CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
29. Jangan Pergi (Visual Dirga, Monaliza, Leon)


__ADS_3

"Tuan muda, saya permisi dulu, ada pasien yang sedang menunggu saya," ucap dokter Mories kemudian.


"Baik dok, terima kasih banyak," Leon mengantarkan dokter Mories hingga kedepan pintu kamar. Ia kembali menutup pintu dengan rapat setelah dilihatnya dokter Mories pergi menjauh.


Ponsel Leon berderit berulang-ulang sejak tadi dalam sakunya, ia melihat pada layar, ternyata panggilan dari ibunya. Ia lalu mengangkatnya dengan malas.


"Leon, kau dimana? Acara sudah akan dimulai," terdengar suara menggelegar nyonya Gamsonrich dari sambungan telepon.


"Maafkan Leon ma, Leon tidak bisa hadir," sahut Leon datar, ia sedikit menjauhkan ponsel dari daun telinganya, pikirannya risau memikirkan Monaliza yang sedang menggeliat-geliat ditempat tidur.


"Mama tahu, kau pasti sibuk mengurus gadis miskin itu kan? Dia memang gadis tidak tahu diri!" suara nyonya Gamsonrich terdengar marah. Leon memijit kepalanya yang terasa pusing, dilema antara Monaliza dan keluarganya.


"Leon, kau tidak bisa bertindak sesukamu, kau adalah pewaris bisnis keluarga kita, para tamu akan mencarimu bila kau tidak hadir, apa kau mengerti itu?" tegas nyonya Gamsonrich lagi.


"Tapi Monaliza sedang sakit ma," ucap Leon yang tidak tahu berkata apa lagi.


"Benarkan dugaan mama, tinggalkan saja dia, atau mama akan menyeretnya kemari supaya dia malu sekalian!" ancam nyonya Gamsonrich bertambah marah.


"Cukup ma! Baik, Leon akan kesana sekarang," Leon langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Ia memandang sejenak kearah Monaliza lalu segera mendekatinya.


"Mona," panggil Leon lembut ditelinga kekasihnya itu. Ia melihat wajah Monaliza yang memerah, tubuhnya terasa tambah menghangat saat ia menyentuhnya.


"Leon," Monaliza menatap wajah Leon dengan pandangan redup, kesadarannya masih dapat ia kendalikan, namun perasaan yang aneh dalam tubuhnya membuatnya ingin memeluk tubuh Leon.


"Mama memanggilku, aku harus ke ruang pesta. Tapi aku pasti kembali sebentar lagi," ucap Leon berjanji.


"Leon, jangan tinggalkan aku, aku takut, kepalaku juga terasa sangat pusing," keluh Monaliza sambil memegang kepalanya, suaranya-pun terdengar bergetar.


"Maafkan aku Mona, aku janji padamu, aku akan cepat kembali," ucap Leon lagi dengan sedih. Sebenarnya ia tidak tega melihat kekasihnya itu menderita seperti itu, apalagi meninggalkannya dalam kondisinya seperti ini. Tapi jika ia tidak menurut pada ibunya, ia khawatir ibunya itu akan melakukan apa yang ia katakan disambungan telepon itu.

__ADS_1


"Beristirahatlah Mona, supaya kau lekas membaik," Leon mencium kening Monaliza, ia menghidupkan lampu mode tidur, hingga ruangan nampak remang-remang, lalu beranjak pergi meninggalkannya.


Monaliza hanya bisa menatap kepergian Leon sambil menahan rasa yang membuncah dalam dadanya, sementara perasaan-perasaan aneh dalam tubuhnya terus bergelora menelusuri semua saraf-saraf dalam tubuhnya. Ia tidak tahu apa itu, ini kali pertama ia mengalaminya, yang ia tahu, ia harus menyalurkan hasrat gilanya itu.


Tubuh Monaliza gemetar, sesekali ia berguling-guling diatas tempat tidur empuk itu seorang diri. Samar-samar ia mendengar suara ketukan pintu.


"Mungkinkah Leon kembali secepat ini," batinya. "Tapi kenapa mengetuk pintu? Bukankah dirinya membawa access card-nya," Monaliza membiarkannya saja untuk beberapa saat lamanya.


Tapi ketukan pintu itu terus terdengar. "Mungkinkah Leon meninggalkan access card-nya? Lalu kembali untuk mengambilnya," Monaliza kembali membatin.


Dengan susah payah Monaliza bangkit dari kasurnya dan melangkah dengan tubuh sempoyongan menuju pintu tanpa rasa curiga, sakit kepala semakin menyerangnya.


