
Begitu tiba dikantor polisi, Dirga langsung menuju ruangan mediasi yang disebutkan dalam surat panggilannya. Ia berharap urusannya segera selesai supaya bisa segera pulang untuk menemani Monaliza dan putranya yang sudah dibawa pulang dari rumah sakit kerumahnya.
Walau dirumah sudah ada kedua orang tuanya, juga papa mama Han, dan ibu Bianka beserta adik-adik Monaliza, hatinya masih saja risau bila meninggalkan isteri dan bayi mereka pasca penculikan Arseano.
Tok! Tok! Tok!
Dirga yang sudah ada didepan pintu segera mengetuk.
"Masuk!" terdengar suara tegas dari dalam ruangan.
Dirga lalu menekan kenop pintu dan mendorongnya perlahan. Begitu pintu terbuka, ia melihat dua orang polisi dan seorang wanita paruh baya, ketiganya sama-sama menatap ke arahnya.
"Duduklah pak Dirga!" salah satu polisi itu mempersilahkan.
"Terima kasih," Dirga lalu mengambil tempat duduk yang kosong, yang memang disediakan untuk dirinya.
"Bayi itu adalah cucuku, anak Leon. Jadi kau harus mengembalikannya pada keluarga kami," ucap nyonya Gamsonrich datar sebelum dipersilahkan bicara dengan tatapan tajamnya.
Dirga tidak menyahut satu katapun, namun hatinya begitu geram mendengar pengakuan tidak berdasar dari wanita paruh baya yang selalu mencari masalah dengan isterinya itu.
"Siapa yang mengijinkan Anda untuk bicara Nyonya!" tegas seorang polisi yang mempersilahkan Dirga duduk.
Mendengar teguran itu, nyonya Gamsonrich mengatupkan mulutnya dengan wajah kesalnya.
"Pak Dirga, sesuai panggilan kami pada Anda hari ini, berkaitan dengan pelaporan yang dilakukan oleh pak Hardi Surya, ayah dari pak Dirga, mengenai penculikan putra Anda yang bernama Arseano, apakah Anda ingin berdamai dengan nyonya Gamsonrich? Orang yang telah terbukti membawa putra Anda yang masih bayi dengan bantuan pak Garma," ucap polisi itu menatap Dirga.
"Saya minta pelaporan yang telah dilakukan ayah saya dilanjut, karena nyonya Gamsonrich telah terbukti melakukan tindakan pidana terhadap putra saya, Arseano yang masih bayi," tegas Dirga.
"Dan saya juga membawa hasil test DNA antara saya dan putra saya Arseano," Dirga lalu mengeluarkan satu amplop putih dari balik jasnya dan memberikannya pada polisi didepannya.
"Sepertinya hasil test DNA ini dilakukan beberapa bulan yang lalu, sebelum putra Anda lahir pak Dirga," ucap polisi itu, setelah membaca lembaran kertas hasil test DNA ditangannya.
"Benar, saya sudah melakukannya sejak lama, untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi. Karena sebelum ini, isteri saya memang sering mendapat masalah dari nyonya Gamsonrich," terang Dirga.
"Apa itu artinya peristiwa kriminal yang telah menimpa keluarga pak Dirga ini bukan pertama kalinya, dan itu dilakukan oleh orang yang sama? Nyonya Gamsonrich?" tanya polisi itu melirik pada nyonya Gamsonrich yang nampak tenang seolah bukan dirinya yang dimaksud.
__ADS_1
"Itu benar. Jadi saya minta kasus ini dilanjutkan," putus Dirga yakin.
"Baiklah pak Dirga, kalau begitu saya rasa cukup." ucap polisi itu dan menutup pertemuan singkat siang itu.
"Saya tidak terima! Saya juga harus bicara!" sentak nyonya Gamsonrich marah, merasa dirinya tidak dianggap.
"Ini tidak adil! Bayi itu adalah cucu saya! Cucu keluarga Gamsonrich! Dia merampas keturunan keluarga kami!" racau wanita itu semakin kacau, sembari menggebrak meja dihadapannya.
"Cepat bawa dia!" perintah polisi itu yang sebelumnya menjadi moderator pada mediasi itu.
Seorang petugas yang sejak tadi hanya duduk mendengar bergegas bangkit, membawa nyonya Gamsonrich yang terus saja meronta sekuat tenaga.
"Jangan bawa saya pergi! Saya belum selesai! Dengarkan saya!" teriaknya semakin marah karena perkataannya tidak diindahkan oleh petugas yang membawanya dengan paksa.
"Terima.kasih pak, saya pamit dulu," Dirga mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan sang polisi, setelah nyonya Gamsonrich tidak terlihat lagi.
"Sama-sama pak Dirga. Kami akan segera mengajukan kasus ini ke pengadilan agar segera disidang." ungkapnya seraya mengantar Dirga kedepan pintu keluar.
...🍓🍓🍓...
Wangi sabun menguar dari tubuh Leon yang masih bertelanjang dada, membuat debaran halus dihati Nadya kian terasa, saat melihat tubuh atletis milik suaminya yang tidak bIsa ia sentuh sedikitpun.
"Masa lalu yang bagaimana yang kau maksud?" tanya Leon, sementara tangannya tengah memilah pakaian dari dalam lemari di depannya yang akan ia kenakan malam itu.
