CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
58. USG


__ADS_3

"Ma-, Leon Ma!" teriak Nadine panik sambil menunjuk alat monitor vital ICU yang menunjukan garis lurus panjang horizontal pada layar, sepeninggal Dirga dan Monaliza dari ruangan itu.


Tiiiiiiiiit. Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.


Keny yang mendengar teriakan isterinya pada ibunya dengan sigap melompat masuk dan menekan bel darurat yang ada didekat kepala ranjang pasien.


Teet! Teet! Teet!


Selang beberapa detik kemudian dokter dan beberapa perawat datang berhambur masuk.


"Dokter, tolong putra saya Leon," ucap nyonya Gamsonrich dengan segala kepanikannya.


"Baik Nyonya, mohon semuanya tunggu diluar ruangan, kami akan segera melakukan tindakan," sahut sang dokter. Seorang perawat dengan sigap mengambil peralatan medis, sedangkan perawat lainnya segera menutup rapat pintu setelah nyonya Gamsonrich keluar bersama Keny dan Nadine.


...***...


Sementara itu, masih diarea rumah sakit yang sama, Dirga dan Monaliza melangkah bersisian menyusuri lorong rumah sakit yang begitu panjang, sesekali mereka berpapasan dengan dokter dan perawat yang turut melintas dilorong itu untuk melakukan tugas mereka sebagai tenaga medis dirumah sakit itu, juga beberapa pasien dan keluarganya.


"Kita menyimpang kearah ini," kata Dirga menunjuk kearah kanan saat keduanya berada dipersimpangan empat lorong rumah sakit.


Monaliza menghentikan langkahnya tepat ditengah persimpangan sambil menatap sejenak kearah Dirga yang juga turut menghentikan langkahnya," Bukankah arah lurus menuju parkiran Pak?" tanya Monaliza menunjuk dengan jari telunjuk kirinya.


"Itu benar, tapi kita belum pulang sekarang. Saya sudah membuat janji dengan dokter kandungan tadi saat kau ada didalam ruangan mantan kekasihmu itu," sahut Dirga datar.


Monaliza mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali sambil menatap wajah Dirga dihadapannya yang juga tengah menatapnya dengan tatapan datar.


"Kenapa? Apakah kau tidak suka dengan ucapanku menyebut laki-laki itu mantan kekasihmu?" suara datar itu kembali keluar dari mulut Dirga.

__ADS_1


"Bukan itu-" sahut Monaliza tiba-tiba parau, tenggorokannya terasa begitu kesat saat berbicara dengan bos dinginnya itu.


"Lalu apa?" tanya Dirga menatap wajah Monaliza yang sudah mengalihkan pandangannya kearah lain, melihat sekitarnya yang kebetulan sedang sepi.


"Itu-, maksudku-, dokter kandungan itu. Apakah kita harus kesana sekarang?" tanya Monaliza berusaha mencari alasan untuk menolak. Jujur saja, ia belum siap memeriksa kandungannya bersama pria dihadapannya itu.


"Harus sekarang," sahut Dirga tegas.


"Kenapa pak Dirga memaksa, saya belum siap. Bukankah kita tidak sedekat itu? Pak Dirga juga baru semalam melamar saya," ucap Monaliza memberanikan diri mengeluarkan uneg-uneg dihatinya.


"Kata siapa kita tidak dekat? Janin yang sedang tumbuh dalam tubuhmu itulah yang telah menjadi bukti kedekatan kita," kata Dirga memajukan langkahnya mendekati Monaliza, sementara Monaliza yang didekati memundurkan langkahnya untuk menjauh supaya tidak terlalu dekat, baginya pria yang ada dihadapannya itu membuatnya sedikit takut saat menerima tatapan matanya yang seakan menembus kedalam jantungnya.


"Aaaaaaaahhh!" pekik Monaliza, mendadak ia merasakan tubuhnya tidak seimbang, karena salah satu kakinya menginjak pinggiran lantai lorong rumah sakit yang menyebabkan dirinya hampir terjatuh kebelakang.


"Kau memang ceroboh. Melangkah itu kedepan, bukan kebelakang." kata Dirga yang sudah berhasil menolong Monaliza dengan memeluk pinggang wanita itu dengan satu tangannya.


"Lain kali kau harus lebih hati-hati menjaga dirimu. Didalam perutmu ini ada darah dagingku yang harus kau jaga. Bila terjadi sesuatu padanya, aku akan memaksamu untuk membuatnya lagi, kau mengerti?" gumam Dirga ditelinga Monaliza. Wajah Monaliza langsung memucat mendengar ancaman Dirga, ia tidak menduga pria itu sanggup mengeluarkan kata-kata seperti itu padanya.


