CINTA SANG RESEPSIONIS

CINTA SANG RESEPSIONIS
24. Peringatan Keras


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Monaliza dan suster Norlita yang masih menemaninya saling berpandangan satu sama lain, saat mendengar suara ketukan pintu. Karena jam besuk juga sudah berlalu.


"Permisi nona, saya buka dulu pintunya," ijin suster Norlita.


"Mungkin saja itu adalah pak Surya dan ibu Surya yang kembali lagi," imbuh suster Norlita sambil beranjak pergi menuju pintu yang masih terdengar suara ketukan.


"Iya sus," sahut Monaliza sambil mengangguk pelan dengan posisi berbaring diranjang pasiennya.


"Nona?!" Suster Norlita nampak terkejut, saat mengetahui siapa yang datang, ia membungkuk hormat pada wanita muda dihadapannya.


"Beri saya jalan untuk masuk," Ucap wanita itu dingin pada suster Norlita yang berdiri diambang pintu, setelah pintu ruang rawat inap itu terbuka.


"Maaf nona, sebenarnya pasien belum bisa menerima tamu-," Suster Norlita berusaha memberi penjelasan dengan sopan, namun ucapannya segera diputus oleh wanita muda dihadapannya itu.


"Heuh! Menyingkirlah, aku tidak perlu ijin darimu," ucap wanita muda itu angkuh dengan wajah datarnya , sambil memasang kembali kacamata gelapnya yang sempat ia buka ketika suster Norlita baru membuka pintu.


"Tapi nona-," suster Norlita masih berusaha menghalangi dengan hormat.


"Pengawal! Urus suster itu," perintahnya pada dua bodyguard yang berdiri dibelakangnya sambil berlalu masuk.


Monaliza yang mendengar suara keributan diluar kamar ruang rawat inapnya, berusaha duduk sambil menatap kearah pintu.


Setelah suara keributan itu, Monaliza mendengar suara langkah sepasang sepatu yang semakin mendekat kearahnya, tatapannya semakin ia pertajam kearah datangnya suara.


"Siapa anda nona?" tanya Monaliza saat seorang wanita muda berpakaian rapi, elegan, dengan menjinjing tas tangan branded-nya muncul didepannya. wanita itu terlihat asing baginya, apa lagi sepasang matanya ditutupi kacamata gelapnya. Monaliza berusaha keras untuk mengingat wanita yang terlihat angkuh itu, mungkin saja ia pernah mengenalinya.


"Hmm, ruang inap ini lumayan mahal juga," ucap wanita itu tanpa menjawab pertanyaan Monaliza, ia menyisir seluruh isi ruangan itu dengan sekejap pandangannya.


"Dasar perempuan binal, kau menggunakan kemolekanmu menjerat pria kaya itu, sehingga ia rela membayar mahal perawatanmu disini," tuding wanita itu sambil mengarahkan pandangannya pada Monaliza yang terus menatapnya bingung.


"Siapa anda nona, tanpa aturan masuk ketempat ini, dan mengata-ngatai saya hal-hal yang tidak saya lakukan," sergah Monaliza penuh tekanan walau suaranya masih terdengar lemah.

__ADS_1


"Kau, perempuan yang tidak penting! Untuk apa aku memperkenalkan diriku pada perempuan sepertimu," sahutnya tajam.


"Tentu saja saya penting bagi anda nona, bila tidak, anda tidak akan meluangkan waktu untuk menemui saya malam-malam begini, diwaktu para pasien yang seharusnya sudah beristirahat," ucap Monaliza berusaha membuat tamu asingnya itu membuka jati dirinya.


"Agghh!" pekik Monaliza menahan rasa sakit pada rambutnya yang sedang ditarik hingga wajahnya mendongak keatas.


"Tidak sopan! Berani kau berkata tidak hormat padaku? Kau tahu, aku sanggup melakukan apapun padamu wanita miskin," geram wanita itu, ia masih belum melepaskan jambakan tangannya pada rambut Monaliza.


"Lepaskan tanganmu nona, kau pengecut!" Bentak Monliza, ia tidak mau terlihat lemah didepan wanita asing yang sama sekali tidak dikenalnya itu.


Plakk!


Tamparan keras bersarang dipipi Monaliza, hingga membuat wajahnya berpaling. Rasa perih akibat tanparan itu tidak membuatnya mengusap pipinya, Monaliza berusaha terlihat tegar, ia tidak membiarkan satu orangpun menindasnya seperti ini.


"Tarik kata-katamu itu perempuan miskin!" ujar wanita itu yang terlihat bertambah geram melihat perlawanan Monalizha padanya.


