
"Maafkan Mona Bu, Mona telah mengecewakan Ibu," Monaliza bersimpuh dikaki ibu Bianka dengan terisak, mengharapakan pengampunan dari ibunya itu.
"Saya minta maaf Bu, saya salah, tidak bisa menjaga Monaliza dengan baik," Leon ikut bersimpuh dikaki ibu Bianka, wajahnya menunjukan rasa penyesalannya yang sangat mendalam.
"Ibu benar-benar kecewa pada kalian berdua," ungkap wanita yang belum genap berusia empat puluh tahun itu, bahkan wajahnya lebih tua dari usianya karena banyak menanggung beban pikiran. Ia mengusap air matanya yang jatuh kepipinya.
"Mona, apa kata orang kalau kau hamil diluar nikah? Para tetangga kita akan semakin mencemooh kita nak," sedu ibu Bianka. Ia berusaha menekan suaranya supaya tidak terdengar oleh para tetangganya.
"Maaf'in Mona Bu-, ucap Monaliza yang sudah tidak sanggup berkata-kata apa lagi, selain kata maaf dan tangis yang terus mengurai.
"Nak Leon, kami sudah miskin, kenapa kau menambahkan dan menimpakan beban rasa malu ini pada kami?" Tangis ibu Bianka makin menderu, hatinya terlampau hancur, ketika tahu putri yang ia banggakan dan menjadi tulang punggung keluarga, telah membawa aib dalam keluarganya.
"Maafkan saya Bu, saya yang salah," ungkap Leon lagi masih bersimpuh dikaki ibu Bianka bersama Monaliza.
"Ibu, ijinkan saya menikah dengan Monaliza, saya mau bertanggung jawab pada bayi yang ada didalam kandungannya," kata Leon, ia juga tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan lagi selain mengatakan hal itu pada ibu Bianka.
Ibu Bianka tidak langsung menjawab, ia berusaha menenangkan dirinya sambil meredakan tangisnya, hatinya terlanjur kecewa pada putrinya dan Leon yang mengaku kekasihnya itu.
"Pulanglah Leon, ajaklah orang tuamu kemari jika engkau mau menikahi putriku," ucap ibu Bianka akhirnya sambil mengusap air matanya dengan ujung lengan dasternya, tangisnya pun sudah mulai mereda.
"Iya Ibu, saya akan mengajak kedua orang tua saya datang kemari untuk melamar Monaliza," sahut Leon berjanji.
Sebelum bangkit dari lantai, Leon meraih punggung tangan ibu Bianka, dan menciumnya perlahan, walau wanita itu tidak berekspresi apapun terhadap apa yang ia lakukan.
Ibu Bianka menatap kepulangan Leon dengan pandangan kosong, ia tidak yakin bila laki-lakk muda itu akan berhasil membawa orang tuanya datang kerumahnya ini untuk melamar putrinya.
Bila Leon dan orang tuanya tidak datang, tentu dirinya dan putrinya akan menanggung aib itu sendiri, apakah ini takdir yang harus mereka jalani sebagai orang miskin. Air mata kepedihan kembali mengalir dipipi ibu Bianka sambil menatap putrinya yang sedari tadi masih bersimpuh dikakinya.
"Ibu, maafkan Mona. Mona sudah menyusahkan Ibu dan keluarga kita," tangis gadis itu terdengar semakin pilu. Ingin rasanya ibu Bianka menyesali semua kenyataan yang terjadi dalam hidupnya dan keluarganya, tapi itu semuanya tidak ada artinya. Ia hanya bisa pasrah dan harus berani menghadapinya dengan lapang dada.
"Bangkitlah Monaliza, Ibu memang kecewa padamu, tapi Ibu tidak akan membiarkanmu sendiri menanggung bebanmu. Kau putri Ibu, apa yang terjadi padamu adalah karena kesalahan Ibu juga yang tidak bisa menjagamu sebagai anak gadis Ibu dengan baik," kata ibu Bianka mengusap punggung putri sambungnya itu.
"Sekarang kita istirahat dulu, kita harus menjaga kesehatan kita," sambungnya sambil membantu Monaliza berdiri.
"Ibu memang Ibuku yang terbaik, terima kasih Ibu," Monaliza memeluk ibunya itu dengan erat.
...***...
__ADS_1
"Mona, kisahmu itu terlalu rumit memang," kata Rullina yang baru selesai mendengarkan cerita Monaliza disela-sela pekerjaan mereka.
"Lihat, ayah bayimu yang gondrong itu datang kemari," kata Rullina lagi. Ia buru-buru memperbaiki posisi duduknya saat melihat Dirga dan asistennya datang mendekat sambil menenteng sesuatu.
Monaliza langsung memelototkan matanya menatap Rullina yang meledeknya, sambil turut memperbaiki posisi duduknya.
Dirga dan Firans berhenti tepat dihadapan meja kedua pegawai resepsionis itu dengan wajah datar seperti biasanya.
"Selamat siang Pak Dirga dan pak Firans," sapa Monaliza dan Rullina bersamaan sambil berdiri dibelakang meja.
