CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
43. Nona Mengandung


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


"Masuklah!" terdengar suara Dirga setengah berteriak dari belakang meja kerjanya.


"Permisi Pak, saya membawakan tas Monaliza kemari sesuai yang pak Dirga minta," kata Rullina yang baru saja masuk keruangan kerja Dirga.


"Baik, terima kasih Rullina, letakan saja tas Monaliza diatas mejaku," kata Dirga datar.


"Sekarang kau boleh kembali berkerja," sambung Dirga lagi.


"Maaf pak Dirga, apa yang telah terjadi pada Monaliza?" tanya Rullina penasaran, ketika dilihatnya sahabatnya itu sedang mendapat pemeriksaan dari dokter keluarga bos-nya, bukan dokter perusahaan.


"Sepertinya Monaliza masuk angin, dia muntah-muntah di toilet," jelas Dirga singkat.


"Sekarang kau boleh pergi, biarkan temanmu diperiksa dan beristirahat sejenak disini," kata Dirga datar.


"Baik Pak, saya permisi dulu," Rullina yang penasaran tidak berani membantah, walaupun ia sangat ingin bertahan untuk menemani sahabatnya itu, tapi wajah Dirga yang seolah tidak suka akan kehadirannya yang berlama-lama di ruangan itu membuatnya segera angkat kaki dari sana.


"Hm," sahut Dirga dengan gumaman datarnya.


Setelah kepergian Rullina, Dirga mendekati sang dokter keluarganya yang terlihat sudah menyelesaikan tugasnya memeriksakan kondisi Monaliza.


"Dokter, bagaimana hasil pemeriksaan Monaliza, apa dia baik-baik saja?" tanya Dirga yang sudah mengambil duduk disamping dokter Marlos.

__ADS_1


"Nona Monaliza, dia baik-baik saja pak Dirga, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," sahut dokter Marlos tersenyum santai. Ia membenarkan duduknya setelah memasukan semua peralatannya dalam box alat medisnya.


"Berarti Monaliza hanya masuk angin biasa ya Dok?" kejar Dirga, ia tidak percaya bila Monaliza baik-baik saja. Pasalnya, ia sendiri yang menyaksikan bagaimana menderitanya Monaliza saat ditoilet, memuntahkan semua isi perutnya.


Dokter Marlos kembali tersenyum santai menatap pada Monaliza yang terbaring lemas diatas sofa didepan dirinya dan Dirga.


"Makanya pak Dirga harus segera menikah, usia pak Dirga sudah cukup matang untuk menjalani rumah tangga," ungkap dokter Marlos tersenyum memandang wajah Dirga disampingnya.


Dirga memutar bola matanya malas, perkataan senada itu sudah sering kali ia dengar dari para kolega ayahnya termasuk si dokter lanjut usia ini. Dokter Marlos sudah sangat akrab dengan keluarga mereka, itu sebabnya ia berani menggoda Dirga yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri.


"Nona Monaliza sakit yang baik, semua wanita yang sudah menikah tentu ingin seperti dirinya sekarang ini," kata dokter Marlos penuh eka-teki.


"Selamat! Nona Monaliza positif," kata dokter Marlos tiba-tiba dengan wajah berseri-seri memandang kearah Monaliza yang masih berbaring diatas sofa dihadapannya tanpa memberi tanggapan yang berarti atas perkataan dokter Marlos padanya.


"Maksud Dokter apa? Saya tidak mengerti," ucap Dirga dengan wajah penuh tanda tanya. Ia menatap sekilas pada Monaliza yang masih berbaring lemas tanpa menunjukan ekspresi apapun, lalu kembali memperhatikan wajah dokter Marlos yang masih belum mengubah senyum santainya.


"Monaliza hamil?!" Dirga tersentak dengan volume suara yang cukup kencang, membuat dokter Marlos ikut terkejut melihat ekspresi Dirga yang berlebihan dan tanpa sadar berdiri dari duduknya.


Dokter Marlos mengelus dadanya sendiri, menetralkan rasa debaran jantungnya yang ingin melompat keluar dari tubuhnya. Sementara Monaliza yang hampir memejamkan matanya karena rasa lemas dan lelah setelah memuntahkan semua isi perutnya ikut terkejut dan menatap aneh pada bos-nya itu.


