
"Mona, kau semakin cantik saja Sayang setelah memiliki Arseano," puji ibu Han, lalu menempelkan pipi kiri dan kanannya pada pipi Monaliza secara bergantian. Wanita paruh baya itu serasa melihat putrinya yang telah tiada kembali hidup dalam diri Monaliza.karena kemiripannya bagai pinang dibelah dua.
"Ah, Mama bisa saja, Monaliza nampak malu menerima pujian dari ibu Han yang sudah menganggap dirinya seperti anaknya sendiri. Ibu Han dan suaminya, begitu pula kedua orang tua Dirga dan ibu Bianka ikut tersenyum melihat interaksi keduanya.
"Sini, ikut dengan nenek, Sayang," ibu Han mengulurkan tangannya pada Arseano, ia nampak gemas melihat bayi sehat dan gembul itu begitu anteng dalam gendongan ibunya.
Monaliza lalu memberikan Arseano pada ibu Han, dan bayi itu hanya bisa tergelak ketika mendapat ciuman beŕtubi-tubi dari ibu Han yang tengah menggendongnya.
"Sayang, tuan Kenny datang." Dirga menghampiri Monaliza dengan membawa Kenny dan isterinya yang sedang menggendong bayi perempuan mereka yang bernama Keyra.
Monaliza bergegas mendekati Nadine, keduanya saling cipika dan cipiki seperti biasanya.
"Aku senang kak Nadine dan kak Kenny datang," ucap Monaliza mengulas senyumnya.
"Keyra begitu cantik dan sehat," Monaliza menyentuh pipi gembil Keyra dengan gemas lalu menciumnya lembut. Bayi itu tidak kalah gendutnya dari Arseano.
Sementara itu Kenny sedang menyalami satu persatu para orang tua dari Monaliza dan Dirga.
"Leon mana Kak?" tanya Monaliza, setelah cukup lama mengobrol dengan Nadine. Ia nampak mencari keberadaan mantan kekasihnya itu.
"Leon, dia tidak bisa datang. Mendadak ada urusan bisnis keluar kota," sahut Kenny mewakili, bertepatan dengan dirinya yang baru selesai bersalaman dengan para tuan rumah dengan obrolan singkatnya.
"Sayang sekali, padahal aku mau berterima kasih padanya kalau dia kemari. Saat dirumah sakit, aku tidak sempat bertemu dengannya," ucap Monaliza dengan pandangan sedikit kosong.
Ia kembali teringat saat Leon di bawa pergi oleh polisi ketika berada di rumah sakit, padahal itu bukan kesalahannya, laki-laki itu hanya membawa Arseano dengan niat untuk mengembalikannya padanya sebagai bentuk kemanusiaan.
"Leon memberikan hadiah ini untuk Arseano," Kenny mengambil paper bag besar yang sebelumnya ia letakan dilantai sebelum bersalaman dan memberikannya pada Monaliza.
Monaliza tidak langsung menyambutnya, ia sangat kenal pada sampul kado yang terlihat dari mulut paper bag yang terbuka.
"Hadiah itu--, apa itu yang pernah aku titipkan pada kak Kenny untuk dikembalikan pada Leon?" tànya Monaliza merasa yakin bila itu adalah hadiah yang sama, yang pernah Leon berikan padanya beberapa bulan yang lalu setelah ia dan Dirga menikah.
Mendengar percakapan Monaliza dan Kenny, kedua orang tuan Dirga, ibu Bianka, pak Han dan ibu Han saling berpandangan satu sama lain penuh tanya.
__ADS_1
"'Iya Mona, itu hadiah yang sama." sahut Kenny menatap wajah Monaliza.
"Tapi Kak, aku tidak bisa menerimanya, dan bukankah aku sudah mengembalikannya lewat kak Kenny?" Monaliza kembali bersikukuh pada pendirian awalnya.
Pemberian Leon itu terlalu mahal, dan ia tidak bisa menerima hadiah serupa itu dari pria yang bukan suaminya, apalagi Leon adalah mantan kekasihnya. Ia sudah bertekad menjaga perasaan Dirga yang kini menjadi suami, dan ayah dan anaknya.
"Boleh ibu tahu, hadiah apa yang nak Leon berikan, hingga Monaliza menolaknya, dan kini nak Leon tetap bersikukuh memberikannya lagi pada Arseano?" ibu Bianka mendekati Kenny.
Kenny terlihat ragu dan serba salah, ia melihat kearah Monaliza yang juga berdiam diri, tidak berani memberi respon apapun dihadapan Dirga dan para orang tua itu.
"Buka saja Sayang," ucap Nadine memberi ide pada Kenny, setelah sekian lama.terjadi keheningan diantara mereka. "Mereka semua juga orang tua Monaliza." imbuhnya lagi.
"Sebentar ya Bu," ucap Kenny. Walau awalnya nampak ragu, ia akhirnya tetap membukanya. Setelah menanti sekian detik, kado itu pun berhasil dibuka.
Dirga dan Monaliza dapat melihat Kenny mengeluarkan amplop dan kotak berlian yang sama waktu itu dan memberikannya pada ibu Bianka.
