CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
47. Perdebatan


__ADS_3

"Ru, aku duluan ya, Leon sudah menungguku diparkiran," kata Monaliza. Ia mengambil tas kerjanya dilaci meja paling bawah, dan menyimpan ponselnya didalam tasnya itu setelah selesai menerima panggilan Leon.


"Baiklah, hati-hati dijalan ya," sahut Rullina sambil membereskan buku-buku diatas mejanya dan menyimpannya didalam laci atasnya.


"Berhenti!"


Monaliza serta-merta menghentikan langkahnya yang setengah berlari menuruni tangga beton menuju parkiran saat mendengar suara bariton yang sangat familiar ditelinganya. Ia menoleh kearah datangnya suara, menelan salivanya, ketika melihat pria yang sepanjang hari ini terus mengaturnya sedang melangkah mendekatinya dengan tatapan datarnya.


Rullina yang tengah bersiap pulang dan membereskan barang-barangnya mendongakkan kepalanya, dan turut menatap kearah datangnya suara. Ia melihat pemilik suara bariton itu menghampiri Monaliza didekat parkiran.


"Iya Pak Dirga, Anda memanggil saya?" tanya Monaliza setelah CEO-nya itu hanya berjarak beberapa meter saja dari tempatnya berdiri.


"Apa yang sedang kau kejar sehingga sampai berlari seperti itu?" Dirga balik bertanya, dan berhenti tepat dihadapan Monaliza yang merasa canggung berhadapan dengannya.


"Saya-, saya terburu-buru Pak, karena sudah dijemput," sahut Monaliza sedikit gugup.


"Kau ceroboh, jangan seperti itu lagi, bagaimana kalau dirimu sampai terjatuh? Itu sangat berbahaya. Ingat, didalam tubuhmu itu ada darah dagingku yang harus kau jaga dengan baik," ungkap Dirga dengan mimik serius menatap pegawai resepsionisnya itu.


Monaliza menoleh ke kiri dan ke kanan, khawatir bila ada orang yang akan mendengar ucapan bos-nya itu, bisa saja mereka berfikir yang tidak-tidak tentangnya, apa lagi sampai tahu bila dirinya telah mengandung anak pemilik perusahaan tempatnya berkerja.


"Apakah kau takut bila ada yang mendengarnya?" ucap Dirga seolah tahu isi kepala Monaliza.


Monaliza menatap wajah Dirga dengan canggung, belum sempat ia mengatakan sesuatu, seseorang tiba-tiba meraih dan menggenggam erat tangannya sambil berdiri merapat disisinya.


"L-Leon?" lirih Monaliza. Ia sedikit gugup, khawatir Leon mendengarkan perkataan yang diucapkan Dirga, ia tidak ingin Leon salah faham, dan berfikir yang bukan-bukan.

__ADS_1


"Aku menunggumu sedari tadi Mona, ayo kita pulang sekarang," ucap Leon menatap Dirga sekilas lalu beralih pada Monaliza yang sedikit terkejut menyadari kehadirannya.


"B-baiklah," sahut Monaliza masih gugup. Ia melirik sekilas kearah Dirga lalu kembali beralih pada Leon.


"Pak Dirga, kami pamit dulu." Kata Leon pada Dirga yang tengah menatap dirinya, ia lalu berbalik sambil menggandeng tangan Monaliza untuk pergi bersamanya menuju mobil


"Aku harap kali ini kau bisa menjaga wanita yang ada disisimu itu dengan baik tuan Leon, karena ada dua nyawa yang harus kau jaga," sahut Dirga menatap punggung sepasang kekasih yang berjalan menjauhinya.


Leon menghentikan langkahnya, " Mona, tunggulah dimobilku, aku akan segera menyusulmu," ucap Dirga ketika mendengar ucapan Dirga yang tidak bisa ia abaikan.


"Tapi Leon, kau tidak perlu meladeninya-," sahut Monaliza. Ia merasa gelisah, karena perkataan Dirga barusan membuatnya was-was, khawatir Leon akan marah besar bila mendengar bos-nya itu mengatakan sesuatu tentang kehamilannya. Dirinya tidak tahu, bahwa sebenarnya Leon menyembunyikan kebenaran yang tidak diketahuinya.


"Jangan khawatir Mona, ada sesuatu yang terlupakan olehku, aku baru ingat untuk menanyakannya pada bos-mu itu. Tunggulah aku dimobil, aku akan segera menyusulmu," ucap Leon meyakinkan.


