
Selesai makan siang pak Han dan isterinya mengajak mereka kembali mengobrol ditaman samping yang nampak asri menghijau ditemani teh panas dan beberapa camilan.
Monaliza memperhatikan seorang pria paruh baya dikejauhan tengah sibuk memotong ranting-ranting bonsai kuning membentuk dua burung bangau dengan paruh yang saling bertautan.
"Dirga, Monaliza, kami sengaja mengundang, kalian berdua, bahkan kita semua untuk makan siang bersama dirumah ini. Kita patut bersyukur, upacara pernikahan kalian dapat berjalan dengan lancar kemarin, "ucap pak Han membuka obrolan dengan senyum hangatnya.
"Sebelum pertemuan ini dilakukan, Papa-Mama sudah berdiskusi dengan kedua orang tuamu Dirga, juga dengan ibumu Monaliza, tentang apa yang akan Papa sampaikan," kata pak Han lagi sambil menatap Dirga dan Monaliza yang tengah memperhatikannya berbicara.
"Waktu mendiang Megan masih hidup, ia meminta pada kami membangun rumah ini untuknya. Supaya setelah menikah denganmu Dirga, ia bisa tinggal disini bersamamu," jelas pak Han lagi dengan senyuman. Tentu saja semua orang tahu, bila didalam hatinya, ia masih menyimpan kesedihan atas meninggalnya putrinya itu, karena saat itu dirinya sempat jatuh sakit beberapa hari lamanya.
"Semuanya sudah tinggal kenangan. Megan putri tunggal kami, dia sudah tenang disana. Dan kami tidak punya siapa-siapa lagi untuk mewariskan rumah ini."
"Semenjak selesainya rumah ini beberapa bulan yang lalu, kami meminta mang Rido dan isterinya yang merawat rumah ini."
"Dirga, Monaliza, rumah ini Papa-Mama berikan buat hadiah pernikahan kalian berdua. Papa harap kalian mau menerimanya," ungkapnya pada kedua pengantin baru itu.
Dirga dan Monaliza saling berpandangan sesaat, ada keterkejutan diwajah keduanya, khususnya Dirga, ia tidak menduga, bila pak Han dan isterinya akan memberikan rumah mewah itu pada dirinya dan juga Monaliza.
"Maaf Pa, Ma. Dirga tidak bisa menerimanya," kata Dirga berusaha menolak. Walaupun mereka masih memiliki hubungan yang baik hingga sekarang, tapi dirinya sudah tidak memiliki ikatan lagi karena Megan sudah tiada.
"Dirga, ini hadiah. Jadi, kau tidak punya alasan menolaknya. Walau kau tidak jadi menjadi menantu kami karena mendiang Megan sudah tiada, tapi Mama, dan juga Papa sudah menganggapmu seperti putra kami sendiri," kata ibu Han ikut berbicara.
"Apalagi sekarang, Monaliza isterimu," ibu Han menjedah ucapannya, ia menatap kearah Monaliza yang tengah menunduk duduk disamping ibu Bianka ibunya, "dia sangat mirip dengan mendiang Megan. Sehingga kami merasa, bila Megan hidup kembali," tuturnya dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Semua yang mendengar penuturan ibu Han turut terharu, termasuk ibu Bianka, ia mengusap punggung Monaliza lembut, merasa betapa beruntungnya putrinya itu dikelilingi orang-orang baik seperti Keluarga Han, Dirga, dan kedua orang tuanya.
"Monaliza, kau ingatkan, bagaimana cara memanggil kami? Bukan Tuan dan Nyonya," kata ibu Han bertanya pada Monaliza yang masih menundukan wajahnya.
"I-iya Nyo-, Ma-ma, Mona ingat," sahut Monaliza mengangkat wajahnya dengan gugup hingga kedua belahan pipinya terlihat bersemu merah. Semua yang melihat kecanggungan Monaliza langsung menampilkan senyum mereka diwajahnya masing-masing.
