
"Setelah dokter yang memeriksaku tadi pagi mengatakan bila diriku sedang mengandung-," Monaliza menjedah ucapannya sejenak, ia mengatur napasnya yang terasa sesak didada sebelum menyelesaikan kalimatnya. Sementara Leon masih terdiam membisu tidak mampu berkata apa-apa.
"Pak Dirga mengatakan bila benih yang didalam rahimku ini adalah milikinya, dia yang tidur denganku dimalam itu. Jelaskan padaku Leon, kenapa dia bisa berkata seperti itu padaku? Sampai tadi sore dia juga masih mengatakan itu padaku?" ungkap Monaliza dengan suara bergetar hingga tangisnya akhirnya meledak.
Leon merengkuh tubuh Monaliza kedalam pelukannya. Rasa sakit yang selama ini ia tahan semakin menyayat hati. Rasa bencinya pada Dirga semakin menjadi, pria yang telah merebut kehormatan kekasihnya, dan sekarang terang-terangan berusaha merebut kekasihnya untuk menjadikan isterinya.
Leon memejamkan matanya, menghirup udara untuk mengganti oksigen yang ada dalam paru-parunya. Dipereratnya pelukannya pada tubuh Monaliza, sekedar menghilangkan rasa gundah dihatinya.
"Maafkan aku Mona, aku tidak bisa menjagamu dengan baik," gumam Leon Lirih. Ia mengusap rambut panjang Monaliza yang masih terisak dalam pelukannya.
"Malam itu-," Leon memulai ceritanya, sebenarnya ia ingin menyimpan kisah pahit itu hanya untuk dirinya. Namun ia putuskan untuk menceritakannya saja, karena lambat laun, cerita yang ia anggap rahasia, bukanlah rahasia lagi, karena ada Dirga yang juga mengetahuinya. Dan pria itu sudah membukanya pada Monaliza walau tidak mengatakannya secara gamblang.
Baginya, kisah itu adalah sejarah yang memalukan didalam hidupnya, wanita yang berstatus kekasihnya, dinodai oleh pria lain dihotel milik kelurganya sendiri, bahkan ia sendiri yang memesannya untuk kekasihnya beristirahat.
Monaliza menghentikan tangisnya, mendengar kebenaran yang disampaikan Leon melalui ceritanya, ternyata Dirga tidak berbohongnya.
Monaliza melepaskan tangan Leon yang sedang memeluknya dengan paksa. Kebenaran cerita itu membuatnya merasa malu bercampur marah.
"Aku mau pulang sekarang Leon," kata Monaliza sambil berdiri dari pangkuan Leon.
"Mona, tolong maafkan aku, ini semua salahku," Leon menarik tangan Monaliza yang hendak pergi meninggalkannya.
"Lepaskan tanganku Leon, aku mau pulang sekarang, aku mau menenangkan diriku," Monaliza berusaha melepaskan tangan Leon yang memegang erat tangannya.
"Baiklah, tapi aku yang akan mengantarmu pulang," ucap Leon seraya melepas tangan Monaliza.
"Tidak, aku bisa pulang sendir," tolak Monaliza, ia bergegas mengambil tas kerjanya dan setengah berlari ia berlalu keluar kamar menuju pintu depan yg jaraknya cukup jauh karena penthouse itu cukup luas.
Leon tidak tinggal diam, ia mengejar Monaliza dan dapat menyusulnya sebelum kekasihnya itu berhasil keluar dari pintu depan.
__ADS_1
"Mona, aku salah, maafkan aku. Tapi ijinkan aku untuk mengantarmu pulang, aku khawatir terjadi sesuatu padamu Mona, aku mohon," kata Leon bersungguh-sungguh.
"Sudah kukatakan Leon, aku bisa pulang sendiri," sahut Monaliza masih menolak.
"Mona, aku akan mengantarmu, kau tidak boleh pulang sendiri," tegas Leon. Monaliza terdiam, ia memang pernah beberapa kali melihat Leon bersikap tegas pada orang-orangnya, ini kali pertama Leon bersikap seperti itu padanya, mungkin karena dirinya bersikap keras kepala sebelumnya.
...***...
Monaliza membiarkan tangan Leon menggenggam tangannya, saat keduanya berjalan bersisian melintasi gang sempit menuju rumahnya yang sudah nampak sepi karena malam sudah larut.
Pintu rumah para tetangga Monaliza-pun sudah tertutup rapat semua, hanya terdengar suara televisi yang tidak terlalu jelas terdengar dari rumah-rumah tetangga kiri dan kanan Monaliza.
Tok! Tok! Tok!
Monaliza mengetuk pintu, sementara Leon berdiri disebelahnya dan sudah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Monaliza.
