monaliza, supaya wanita yang telah sah menjadi isterinya itu menggandeng lengannya.


Monaliza hanya menurut, ia menggandeng lengan kiri Dirga mengikuti langkah kaki suaminya keluar dari gereja, menuruni anak-anak tangga dengan hati-hati supaya jangan sampai sepatunya menginjak ujung gaun putihnya yang menjuntai kelantai.


Dirga menuntun Monaliza hingga masuk kedalam mobil, keduanya lalu menuju ke salah satu hotel dimana resepsi pernikahan mereka akan dilangsungkan hari itu disana.

__ADS_1


Sementara itu dihotel, dimana perhelatan resepsi pernikahan Monaliza dan Dirga akan dilangsungkan. Firans nampak sangat sibuk, ia tengah mengatur undangan khusus yang baru saja tiba. Ya, para tetangga Monaliza yang datang ke acara tersebut diperlakukan secara istimewa oleh para pegawai hotel.


Asisten pribadi Dirga itu telah menyewa tujuh belas bus besar berkapasitas lima puluh sembilan penumpang, supaya tidak ada satu orangpun tetangga Monaliza itu yang tertinggal dirumah, baik itu anak-anak, apalagi para lansia.


Para pegawai yang melihat bus berdatangan segera menyambut dan mengantarkan para undangan yang membeludak itu ke acara pesta yang telah dipersiapkan dengan sikap ramah.


"Gak nyangka ya kita bisa hadir dipesta pernikahan orang kaya? Kita sungguh beruntung," kata ibu Riri senang, ketika baru saja kakinya melangkah masuk sambil menyapu seluruh ruang pesta yang membuatnya terpana.


"Iya bu Riri, kita sungguh beruntung, tapi lebih beruntung itu si Mona, dengan wajahnya yang cantik, dia bisa memikat hati para pria kaya," ujar salah seorang ibu ikut nimbrung, ia tidak tahu saja apa alasan pernikahan itu bisa terlaksana, andai saja tahu, entahlah.


"Hush! Sudah, malu nanti didengar undangan-undangan disana yang penampilannya terlihat mentereng dan parlente itu," bisik ibu Duwani sambil mengandeng suaminya yang sedang menggendong bayi mereka.


"Iya, Ibu Duwani benar," kata ibu Riri sambil melenggang santai menuju kursi dan meja yang telah dipersiapkan untuk mereka sebagai para undangan.


...***...


"Ma, sudahlah." tegur ayah Leon, "Pasti ada hal yang sangat penting hingga putra kita terlambat," sambungnya berusaha mendinginkan suasana.


"Leon, apakah kau tidak mendengar apa yang Mama tanyakan?" tanya nyonya Gamsonrich tidak perduli pada teguran suaminya, seraya mengejar putranya itu dari belakang, ia masih penasaran kenapa putranya itu sampai terlambat disaat-saat sepenting ini.


Tuan dan Nyonya Gamsonrich turut menghentikan langkah mereka ketika Leon tiba-tiba berhenti.


"Apakah pernikahan ini mau dilanjutkan atau dibatalkan?" kata Leon tanpa memalingkan wajahnya kebelakang, dimana kedua orang tuanya tersentak kaget mendengar ucapannya.

__ADS_1


"A-, M-maafkan Mama Leon. Mama hanya khawatir, karen hampir dua jam kau belum juga datang, Mama khawatir terjadi sesuatu padamu," kata nyonya Gamsonrich tergagap, wajahnya memang memancarkan rasa khawatir yang teramat sangat. Tapi bukan karena seperti apa yang ia katakan, melainkan lebih ke rasa malunya pada segenap undangan yang sudah hadir. Mau ditaruh dimana wajahnya, bila putranya itu tiba-tiba saja membatalkan pernikahannya padahal undangan sudah hadir ditempat acara.


"Tapi, aku tidak merasakan kekhawatiran itu pada raut wajah Mama, kalau saja Mama mengkhawatirkan aku, Mama tudak akan memaksaku menikahi Nadya," sela Leon masih memunggungi kedua orang tuannya.


"Kau salah paham Leon, Mama benar-benar mengkhawatirkanmu sayang. Sudahlah, ayo kita segera masuk. Nadya dan keluarganya sudah menunggu didalam, begitu pula dengan para petugas pencatatan sipil," kata nyonya Gamsonrich mengusap pundak putranya lembut. Hatinya begitu was-was, jangan sampai didetik-detik terakhir putranya itu berubah fikiran, batinnya takut.


Leon terdiam, raut murung kembali menyelimuti wajah tampannya, ibunya sama sekali tidak merespon kalimat terakhirnya, itu artinya sang ibu tidak perduli akan kebahagiannya. Tanpa mengatakan apapun lagi, Leon lalu masuk bersama kedua orang tuanya.


Beberapa orang yang hadir, termasuk Nadya dan kedua orang tuannya menatap kearah pintu, saat Leon dan kedua orang tuanya muncul disana.


Nadya berdiri, ia mendekat dan ingin melayangkan protesnya, namun segera dicegah oleh nyonya Gamsonrich dengan kedipan matanya hingga membuat wanita itu mengurungkan niatnya.


"Pak Bimas Satya, silahkan dimulai," kata nyonya Gamsonrich pada petuggas catatan sipil yang tengah duduk menunggu dengan sabar.


"Sebelum kita mulai, kembali saya ingatkan kepada keluarga kedua mempelai, bahwa surat pencatatan pernikahan secara negara ini bisa terbit setelah pihak kami menerima surat pernikahan dari gereja sebagai salah satu syaratnya," kata pria paruh baya itu.


"Tentu saja kami sanggup mengupayakannya pak Bimas Satya, secepatnya akan kami penuhi persyaratannya," sahut nyonya Gamsonrich. "Sekarang, kita mulai saja sesi pencatatan sipil ini, karena sebenarnya kita sudah sangat terlambat, para undangan sudah berkumpul diruang resepsi penikahan," katanya lagi.


Tidak menunggu lama, petugas pencatatan itu mulai melakukan tugasnya, menanyakan Nadya dan Leon, hingga penanda-tanganan akte nikah oleh para saksi.


Setelah selesa, mereka lalu berpindah keruang resepsi yang sudah dipadati oleh para undangan. Untung saja event organizer yang dipercaya memegang perhelatan itu memiliki banyak ide dalam menghidupkan suasana, sehingga para undangan tetap betah berada disana menunggu kedua pengantin.


Tuan Gamsonrich hanya bisa diam melihat putranya yang tidak terlihat bahagia dihari pernikahannya. Leon sesekali mengembangkan senyum tipisnya untuk menghargai para undangan yang datang menghampiri untuk memberi ucapan selamat

__ADS_1


Pesta itu terasa mewah dan meriah dengan kepiawaian team event organizer itu dalam mengemas acaranya begitu rupa, namun Leon merasakan kesepian dan kehampaan diruang hatinya, ia sungguh tidak bisa menikmati hari bahagianya itu. Karena baginya, hari itu adalah hari kehancurannya, saat dimana ia melihat wanita yang ia cintai telah menjadi milik pria lain, dan dirinya-pun harus bersatu dengan seorang wanita lain, yang tidak ia cintai.


Bersambung...👉


__ADS_2