"Ini--, ini surat kepemilikan penthouse?" kaget ibu Bianka, setelah membaca dengan teliti isi dari berkas yang ia keluarkan dari dalam amplop. Tangannya nampak gemetar memegang apa yang ada ditangannya.
"Iya Bu," sahut Kenny mengiyakan.
"Maaf bu Bianka, saya hanya menyampaikan amanat dari Leon. Tidak ada maksud khusus atau semacamnya, Leon memberikannya tulus sebagai teman."
"Karena Monaliza pernah menolaknya, jadi hadiah-hadiah ini Leon berikan pada Arseano saja. Leon sudah tidak menganggap Monaliza kekasihnya lagi. Dan ini murni hadiah untuk Arseano, mohon diterima," terang Kenny dengan raut memohon. Berharap kali ini Monaliza maupun keluarganya tidak menolak hadiah dari Leon.
Keheningan kembali terjadi.
"Sebaiknya kau menerimanya saja Monaliza," pak Han yang semenjak tadi hanya menyimak kini ikut bersuara.
"Tapi Pa--" Monaliza kembali ingin memberi alasan, namun pak Han segera memotongnya.
"Apa karena hadiah itu terlalu mahal? Atau kau tidak mau hati Dirga terusik atau tersinggung? Dan kau berusaha menjaga perasaannya hingga tidak mau menerima hadiah itu?" berondong pak Han, Monaliza terdiam, apa yang dikatakan ayah mendiang Megan itu memang benar.
"Bukankah tuan Kenny sudah mengatakan, bila tuan Leon sudah tidak menganggapmu kekasihnya lagi, tapi hanya teman. Tidak baik menolak hadiah seorang teman untuk putramu, apalagi orang itu dengan tulus memberikannya, Monaliza," ucap pak Han lagi. Ia menatap Dirga dan Monaliza secara bergantian. Berharap sepasang suami isteri itu tidak membuat kecewa orang yang telah memberikan hadiahnya dengan tulus.
__ADS_1
Dirga dan Monaliza saling berpandangan sesaat. Setelah beberapa detik berlalu, Dirga meraih tangan Monaliza lalu menganggukan kepalanya, memberi isyarat supaya isterinya itu tidak ragu lagi menerima hadiah dari Leon untuk putra mereka Arseano.
Kenny dan Nadine seketika tersenyum. "Terima kasih Mona, Pak Dirga. Leon pasti senang sekali karena hadiahnya akhirnya diterima." ucap Kenny senang sembari bermafas lega.
Pak Hardi Surya menatap Kenny dan Nadine yang terlihat sangat bahagia setelah hadiah pemberian Leon itu diterima oleh Monaliza dan Dirga. Jujur saja, dalam benaknya ia merasa heran, kenapa Leon begitu kekeuh memberikan hadiah semahal itu pada menantunya, yang merupakan mantan kekasihnya.
Kenapa ia tidak memberikannya pada orang tuanya? Kenny saudaranya? Atau isterinya? Mungkinkah ada alasan yang terlalu sensitif dibalik pemberian itu? "Heuh, hanya tuan Leon saja yang tau apa alasannya," desah ayah Dirga membatin.
Sementara itu, Leon tengah menatap bangunan rumah megah milik Dirga dan Monaliza, hadiah pemberian dari pak Han dan ibu Hana, orang tua mendiang Megan, tunangan Dirga yang telah tiada karena kecelakaan maut saat dirinya akan berangkat ke Jepang untuk mengejar cita-citanya sebagai seorang violinist.
"Semoga saja kau tidak menolak hadiahku itu lagi Mona, karena aku benar-benar tulus memberikannya pada putramu." gumam Leon seorang diri, dari dalam mobilnya yang terpakir diseberang jalan.
"Terlalu banyak kesalahan yang Mommy buat padamu dan putramu Arseano, Mona. Semoga kau mau memaafkan Mommy."
"Dan aku bukan pria yang baik, tidak bisa menjagamu saat kau menjadi kekasihku."
"Aku tahu, hadiah itu tidak sepadan dengan apa yang pernah Mommy dan aku lakukan."
"Sebenarnya, aku berharap kau yang berada disisiku hingga maut menjemput. Tapi aku ikhlas bila kau bahagia bersama pak Dirga."
"Aku akan tetap hidup dengan baik, walau bukan dirimu yang menjadi pasangan hidupku. Percayalah."
Setelah bermonolog seorang diri didalam mobilnya. Leon lalu menjalankan mobilnya perlahan dan pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan kebahagian yang tengah dirasakan Monaliza dan keluarga besarnya bersama para undangannya.
...🔅TAMAT🔅...
Cinta itu indah, dan terkadang juga menyakitkan. Dan hidup ini tidak berwarna tanpa cinta.
Monaliza bahagia bersama suami dan putranya. Leon?
Leon juga bahagia karena ikhlas menerima kenyataan. Bahkan mampu memberi hadiahnya dengan tulus pada wanita yang paling ia cintai.
Author mungkin tidak akan sanggup bila berada diposisi Leon. Heum...
__ADS_1
Salam dan kasih dari Author.
Dewi Payang.