CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
63. Berharap Lupa Ingatan


__ADS_3

Nyonya Gamsonrich menatap layar monitor vital ICU yang menampilkan gelombang elektrokardiogram pendeteksi detak jantung yang telah kembali normal.


Perasaannya begitu gembira, tatkala mengetahui putra bungsunya itu tidak jadi meninggal. Ia melangkah mendekat, meraih jari jemari Leon dan memciumnya dengan penuh kasih sayang sambil meneteskan air mata bahagia.


"Leon sayang, Mama sangat senang kau kembali," lirih nyonya Gamsonrich sambil mengusap rambut kepala putranya dengan lembut.


Kelopak mata Leon mulai terbuka perlahan-lahan, sorot mata sayunya yang berair memandang wajah ibunya yang sembab dan berusaha tersenyum padanya.


"Ma-ma," suara Leon terdengar lemah tanpa tenaga.


"Iya Leon, Mama disini. Mama disini untukmu sayang," sahut nyonya Gamsonrich terus mengusap lembut rambut putranya. Ia melihat bibir Leon yang bergerak-gerak tanpa suara.


"Apa yang ingin kau katakan Leon?" tanya nyonya Gamsonrich, ketika suara Leon tidak kunjung ia dengar, bahkan putranya itu mengatupkan kembali sepasang bibirnya.


"Ma, ingat kata Dokter. Jangan dulu mengajak Leon banyak bicara, beri dia waktu untuk istirahat," kata tuan Gamsonrich mengingatkan sang isteri.


Mendengar teguran suaminya, nyonya Gamsonrich akhirnya terdiam, kali ini dirinya berusaha mengalah, tidak banyak bicara seperti sebelum-sebelumnya.


"Kak Keny, dimana Monaliza?" tanya Leon saat tatapan sayu-nya bertabrakan dengan kakaknya.


Keny menoleh kebelakang, mencari Monaliza. Sebelumnya ia berfikir Monaliza dan Dirga ikut masuk bersama mereka saat mendengar keterangan dokter bahwa Leon kembali hidup.


"Monaliza tidak ikut masuk," ucap Nadine mengerti ketika melihat pandangan suaminya menyapu seluruh sudut ruangan.


"Dia pasti sudah pulang bersama calon suaminya," sela nyonya Gamsonrich angkat bicara tanpa diminta.


"Ma!" suara tuan Gansonrich bernada menegur.


"Memang benar kan Pa, pria itu memang calon suaminya. Perempuan itu memang tidak tahu malu, baru semalam Leon memperkenalkan dirinya secara resmi pada kita sebagai kekasihnya. Hari ini dia datang dengan kabar akan menikah dengan pria lain," sungut nyonya Gamsonrich dengan wajah masam.

__ADS_1


"Cukup Ma-," tegur tuan Gamsonrich lagi.


"Papa tidak perlu membelanya. Perempuan itu memang perempuan yang tidak baik, dia perempuan jahat. Bagaimana mungkin dirnya datang kemari untuk menjenguk Leon dan mengajak pria lain, perempuan apa namanya itu kalau bukan perempuan jahat dan murahan," tuduh nyonya Gamsonrich lagi dengan menggebu-gebu.


"Cukup Ma! Hargai perasaan Leon! Dia baru saja siuman, jangan membuatnya stress dengan semua perkataan-perkataan Mama yang tidak jelas itu!" Hardik tuan Gamsonrich yang terpaksa berbicara keras pada isterinya yang tidak bisa mengendalikan ucapannya.


"Karena perempuan murahan itu, Papa tega membentak Mama!" sahut nyonya Gamsonrich tidak terima tatkala menerima perlakuan suaminya yang tidak pernah berkata keras dan kasar padanya sebelumnya.


"Cukup Ma! Cukup Pa!" Leon tiba-tiba meninggikan suaranya untuk mengimbangi keributan yang ia dengar dari kedua orang tuanya. Ia sudah mengumpulkan segenap tenaganya demi menghentikan perdebatan kedua orang tuanya yang menyebabkan kesedihannya semakin dalam.


Tuan dan Nyonya Gamsonrich langsung terdiam, mereka sempat saling berpandangan sejenak lalu sama-sama mengalihkan pandanganya masing-masing ketempat lain.


"Aku berharap bisa lupa ingatan," suara Leon kembali terdengar lemah tidak bertenaga.


"Mendengar Monaliza akan menikah saja, rasanya aku lebih baik mati saja saat mengalami kecelakaan semalam," sambung Leon, jakunnya terlihat naik turun, saat mengucapkan perkataannya itu dengan sepenuh hati.


