
"Selamat siang Pak Dirga dan nona Monalisa," sapa sang manager hotel saat melihat Dirga dan Monaliza baru keluar dari lift.
Dirga dan Monaliza menghentikan langkah mereka tepat didepan meja resepsionis, "Iya, selamat siang tuan manager," sahut Dirga seorang diri. Sementara Monaliza hanya berdiri disisi Dirga, sambil menahan rasa sakit pada pergelangan kaki kirinya yang belum sembuh benar.
"Maaf mengganggu tuan dan Nona sebentar." katanya sambil membungkukkan tubuhnya.
"Nirania! Tolong ambilkan kotak kado yang kau simpan semalam," pinta sang manager itu lagi pada pegawai resepsionisnya.
"Iya tuan," Nirania, lalu membuka pintu lemari lokernya, dan mengambil satu kotak kado yang ia simpan semalam dari dalamnya lalu memberikannya pada sang manager hotel.
"Ini, ada kado pernikahan dari pemilik hotel kami untuk tuan Dirga dan nona Monaliza," sang Manager menyodorkan kotak kado yang telah dikemas dengan cantik pada Dirga dengan kedua tangannya.
Dirga memandangi kotak kado itu, ia langsung teringat bila kotak kado itu serupa dengan yang telah diantarkan oleh pegawai hotel semalam kekamar mereka menginap. Ia menoleh sebentar kearah Monaliza yang berdiri disampingnya, memandangnya dengan raut tak mengerti apa maksud Dirga menatapnya.
Dirga kembali mengarahkan pandangannya pada sang manager hotel yang masih mengulurkan tangannya kearahnya," tuan Manager, bila ini kado yang serupa dibawa oleh pegawai hotel ini semalam, saya sudah memberikannya pada pegawai tersebut. Tapi kenapa masih ada disini?" tanya Dirga merasa curiga.
"Maaf tuan Dirga, pegawai hotel itu tidak berani menerimanya. Karena kado ini khusus hadiah pernikahan untuk tuan Dirga dan nona Monaliza," sahut sang manager itu lagi.
"Kalau boleh saya tahu, siapa nama pemilik hotel ini sebelum saya menerima kado pemberiannya?" tanya Dirga nampak penasaran, begitu pula halnya dengan Monaliza. Ia teringat, saat Dirga membantu memijat kakinya yang terkilir, memang ada seseorang yang mengetuk pintu. Dan menurut pengakuan Dirga bahwa ada orang yang memberikan mereka kado pernikahan tanpa mau memberitahu namanya.
"Mohon maaf tuan Dirga, kami tidak bisa menyebutkan siapa nama tuan kami itu. Kami hanya ditugaskan untuk memberikan kado ini saja," kata sang manager menunjuk pada kotak kado yang masih dipegang dengan kedua tangannya.
"Kalau begitu-, kami pun minta maaf, tidak bisa menerima kebaikan hati dari pemilik hotel ini yang tidak boleh kami ketahui namanya," kata Dirga semakin curiga, dibenaknya hanya ada satu nama yang kini tengah mengganggunya sejak hari pernikahannya kemarin.
__ADS_1
"Tuan Dirga, saya mohon terimalah kado ini. Kami pasti akan mendapat amarah lagi nanti seperti semalam," kata sang manager dengan wajah panik.
Dirga mengernyitkan keningnya, sambil sedikit memiringkan kepalanya kearah kanan, ia merasa aneh saja, kenapa sang pemilik hotel itu begitu memaksa memberikan hadiah pernikahan, sedangkan mereka tidak saling mengenal, atau mungkin dirinya saja yang tidak tahu kalau pemilik hotel itu mengenalnya. Tapi mengapa sang pemilik hotel tidak mau disebutkan namanya saat memberi hadiah, hal ini membuat Dirga semakin curiga bila orang itu punya niat yang tidak baik padanya ataupun pada Monaliza fikirnya.
"Mohon maaf tuan manager, kami sedang buru-buru, karena keluarga kami sudah menunggu," kata Dirga memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan yang tidak akan kelar tentang kado dan pengirimnya yang sama sekali tidak ingin disebutkan namanya.
