
Dirga langsung memarkirkan mobilnya digarasi. Saat keluar dari dari sana, bibi Nia sudah berdiri menunggunya diluar garasi mobil.
"Selamat sore Den," sapa bibi Nia sopan dengan sedikit membungkuk hormat.
"Iya, sore Bi," sahut Dirga seraya menyerahkan tas kerjanya pada asisten rumah tangganya itu.
"Apakah kotak yang saya titipkan sore kemarin pada bibi sudah diberikan pada Monaliza?" tanya Dirga.
"Sudah Den, tadi pagi. Tidak lama setelah den Dirga berangkat kekantor, " sahut bibi Nia seperlunya.
"Lalu, apa katanya Bi?" tanya Dirga penasaran.
"Non Mona sempat bertanya dari siapa kotak itu?" sahut bibi Nia.
"Terus, apa jawab Bibi? Bibi tidak bilang kan, kalau saya yang membawanya dari kantor?" kejar Dirga dengan pertanyaannya.
"Tentu saja tidak Den. Sesuai dengan pesan den Dirga," kata bibi Nia lagi.
"Monaliza ada dimana Bi?" tanya Dirga.
"Dikamar Den. Sepanjang hari ini non Mona hanya ada didalam kamarnya sesuai perintah den Dirga pada saya," terang bibi Nia.
"Baiklah, terima kasih Bi," Dirga tersenyum didalam hati.
"Biar aku saja yang membawa tas kerjaku, Bibi silahkan melanjutkan pekerjaan yang belum selesai."
"Baik Den," Bibi Nia mengembalikan tas kerja majikannya yang sempat ia bawa. Setelah pamit, ia bergegas kembali kebelakang, menyelesaikan pekerjaannya menyiapkan makan malam yang ia tinggalkan saat menyambut kedatangan majikannya itu.
Dirga masuk ke dalan rumah, ia menaiki anak-anak tangga menuju ke lantai atas dengan terburu-buru. Rasa rindu, itulah alasan dirinya berlaku demikian, karena seharian ini tidak melihat Monaliza yang ia tinggalkan dirumah saat pergi berkerja.
Hatinya berdebar, saat sudah berdiri didepan pintu, sebentar lagi ia akan melihat wanita yang beberapa hari ini sudah resmi menjadi isterinya itu.
Ceklek.
Dirga membuka pintu perlahan, tidak ada siapapun disana. Ia buru-buru masuk, untuk memeriksa kamar mandi. Belum sampai didepan pintu, Dirga sudah mendengar gemericik air didalamnya. Ia mengurungkan niatnya, lalu pergi menuju sofa dan duduk disana.
Ia memandang kotak kado yang ia berikan pada bibi Nia kemarin sore masih terbungkus rapi diletakan diatas meja, tanpa ada tanda-tanda sudah dibuka.
__ADS_1
Ceklek!
Dirga memandang kearah pintu kamar mandi. Ia buru-buru berdiri dan menghampiri Monaliza yang baru keluar kamar mandi.
"Kau bisa sendiri?" tanya Dirga.
"Iya Pak, saya bisa sendiri. Sepertinya kaki saya sudah mulai sembuh, hanya sedikit sakit saja," kata Monaliza menunjuk kearah pergelangan kaki kirinya.
Dirga berjongkok, lalu menyentuh dengan hati-hati kaki isterinya itu. Setelah ia memeriksanya dengan teliti, ternyata bengkaknya memang sudah berkurang.
"Syukurlah," ucap Dirga seraya berdiri tegak kembali. "Aku mau mandi dulu," katanya lagi sambil membalikan tubuhnya membelakangi Monaliza.
"Sebentar Pak," kata Monaliza nampak ragu-ragu.
"Ada apa?" Dirga kembali berbalik, menatap wajah Monaliza yang terlihat kikuk menerima tatapannya.
"Bolehkah saya, membantu pak Dirga melepaskan pakaian kerja Anda pak?" ijin Monaliza, ia menatap sebentar pada Dirga, lalu kembali menunduk saat selesai berbicara.
Dirga terkesiap, ia menahan napasnya sepersekian detik, tidak menduga bila Monaliza akan meminta ijinnya untuk membantu dirinya membuka pakaian kerjanya yang biasa ia lakukan seorang diri.
"Kata Mama, seorang isteri harus melayani suaminya dengan baik," sahut Monaliza sedikit menunduk, ia tidak berani bertatapan lama dengan Dirga, itu sebabnya ia hanya memandang kearah kerah kèmeja suaminya itu.
"Kata Mama siapa?" tanya Dirga.
