CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
15. Terima Kasih


__ADS_3

"Terima kasih pak Dirga," lirih Monaliza, saat bos-nya itu sudah menegakkan tubuhnya dari berjongkok dilantai.


"Tidak perlu berterima kasih, saya hanya tidak ingin ada orang terluka karena terinjak pecahan kaca itu,"sahut Dirga datar.


"Bukan itu pak," kata Monaliza lagi, masih dengan suara lirihnya.


"Lalu apa?" tanya Dirga menatap wajah pucat dan lesu Monaliza.


"Pak Dirga sudah menolong saya semalam diwaktu yang tepat," sahut Monaliza. Suaranya yang lemah nyaris tidak terdengar.


Dirga menoleh sejenak kearah dokter Hilda yang berdiri tidak jauh darinya, lalu kembali beralih menatap wajah pucat Monaliza dihadapannya.


"Bagaimana kau bisa tahu, kalau aku yang menolongmu?" tanya Dirga yang merasa heran.


"Bukankah semalam kau tidak sadarkan diri dan baru bangun setelah hampir siang?" ungkap Dirga yang masih merasa keheranan.


"Semalam-, saya berteriak-teriak minta tolong, tapi tidak seorangpun yang melewati jalan itu, mungkin karena sudah hampir tengah malam," Monaliza mulai menceritakan apa yang dialaminya dengan tersendat-sendat.


Dirga dan dokter Hilda mendengarkannya dengan penuh perhatian.


"Saya merasa takut, sepertinya hidup saya akan berakhir malam itu, saat abang ojol yang mengantarkan saya pulang dikeroyok dua orang laki-laki tanpa kenal ampun," suara Monaliza terdengar lemah, tapi masih jelas terdengar.


"Entah dari mana datangnya, seorang pria tiba-tiba menyeretku kesemak-semak dengan paksa,"


"Saat aku berusaha berontak dan melawannya ia memukulku berkali-kali disini, disini, dan disini," ucap Monaliza sambil menunjuk bagian lengan, tulang selangka, punggung dan wajahnya yang membiru.


Dirga mengepalkan tangannya, ia merasa sangat geram pada pria yang berani memukul seorang wanita tanpa belas kasihan.


"Dengan sisa kekuatanku, aku masih melawannya sambil berteriak-teriak minta tolong,"


"Mungkin karena aku terlalu berisik menurutnya, pria brengsek itu menampar pipiku sangat keras hingga membuat kepalaku terasa sangat pusing, dan pandanganku langsung berkunang-kunang," Monaliza mengambil nafas dalam sebelum dirinya melanjutkan ceritanya.


Dirga dan dokter Hilda masih mendengarkan semua cerita Monaliza dengan sabar, sambil memberikan wanita itu ruang untuk terus bercerita pengalaman yang ia alami semalam.

__ADS_1


"Aku masih ingat saat pria jahat itu merobek pakaian atasanku dengan paksa, tapi aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Tamparan terakhir pria itu membuat aku sudah tidak berdaya, untuk berteriak-pun aku sudah tidak sanggup."


"Aku merasakan tangan kotornya menjamah dan meremas bagian tubuh atasku dengan kasar," Monaliza mulai terisak, ia menggigit kuat kerah baju pasien yang ia kenakan. Dokter Hilda mendekatinya lalu memeluknya.


Dirga memalingkan wajahnya dari Monaliza, otaknya serasa tidak sanggup mendengarkan kelanjutan cerita dan tangisan gadis malang itu. Hatinya ikut terasa sakit.


Untuk beberapa menit lamanya, mereka membiarkan Monaliza sesenggukan dalam pelukan dokter Hilda, sampai ia menjadi tenang kembali.


"Ditengah keputus-asaanku, aku mendengar suara seorang pria yang meneriaki pria brengsek yang menggerayangi tubuhku itu," Monaliza mulai melanjutkan ceritanya kembali.


"Aku, aku berusaha dengan sekuat tenaga membuka mataku yang sudah terasa sangat berat, samar-samar, aku melihat pak Dirga memukul pria jahat itu berkali-kali."


"Setelahnya, aku sudah tidak tahu lagi. Saat aku sadar, aku sudah ada diruangan ini," ucap Monaliza menutup ceritanya.


Tok! Tok! Tok!


Monaliza langsung mendekap erat tubuh dokter Hilda yang masih memeluknya, wajahnya terlihat takut menatap kearah pintu, seolah minta perlindungan.


"Masuklah!" ucap dokter Hilda kemudian.


"Permisi dok, saya membawakan pesanan makan siang untuk nona Monaliza," ucap seorang suster, saat ia baru masuk keruangan itu.