"Itu--, ketika aku dan Mommy-mu menyuruh beberapa preman bayaran itu untuk memperko*a Monaliza. Juga memberi obat perangsang dalam minuman Monaliza ketika pesta ulang tahun pernikahan Daddy dan Mommymu." aku Nadya ragu, namun tetap terlontar dari mulutnya.
"Aku menyesal, dan aku benar-benar minta maaf Leon," ucap Nadya lagi penuh penyesalan.
Leon menghentikan gerakan tangannya didalam lemari pakaian. Rasa sakit itu masih terasa, begitu mengingat mahkota Monaliza terenggut oleh Dirga, saat masih menjadi kekasihnya.
Nadya menggigit bibir bawahnya, ia tahu apa yang telah ia lakukan memang tidak termaafkan, dan bila Leon masih belum bisa memaafkannya, ia dapat memahaminya.
"Harusnya, kau tidak meminta maaf padaku Nadya, tapi pada Monaliza yang telah kau jahati bersama Mommy," setelah berkata demikian, Leon kembali melanjutkan memilih satu pakaian untuk ia kenakan tanpa melihat sedikitpun kearah Nadya.
"Iya aku tahu." lirih Nadya hampir tidak terdengar. Ia masih menatap pada Leon.
__ADS_1
"Dan aku--" Nadya menghentikan ucapannya, ada rasa takut untuk meneruskan pada kalimat penghujungnya.
"Berbaliklah, aku akan berpakaian," pinta Leon.
Nadya masih memandang Leon, "Aku isterimu Leon, kenapa tidak boleh melihatmu berpakaian?" sanggahnya.
"Menurutlah, jangan banyak bertanya," ucap Leon lagi tanpa menoleh pada Nadya.
Walau terpaksa, Nadya akhirnya berbalik juga. Ada rasa pedih dihatinya, merasakan perlakuan dingin dari Leon. Laki-laki yang telah berstatus suaminya itu tidak pernah bersikap hangat satu kalipun sebelum dan sesudah mereka menikah.
"Kenapa Leon? Kenapa kau berlaku seperti ini padaku? Kenapa kau menghukumku begitu rupa? Kalau kau memang tidak mencintaiku, kenapa kau tidak menceraikanku saja!" jerit Nadya kesal, ketika Leon melewatinya begitu saja naik ketempat tidur setelah selesai berpakaian.
"Aku tidak suka mendengar wanita berteriak, apalagi seorang isteri pada suaminya." ucap Leon datar. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya pada headboard dibelakangnya.
"Bukankan aku sudah menawarkan padamu perceraian? Saat ayah dan ibumu mengatakanku mandul dan impoten lewat lembaran kertas yang kau temukan dilemari pakaianku yang ada diapartemen.Tapi kau tidak mau."
Nadya menelan salivanya, perkataan Leon memang benar, saat itu ia memang menolaknya.
"Dan tadi--, kau meminta kita memulai semuanya dari awal, melupakan semua masa lalu. Dan aku sudah melakukannya Nadya. Dengan tetap menerimamu menjadi isteriku, membiarkanmu keluar masuk dengan bebas kedalam kamarku ini, walau kau pernah mengkhianati pernikahan kita," ungkap Leon dan memberi tatapan tajam pada Nadya yang seketika terperangah mendengar ucapannya.
"Aku, aku minta maaf untuk itu, aku--" Nadya seketika sangat gugup.
"Stop! Kau tidak perlu memberi penjelasan apapun. Kau fikir aku tidak tahu, sebelum menikah denganku, kau sudah tidur bersama beberapa laki-laki yang kau anggap para pacarmu itu."
Nadya kembali terperangah, ia sama sekali tidak mengira, hal yang ia sembunyikan itu diketahui oleh Leon juga.
"Menikahimu, bukan karena aku mencintaimu, dan kau tahu itu. Bahkan sampai sekarangpun, aku tidak mencintaimu juga. Aku menikahimu supaya kau dan Mommy tidak lagi mengganggu Monaliza lagi, wanita satu-satunya yang aku cintai didunia ini selain ibuku yang juga jahat sepertimu."
Nadya terhenyak, ternyata Leon masih memikirkan mantan kekasihnya itu, bahkan mampu melakukan apapun demi cintanya, membuat hatinya terasa teriris. Ia hanya memiliki tubuh Leon, tapi tidak dengan hatinya.
"Sekarang tidurlah, malam sudah larut." Leon menunjuk sisi kosong disebelahnya supaya Nadya berbaring disana.
"Aku akan berlaku baik padamu selama kau menjadi isteri yang patuh. Aku tidak akan pernah mentolerir kesalahan apapun lagi bila itu dilakukan dengan sengaja." Setelah berkata demikian, Leon masuk kedalam selimutnya untuk tidur.
Lain halnya dengan Nadya, perempuan itu bergidik ngeri mendengar ucapan Leon serupa ancaman baginya. Apa yang telah terjadi pada ibu mertuanya, merupakan contoh nyata bahwa Leon dan keluarganya memang benar-benar tidak mentolerir kesalahan apapun lagi sekalipun itu adalah anggota keluarga mereka sendiri.
__ADS_1
Bersambung...👉