CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
34. Pening Dan Pusing Tujuh Keliling


__ADS_3

"Wanita itu, dia tidak ada disana. Seharusnya jam segini dia sudah ada dikantor. Apakah dia belum tiba?" gumam Dirga pada dirinya sendiri. Ia mendekati meja resepsionis sambil menjinjing tas kerjanya.


"Selamat pagi pak Dirga," sapa Rullina, teman kerja Monaliza.


"Apakah kau hanya seorang diri saja hari ini?" tanya Dirga sambil menghentikan langkahnya didepan meja resepsionis, memandang Rullina yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya menatap wajah CEO-nya itu.


Sikap Dirga yang dingin dan sangat jarang bertegur sapa dengan para pegawainya, membuat Rullina heran dan tidak mempercayai apa yang tengah ia lihat sekarang.


"Rullina, apakah kau mendengarkanku? Aku sedang berbicara padamu," ucap Dirga meneliti wajah pegawai resepsionisnya itu.


"M-maaf pak Dirga." sahut Rullina yang baru tersadar, ia menunjukan wajah sedikit meringis karena malu kedapatan tidak berkonsentrasi saat berkerja.


"I-Iya, saya sendiri saja pak Dirga. Monaliza, dia masih sakit hari ini, tadi temannya yang bernama Leon menelpon untuk memberitahu," imbuh Rullina gugup.


"Sakit? Bukankah kemarin Monaliza sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Dirga lagi sambil mengernyitkan keningnya.


"Benar Pak, tapi tadi Leon berkata seperti itu, bahwa Monaliza masih sakit." sahut Rullina. Dirga hanya menganggukkan kepalanya pelan, wajahnya nampak sedang memikirkan sesuatu.


"Baiklah, terima kasih," ucap Dirga kemudian. Tanpa senyuman seperti biasanya, ia berlalu pergi dengan langkah ringannya menuju lift.


"Ouwhh," Desah Rullina, ia langsung merasa lemas dibelakang mejanya sepeninggal Dirga. Ia cepat-cepat meneguk air minum dari botol minumnya, lalu duduk dikursinya.


"Mimpi apa aku semalam, pak Dirga mengobrol denganku," ucap Rullina menepuk kedua pipinya sambil tersenyum sendiri.


"Walau pak Dirga tidak menampilkan senyumnya, beliau tetap terlihat tampan, dan ia memang sudah tampan dari sananya," ujar Rullina lagi masih tersenyum seperti sebelumya.


"Tapi kenapa wajah pak Dirga memar-memar begitu ya?" Rullina mengeryitkan keningnya merasa heran.

__ADS_1


Kring! Kring! Kring!


Rullina segera meraih gagang telepon diatas meja resepsionisnya untuk menerima telepon masuk.


...***...


Dirga menghempaskan bokongnya dikursi kerjanya. Firans belum tiba, biasanya asistenya itu selalu datang lebih awal dibandingkan dirinya, karena hari memang masih terlalu pagi saat ia tiba diruang kerjanya itu.


Dirga mengusap layar ponselnya kekiri dan kekanan, atas dan bawah, lalu menekannya menggunakan salah satu ibu jarinya. Dengan sekejap transaksi direkeningnya muncul dilayar ponselnya.


Ia menatap dua transaksi dengan nama pengirim dana yang sama, LEON GAMSONRICH, dengan waktu yang hanya selisih satu jam saja dihari kemarin, sesaat setelah ia melunasi biaya rumah sakit Monaliza.


Transaksi pertama, sama persis dengan nilai yang sudah ia bayarkan kerumah sakit. Transaksi kedua dengan angka yang sangat fantastis, ada dua belas digit angka nol dibelakang angka dua belas, membuat kepala Dirga langsung pening.


"Arrggghhh," Dirga meremas rambutnya yang semakin gondrong. Otaknya langsung berkerja keras memikirkannya. Bagaimana tidak, harga hutang budi melindungi keperawanan Monaliza sudah ditransfer dengan nilai yang fantastis. Dan semalam ia malah merenggut keperawanan gadis itu dibawah pengaruh alkohol.


Bila hanya mengembalikan dana yang telah ditransfer oleh Leon, itu sangat mudah baginya, karena Dirga tidak pernah meminta Leon untuk membayarnya. Namun merenggut kegadisan kekasih Leon, adalah mimpi buruk yang sangat menakutkan, ia harus membayar setidaknya dua kali lipat dari apa yang telah Leon transfer ke rekeningnya, sesuatu yang amat mustahil bagi Dirga yang sedang terhimpit banyaknya jatuh tempo yang harus ia bayarkan akibat tidak lancarnya penjualan di perusahaan otomotifnya.


Dirga kembali meremas rambutnya, kepalanya kini semakin terasa pening. Memikirkan utang perusahaan yang jatuh tempo saja membuat Dirga sudah pusing tujuh keliling. Dan kini, dirinya sedang diperhadapkan pada hutang pribadi, akibat kekonyolannya semalam.


Tok! Tok! Tok!