"Bawa kemari suster," perintah dokter Hilda. Suster itu segera mendekat dan menyerahkan kotak makanan yang dibawanya pada dokter Hilda.


"Maaf dokter Hilda, ada pasien yang baru tiba, dan memerlukan penanganan anda sekarang juga diruang IGD dokter," ucap suster itu menatap wajah dokter Hilda.


"Baiklah, kita segera kesana," sahut dokter Hilda.


"Nona Monaliza, maafkan saya, saya harus meninggalkanmu, ada pasien yang membutuhkan penanganan saya secepatnya," ucap dokter Hilda merenggangkan pelukannya dari tubuh Monaliza, lalu meletakan kotak makanan ditangannya diatas nakas.


"T-tapi dok-," Monaliza menatap wajah dokter Hilda degan sorot cemas.


"Jangan takut nona, ada pak Dirga yang akan menemani nona disini," Dokter Hilda mengedipkan matanya pada Dirga, saat pria itu sudah membuka mulutnya siap untuk protes, membuat Dirga kembali mengatupkan mulutnya.

__ADS_1


"Ikut saya sebentar pak Dirga," Dokter Hilda mengajak Dirga sedikit menjauh dari Monaliza saat dirinya baru saja melepaskan pelukannya dari gadis itu.


"Maafkan saya pak Dirga, saya terpaksa melakukan ini, saya lihat hanya pak Dirga saja yang berani nona Monaliza temui bersama abang ojol tadi sebelum anda datang kemari." ucap dokter Hilda setengah berbisik.


"Dimana abang ojolnya?" tanya Dirga penuh harap.


"Mengambil sepeda motornya, katanya orang bengkel, anak buah pak Dirga menelponnya karena sepeda motornya sudah selesai diperbaiki," sahut dokter Hilda.


"Mungkin karena hanya pak Dirga dan abang ojol saja yang menolong nona Monaliza disaat ia benar-benar membutuhkan pertolongan saat kejadian naas semalam," imbuh dokter Hilda menduga.


"Mohon kerjasamanya ya pak Dirga, supaya kondisi pasien cepat pulih," Dirga langsung pasrah mendengar perkataan dari dokter Hilda, sekalipun ia ingin menolak tapi rasa kemanusiaan dihatinya membuat dirinya bertahan diruangan itu. Ia menatap dokter Hilda dan suster yang bergegas pergi meninggalkan ruangan dimana hanya tinggal dirinya dan Monaliza saja.


Dirga membalikan tubuhnya, melihat Monaliza yang menatapnya sayu tanpa bicara apapun. Ia segera mendekati nakas, mengambil kotak makanan yang telah dibawa oleh suster. Makanan itu masih terasa hangat saat Dirga membuka tutupnya, ia lalu membawanya pada Monaliza.


"Ini makan siangmu, makanlah," ucap Dirga seraya menyerahkan kotak makanan ditangannya pada Monaliza.


Monaliza menatap wajah Dirga sejenak, seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi perkataannya tidak tembus keluar, hanya tercekat ditenggorokannya saja.


Gadis itu mengulurkan tangannya, terlihat sedikit gemetar. Dirga memperhatikannya, namun tetap menaruh kotak makanan itu ditangan gadis itu supaya ia segera memakan makanannya sendiri.


Baru saja Dirga melepaskan kotak makanan itu dari tangan, kotak makanan itu langsung oleng ditangan Monaliza dan tertumpah sebagian mengenai pakaian pasien yang dikenakan Monaliza.


Dirga yang melihat hal itu segera mengambil alih kembali kotak makanan dari tangan Monaliza yang masih gemetar dan tidak bertenaga itu, supaya tidak tertumpah semuanya.


"Maafkan saya pak Dirga, sudah sangat merepotkan anda," lirih Monaliza masih dengan tatapan sayunya.


Dirga melirik sekilas wajah sayu dan pucat dihadapannya,"tidak apa-apa, saya mengerti kondisimu sekarang," sahut Dirga datar.


Dirga meraih beberapa lembar tissue diatas nakas dan memberikannya pada Monaliza, "Bersihkan pakaianmu itu," tunjuk Dirga pada noda tumpahan makanan yang menempel didada Monaliza.


Monaliza langsung membersihkan noda pada bagian dadanya. Dirga langsung mengalihkan pandangannya kesembarang tempat ketika melihat dada Monaliza berguncang-guncang saat tangannya sendiri membersihkan noda di baju bagian dadanya itu.


"Buang sampahnya disini," Dirga mendekatkan keranjang sampah mini didekat Monaliza.

__ADS_1


__ADS_2