Ceklek!


"Agghhh! Lepaskan! Siapa kau!" Teriak Monaliza, berusaha meronta dari pria asing yang tiba-tiba mendekapnya erat sesaat begitu pintu terbuka.


"Leon! Tolong aku!" Monaliza berteriak sekencang-kencangnya sambil melepaskan dirinya dengan sekuat tenaga dari pria asing itu, hingga berhasil terlepas dan jatuh tersungkur dilantai depan pintu dengan lutut menekuk menahan tubuhnya, berusaha merangkak masuk kekamar untuk menyelamatkan diri. Namun pria asing itu menariknya, jakunnya naik turun melihat kaki Monaliza yang terbuka hingga pangkal pahanya, memperlihatkan kulit putih mulusnya.


Seringai kemenangan terpancar dari wajah buruknya, membuat Monaliza memberi tamparan keras, telak mengenai pipi kiri pria asing itu hingga wajahnya berpaling.


Plakkk!


"Dasar! Wanita binal! Aku akan membalasmu, kau harus membayar dengan tubuh mulusmu ini!" ucapnya marah, merasakan perih dipipinya. Dengan kasar pria asing itu menyingkapkan gaun Monaliza, lalu menarik paksa segitiga yang membungkus aset yang berharga milik gadis itu dan melemparkannya kelorong hotel begitu saja. Mata liarnya membola melihat barang milik Monaliza, membuatnya semakin tidak sabar menjamahnya.


"Laki-laki bejat, rasakan ini!" Monaliza masih melakukan perlawanan ia menendang hingga mengenai pusat ************ yang membuat pria asing itu memekik kesakitan.


"Kau! Aku tidak akan melepaskanmu!" amarah pria asing itu semakin memuncak. Ia kembali menindih dan menekan tubuh Monaliza dibawahnya dengan kuat.


Burgghh! Burgghh! Burgghh! Burgghh!

__ADS_1


"Rasakan ini! Manusia bajingan!" Teriak Dirga yang tiba-tiba datang, dan berhasil memukul rahang pria asing itu berkali-kali. Wajah pria itu babak belur hingga tubuhnya terpental kelantai tepat didepan pintu kamar akibat tendangan keras Dirga.


Pria itu bangkit lalu berusaha melawan, namun lagi-lagi Dirga melayangkan tendangan jitunya mengenai dada pria asing itu hingga ia kembali terpental dilantai lorong. Ia kembali bangkit dengan cepat, bukan untuk melawan tapi lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.


Dirga memegang kepalanya yang semakin terasa pusing, ia menyandarkan punggungnya didinding, mengatur napasnya yang memburu setelah bertarung singkat dengan pria asing itu. Ia melihat pintu kamar didepannya tidak tertutup rapat. Langkah Dirga membawanya menuju pintu kamar, ia mendorongnya pelan, cahaya dalam kamar itu nampak remang-remang karena hanya lampu mode tidur yang menyala.


Dirga masuk lebih dalam, berniat mengetahui keadaan wanita yang ditolongnya.


Ceklek!


Terdengar suara pintu tertutup dibelakangnya, belum sempat ia berbalik kearah pintu. Sepasang tangan sudah memeluk tubuhnya dengan sangat kencang dari arah belakang.


"Leon, syukurlah kau datang menolongku, kalau tidak, aku tidak tahu apa yang dilakukan pria jahat itu padaku," Monaliza membenamkan wajahnya pada punggung Leon, tubuhnya terasa gemetar ketakutan, tangisnya akhirnya meledak.


"Aku bukan Leon, aku Dirga," ucap Dirga. Walau kepalanya sudah sangat pusing, namun ingatannya masih berfungsi dengan baik. Ia berusaha melepaskan tangan Monaliza yang saling bertautan memeluknya erat.


"Leon, jangan lepaskan, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, aku takut pria itu akan datang dan berbuat jahat lagi padaku," Monaliza sesenggukan, tangannya semakin erat memeluk tubuh Dirga didepannya.


"Aku Dirga, bukan Leon," Dirga berusaha memberitahu Monaliza yang menganggapnya Leon, punggunnya merasakan panas tubuh Monaliza.


Bibir Monaliza yang menempel pada punggung Dirga, bergerak-gerak saat berbicara, ditambah himpitan gundukan kenyal yang dirasakan pria berumur itu, membuat bulu-bulu romanya meremang, sengatan-sengatan listrik tegangan tinggi mulai menjalar keseluruh tubuh Dirga.



Dirga Surya



Monaliza Zhue

__ADS_1



Leon Gamsonrich


__ADS_2