"Anda memang pengecut nona, berani pada seorang pasien yang tidak berdaya. Dan bersembunyi dibalik kacamatamu itu," Monaliza masih memberanikan diri untuk melawan.


"Dasar perempuan binal! Ku peringatkan padamu, jauhi Leon!" ancam wanita itu garang.


"Aku mampu melakukan hal yang lebih buruk lagi, dari apa yang telah menimpamu sekarang, hingga kau masuk kerumah sakit ini." imbuhnya lagi sambil berlalu pergi.


Degg!


"Apakah yang terjadi pada diriku malam itu ada hubungannya dengan wanita muda itu?" Monaliza berfikir didalam hatinya.


"Lalu apa hubungannya dengan Leon?" Monaliza masih membantin, ia menatap punggung wanita itu yang pergi meninggalkannya begitu saja.


"Nona Monaliza, apakah anda baik-baik saja?" tanya suster Norlita dengan wajah khawatir. Ia segera menghambur masuk dengan tergopoh-gopoh setelah para pria besar dan kuat itu melepaskannya dari sanderaan nereka.


"Aku baik-baik saja suster, bisa minta tolong diambilkan air hangat, saya ingin mengompres pipi saya ini," pinta Monaliza. Suster Norlita sempat memperhatikan sejenak pipi Monaliza yang terlihat berwarna merah kebiruan. Setelahnya ia segera mengambil apa yang diminta Monaliza padanya.


"Ini nona, ijinkan saya membantu anda," ucap suster Norlita, ia meletakkan mangkuk air hangat diatas nakas dekat ranjang pasien Monaliza.

__ADS_1


"Baik suster, pelan-pelan saja," Monaliza melepaskan tangannya yang menyentuh pipinya yang membengkak.


Suster Norlita mulai melakukan tugasnya dengan hati- hati, supaya sentuhannya tidak menyakiti Monaliza.


"Apakah sakit nona?" tanya suster Norlita sambil menyentuhkan kain kompres pada pipi Monaliza.


"Sedikit," ucap Monaliza dengan wajah meringis, menahan rasa perih dan sakit dipipinya.


"Siapa wanita yang masuk kemari tadi suster Norlita?" tanya Monaliza, sementara sang suster masih menekan-nekan pipinya dengan kain kompres.


"Apa nona Monaliza tidak mengenalnya?" suster Norlita nampak heran sambil mengernyitkan wajahnya.


"Iya suster, aku tidak mengenalnya. Tolong katakan, siapa wanita itu? Dari cara ia berpakaian, ia sepertinya bukan orang biasa," ucap Monaliza sambil mengingat penampilan wanita yang telah menemuinya.


"Itu, itu-," wajah suster Norlita terlihat gugup, ia nampak ragu menjawab pertanyaan Monaliza padanya.


"Tolong katakan padaku suster Norlita, aku tidak akan memberitahukan siapapun bahwa engkau yang mengatakannya padaku," ucap Monaliza sambil memegang pundak suster Norlita yang terlihat semakin gugup mendengar permintaannya.


"Nona janji?" tegas suster Norlita menatap wajah Monaliza.


"Hmm, saya janji suster," sahut Monaliza meyakinkan.


"Nona Nadya, putri tunggal tuan dan nyonya Wirelles Nongka, pemilik rumah sakit ini, dimana nona dirawat." jelas suster Norlita.


"Kalau nona Monaliza tidak mengenalnya, lalu apa yang membuat nona Nadya kemari? Lalu memukul nona seperti ini?" Suster Norlita nampak berfikir tentang insiden yang terjadi pada Monaliza.


"Entahlah suster, saya juga tidak mengerti. Saya sama sekali tidak pernah bertemu dengan nona Nadya sebelumnya, apalagi sampai mengenal dan membuat masalahnya dengannya," Monaliza ikut berfikir pula.


"Tapi-," Monaliza menatap lekat wajah suster Norlita yang masih terus mengompres pipinya.


"Tapi apa nona?" tanya suster Norlita sambil terus melakukan pekerjaannya.


"Nona Nadya sempat menyebutkan nama Leon padaku, ia menyuruhku untuk menjauhi pria itu," sahut Monaliza.

__ADS_1


"Leon? Leon siapa yang nona maksud?" tanya Suster Norlita , ia menghentikan kegiatannya dari mengompres pipi Monaliza saat mendengar nama yang tidak asing ditelinganya.


"Entahlah suster, saya juga tidak tahu. Nona Nadya hanya mengatakan seperti itu saja," sahut Monaliza sambil mengangkat kedua bahunya.


__ADS_2