CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
67. Terungkap


__ADS_3

"Kalian memang tidak becus! Hanya satu putra ku saja, kalian tidak sanggup menjaganya!" teriak nyonya Gamsonrich marah.


"M-maafkan kami Nyonya," kata seorang security dengan wajah menunduk. Sementara beberapa perawat lain berdiri dibelakangnya juga turut menunduk takut.


"Sekarang juga, cari putraku itu! Bila terjadi sesuatu padanya, kalian harus mempertanggung-jawabkan keteledoran kalian ini!" teriaknya lagi terdengar menggema.


"Ma, sudahlah. Ini sudah larut malam, kasian pasien yang lain, mereka akan merasa terganggu mendengar suara Mama," tegur tuan Gamsonrich pada isterinya.


"Iya Pa aku tahu ini sudah larut malam, tapi Leon, putra kita itu masih belum pulih benar kesehatannya," ujar nyonya Gamsonrich nampak khawatir.


"Tante benar Om, saya akan mengadukan ini semua pada Papa, biar mereka dipecat saja dari pekerjaannya masing-masing," timpal Nadya yang ikut kesal atas menghilangmya Leon dari rumah sakit malam itu.


"Mereka tidak perlu bertanggung-jawab apa-apa," Leon tiba-tiba muncul dibalik pintu ruang rawat inapnya. Beberapa menit yang lalu ia sudah ada didepan pintu mendengar amarah ibunya yang menggelegar seperti biasanya.


"Leon! Kau kembali sayang!" nyonya Gamsonrich segera menubruk dan memeluk putranya itu.


"Kau tidak apa-apa Leon? Mama sangat khawatir. Kau jangan pergi-pergi dulu, kau belum pulih benar Leon," kata nyonya Gamsonrich melonggorkan pelukannya dan memperhatikan wajah putranya.


"Aku hanya mencari angin segar saja diluar Ma," ucap Leon berbohong kalau dirinya baru pulang dari rumah Monaliza, namun tidak bertemu.


"Leon, aku juga mengkhawatirkanmu, bila terjadi sesuatu padamu, bagaimana aku bisa hidup," Nadya menghampiri Leon dan turut menyentuh lengan pria itu dengan lembut.


"Jangan sentuh aku, menjauhlah dariku, aku tidak suka," ucap Leon ketus, ia hanya melirik sekilas kearah Nadya lalu mengalihkan pandangannya ketempat lain.


Mendengar perkataan Leon seperti itu padanya, membuat wajah Nadya memerah menahan rasa malu."Setidaknya kau harus menjaga perkataanmu padaku Leon, apalagi dihadaapan para pegawai ayahku," kata Nadya tidak terima.


"Apakah kau masih punya rasa malu dihadapan para pegawai ayahmu? Aku tidak percaya kalau kau memilikinya," decih Leon berkata sinis.


"Bila dia memecat kalian, datang saja padaku. Aku akan memberikan kalian pekerjaan yang baru. Sekarang pergilah," ucap Leon pada security dan beberapa perawat yang masih menunduk disisi pintu masuk.


"Baik tuan," ucap mereka hampir bersamaan. Setelah memberi penghormatan pada semua yang ada disitu, mereka lalu bergegas meninggal tempat itu.

__ADS_1


"Aku lelah, ingin istirahat. Aku mohon Papa, Mama, dan kau Nadya, pulanglah, biarkan aku sendiri disini," kata Leon lalu beranjak ke ruang istirahatnya.


"Tunggu Leon, kau tidak boleh seperti itu pada Nadya, dia sangat mengkhawatirkanmu sayang," ucap nyonya Gamsonrich menyusul putranya, berusaha mencairkan suasana ketika security dan para perawat itu sudah meninggalkan ruangan itu.


"Mengkhawatirkanku? Aku rasa tidak Ma. Dia hanya mengkhawatirkan dirinya sendiri. Khawatir bila apa yang dirinya inginkan tidak ia dapatkan," ujar Leon masih bernada sinis.


"Cukup Leon. Dia calon isterimu, kau tidak bisa asal bicara seperti itu," kata nyonya Gamsonrich mulai tidak sabar.


"Dia bukan calon isteriku. Calon isteriku hanya Monaliza saja," sela Leon menatap tajam pada Nadya.


"Cukup bermimpi-mu Leon! Monaliza tidak pantas untukmu! Sampai kapanpun dia tidak pantas ada didalam keluarga kita yang terhormat!" suara nyonya Gamsonrich mulai meninggi seperti biasanya.


"Oh, apakah karena keluarga Monaliza miskin jadi Mama memandang dirinya rendah?" Leon yang sudah lama memendam rasanya selama ini, kini mulai mengeluarkan uneg-uneg yang ada dihatinya.


"Perempuan itu bukan hanya miskin dan rendahan, tapi dia juga perempuan murahan! Tidur dengan bos-nya sendiri! Dan kau, kau tahu semua itu, tapi masih saja kau bersikeras ingin bersamanya." Leon menatap wajah ibunya yang tengah mengata-ngatai wanita pujaan hatinya.