"Mulai hari ini, kau dan Dirga langsung tinggal disini saja, apalagi kakimu masih bengkak Mona, jadi tidak boleh banyak bergerak dulu ya, takut bertambah sakit. Biar Dirga saja yang mengurus keperluanmu sementara waktu," saran ibu Han sambil memperhatikan kaki Monaliza yang memang masih membengkak.
"Mona, terserah Pak Dirga saja Nyo-, Ma-ma. kata Monaliza masih terdengar gugup.
"Kok pak Dirga panggilnya nak Mona? Putra Mama ini kan sudah jadi suamimu. Dirumah, dia bukan bos-mu, jadi kau harus mengubah panggilanmu itu saat dirumah. Supaya kalian bisa semakin dekat," kata ibu Surya pada menantunya, dari sikap keduanya, sangat terlihat bila pengantin baru itu sama-sama canggung satu dengan lainnya.
__ADS_1
"Ibu mertuamu benar Mona, kau memang harus mengubah panggilanmu pada suamimu," ucap ibu Han ikut berucap, "Contohnya saja Mama memanggil suami Mama dengan sebutan Papa. Selain terdengar akrab, juga membuat hubungan kalian akan semakin romantis dan harmonis. Tidak kaku seperti sekarang ini," kata ibu Han menasehati.
"I-iya Ma," sahut Monaliza seraya melirik kearah Dirga dengan ekor matanya tanpa mengubah posisi wajahnya. Ternyata Dirga yang diliriknya sedang memandang kearahnya membuat Monaliza salah tingkah sehingga kembali mengundang senyum lebar para orang tua mereka yang turut memperhatikan tingkah pengantin baru itu.
"Baiklah, karena kedua pengantin barunya pasti masih lelah karena pesta pernikahan mereka kemarin, kita semua akan berpamitan dulu, nanti kapan-kapan kita bisa main kesini lagi," kata ibu Han sambil berdiri dan menggamit lengan suaminya.
"Iya, Ibu Han benar. Kita juga mau ikutan pamit, sudah terlalu siang," ujar ibu Han turut berdiri diikuti yang lainnya.
Prokk! Prokk!
Pria paruh baya yang tengah sibuk merapikan taman itu segera datang dengan langkah tergopoh-gopoh mendengar suara tepukan tangan dari ibu Han memanggilnya.
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" Kata pria itu membungkuk sopan.
"Mang Rido, perkenalkan, ini den Dirga, dan ini non Monaliza. Mereka majikan baru kalian yang akan tinggal disini mulai hari ini," kata ibu Han menunjuk pada Dirga dan Monaliza.
"Iya Bu," sahut mang Rido.
"Nanti, tolong antarkan mereka kekamarnya. Dan ajak pula den Dirga melihat-lihat keseluruhan rumah ini," tambah ibu Han lagi.
"Baik Bu," setelah berkata demikian, mang Rido segera meninggalkan tempat itu untuk memanggil isterinya.
"Pak Han, Ibu Han, sekali lagi terima kasih banyak, karena sudah memberikan hadiah yang nilainya terlampau besar ini pada Dirga dan Monaliza. Kami tidak bisa membalas kebaikan Bapak dan Ibu Han yang sangat besar ini," kata pak Surya pada sepasang suami isteri yang hampir menjadi besan mereka itu, sambil berjalan kehalaman depan rumah itu dimana mobil mereka terparkir.
"Ah, jangan bicara begitu pak Surya, kita sudah seperti keluarga. Putramu Dirga, sudah kami anggap seperti putra kami sendiri, begitu pula menantumu, juga menantu kami," katanya seraya menepuk pundak pak Surya pelan sambil tersenyum.
"Saya dan Monaliza juga mengucapkan banyak terima kasih untuk rumah baru yang dihadiah Papa dan Mama ini pada kami," kata Dirga pula.
"Sama-sama Dirga," sahut pak Han sambil menepuk-nepuk punggung Dirga dan tersenyum hangat.
"Kau masih bisa berjalan Mona?" tanya ibu Surya yang melihat Monaliza turut mengantar mereka pulang walau jalannya sedikit terpincang-pincang.