Dirga yang fokus pada problema pribadinya tidak terlalu memperhatikan suara ketukan pintu yang berulang-ulang kali, walau sebenarnya telinganya itu masih dapat mendengarkan dengan baik.


Pintu didorong dari luar dengan hati-hati, karena tidak ada jawaban dari dalam, Firans terpaksa melongokan kepalanya, ketika dilihatnya Dirga sedang sibuk dengan kegiatannya yang tidak jelas, ia segera datang mendekat.


"Dirga? Apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya Firans, sambil menunjuk area bibir dan rahangnya sendiri, saat ia melihat memar-memar diwajah sahabat dan juga atasannya itu.

__ADS_1


"Ini?" Dirga ikut menunjuk wajahnya sendiri.


"Iya, kenapa?" sahut Firans sambil menganggukan kepalanya tanpa melepaskan pandangannya dari Dirga.


"Entahlah, aku juga tidak tahu, begitu aku terbangun dari tidurku, wajahku sudah penuh memar seperti ini," karang Dirga asal.


"Cih! Kau fikir aku anak kecil, yang gampang kau kibulin." ucap Firans tidak percaya. Dengan tangan bersedekap didada setelah meletakan berkas di atas meja Dirga, ia menatap wajah CEO-nya itu penuh selidik.


"Kau pasti sedang berkelahi dengan seseorang kan? Apakah itu ada hubungannya dengan menghilangnya dirimu saat terakhir kau berpamitan ingin ketoilet itu?" imbuh Firans dengan rasa penasaran. Ia memajukan wajahnya dengan bertumpu pada kedua tangannya yang menempel diatas meja untuk menopang tubuhnya.


"Firans! Jaga jarak wajahmu dengan wajahku, kau bisa menciumku, atau memang kau memang sengaja mau memciumku, hmm?" tegur Dirga. Firans serta merta memundurkan tubuhnya kembali dan berdiri tegak dengan mata sengaja dibuat juling karena senewen mendengar ucapan Dirga.


"Oh, No-no-no! Kau terlalu percaya diri Dirga. Aku bukan penyuka sesama jenis, aku masih pejantan tulen!" ucap Firans tidak terima sambil menggerakan jari telunjuknya rusuh keudara didepan wajah Dirga.


"Katakan padaku dengan jujur Dirga, pasti ada yang salah bila wajahmu dipukul sampai seperti itu? Firans kembali mengulang pertanyaannya yang sebelumnya. Tatapannya masih penuh selidik, menelisik wajah sahabatnya itu.


Dirga terdiam sejenak, ia menatap wajah Firans dengan tatapan ragu. Tidak mungkin ia berkata jujur pada Firans apa sebenarnya yang telah ia lakukan semalam hingga mendapatkan bogem mentah dari Leon yang menyebabkan memar-memar diwajah area bibir dan rahangnya.


"Katakan Dirga, mungkin saja aku bisa membantumu menemukan jalan keluar yang terbaik," ucap Firans serius. Selama mereka bersahabat, Firans memang selalu menunjukan persahabatan yang tulus pada Dirga, bahkan ia sering berkorban demi sahabatnya itu.


"Ini masalah yang terlalu pribadi Firans, aku sebenarnya malu mengatakannya padamu?" Dirga membuka suaranya. Tatapan keraguan masih terlihat dari sorot matanya.


"Dirga, jujur saja-, aku sangat penasaran. Aku merasa ada hal yang tidak beres pada pemukulan dirimu itu. Karena selama kita bersahabat, aku tahu dirimu, kau tidak pernah berkelahi kecuali untuk melindungi diri atau membantu orang lain yang membutuhkan pertolonganmu, Dan kau tidak pernah babak belur sampai seperti ini?" ungkap Firans.


"Tapi-, bila kau beranggapan apa yang telah menimpamu tidak layak untuk kau ceritakan padaku, aku pun tidak akan memaksa. Kita sahabat, aku menghargai privasi-mu Dirga," ucap Firans lagi sambil menyunggingkan senyum tipisnya, berharap Dirga tetap merasa nyaman walau tidak menceritakan polemik dirinya.


"Dan bila nantinya kau ingin bercerita. Aku selalu siap menjadi pendengar yang baik," tambah Firans masih dalam mode tersenyum. Ia meraih berkas yang sebelumnya ia letakan diatas meja untuk dilaporkan pada Dirga pagi itu.

__ADS_1


"Sebenarnya, semalam aku meniduri seorang gadis. Dan gadis itu adalah Megan," ungkap Dirga secara tiba-tiba tanpa paksaan. Ia menatap lekat wajah Firans.


"Apa?! Megan?!" Firans tersentak dengan mata mendelik, ia menatap Dirga dengan tatapan aneh. Ia meraba tengkuknya sendiri, bulu kuduknya tiba-tiba meremang, mungkinkah Dirga sudah tidak waras, benaknya. Tidak mungkin orang yang sudah meninggal bangkit lagi hanya untuk bercinta.


__ADS_2