
Dengan hati-hati Dirga menurunkan Monaliza yang sudah mengenakan pakaian tidurnya diatas ranjang. Ia beranjak mengambil nampan dari atas meja dan membawanya pada Monaliza.
"Ini, minum viitaminmu dulu," kata Dirga seraya menyerahkan empat butir vitamin pada Monaliza.
"Bagaimana vitamin-vitamin ini ada disini?" tanya Monaliza heran, seingatnya ia tidak sempat membawanya kesana.
"Firans yang mengantarkannya tadi," sahut Dirga. Ia memberikan segelas air putih untuk membantu Monaliza meminum vitamin-vitaminnya itu.
Monaliza hanya mengangguk pelan, ia teringat saat dirinya akan mandi, memang ada seseorang yang mengetuk pintu. Ia segera meminum vitamin-vitamin yang telah diberikan Dirga padanya.
"Ini gelas susu-mu," Dirga menyodorkan segelas susu, namun Monaliza tidak segera menyambutnya, pandangannya sedang terpokus pada satu gelas susu satunya lagi yang masih berdiri tegak diatas nampan.
"Kenapa dibuatkan dua gelas susu? Aku tidak akan sanggup menghabiskannya," kata Monaliza menatap gelas susu yang ada dinampan dan ditangan Dirga secara bergantian.
"Ini untukmu," kata Dirga menunjuk gelas ditangannya. "Dan yang diatas nampan itu untukku," tunjuknya dengan gestur wajahnya.
"Pak Dirga minum susu hamil juga?" Monaliza nampak kaget.
"Tentu saja tidak, saya kan bukan pria yang sedang mengandung. Itu susu khusus pria. Saya biasa minum susu sebelum tidur," jelas Dirga membuat Monaliza harus menahan tawanya didalam hati hingga membuat bibirnya bergerak-gerak. Baru kali ini ada seorang pria dewasa minum susu sebelum tidur, seperti anak TK saja batinnya.
"Kenapa? Ada yang lucu?" tanya Dirga seolah tahu apa yang sedang difikirkan isterinya itu.
__ADS_1
"Tidak Pak," sahut Monaliza, ia segera mengambil gelas yang masih dipegang Dirga dan segera meneguknya untuk mengalihkan perhatian Dirga dari pembicaraan mereka sebelumnya.
"Berikan padaku," Dirga mengulurkan tangannya pada Monaliza, wanita itu lalu memberikan gelas yang sudah kosong ditangannya. Ia memperhatikan pria itu meletakkan gelas miliknya diatas nampan, lalu mengambil gelas susunya dan meneguknya beberapa kali hingga habis.
Monaliza kembali menahan tawanya, ternyata suaminya itu benar-benar meminum susunya, sungguh sulit dipercaya bila ia tidak menyaksikannya langsung, gumam Monaliza membatin sambil tersenyum didalam hati.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Dirga yang memergoki Monaliza masih melihat kearahnya dengan pandangan heran. ia membawa nampan itu kembali keatas meja.
"T-tidak apa-apa Pak," sahut Monaliza kembali bersikap canggung menerima tatapan Dirga padanya. "Apakah saya tidur disini?" tanya Monaliza yang tidak tahu harus mengatakan apa, sambil meraba-raba sprei disekitarnya yang membungkus kasur dibawahnya.
"iya, dikamari ini hanya ada satu tempat tidur. Dan tidak mungkin salah satu dari kita akan tidur disofa itu," Dirga naik ketempat tidur dan langsung berbaring disisi Monaliza dengan santai.
"Ayo berbaringlah, ini sudah sangat larut malam. Wanita hamil tidak boleh tidur selarut ini," kata Dirga dengan posisi berbaring miring menghadap Monaliza yang masih duduk ditempatnya, sambil menepuk-nepuk kasur empuk itu supaya isterinya itu segera merebahkan tubuhnya disana.
