CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
28. Pusing


__ADS_3

Nadya tersenyum licik saat melihat Leon dan Keny pergi menjauh. Ia melirik kesalah satu pelayan dengan isyarat matanya supaya datang mendekat.


"Perkenalkan namaku Nadya, putri tunggal pengusaha ternama tuan Wirelles Nongka," ucapnya sambil tersenyum palsu, lalu mengulurkan tangannya pada Monaliza.


"Sayangnya kau pasti tidak mengenal nama besar ayahku kan?" imbuh Nadya lagi, dengan memperlihatkan senyum ejekan.


"Kau salah nona Nadya, aku mengenal nama besar ayahmu, yang berjulukan pengusaha 'Diamond King'," kata Monaliza sambil menyambut uluran tangan Nadya dengan menggenggamnya erat hingga tulang jari-jari gadis itu terdengar gemeretak.


Nadya menahan nafasnya, merasakan sakit pada jari-jemarinya akibat ulah Monaliza, namun ia berusaha menahannya dengan tetap mempertahankan senyum palsu diwajahnya.


"Dan aku, tidak perlu memperkenalkan diriku padamu, karena aku yakin kau sudah mengenalku, dan mecari tahu banyak hal tentangku," imbuh Monaliza dengan nada menyindir seraya melepaskan genggaman tangannya dari jari-jemari Nadya.


Nadine hanya mengulas senyum melihat apa yang terjadi antara Monaliza dan Nadya didepan matanya. Monaliza memang lumayan pintar pikirnya, tapi kelicikan Nadya diam-diam membuatnya khawatir pada kekasih adik iparnya itu.


"Untuk merayakan pertemuan kita malam ini, bagaimana kalau kita bersulang," ucap Nadya seraya mengambil minuman yang dibawakan pelayan. Ia mengambil satu gelas untuknya lebih dulu, lalu mengambil satu gelas lagi dan memberikannya pada Monaliza.


"Maaf nona, saya tidak suka minum," sahut Monaliza menolak.


"Sungguh aneh, seorang barista disebuah klub malam tidak bisa minum? Bukankah kau berkerja ditempatnya kak Keny," sindirnya sambil tetap menampakan senyumnya.


"Saya katakan tidak suka minum, bukan tidak bisa minum nona. Dan tepat seperti yang saya katakan sebelumnya, ternyata anda memang banyak tahu tentang saya bukan? Hingga pekerjaan saya-pun nona tahu, sepenting itukah saya bagi nona," Monaliza balik menyindir, membuat wajah Nadya memerah menahan geramnya.


"Mona," Leon yang baru kembali bersama Keny segera bergabung berdiri disisi Monaliza.


"Leon, syukurlah kau segera kembali, aku hanya ingin bersulang dengan kekasihmu tapi dia menolaknya, bagaimana mungkin kau memiliki isteri yang tidak bisa mengikuti gaya hidup kita," ucap Nadya kembali tersenyum meremehkan.


"Aku membebaskan Monaliza melakukan apapun sesuai keinginannya, bukan keinginanku, karena aku mencintainya," sahut Leon tenang.


"Menarik! Inikah cinta buta itu?" Tawa Nadya, ia berusaha menahan rasa cemburunya yang meledak-ledak mendengar ucapan Leon yang teramat bucin pada Monaliza.

__ADS_1


"Kau ingin minum apa Mona? Mau jus?" tawar Leon.


"Iya aku mau," sahut Mona.


"Pelayan, tolong ambilkan jus untuk nona Monaliza," perintah Leon pada pelayan yang masih ada didekat mereka.


"Baik tuan," sahut pelayan itu sambil nembungkuk hormat lalu segera pergi.


"Firans, aku ingin ketoilet dulu," ucap Dirga sambil memberikan gelasnya pada Firans.


"Jangan lama-lama Dirga, pestanya sebentar lagi akan dimulai," sahut Firans seraya menyambut gelas kosong yang diberikan Dirga seenaknya padanya.


"Mau kemana dia Firans?" tanya ibu Surya saat melihat Dirga pergi meninggalkan ruangan pesta.


"Toilet bu, mungkin mau buang air kecil, tadi Dirga lumayan banyak minumnya," kata Firans pada ibunya Dirga.


"Dirga? Banyak minum? Tidak biasanya dia seperti itu," ucap ibu Surya keheranan, sambil menatap punggung putranya yang pergi menjauh.


"Terima kasih," ucap Monaliza. Ia segera meminum jusnya hingga habis dari dalam gelas. Tenggorokannya yang sebelumnya terasa serat karena beradu mulut dengan Nadya kini lebih lega.


"Tambah lagi?" tawar Leon, ketika melihat gelas Monaliza telah kosong.


