CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
57. Pembelaan


__ADS_3

"M-Maafkan aku kak Nadine," Monaliza terlihat gugup menerima tatapan penuh tanya Nadine. Ia mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Aku-, tidak bisa mempertahankan hubunganku dengan Leon lagi kak," Monaliza menatap sayu kearah Nadine yang tengah menatapnya tak percaya setelah mendengar ucapannya itu. Ia tahu antara Monaliza dan Leon, keduanya sama-sama saling mencintai.


"Kenapa Mona, apa karena pria yang sedang berbicara dengan Keny ditaman depan itu?" duga Nadine seraya mempertajam pendengaran dan tatapannya pada Monaliza yang berdiri dihadapannya.


"Iya," sahut Monaliza setelah berhasil menelan salivanya dengan susah payah, dirinya tidak tahu harus menjawab apa selain pengakuan singkatnya.


Monaliza sekilas melihat jari-jemari Leon mulai bergerak -gerak sedikit demi sedikit. Ingin rasanya ia menghampiri dan memberi semangat pada laki-laki yang selama ini sangat perduli padanya itu, namun ia menahan dirinya. Dengan segenap kemampuannya, Monaliza berusaha tidak bergeming pada kondisi Leon yang kini telah berstatus sebagai mantan kekasihnya itu.


"Aku tidak menduga bila kau bisa mengkhianti Leon Mona, kau tahu cintanya sangat besar padamu, bahkan ia berani menentang Mama demi dirimu," ucap Nadine dengan nada sedih bercampur kecewa.


"Maafkan aku kak, aku terpaksa memiilih jalan ini. Aku dan Leon tidak mungkin bersatu setelah apa yang dikatakan nyonya Gamsonrich semalam," lirih Monaliza, ia menatap sejenak wajah Nadine lalu menundukkan wajahnya. Secara tidak sengaja ia melihat air mata Leon mengalir diujung sudut kelopak matanya dan membasahi pelipisnya, namun matanya masih setia terpejam.


Ceklek! Braakkk!


Monaliza dan Nadine spontan menoleh kearah pintu yang dibuka dengan kasar dan sengaja dihempaskan menabrak dinding ruang rawat Leon.


"Mama?" gumam Nadine terkejut.


"Nyonya?" Monaliza tidak Kalah terkejut, ia segera menepikan dirinya dan menempelkan punggungnya pada dinding ruangan ketika melihat siapa yang membanting pintu.


Dengan perasaan gugup Monaliza yang tidak menyangka akan bertemu ibu Leon ditempat ini tetap berusaha tenang, walau dalam hatinya ia merasa sangat takut bila wanita paruh baya itu akan berlaku kasar padanya.

__ADS_1


"Kau memang perempuan murahan, jadi aku tidak heran kalau kau mampu mengkhianati putraku. Perempuan serupa dirimu tentu berusaha mencari pria-pria kaya untuk mengangkat derajatmu dan melepaskan dirimu dari kemiskinanmu.yang hina itu!" Tuding nyonya Gamsonrich sambil mendekati Monaliza.


"Dan untuk apa kau kemari?! Gara-gara dirimu, putraku mengalami kecelakaan ini! Andai aaja dia tidak mengantarkanmu pulang tadi malam, Leon tidak mungkin mengalami ini semua!" sentaknya lagi dengan perasaan marah tidak terbendung. Keberadaan Monaliza diruangan itu sungguh menyulut emosinya yang memang sejak awal tidak menyukai kedekatan Monaliza dengan putranya.


"Enyahlah dari sini! Jangan pernah menemui putraku lagi, perempuan pembawa sial!" usir nyonya Gamsonrich. Ia lalu mencekal pergelangan tangan Monaliza dan menyeretnya dengan paksa. Nadine yang melihatnya spontan berusaha menolong Monaliza dari kekasaran sang ibu mertuanya.


"Ma, tolong Ma. Jangan perlakukan Monaliza seperti ini, kasihan dia." mohon Nadine pada mertuanya, sambil memegang lengan mertuanya.


"Kau tidak perlu berbelas kasihan pada perempuan seperti ini Nadine. Perempuan tidak berkelas dan tidak tahu malu ini memang harus diperlakukan seperti ini supaya dirinya sadar kalau dia tidak pantas ada dalam keluarga kita yang terhornat!" ucap nyonya Gamsonrich ketus sambil terus menyeret dan mendorong dengan kasar tubuh Monaliza kearah pintu.