Kedua orang tua Leon, Keny dan Nadine tidak berkomentar apapun. Kini mereka membiarkan Leon mencurahkan seluruh isi hatinya yang terpendam.


"Namun saat aku mendengar dirinya pulang setelah bertengkar dengan Mama. Aku memutuskan untuk mati saja, aku menyerah, aku sudah tidak mau hidup lagi," keluh Leon.


"Setelah itu, aku merasa tubuhku ini melayang-layang di ruang hampa udara yang tidak bertepi, aku tidak bisa melihat apapun, hanya ada kegelapan disana." guman Leon dengan tatapan kosong menatap langit-langit rumah sakit.


"Dan itu berlalu begitu lama, terlalu panjang, hingga aku merasa lelah dan kesepian. Aku berusaha bisa melihat setitik cahaya untuk menghibur diriku, tapi tidak kutemukan," ucap Leon dalam gumaman.


"Sampai akhirnya," suara Leon mulai terdengar bersemangat dan bertenaga.


"Samar-samar, aku mendengar dari kejauhan, suara Monaliza merutuk diriku yang menyerah. Aku berusaha menuju suara itu dengan tubuhku yang masih melayang-layang diruang hampa." Wajah Tuan dan nyonya Gamsonrich, juga Keny dan Nadine menegang mendengar cerita yang tengah dikisahkan Leon pada mereka.


"Semakin mendekat, suara Monaliza semakin jelas terdengar. Aku bingung, kenapa Monaliza memaksa ku bangun. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk bangun seperti yang Monaliza maksud," kata Leon terdiam sejenak. Setelah mengambil napas, dan menghembuskannya kembali, Leon melanjutkan kisahnya lagi.

__ADS_1


"Aku mendengar keributan yang tidak jelas, ada suara Monaliza, Mama, Papa, kak Keny. Dan itu membuat kepalaku terasa sangat sakit dan berputar-putar," terang Leon mengingat rasa sakit pada kepalanya yang luar biasa saat itu.


"Tidak lama berselang, rasa sakit kepala itu berpindah kedadaku. Rasanya aku tidak sanggup menahan rasa sakitnya hingga membuat tubuhku terpental jauh entah dimana."


"Namun saat aku membuka mata, aku melihat dokter dan para perawat sedang menatapku dengan wajah lelah mereka sambil menyunggingkan senyum."


"Karena lelah dan dadaku yang masih terasa sakit, aku memutuskan untuk beristirahat dulu, berharap sakit didada dan kepalaku dapat segera hilang," kata Leon mengakhiri kisahnya.


Kedua orang tua Leon, Keny dan Nadine saling bertukar pandangan. Apa yang diceritakan Leon membuat mereka menyimpulkan, bahwa Leon terbangun karena kegaduhan yang dilakukan Monaliza, yang membuat nyonya Gamsonrich bertengkar karena hal itu.


"Leon, kami sudah mendengar kisahmu, sekarang kau beristirahatlah lagi, supaya kondisimu cepat pulih," kata tuan Gamsonrich mengusap lengan putranya.


Leon mengangguk, perlahan ia menutup kelopak matanya, tubuhnya memang masih terasa begitu lelah saat itu.


"Sekarang kita keluar dari sini. Biarkan Leon beristirahat dulu," kata tuan Gamsonrich pada isterinya dan anak menantunya.


"Mama masih ingin disini Pa, Mama mau menemani Leon," pinta nyonya Gamsonrich.


"Jangan Ma, nanti bisa mengganggu istirahat Leon," kata tuan Gamsonrich berusaha mencegah.


"Mama janji, tidak akan mengganggu Leon. Mama hanya ingin menemani Leon saja Pa," pinta nyonya Gamsonrich pantang menyerah dengan raut penuh harap.


"Baiklah, terserah Mama saja. Ingat, hanya menemani Leon saja ya Ma, jangan melakukan hal lain. Kasihan Leon, putra kita butuh banyak istirahat," kata tuan Gamsonrich kembali mengingatkan.


"Iya Pa, Mama janji," sahut nyonya Gamsonrich bersungguh-sungguh.


"Ayo Keny, Nadine, kita keluar dari sini," ajak tuan Gamsonrich pada anak dan menantunya.


Ketiganya lalu keluar dari ruang rawat Leon, meninggalkan nyonya Gamsonrich dan Leon saja di dalam ruangan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2