
Ooeek! Ooeek! Ooeek!
Leon dan ayahnya menghentikan langkah mereka tepat ditengah-tengah ruang tamu, keduanya saling berpandangan dan mempertajam pendengaran mereka masing-masing, memperhatikan dengan seksama suara yang mereka dengar.
"Apa itu suara seorang bayi?" tanya tuan Gamsonrich pada Leon.
"Sepertinya begitu Pa," sahut Leon yang turut memperhatikan suara tangisan nyaring seoraang bayi.
"Tapi bayi siapa?" tanya tuan Gamsonrich lagi dengan raut bingungnya.
"Entahlah Pa. Bagaimana kalau kita langsung naik ke atas saja," Ide Leon pada sang ayah. Tuan Gamsonrich mengangguk setuju, ayah dan anak itu lalu bergegas menaiki anak-anak tangga menuju lantai atas.
"Sepertinya dari kamar Nadya," ucap tuan Gamsonrich melirik Leon yang berjalan disisinya.
"Heum," Leon mengangguk. Keduanya semakin mempercepat langkah kaki mereka mendekati suara tangisan bayi yang semakin jelas terdengar.
Cekkek!
Leon mendorong pintu yang tidak terkunci hingga terbuka lebar.
"Nadya! Bayi siapa itu?" tanya Leon buru-buru mendekat, ia menghampiri Nadya yang tengah panik menenangkan bayi merah diranjangnya.
"Aku, aku tidak tahu Leon. Mama hanya memintaku untuk mengasuhnya sementara Mama keluar untuk membeli susu formula, dan beberapa peralatan bayi," sahut Nadya dengan raut yang masih panik.
__ADS_1
"T-tolong aku Leon. Aku tidak mengerti bagaimana cara mengasuhnya, sedari tadi bayi itu terus menangis, aku bingung apa yang harus aku lakukan," ucap Nadya menarik paksa tangan Leon untuk naik ke ranjangnya.
Leon menoleh ke arah ayahnya, dari sorot matanya ia terlihat ragu, untuk menuruti permintaan Nadya. "Pa, aku--, aku juga masih bingung caranya menggendong bayi merah itu, aku belum tahu caranya," ucap Leon seolah meminta ayahnya yang melakukannnya.
Tuan Gamsonrich mendekat, dengan hati-hati ia meraih dan menggendong bayi merah itu yang terus saja menangis, sementara Leon dan Nadya memperhatikannya dengan perasaan iba, mendengar suara bayi itu yang mulai melemah karena terlalu banyak menangis.
"Ini bayi laki-laki," gumam tuan Gamsonrich menatap Leon dan Nadya yang tengah memandangnya.
Drrt. Drrt. Drrt.
Leon buru-buru meraih ponselnya dari saku jasnya. Pada layar yang menyala ia melihat bila kakaknya yang sedang menelpon.
π"Hallo Kak..." sapa Leon setelah menggeser tombol hijau. Ia bergerak menuju balkon kamar Nadya, supaya bisa lebih jelas mendengar suara kakaknya.
"Tapi kenapa Kak? Monaliza selamatkan? Dia baik-baik saja kan?" berondong Leon panik, khawatir bila sesuatu yang buruk terjadi pada mantan kekasihnya itu.
π"Jangan khawatir Leon, Monaliza melahirkan dengan selamat, begitu juga dengan bayinya. Hanya saja--"
Leon yang semula mulai lega kembali panik mendengar ucapan kakaknya yang tidak segera diselesaikannya.
π"Hanya saja apa kak? Bicara yang jelas," ucap Leon sedikit memaksa karena rasa paniknya yang tidak bisa ia bendung.
π"Ada suara bayi," Kenny mempertajam pendengarannya dari seberang sambungan telepon. "Bayi siapa itu Leon?" tanya Kenny masih mempertajam pendengarannya.
__ADS_1
π"Aku juga tidak tahu Kak, menurut Nadya Mama yang membawanya pulang ke rumah. Dan sekarang Mama sedang keluar untuk membeli susu dan keperluan bayi lainnya." sahut Leon sesuai penjelasan Nadya.
πTinggu, jangan-jangan itu bayi Monaliza yang telah hilang sore ini," ucap Kenny menduga.
π"Maksud kak Kenny bayi Monaliza hilang??" tanya Leon memastikan.
π"Iya Leon, sekarang.Monaliza masih terus menangis mencari bayi laki-lakinya, karena dua jam yang lalu, bayinya menghilang ketika hendak disusui." jelas Kenny.
π"Baik kak Kenny, aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Kirim alamat rumah sakitnya, aku akan membawa bayi ini kesana sekarang," setelah berkata demikian Leon segera menutup ponselnya dan menyimpannya kembali kedalam saku jasnya.
"Kenapa Kenny menelponmu Leon?" tanya tuan Gamsonrich begitu melihat Leon baru saja selesai berbicara ditelepon.
"Monaliza baru saja melahirkan kemarin, dan bayi laki-lakinya hilang. Kita bawa saja bayi ini kerumah sakit, siapa tahu ini bayi Monaliza Pa," sahut Leon pada ayahnya.
"Tidak mungkin Mama-mu menculik bayi Monaliza Leon, mungkin saja bayi ini di adopsi," sanggah tuan Gamsonrich, namun dalam hatinya ia merasa ganjil, bila diadopai isterinya kenapa ia bahkan Leon tidak mengetahuinya.
"Begini saja Pa, kita kerumah sakit saja sekarang, Leon khawatir pada bayi itu yang kondisinya mulai melemah," Leon menatap bayi merah itu yang masih terus menangis dengan suara lemahnya.
"Bila bukan, itu urusan nanti Pa. Bayi ini sepertinya perlu perawatan dengan segera. Bila terjadi hal yang buruk pada bayi ini, kita pasti dipersalahkan," ucap Leon menatap ayahnya.
"Kita berangkat sekarang, aku yang menyetir, Papa yang menggendong bayinya," ucap Leon membagi tugas, dan dengan langkah terburu-buru, ia berjalan lebih dulu menuju pintu keluar.
"Aku ikut!" Nadya segera turun dari ranjangnya , dan berlari kecil menyusul Leon dan ayah mertuanya yang lebih dulu keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Bersambung...π