"Kami permisi dulu," pamit Dirga sambil menautkan tangannya pada jari-jemari Monaliza disampingnya. Monaliza yang tidak menduga Dirga tiba-tiba melakukan itu padanya terlihat gugup, namun tetap mengikuti langkah Dirga dengan hati-hati, dan berusaha tetap memperlihtkan langkahnya tidak nampak pincang oleh Dirga.
Sang Manager hotel semakin panik, ia memandang kepergian Dirga dan Monaliza dari hadapannya, juga kotak kado yang masih ada ditangannya.
"Tuan Leon Gamsonrich yang memberikan kado ini tuan Dirga!" serunya tanpa sadar, membuat dirinya sendiri kaget, begitu pula dengan Nirania yang sejak tadi hanya diam saja menyaksikan atasannya itu berdialog dengan sepasang tamu hotel yang baru saja melangsungkan resepsi pernikahan mereka dihotel itu.
"Leon?" Ucap Dirga dan Monaliza bersamaan dan saling berpandangan beberapa saat lamanya. Akhirnya keduanya berbalik bersamaan pula, namun tetap berdiri ditempatnya menatap sang manager hotel yang berjalan kearah mereka.
Monaliza menoleh kearah Dirga yang berdiri disebelahnya, tapi pria itu tidak turut menoleh padanya, ia tetap menatap sang manager hotel dengan tatapan datar tanpa emosi apapun diwajahnya.
"Mohon maafkan saya tuan manager, saya sungguh tidak bisa menerimanya," tolak Monaliza sopan.
"Tapi Nona, ini hadiah dari tuan kami, mohon untuk diterima," ucap sang manager itu berusaha membujuk dengan sopan.
"Maaf tuan manager, saya sungguh tidak bisa menerimanya," kata Monaliza lagi sambil melirik Dirga yang masih pada posisinya semula, datar, tanpa ekspresi.
"Kita pergi saja sekarang," Monaliza menoleh pada Dirga disebelahnya, entah keberanian dari mana, ia menarik pergelangan tangan Dirga tanpa seijin pria itu dan membawanya pergi dari sana.
__ADS_1
Sementara sang manager hotel itu dengan lesu membawa kotak kado ditangannya kembali menuju keruangannya.
"Tuan, apakah tuan yang semalam membawa kado itu adalah pemilik hotel ini?" tanya Nirania penasaran pada atasannya itu.
"Kau benar," sahut sang manager masih dengan wajah lesunya.
"Bukankah pemilik hotel ini adalah tuan Wanyon?" tanya Nirania semakin penasaran.
"Tuan Wanyon sebenarnya adalah sopir keluarga Gamsonrich," sahut sang manager berlalu pergi tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.
Nirania hanya bisa berdiri terpaku dibelakang meja resepsionisnya. Ternyata pria muda dan tampan semalam adalah pemilik hotel tempatnya berkerja. Untung saja dirinya tetap menjalankan tugas sesuai aturan yang diberlakukan hotel itu. Bila tidak, bisa-bisa dirinya dipecat. Nirania bergidik ngeri, tidak disangka, pria yang dia anggap tamu tidak dikenal adalah sang majikannya.
Leon menatap dingin saat melihat manager hotelnya masuk kedalam ruangan pribadinya dengan masih membawa kotak kado ditangannya.
"Maafkan saya Tuan, nona Monaliza sama sekali tidak mau menerima pemberian tuan padanya," kata sang manager lebih dulu sebelum ditanya.
"Apakah kau mengatakan kalau aku yang memberikannya?" tanya Leon padanya.
"I-iya Tuan, maafkan saya," ucap sang manager jujur dengan suara terbata-bata.
"Kalau begitu, kirim ke alamat ini saja," Leon lalu menuliskan sesuatu pada buku memo milik sang manager lalu menyerahkannya pada pria itu.
Setelahnya Leon segera meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apapun lagi. Sang manager yang sebelumnya sudah mempersiapkan diri bila dirinya akan dihujat lagi seperti semalam hanya bisa tertegun melihat kepergian tuannya meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Bersambung...👉