Monaliza yang didorong dengan sekuat tenaga oleh nyonya Gamsonrich lalu jatuh terjerembab diambang pintu masuk bertepatan dengan Dirga dan Keny yang tiba disana ketika mendengar keributan diruang rawat Leon.


"Mama?! Mama tega sekali mendorong Monaliza, dia sedang mengandung! Bagaimana kalau dia keguguran?!" kata Keny setengah berteriak menatap kesal pada ibunya yang menurutnya sudah bertindak sangat keterlaluan pada Monaliza.


"Baguslah kalau keguguran! Bukankah dia mengandung anak haram! Dasar perempuan murahan!" Maki nyonya Gamsonrich tanpa mampu mengendalikan lidahnya bila itu berhubungan dengan diri Monaliza.


"Dari dulu, Mama sudah tahu, bahwa kau dan Nadine yang selalu memberi dukungan pada Leon adikmu, sehingga mereka menjalin hubungan diam-diam dibelakang Mama," kata nyonya Gamsonrich marah pada putra sulungnya itu.


"Sekarang kau lihat hasil perbuatanmu Keny, adikmu sedang kritis disini. Andai saja dia tidak berhubungan dangan perempuan sial ini, ia tidak akan bernasib buruk semalam," lanjut nyonya Gamsonrich menyalahkan Monaliza.


"Sudah cukup Nyonya, jangan teruskan lagi. Anak yang dikandung Monaliza bukan anak haram, saya ayahnya!" tegas Dirga menyela ucapan ibu Leon.


"Bukan Monaliza yang menyebabkan nasib buruk anak Anda, tapi dirinya sendiri," ucap Dirga dengan nada dinginnya, telinganya begitu panas mendengar celaan demi celaan yang dilontarkan oleh nyonya Gamsonrich pada calon isterinya itu.

__ADS_1


Mendengar penuturan mengejutkan dari Dirga, Nyonya Gamsonrich segera mengalihkan pandangannya dari Keny putra sulungnya pada Dirga yang sedang merangkul pundak Monaliza disisinya setelah berhasil membantu gadis itu berdiri.


"Pak Dirga Surya, putra keluarga Surya-, pemilik Surya Otomotif-, ternyata menjadi salah satu korban perempuan miskin dan murahan ini juga," ketus nyonya Gamsonrich sinis dengan tatapan mengejek.


"Saya bukanlah korban Monaliza, tapi Monaliza-lah yang menjadi korban saya dimalam pesta ulang tahun pernikahan Anda Nyonya," sahut Dirga menatap datar wanita kaya raya yang bertabiat sombong itu.


"Saya heran, bagaimana mungkin Monaliza yang menjadi kekasih tuan Leon pada saat itu bisa mengalami kemalangan di Pesta mewah dan meriah keluarga Anda malam itu, bahkan dihotel milik keluarga Anda. Saya merasa ada unsur kesengajaan dari peristiwa naas itu," tutur Dirga datar.


"Apa maksud Anda Pak Dirga? Saya merasa tersudut pada perkataan Anda," ucap nyonya Gamsonrich tidak suka.


"Orang sekelas Anda, dan memiliki kekuasaan yang cukup diakui dinegeri ini, tidak mungkin memberi celah setiitkpun pada tindakan kejahatan pada siapapun yang menjadi undangan di pesta Anda Nyonya, apalagi itu calon menantu keluarga terhormat Anda," timpal Dirga lagi.


"Dengan mudahnya para pelaku kejahatan itu melakukan segala kejahatannya dipesta Anda sampai hendak memperkosa kekasih tuan Leon dikamar hotelnya. Saya ingin tertawa, tapi sayangnya itu bukan lelucon, sungguh peristiwa yang dibuat seperti kebetulaan," sindiran yang dilancarkan Dirga membuat wajah nyonya Gamsonrich memerah, menahan rasa malu dan kesal yang teramat sangat.


"Beraninya Anda berbicara seperti itu pada saya pak Dirga. Apakah Anda tidak merasa takut? Karena saya bisa melakukan apapun pada Anda detik ini juga," geram nyonya Gamsonrich menahan emosinya.


"Tenyata sifat tuan Leon menurun dari Anda Nyonya, suka mengancam." kembali Dirga melontarkan ucapan pedasnya.


"Bila sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kandungan Monaliza, saya tidak akan segan-segan menuntut Anda Nyonya," kata Dirga balas mengancam.


"Ayo, kita pergi dari sini," bagi Dirga sudah cukup apa yang telah ia utarakan pada wanita paruh baya itu. Ia lalu menarik pergelangan tangan Monaliza untuk meninggalkan ruangan itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2