"Mamanya pak Dirga, tadi kemari bersama mama Han," sahut Monaliza menatap sebentar pada Dirga lalu menunduk lagi, beralih menatap kancing-kancing kemeja Dirga.
"Mereka kemari? Tapi tidak bilang padaku, bibi Nia juga. Apa yang mereka katakan?" tanya Dirga penasaran. Kenapa dua wanita terdekatnya itu datang kerumahnya tanpa memberitahunya, batinnya.
"Mereka hanya melihat keadaan saya Pak," sahut Monaliza singkat.
"Oh, begitu." Dirga mengangguk-anggukan kepalanya, ia yakin pasti ada hal yang lebih dari itu yang mereka bicarakan, namun Monaliza tidak mau membukanya pada dirinya.
"Apakah kotak diatas meja itu, Mama dan mama Han yang memberikannya padamu tadi?" tanya Dirga pura-pura tidak tahu.
Monaliza mengarahkan pandangannya pada kotak diatas meja sofa yang dimaksud Dirga, lalu menggelengkan kepalanya. "Bukan, itu bibi Nia yang memberikannya tadi pagi. Katanya diantar oleh kurir.
Dirga tersenyum didalam hati, ia melangkah menuju meja sofa. "Apa isinya?" tanya Dirga lebih lanjut.
__ADS_1
"Saya belum membukanya," sahut Monaliza sambil menyusul Dirga dibelakangnya kearah meja Sofa.
"Kenapa?" tanya Dirga menatap Monaliza sambil berdiri disisi meja.
"Kotak itu sepertinya sangat mirip dengan kotak yang diberikan oleh sang manajer hotel beberapa hari yang lalu," sahut Monaliza menatap kotak hadiah yang tergeletak diatas meja dengan kemasan sangat cantik.
"Bisa saja mirip, tapi belum tentu itu hadiah yang sama bukan?" ungkap Dirga lalu duduk disofa sambil menyandarkan punggungnya disana.
"Buka saja," perintah Dirga dengan gaya dibuat sesantai mungkin. Padahal dalam hatinya, dirinya sebenarnya merasa tegang. Wanita mana yang tidak mau diberi hadiah mewah dan mahal, fikirnya.
"Tapi bagaimana kalau itu memang dari Manager itu?" kata Monaliza memberanikan diri menatap pada Dirga.
"Lebih tepatnya dari Leon maksudmu?" ucap Dirga lebih memperjelas asal kotak hadiah itu.
"I-iya," sahut Monaliza terlihat gugup. Rasa cemburu tiba-tiba saja menguasai perasaan Dirga, saat dirinya memperhatikan kegugupan terlihat sangat jelas dari sikap isterinya itu.
"Tidak masalah. Aku juga ingin tahu, hadiah apa yang diberikan mantan kekasihmu itu untukmu, sehingga terkesan memaksa walau kau sudah menolaknya dihotel waktu itu," ucap Dirga berusaha sesantai mungkin, walau dalam hatinya, rasa cemburu itu semakin menguasai dirinya tidak jelas.
Monaliza memandang wajah Dirga, dan suaminya itu menunjukan kesungguhan roman wajahnya, supaya isterinya itu tidak perlu ragu membuka kotak hadiahnya.
"Ayo, bukalah," kata Dirga mempersilahkan, dengan nada sedikit memaksa. Ia penasaran bagaimana sikap isterinya nanti saat melihat isi hadiah yang diberikan mantan kekasihnya itu.
"Bagaimana kalau pak Dirga yang buka saja?" kata Monaliza kembali memberanikan diri menatap wajah suaminya.
"Aku?" Dirga menunjuk dirinya sendiri.
"Iya," sahut Monaliza membenarkan.
"Tidak bisa. Kotak itu diperuntukkan bagimu. Jadi kaulah yang berhak membukanya," tolak Dirga beralasan. Sebenarnya ia bisa saja membantu, tapi karena ia sudah tahu apa isinya, dan ingin melihat reaksi isterinya saat melihat isi kotak itu, jadilah dirinya tetap bersikeras bila Monaliza yang harus membukannya sendiri.
"Ini, bukalah," Dirga memberikan gunting pada Monaliza yang diambilnya dari bawah meja.
Monaliza terpaksa menerimanya. Ia lalu menggunting satu persatu perekat kotak itu dengan hati-hati supaya tidak mengenai isi yang ada didalamnya.
Dirga turut memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh Monaliza, tidak sedetikpun ia melewatkan setiap gerakan Monaliza dari pengawasannya.
Bersambung...👉
__ADS_1