
Air mata Leon menggenang dipelupuk matanya. Walau dirinya seorang laki-laki, ia tidak sanggup menahan kesedihannya tatkala melihat ibu yang telah melahirkannya kini tidak mengenalinya lagi.
"Siapa ibumu? Dia pasti wanita yang tidak becus mendidikmu! Sebesar ini saja kau masih menangis, seperti anak balita saja!" ucap nyonya Gamsonrich acuh sembari meneruskan sulaman bergambar bunga teratai, bunga kesukaannya.
Ya, sudah hampir 5 bulan ini, nyonya Gamsonrich menjadi salah satu penghuni rumah sakit jiwa.
Setelah putusan pengadilan yang menyatakan dirinya harus mempertanggung jawabkan segala perbuatan jahatnya di dalam penjara, wanita paruh baya itu hanya sanggup bertahan selama 4 minggu saja didalam sana.
Dinginnya ubin, makanan yang terlihat kotor dan menjijikan dimatanya, belum lagi gencarnya pemalakan para preman perempuan yang satu sel dengannya, yang mengetahui bila dirinya berasal dari keluarga kaya, membuat nyonya Gamsonrich dinyatakan mengidap gangguan jiwa.
Leon meraih sapu tangan dari saku celananya, menyapu air matanya yang merembes ke pipinya.
Selama 5 bulan ibunya di rumah sakit Jiwa, Leon selalu meluangkan waktunya setiap hari di jam makan siang untuk membawakan ibunya makanan kesukaannya, kecuali bila dirinya berada diluar kota atau sedang sakit.
Sementara kakaknya Kenny dan ayahnya berkunjung hanya satu kali dalam seminggu, karena kesibukan bisnis mereka.
"Sudahlah, jangan menangis terus. Disini bukan kuburan tempat orang meratap kesedihannya. Disini tempat orang yang bersukacita dan bergembira!" tukas nyonya Gamsonrich lagi, tangannya terus menyulam, memperlihatkan kuntum-kuntum teratai yang sedang bermekaran dan sudah hampir selesai, tinggal beberapa kelopak teratai lagi yang harus ia isi dengan benang-benangnya.
"Lihat disana!" nyonya Gamsonrich meletakan jarum rajutnya, dan menunjuk beberapa pasien rumah sakit jiwa yang sibuk dengan aksi dan kegiatannya masing-masing disekitar taman dimana dirinya dan Leon sedang duduk.
"Tidak ada raut sedih diwajah mereka, mereka selalu tertawa bahagia bukan?" ucap nyonya Gamsonrich menatap kearah para pasien sakit jiwa tersebut sambil tertawa kecil.
Leon ikut memandang kearah yang ditunjuk oleh ibunya, memang benar, para pasien sakit jiwa itu terlihat sedang bersuka hati. Ada yang menimang boneka bayi dan mendendangkan lagu ina bobo sambil berjalan kesana kemari, ada yang tertawa sendiri lalu berceloteh yang dirinya sendiri pun tidak mengerti apa yang sedang ia tertawakan dalam celotehannya, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Leon melirik ibunya, wanita itu masih tertawa kecil memandang kearah para pasien sakit jiwa itu.
Walau kondisi ibunya sekarang seperti ini, Leon masih tetap bersyukur karena ibunya itu masih sehat dan bisa tertawa dengan caranya sendiri, dan masih bisa berkreasi menyulam sapu tangan, taplak meja, dan kain gorden.
Sempat ada beberapa lembar yang selesai selama 3 bulan terakhir. Tentu saja Leon membelinya dengan harga tinggi. Uang yang diberikan Leon, selalu dibawanya dalam tas selempangnya kemana-mana, termasuk kekamar mandi.
__ADS_1
...🍓🍓🍓...
Terik matahari serasa membakar kulit, Leon yang baru turun dari mobilnya buru-buru masuk ke gedung megah kantornya.
"Tuan Leon, ada tamu sedang menanti Anda," ucap seorang resepsionis cantik sambil berdiri, begitu melihat Leon melintas di lobby dekat mejanya.
"Dimana tamunya? Dan apa keperluannya?" Leon menghentikan langkahnya tepat didepan pegawai resepsionisnya itu.
"Di sofa lobby itu Tuan," tunjuknya dengan sopan dan beranjak keluar dari belakang mejanya.
"Namanya pak Dirga. Beliau tidak mengatakan keperluannya, dan telah menunggu hampir satu jam yang lalu," terang resepsionis itu lagi.
"Baiklah. Kau tidak perlu mengantarku kesana, aku akan menemuinya sendiri," setelah berkata demikian Leon segera bergegas, dan resepsionis itu kembali duduk dibelakang mejanya.