"Hm," sahut Dirga hanya bergumam, sementara Firans yang berdiri di
sebelahnya tidak berkata apa-apa, hanya menunggu bos-nya itu menyelesaikan misinya.
"Ini makan siangmu yang bergizi, juga ada buah-buahan dan susu didalamnya, kau harus menghabiskannya." Dirga menyodorkan kotak-kotak makanan yang ditentengnya dan meletakannya keatas meja resepsionis.
"Dan kau Rullina, perhatikan Monaliza. Bila dia tidak menghabiskannya laporkan padaku. Bila ia sakit karena tidak mau memakannya, itu tanggung jawabmu," kata Dirga menatap kearah Rullina.
Monaliza dan Rullina saling berpandangan sesaat.
"T-tidak Pak, saya tidak keberatan," sahut Rullina tergagap.
"Baiklah, terima kasih." Setelah berkata demikian Dirga menatap sebentar kearah Monaliza yang mematung ditempatnya berdiri, detik selanjutnya ia segera berlalu meninggalkan meja resepsionis bersama Firans menuju parkiran.
"Dirga, Dirga-," Firans menatap wajah Dirga yang selalu datar sambil memasang sabuk pengaman ditubuhnya.
Dirga tidak bereaksi, ia menjalankan mobilnya pelan hingga keluar dari area Surya Otomotif.
"Bagaimana kau bisa mendekati wanita itu, bila gayamu saja seperti itu Dirga," protes Firans mengalihkan pandangannya ke jalan raya.
"Memangnya seperti apa gayaku?" tanya Dirga tanpa minat, dijawab tidak dijawab baginya tidak membuatnya pusing.
"Kau terlalu kaku, senyummu mahal sekali, penampilanmu sampai sekarang tidak kau urus dengan baik. Aku saja terpaksa jalan denganmu karena kau adalah bosku," ungkap Firans sengaja, ia ingin melihat reaksi sahabatnya itu setelah mendengar ucapannya.
"Bukankah dari dulu aku sudah seperti ini, dan Megan menyukaiku," ucap Dirga membela diri.
"Monaliza bukan Megan Dirga, itu yang harus kau ingat. Mereka dua manusia yang berbeda," ucap Firans menghadapkan wajahnya pada Dirga yang memegang kemudi disebelahnya.
__ADS_1
"Megan memang mengejar-ngejarmu mulai kita sekolah dulu, bahkan dia sanggup berlaku seperti preman demi mempertahankanmu, pria dingin yang menjadi tipenya. Tapi Monaliza tidak, dia kebalikan dari Megan walau wajahnya mirif." ungkap Firans.
Didalam hati, Dirga membenarkan apa yang dikatakan asistennya itu.
"Apakah kau masih berfikir bila Monaliza itu adalah Megan?" tanya Firans menegaskan.
"Tidak," sahut Dirga singkat.
"Bagus. Apakah kau sudah menyukainya, atau mungkin mencintainya?" cecar Firans.
"Pertanyaan macam apa itu? Kau itu asistenku di Perusahaan Firans, bukan asisten untuk masalah pribadiku," kata Dirga tidak suka medapat pertanyaan semacam itu.
"Lalu buat apa kau cerita padaku dan sering meminta solusiku, hhh," ujar Firans mulai kesal.
"Baiklah maafkan aku," ucap Dirga mengalah.
"Aku tidak tahu, apakah aku menyukai wanita itu atau tidak. Aku tidak ingin anakku yang dikandungnya terlantar, itu saja," ucap Dirga datar.
"Hhh, anak yang dikandung Monaliza itu tidak mungkin terlantar Dirga. Leon kekasihnya itu sangat kaya, dia bahkan jauh lebih kaya darimu," Dirga langsung melirik sekilas kearah Firans, ketika mendengar perkataan asistennya itu.
"Maafkan aku, bukan aku mau membandingkan dirimu dengan pria manis itu. Sejujurnya dia lebih menarik darimu Dirga, dia juga masih sangat muda dan hampir sama seusia dengan Monaliza." timpal Firans sengaja.
"Teruslah membandingkan Firans, atau aku tidak akan membayar gajimu diakhir bulan ini," ancaam Dirga.
"Aku sudah menduganya kau pasti bicara seperti itu," ucap Firans tanpa menoleh pada Dirga.
"Terus saja dengan sikap dinginmu itu Dirga, pelihara saja brewokanmu dan rambut gondrongmu sampai kau mirip seorang wanita,"
"Kau tahu? Monaliza tidak akan tertarik pada pria seperti itu. Jangan salahkan Monaliza, bila dirinya akan memilih Leon untuk menjadi ayah bagi bayi yang ada dalam kandungannya,"
Kriiiiikkk!
"Dirga! Kau apa-apa'an sih!" ucap Firans kaget karena Dirga tiba-tiba menginjak remnya, padahal tidak ada mobil atau apapun yang ada didepan mobil mereka.
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi Firans. Janin yang ada dalam kandungan Monaliza itu, anakku, darah dagingku, kau mengerti!" sentak Dirga dengan tatapan nyalang pada asistennya yang duduk disebelah kemudinya. Firans bungkam, ia tidak berani bersuara lagi, ia tahu Dirga benar-benar marah padanya.
...***...
__ADS_1