"Masih Ma," sahut Monaliza sambil tersenyum.
"Bu, Ibu dan adik-adik tinggal dirumah ini saja bersama kami. Supaya Monaliza ada temannya saat saya berangkat berkerja," kata Dirga pada ibu mertuanya yang tidak banyak bicara itu.
__ADS_1
"Iya Bu, Dirga benar," kata ibu Han turut mendukung.
"Terima kasih untuk tawarannya nak Dirga dan ibu Han. Ibu tidak terbiasa tinggal dirumah sebesar ini, selain itu, ibu ingin Monaliza dan nak Dirga belajar mandiri dalam membangun rumah tangga barunya," tolak ibu Bianka halus.
"Kak Mona!!" teriak para adik Monaliza dengan lidah cadelnya menghambur memeluk tubuhnya, mengalihkan perhatian para orang dewasa disana.
"Wah, adik-adik kakak yang pintar. Dari mana saja? Kakak tidak melihat kalian semenjak kakak tiba disini," kata Monaliza berjongkok, untuk menyamai tinggi tiga adik perempuannya yang masih balita.
"Diajak keliling sambil main dengan Bibi Nia," sahut Mimaya, adik Monaliza yang belum genap lima tahun, menunjuk seorang wanita yang membawa mereka.
Monaliza menoleh, ia memberi senyuman pada bibi Nia, isteri dari mang Rido itu, "terima kasih ya Bi," katanya.
"Iya Non, sama-sama," sahut bibi Nia ramah.
"Ayo sayang, berpamitan dulu gih sama kak Mona dan kak Dirga, kita udah mau pulang sekarang, nanti keburu sore," kata ibu Bianka pada ketiga putrinya yang masih bergelayut manja pada Monalisa.
Ketiga balita itu menurut, mulai dari yang cukup besar mencium pungung tangan Monaliza hingga si kecil mungil Rachelia yang baru berumur dua tahun. Juga Rony tidak lupa ikut berpamitan.
"Ayo, pamit pada kak Dirga juga," kata i bu Bianka pada tiga putrinya. Sontak ketiganya menggeleng serentak, membuat semua orang saling berpandangan sesaat lalu kembali menatap tiga putri mungil itu.
"Kenapa? Kok gak mau berpamitan dengan kak Dirga-nya?" tanya ibu Surya lembut sambil berjongkok didekat ketiga balita itu.
"Takut!" sahut mereka serentak membuat semua orang disana kembali berpandangan. Dirga yang menjadi topik pembicaraan hanya menatap datar tiga bocah itu tanpa tersinggung sedikitpun.
"Takut? Kenapa harus takut?" tanya ibu Surya dan menunjukan senyum manisnya pada tiga bocah itu.
"Tidak ada senyuman seperti kak Leon!" sahut mereka lantang. Kontan saja membuat semua terdiam saat nama mantan kekasih Monaliza itu disebut hingga suasana berubah canggung.
"Dirga, ayo mendekat. Kau sebentar lagi akan memiliki anak bersama Monaliza, jadi mulailah berlatih dengan adik-adik iparmu ini. Ayo, tersenyumlah," perintah ibu Surya pada putranya cepat, supaya suasana canggung itu kembali mereda.
"Halo adik-adik imut," sapa Dirga mendekat, ia berjongkok, wajahnya dipaksa untuk tersenyum, hingga bibirnya membentuk garis lurus yang tidak sedap dipandang mata.
Ketiga bocah mungil itu langsung menghindar, memundurkan tubuh mereka hingga beberapa langkah kebelakang, membuat sekalian yang ada disana sontak tertawa geli.
"Lihat, gadis-gadis balita saja tidak mau kau dekati Dirga. Bersyukur Monaliza mau menikah denganmu. Belajar senyum ya," ujar ibu Surya didalam tawanya melihat apa yang dilakukan tiga adik Monaliza pada Dirga putranya.
__ADS_1
Bersambung...👉