"Baiklah," Monaliza hanya bisa pasrah, ia meninggalkan tempat itu lalu menuju mobil Leon yang terparkir berjarak kurang dari dua puluh meter dari tempat mereka berdiri. Setelah melihat Monaliza menjauh, Leon mendekati Dirga yang masih menatap.datar kearahnya.


"Relakan Monaliza, kekasihmu untuk menjadi isteriku, dia sedang mengandung anakku," sahut Dirga tanpa basa-basi.


Leon menahan napasnya, bagaimana bisa pria sialan itu tahu bila Monaliza benar sedang mengandung, sedangkan dirinya saja belum tahu secara pasti. Apakah ini hanya jebakannya saja, batin Leon menatap Dirga.


"Jangan bermimpi. Apa karena aku tidak membuat perhitungan dengan Anda pak Dirga, sehingga Anda seberani itu ingin merebutnya dariku," ucap Leon geram.


"Jika bukan karena memandang Monaliza yang menjadi pegawai di Perusahaan ini, aku pastikan sudah menggulung dirimu dan Perusahaan kecil-mu ini karena telah berani menabur benihmu itu sembarangan dirahim kekasihku," lanjut Leon masih bernada geram.


"Sadarlah pak Dirga, Monaliza itu kekasihku. Dia bukan Megan, mendiang tunanganmu. Dia hanya kebetulan mirip saja," lanjut Leon berusaha mencari cara supaya rivalnya itu tidak menginginkan Monaliza lagi.

__ADS_1


"Saya tahu itu tuan Leon, dan saya tahu ini tidak mudah untuk Anda. Saya mohon relakan Monaliza, dia sudah mengandung darah dagingku. Tidak mungkin Anda bisa bersama wanita yang mengandung benih pria lain," ucap Dirga.


Leon mengepalkan tinjunya, perkataan Dirga terlalu menyakitkan baginya, bak sembilu yang menghujam dengan kejam kejantungnya.


"Cukup!" Leon menatap dingin wajah Dirga, tinjunya yang mengepal nampak bergetar.


"Kau sudah membuat permintaan yang salah padaku pak Dirga, aku akan membuatmu menyesal atas permintaan bodohmu itu. Aku tidak akan segan-segan lagi menggulung dirimu dan Perusahaan kecil-mu itu," ancam Leon, wajahnya terlihat menahan amarah yang hampir meledak.


"Aku hanya ingin melindungi Monaliza tuan Leon. Sadar atau tidak, kau tidak bisa melindunginya dengan baik. Monaliza tidak aman berada disisimu tuan Leon," ucap Dirga penuh penekanan.


"Apa maksud Anda pak Dirga?" ucap Leon menekan suaranya.


"Monaliza yang hampir diperkosa para preman laknat itu, itu ada hubungannya dengan diri Anda tuan, dan kasus itu ditutup begitu saja. Mungkin Anda heran kenapa saya bisa tahu, karena saya yang membuat laporan polisinya setelah mengantar Monaliza ke rumah sakit waktu itu," Dirga memandang wajah Leon yang masih menatapnya dingin.


"Dan dimalam pesta ulang tahun Tuan dan Nyonya Gamsonrich, obat itu sengaja dimasukan kedalam minuman Monaliza, sehingga terjadi insiden dikamar hotel itu, dan itupun ada hubungannya dengan Anda tuan Leon,"


"Dan celakanya, Monaliza yang selalu menjadi korban. Dia tidak aman berada disisimu tuan Leon, terlalu berbahaya bagi dirinya," ungkap Dirga.


"Bagaimana kau bisa mengetahui semuanya itu?" tanya Leon penasaran, bagaimana mungkin orang seperti Dirga bisa mengetahuinya.


"Aku tidak perlu memberitahukannya pada Anda tuan Leon. Orang sekelas Anda, yang memiliki kekuasaan tidak mungkin tidak mengetahuinya," ucap Dirga.


"Saya juga tidak takut akan ancaman Anda yang berencana menggulung saya. Saya akan tetap memperjuangkan Monaliza supaya bisa menjadi isteri saya. Tujuan saya adalah menjaga darah daging saya dan ibunya," setelah berkata demikian, tanpa pamit Dirga meninggalkan Leon menuju mobilnya.


Dada Leon bergemuruh, ia berusaha keras menahannya, mengambil napas dalam lalu menghembuskannya pelan hingga beberapa kali. Setelah dirasa dirinya cukup tenang, Leon melangkah menuju mobilnya dimana Monaliza masih setia menunggunya disana.

__ADS_1


...***...


__ADS_2