"Pak Dirga seperti suaminya nona Monaliza saja," kata dokter Marlos yang baru bisa menenangkan dirinya dari keterkejutannya. Bukan tanpa alasan ia berkata demikian, mata Dirga yang berbinar, menunjukan ekspresi bahagia bak seorang suami ditengah keterkejutannya membuat sang dokter merasa ganjil melihat sikapnya.


"Iya nona Monaliza sedang mengandung," imbuh dokter Marlos menjawab pertanyaan Dirga kemudian. Sementara Dirga berdiri terpaku tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya.

__ADS_1


"Untuk lebih memastikan, silahkan nona Monaliza bersama suami memeriksakan langaung kedokter kandungan," kata dokter Marlos memandang pada Monaliza yang terdiam membisu.


"Dan jangan terlalu banyak melakukan aktifitas yang berat ya Nona, juga jangan terlalu stres. Asupan gizi-nya juga harus cukup," ungkap dokter Marlos memberi wejangan.


Monaliza masih terdiam, ia merasa bingung harus bereaksi seperti apa. Haruskah ia senang? Padahal dirinya belum memiliki suami.


Dia juga merasa malu pada Dirga, CEO-nya itu, pasti bos-nya itu memikirkan bahwa dirinya benar-benar wanita murahan seperti yang pernah diungkapnya dirumah sakit waktu itu. Hamil diluar nikah, sungguh situasi yang sangat tidak diinginkan, dan hal yang sangat memalukan.


Monaliza memang tidak terlalu terkejut dengan kehamilannya, karena sudah mengetahuinya saat ia melakukan test pack dikamar mandinya tadi pagi, itulah yang membuatnya gelisah sepanjang pagi itu, ditambah sekarang, Dirga-pun sudah mengetahuinya lewat pemeriksaan dokter keluarganya, entah mau ditaruh dimana wajahnya. Monaliza membekap wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha menyembunyikan semua rasa malunya.


Dokter Marlos masih mengembangkan senyumnya, ia mengerti ekspresi wanita hamil, ada yang terlihat bahagia berlebihan sambil berjingkrak-jingkrak saat mengetahui kehamilannya, ada yang bahagia dengan senyum-senyum sendiri, ada juga yang bahagia malu-malu seperti yang dilakukan Minaliza sekarang, semuanya itu sudah banyak yang ia alami sepanjang pengalamannya menjadi dokter hingga di usia senjanya ini.


"Baiklah, saya sepertinya harus buru-buru pergi, karena hari ini ada dinas dirumah sakit," ucap dokter Marlos hendak berpamitan, ia berdiri dari duduknya dan mengangkat box medisnya.


"Terima kasih Dokter atas bantuannya pagi ini," ucap Dirga, ia mengantarkan dokter keluarganya itu kepintu ruang kerjanya.


"Sama-sama pak Dirga. Jangan lupa memberitahukan kabar gembira ini pada suaminya," ucap dokter Marlos mengingatkan. Wajah Dirga merona, pasalnya ia tahu dengan pasti bila Monaliza belum menikah. Satu-satunya ayah sang janin yang dikandung oleh Monaliza adalah dirinya. Iya itu dirinya, batin Dirga percaya diri.


"Pak Dirga, cepatlah menikah." Kembali dokter Marlos mengodanya.


"Mengetahui pegawai Anda hamil saja, wajah Anda sudah bersemu merah seperti itu, apalagi bila itu benar-benar isteri Anda yang dinyatakan hamil darah daging Anda pak Dirga," imbuh Dokter Dirga sambil memperhatikan wajah Dirga.


"Menikah itu sangat menyenangkan pak Dirga, jangan menundanya terlalu lama. Setelah menikah, Anda pasti menyesal, kenapa tidak sedari dulu melakukannya," kekeh dokter Marlos terus menggoda, membuat wajah Dirga semakin merona merah.

__ADS_1


"Baiklah, saya pamit dulu pak Dirga, jangan lupa apa yang saya katakan tadi," kata dokter Marlos mengkahiri ucapannya dan berlalu pergi dengan senyum tetap mengembang diwajahnya.


Dirga tersenyum seorang diri menatap kepergian dokter keluarganya itu. Perkataan dokter Marlos sangat membekas dihatinya, sejujurnya itu yang memang akan ia lakukan selanjutnya, menikah. Ya, menikah dengan Monaliza yang sudah mengandung darah dagingnya.


__ADS_2