Tidak menunggu lama seperti biasanya, suara langkah kaki datang mendekat. Monaliza sangat mengenal langkah kaki ibunya.
"Masuklah, Mona, nak Leon," Ibu Bianka membalas senyum putrinya dan Leon lalu mempersilahkan keduanya masuk.
"Saya permisi dulu Bu, sudah larut malam," pamit Leon didepan pintu.
"Masuklah dulu Leon, ibu sudah menyeduhkan teh panas buat kalian berdua," tahan ibu Bianka.
Leon melirik wajah Monaliza disampingnya, dan direspon dengan anggukan oleh kekasihnya itu. Keduanya lalu masuk, dan Monaliza menutup pintu dengan rapat.
"Duduklah dulu, ibu akan mengambilkan teh dibelakang" kata ibu Bianka sambil berlalu.
"Biar aku saja yang mengambilkannya Bu," kata Monaliza sambil mengikuti ibunya dari belakang.
__ADS_1
"Tidak usah Mona, temani Leon saja, ibu tinggal mengambil teh-nya saja," kata ibu Bianka.
Monaliza menurut lalu berbalik, ia kembali keruang tamu rumahnya yang terbilang sempit, peninggalan dari ayahnya.
"Tidak biasanya jam segini ibu belum tidur?" kata Leon setengah berbisik pada Monaliza yang baru mendudukan dirinya pada kursi plastik didekat Leon.
"Iya, mungkin karena Rony sudah tertidur dan esok akan bersekolah, jadi ibu yang menunggu kita," sahut Monaliza. Sebenarnya ia merasakan ada firasat yang tidak baik sehubungan dengan ibunya yang menunggu kepulangan mereka.
Ibu Bianka akhirnya kembali, membawa nampan ditangannya, dan meletakan apa yang dibawanya diatas meja tamu berbahan dasar plastik itu.
"Minumlah dulu nak Leon, Mona, supaya tubuh kalian terasa hangat. Udara malam ini terasa begitu dingin," ucap ibu Bianka sambil melipat tangannya didepan dada.
Leon dan Monaliza saling berpandangan sesaat, pasalnya keduanya merasa cukup gerah malam itu, apalagi diruang tamu yang sempit itu tidak ada kipas angin karena dibawa masuk kekamar.
"Terima kasih Ibu, sebenarnya tidak perlu repot-repot," kata Leon, ia meraih gelas teh, lalu menyesapnya sedikit demi sedikit demi menghargai ibu Bianka, calon ibu mertuanya.
"Ayo Mona, minumlah. Kau baru dari luar, harus minum yang hangat supaya tidak masuk angin," kata ibu Bianka pada putrinya yang belum menyentuh gelas teh miliknya.
"Iya Bu," Monaliza menurut, ia meraih gelas teh-nya dan menyesapnya pelan.
"Habiskan teh kalian berdua," kata ibu Bianka seraya menghabiskan teh-nya yang bersisa sedikit didasar gelasnya. Ia lalu memperhatikan kedua anak muda yang tengah duduk dihadapannya setelah melatakkan gelas teh-nya yang sudah kosong ke atas meja.
"Mona, jelaskan pada ibu, apa artinya ini?" Ibu Bianka mengeluarkan satu benda pipih berukuran stik es krim dari dalam saku dasternya dan menunjukan pada sepasang kekasih dihadapnya, setelah keduanya menghabiskan teh-nya.
Apa yang dicemaskan Monaliza terjadi juga, ia menundukkan kepalanya dalam dan meremas tas kerjanya yang berada dipangkuannya, ia ridak berani melihat wajah ibunya.
"Katakan, siapa ayah bayi itu Mona?" tegas ibu Bianka menatap wajah putrinya yang masih belum berani melihat wajahnya.
"Saya ayah dari bayi yang dikandung Monaliza Bu?" Leon tiba-tiba ikut bicara. Monaliza terkejut mendengar pengakuan Leon, ia segera membuka mulutnya untuk menyanggah. Namun Leon segera menyentuh lengan kekasihnya itu supaya Monaliza tidak mengatakan apapun.
__ADS_1
"Kenapa kalian berani melakukan itu? Ibu sangat kecewa karena kalian sudah menyalah-gunakan kepercayaan Ibu," ucap ibu Bianka dengan wajah memerah dan putus asa karena marah. Berbagai kekhawatiran sejak ia menemukan test kehamilan putrinya sejak tadi pagi semakin menjadi-jadi.
"Dan kau nak Leon. Bukankah kau tahu, hubungan kalian berdua belum memdapat restu dari kedua orang tuamu," kata ibu Bianka beralih pada Leon.