"Tidak, cukup Leon," Monaliza menaruh kembali gelas kosongnya diatas nampan yang dipegang oleh sang pelayan.


"Kak Keny, kak Nadine, kami permisi dulu, mau menemui papa dan mama, karena acara sebentar lagi akan dimulai," ucap Leon, tanpa memperdulikan Nadya yang masih setia berdiri diantara mereka.


"Iya Leon," Sahut Keny dan Nadine hampir bersamaan.


"Heum, tinggal menunggu menit saja, kau akan menjadi milikku Leon," Nadya tersenyum, memandang kepergian Monaliza dan Leon yang tanpa berpamitan dengannya, seraya membayangkan rencana jahatnya yang tidak pernah gagal, seperti yang sudah terbukti belakangan ini. Ia melirik kesalah satu pengunjung pria pesta dan memberi isyarat dengan matanya. Pria itu segera mengikuti Leon dan Monaliza.

__ADS_1


"Leon, kepalaku terasa sedikit pusing," keluh Monaliza, ketika mereka hampir tiba pada kedua orang tua Leon yang sedang asik mengobrol dengan para kolega yang terus berdatangan memberi ucapan selamat.


Leon menghentikan langkahnya, ia memang merasakan tangan Monaliza yang agak menghangat. "Apakah kau sakit Mona?" Leon menatap bola mata Monaliza yang juga memerah.


"Entahlah Leon, sebelumnya aku merasa baik-baik saja," sahut Monaliza, ia juga merasa aneh pada perubahan yang terjadi dalam tubuhnya secara tiba-tiba.


"Kalau begitu, kita ke kamar hotel sekarang, kau beristirahat disana saja sampai merasa lebih baik," ucap Leon sambil berbalik arah menuju pintu keluar.


"Sekarang juga, buka kamar dilantai enam nomor xxx," perintah Leon dari sambungan telepon. Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, ia langsung menutup ponselnya dan memasukannya kembali kedalam sakunya.


Dirga menghentikan langkahnya ketika melihat Leon dan Monaliza melintas didepan toilet dimana ia berada. Kepalanya hanya sedikit pusing akibat minuman beralkohol yang masuk kedalam tubuhnya, walau tidak banyak tapi dirinya yang bukan peminum, membuat tubuhnya bereaksi saat menerima minuman itu.


"Dokter, tolong cepat kemari, aku memerlukan pertolonganmu," samar-samar Dirga mendengar suara Leon berbicara ditelepon.


"Mungkinkah gadis itu sakit? Bukankah tadi dia terlihat baik-baik saja," gumam Dirga. Ia tidak beranjak dari tempatnya, mengintip dari balik dinding toilet kearah Monaliza dan Leon yang terus menyusuri lorong hotel lantai enam itu.


"Cepat, buka pintunya!" perintah Leon, ketika pegawai hotel yang ditunggunya baru tiba. Dokter yang ditunggu-pun baru saja keluar dari lift.


Leon memapah Monaliza yang semakin merasakan pusing pada kepalanya untuk memasuki kamar hotel, sementara sang dokter mengikutinya masuk dari belakang.


"Mungkin Monaliza kelelahan dok, ia baru saja keluar dari rumah sakit siang tadi, dan malam ini aku sudah membawanya ke pesta ulang tahun pernikahan papa dan mama," sesal Leon pada dokter keluarganya yang sedang memeriksa kondisi Monaliza.


"Apa yang dimakan nona Monaliza sebelum kemari tuan muda?" tanya sang dokter, sambil terus memeriksa kondisi Monaliza.


"Monaliza belum makan apa-apa bersamaku malam ini. Dia hanya minum jus saja tadi," sahut Leon memberitahu.


Dokter Moris menatap wajah Leon sejenak, wajahnya terlihat ragu menyampaikan hasil pemeriksaannya, "nona Monaliza bukan kelelahan, tapi sepertinya ada seseorang yang sengaja memberikannya obat perangsang. Mungkin lewat jus yang ia minum, karena obat perangsangnya baru saja bereaksi," jelas dokter Moris, yang telah membawa Leon sedikit menjauh dari Monaliza.


Leon terkesiap, ia mengepalkan tangannya menahan emosi, siapa orang yang berani melakukan itu pada kekasihnya diacara pesta ulang tahun pernikahan orang tuannya, batinnya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan dokter?" tanya Leon sambil memandang kearah Monaliza yang mulai menggeliat-geliat kepanasan diatas tempat tidur.


"Tinggalkan dia sendiri, lalu kunci kamarnya dengan baik. Tuan muda tidak boleh menemaninya, kalian belum menikah, itu berbahaya." jelas dokter Mories lagi.


__ADS_2