"Nadya lebih baik dari perempuan itu Leon, kita memiliki status sosial yang sama," lanjut nyonya Gamsonrich penuh penekanan.


"Aku baru mengerti, kenapa Mama sangat menginginkan Nadya jadi menantu Mama," kata Leon datar dengan wajah menatap dingin ibunya juga Nadya.


"Nadya tidak peduli pada para pegawai ayahnya, padahal mereka itu memiliki keluarga yang harus mereka nafkahi dirumah. Dan aku tidak mau punya isteri yang tidak punya hati seperti itu," ucap Leon datar.


"Dan cara Nadya memperlakukan orang lain sama persis seperti Mama, jahat dan tidak berperasaan," kata Leon masih dengan nada datarnya.


"Leon, kau sadar, pada siapa ucapanmu itu kau tujukan. Dia ibumu, kau tidak pantas berkata demikian Leon," tegur tuan Gamsonrich yang sedari tadi diam saja, dia tidak ingin anaknya berbicara diluar batas kesopanan seorang anak pada orang tuanya.


"Maafkan Leon Pa. Leon hanya berharap Mama sadar atas apa yang pernah Mama lakukan," kata Leon menjawab ayahnya.


"Apa maksudmu Leon? Apa yang telah Mamamu lakukan?" tanya ayah Leon sambil menatap isterinya dengan tatapan menyelidik.


Nyonya Gamsonrich yang menjadi topik pembicaraan menahan napasnya menatap kearah suami dan putranya, ia merasa was-was akan apa yang telah diketahui oleh putranya itu.

__ADS_1


"Beberapa bulan lalu, saat Mama dirawat dirumah sakit karena sakit jantungnya kambuh, bukankah itu akibat dari kejahatan Mama yang hampir terbongkar?" kata Leon menatap wajah ibunya yang menegang.


"Kejahatan apa Leon?" kejar tuan Gamsonrich kaget.


"Saat itu, Monaliza hampir diperkosa beberapa berandalan setelah ia pulang berkerja dari klab malam milik kak Keny. Pak Dirga telah membuat laporan polisi, dan para berandalan itu sudah tertangkap dan mengakuinya,"


"Mama-" kata tuan Gamsonrich menatap isterinya hampir tak percaya.


"Namun Mama punya cara sendiri hingga ia lepas dari jerat hukum, sehingga para berandalan itu saja yang mendekam dipenjara," jelas Leon. Sementara Nadya yang mendengarnya ikut menegang, ia menarik napasnya pelan seolah takut ******* napasnya terdengar.


"Lalu yang terakhir, Monaliza sampai tidur dengan bos-nya dihotel milik keluarga kita juga karena ulah Mama," ucap Leon menatap garang pada ibunya.


"Mama tega melakukan itu. Monaliza itu kekasih Leon Ma," kata Leon menahan gejolak emosi yang ia pendam selama ini, hingga suara yang keluar dari mulutnya terdengar bergetar.


"Kau tidak bisa sembarang menuduh Mama Leon. Itu semua salah perempuan murahan itu, kau tidak bisa melemparkan kesalahannya pada Mama," kata ibu Leon berusaha mengelak.


"Aku punya bukti Ma. Pria preman yang hampir memperkosa Monaliza dimalam pesta ulang tahun pernikahan Papa dan Mama sudah aku 'simpan' disuatu tempat, juga CCTV-nya, sebelum aku menyuruh manager hotel memusnahkannya aku sudah menyimpannya terlebih dahulu,," kata Leon masih dengan suara yang terdengar bergetar.


"Papa tidak menyangka Mama sekejam itu," kata tuan Gamsonrich menatap wajah isterinya dengan perasaan marah.


"Pa,.Mama bisa jelaskan,"ucap nyonya Gamsonrich seraya mendekati tuan Gamsonrich dan memegang erat lengan suaminya itu. Namun suaminya yang sudah terlanjur kecewa langsung menepis tangan isterinya itu.


"Dan semuanya itu, Mama lakukan bersama Nadya Pa," kata Leon lagi, dan menunjuk Nadya yang langsung salah tingkah.


"Tidak butuh waktu lama, orang-orangku bisa mengungkapnya." kata Leon mengakhiri apa yang seharusnya ia katakan.


"Aku pergi dulu Pa," kata Leon, ia melangkah menuju pintu keluar dari ruang rawatnya.


"Kau mau kemana Leon? Kau masih sakit?" kata ayahnya.


"Menenangkan diri dulu, bila masih disini, aku bisa gila membayangkan Mama dan Nadya melakukan kejahatan pada Monaliza," setelah berkata demikian Leon lalu keluar dan membanting pintu dibelakangnya dengan keras.

__ADS_1


"Cepat! ikuti putraku, dan beri laporan kemana dia pergi," perintah tuan Gamsonrich dari telepon pada orang kepercayaannya. Setelah mendengar jawaban, ia lalu menutup dan menyimpan kembali ponselnya.


Bersambung...👉


__ADS_2