"Pak Dirga," suara Monaliza terdengar bergetar, ia berusaha menguasai dirinya yang merasakan debaran-debaran jantungnya yang memacu semakin kencang, karena tubuh Dirga yang menempel padanya adalah salah satu penyebabnya.


"Apa?" Tanya Dirga menundukan wajahnya menatap Monaliza yang masih ada dalam pelukannya erat.


"Boleh lepaskan saya? Napas saya terasa sesak." pinta Monaliza tanpa menatap mata Dirga yang terus menatapnya. Tanpa memberi jawaban, Dirga melepaskan tubuh Monaliza yang sedang dipeluknya setelah memastikan wanita yang sebentar lagi akan menjadi isterinya itu aman.


"Ayo, kita ke dokter kandungan sekarang. Ingat, perhatikan langkahmu supaya kau tidak tersandung apalagi terjatuh. Kau tahukan konsekuensinya?" ujar Dirga dan berjalan lebih dulu kearah lorong sebelah kanan. Tanpa ada pilihan lain, Monaliza terpaksa bergegas membuntuti Dirga dari belakang.


...***...

__ADS_1


Dokter kandungan paruh baya itu, membenarkan kacamatanya sambil menatap kearah layar monitor yang berada didinding ruangan pemeriksaan.


Tangan sang dokter terus menggulir alat tranduser diatas perut bagian bawah Monaliza yang telah ia balur dengan gel. Sementara Monaliza yang tengah diperiksa sibuk dengan pikirannya sendiri, sejak tadi tangannya berusaha menutupi bagian perut putihnya yang terbuka supaya tidak terlihat oleh Dirga. Biar bagaimanapun, rasa malu itu pasti ada muncul dalam hatinya, walau sebentar lagi ia tahu bila dirinya akan menikah dengan Dirga, karena untuk sekarang ini, pria yang berstatus sebagai bosnya itu, masih terasa asing bagi dirinya.


Dirga menatap layar monitor dihadapannya yang masih terlihat buram, dirinya pun melihat dengan ekor matanya, kesibukan Monaliza yang dilakukan wanita itu dalam upayanya menutupi bagian perutnya yang terbuka.


"Hmm, percuma kau berusaha menutupinya, aku bahkan sudah melihat lebih dari itu," ucap Dirga membatin sambil tersenyum didalam hatinya.


"Pak Dirga Surya dan Ibu Monaliza, pada layar monitor, kita sama-sama bisa melihat bulatan kecil sebesar kacang merah itu, dengan panjang sekitar 2,7 sentimeter, tunjuk dokter wanita itu menggunakan sinar merah ditangan satunya lagi.


Usia kandungan ibu Monaliza telah memasuki usia delapan minggu. Di minggu ini, janin sudah memiliki bentuk wajah yang lebih jelas dan semakin aktif bergerak. Sedangkan untuk ibu, indra penciuman akan semakin sensitif. Selain itu, ibu juga sering merasa mual dan cepat lelah." Jelas sang dokter. Dirga dan Monaliza sama-sama memperhatikan apa yang terlihat dilayar monitor juga penjelasan yang disampaikan oleh dokter kandungan itu.


"Di usia kehamilan delapan minggu, bentuk wajah bayi Pak Dirga dan Ibu Monaliza sudah terlihat jelas, mulai dari telinga, bibir atas, dan ujung hidungnya. Mata janin juga terlihat lebih jelas karena retina sudah mulai mengembangkan pigmen. Hanya jari jemari kaki dan tangannya saja yang belum terbentuk sempurna."


Dimasa-masa kehamilan trisemester awal ini, ibu Monaliza harus menjaga diri supaya tidak terlalu lelah saat beraktifitas, juga asupan gizi harus dijaga dengan baik, karena itu sangat berpengaruh dengan tumbuh kembang janin yang ada didalam kandungan Ibu," ujar sang dokter kandungan mengakhiri pemeriksaannya.


Dokter kandungan itu lalu membersihkan gel yang ia balur diperut Monaliza menggunakan tissue, lalu menutup rapi pakaian Monaliza yang terbuka.


"Untuk hasil test DNA-nya, pak Dirga Surya sudah bisa mengambilnya tiga hari lagi," tambah dokter kandungan itu sambil menyimpan plastik berisi rambut Dirga kedalam laci mejanya.


"Baiklah dokter, terima kasih banyak. Kami permisi dulu," kata Dirga menyalami dokter kandungan itu dengan senyum mengembang.


"Sama-sama pak Dirga, semoga Anda dan isteri Anda sehat selalu," balas dokter kandungan itu turut tersenyum.


Monaliza terkesiap mendengar dirinya sudah disebut isteri Dirga oleh sang dokter kandungan itu, perkataan itu masih terlalu asing ditelinganya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2