"Kenapa posisimu berbaring terlalu menepi? Itu sangat berbahaya bagi wanita hamil sepertimu, nanti kau bisa terjatuh. Ayo, bergeserlah kemari," suruh Dirga.
"I-iya Pak," Monaliza bergeser sedikit demi sedikit hingga menjauh dari tepi ranjang.
"Ayo, masih bergeser kemari, itu masih terlalu dipinggir, belum sampai ditengah," suruh Dirga lagi.
"Disini saja Pak, ini sudah tidak ditepi seperti tadi. Lagi pula pergelangan kaki saya yang terkilir tadi masih agak tersasa sakit bila bergeser," kata Monaliza beralasan.
__ADS_1
"Oh-, maaf, aku lupa," kata Dirga seraya bangkit dari rebahannya.
"Pak Dirga mau ngapain?" tanya Monaliza kaget, Dirga tiba-tiba saja langsung merangkum tubuhnya dan mengangkatnya dengan kedua tangannya. Monaliza ingin meronta, tapi takut Dirinya jatuh bersama Dirga yang akan menimpanya diatasnya. Spontan ia mengurungkan niatnya, takut hal itu akan terjadi, dan itu pasti akan menambah kecanggungan diantara mereka.
"Tentu saja memindahkanmu lebih ke tengah, aku tidak mau kau terjatuh dari tempat tidur ini. Dan bukankah kakimu sakit? Hingga kau tidak bisa bergeser lagi," ujar Dirga lalu menurunkan tubuh isterinya itu dengan hati-hati.
"Terima kasih," Ucap Monaliza semakin canggung, tubuhnya serasa kaku, saat Dirga berbaring disebelahnya dan menempel, membuatnya seolah takut bergerak, bahkan takut memejamkan matanya.
"Kau kenapa?" tanya Dirga yang sedari tadi terus memperhatikan Monaliza.
"Saya tidak bisa tidur kalau terlalu menempel seperti ini Pak, rasanya sulit bernapas, apalagi saya terbiasa tidur sendiri," sahut Monaliza jujur. Sikap Dirga yang terus menatapnya saja sudah membuatnya merasa tidak nyaman dan tidak bebas.
"Apa itu artinya kau mengusirku? Dan tidak mau tidur satu ranjang dengan suamimu?" ucap Dirga sengaja membuat Monaliza tersudut.
"B-bukan itu maksud saya Pak?" sahut Monaliza cepat. Ucapan Dirga memang berhasil membuatnya serba salah.
"Kalau bukan, itu artinya kita bisa tidur bersama dengan posisi seperti ini bukan?" desak Dirga, ia tersenyum menang didalam hati. "Selain itu, kedekatan ayah dan ibunya, akan membuat anak kita yang ada didalam kandunganmu itu akan merasa bahagia, sehingga tumbuh kembangnya akan semakin baik kedepannya. Jadi kita harus membiasakan diri seperti ini terus mulai sekarang," imbuhnya lagi sesuka hati.
Monaliza terpaksa mengangguk. Baru saja menikah, ia sudah merasa kesulitan menghadapai suaminya itu. Inipun belum genap satu hari ia sah menjadi isteri pria itu, belum besok, lusa dan seterusnya. Kesusahan sehari, cukuplah untuk sehari, jangan dibawa untuk besok, lusa minggu depan, tahun depan, batinnya menghibur diri.
"Ayo, pejamkan matamu, kau harus tidur yang cukup," Monaliza kembali menurut, ia memejamkan matanya, walau pikkrannya sangat tidak bisa diajak berkompromi saat ini. Baginya, ucapan Dirga adalah perintah, sosok CEO pada diri pria itu terlalu melekat walau ia sudah berstatus sebagai suaminya saat ini.
__ADS_1
Monaliza mendesah pelan, berusaha membuat fikirannya ikut terlelap sambil terus memaksa matanya agar tetap tertutup rapat.
Bersambung...👉