Setelah semakin dekat, Leon memelankan langkahnya memandang punggung Dirga yang tengah duduk di sofa tamu membelakanginya.
"Selamat siang pak Dirga," sapa Leon, dirinya sudah berdiri tepat disebelah Dirga sedang duduk.
"Selamat Siang juga tuan Leon. Maaf, telah mengganggu ketenangan Anda berkerja." ucap Dirga seraya mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan.
Ia merasa tak enak, karena Leon tidak segera menyambut uluran tangannya, dan hanya memandang tangannya saja seolah sedang berfikir.
Belun sempat Dirga menarik tangannya, Leon akhirnya menyambut tangannya dan menjabatnya dengan erat dan kencang membuat Dirga kaget dan sempat menahan napasnya hingga sepersekian detik.
"Tidak sama sekali pak Dirga, saya baru keluar makan siang tadi." ucap Leon kemudian. "Silahkan duduk kembali pak Dirga," ucapnya mempersilahkan.
"Pasti perihal yang sangat penting, hingga membawa pak Dirga mampir kekantor saya," ucap Leon, setelah mereka berdua saling duduk berhadapan.
Dirga hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Leon.
__ADS_1
"Aku dan Monaliza sepakat membuat syukuran kelahiran putra kami Arseano walau terkesan sangat lambat, karena Monaliza baru mulai tenang dalam bulan ini," ungkap Dirga dengan ucapannya yang sengaja tidak diperjelas.
Walau begitu, Leon bisa memahami apa maksud perkataan Dirga, ia beberapa kali dikabarkan oleh Kenny dan Nadine bila Monaliza masih sering mengalami ketakutan yang berlebihan akibat trauma pasca penculikan bayinya, karena kakak dan kakak iparnya itu beberapa kali bertandang kerumah Dirga membawa bayi perempuan mereka yang lahir hanya berbeda hari saja dari kelahiran Arseano, putra Monalisa dan Dirga.
"Syukurlah, aku turut senang bila Monaliza sudah merasa lebih baik. Kapan acaranya?" tanya Leon, menanggapi kabar yang dibawa oleh mantan rivalnya itu.
"Waktu, tempat dan jamnya, ada dikartu undangan ini. Monaliza memintaku khusus mengantarkannya padamu. Ia menekanku supaya kau harus datang, jangan sampai tidak," ucap Dirga sesuai pesan dari isterinya dan memberikan kartu undangan pada Leon.
Leon kembali tersenyum tipis menanggapi ucapan Dirga yang didengarnya bagai angin sepoi-sepoi, membuatnya kembali mengingat masa lalu yang telah berusaha ia lupakan dan itu ternyata begitu sulit.
"Terima.kasih bànyak pak Dirga. Anda sudah meluangkan waktu untuk mengantarkan undangan ini kepada saya secara khusus." Leon menerima kartu undangan yang diberikan Dirga padanya. "Saya usahakan akan datang." sambung Leon lagi.
"Baiklah, tugas kurir saya sudah selesai, dan saya mohon pamit," Dirga segera berdiri diikuti Leon dan kembali mengulurkan tangannya sebelum pergi.
Untungnya, tidak seperti sebelumnya, kali ini Leon segera menyambut uluran tangan Dirga padanya.
"Hati-hati dijalan," walau sekedar basa basi, namun Dirga cukup senang mendengarnya. Mantan rivalnya memang berjiwa besar batinnya memberi penilaian.
Leon masih mematung ditempatnya berdiri memandang Dirga yang pergi menjauh. Ingatannya kembali melayang ke masa lalu, ketika Monaliza masih menjadi kekasihnya, terlalu manis dan sekaligus pahit untuk dikenang.
Namun seorang Leon tidak pernah menyesali masa lalu yang seakan tidak berpihak padanya. Memang pahit, dan ia berusaha mengikhlaskannya. Berusaha menanamkan mindset didalam hatinya, bila cinta itu tidak harus memiliki, dan cinta itu tidak harus memaksakan keadaan yang mustahil, dan cinta itu adalah kasih yang rela berkorban.
Leon tersenyum getir. Dan senyum itu hanya sekilas nampak karena wajahnya kini tiba-tiba menekuk, saat menyadari kenyataan bahwa Nadya-lah yang menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat 'kan menjemput.
Leon kembali memaksakan senyum diwajahnya, karena itu terlalu sulit, sesulit rasa yang dipaksakan untuk mencintai Nadya yang menjadi isteri seumur hidupnya.
Namun ia bertekad, tetap merajut hidupnya sebaik mungkin hingga akhir hayat, seperti keahlian baru ibunya yang mampu membuat sulaman bunga teratai yang cukup indah setelah mengalami gangguan jiwa.
Bersambung...👉
__ADS_1
Bersambung...👉