
"Monaliza, turun!" perintah Dirga dengan memasang wajah datar, dingin, dan suramnya, pada Monaliza yang sudah lebih dulu duduk didalam mobil miliknya, tepat disebelah kemudi.
"Tidak mau!" balas Monaliza mengeraskan suaranya. Dirga tersentak, tidak pernah ia mendengar Monaliza membantah, apa lagi berbicara serupa yang ia dengan barusan. Wanita itu biasanya hanya menurut, tanpa bertanya tapi hari ini, Monaliza begitu kukuh pada keinginannya untuk ikut kekantor.
Pagi ini, Dirga benar-benar dibuat pusing. Monaliza memaksa untuk berangkat berkerja, padahal dirinya sudah dikeluarkan oleh Dirga secara sepihak sebagai owner peusahaan.
"Monaliza, ayo turun, kau dirumah saja," bujuk Dirga dengan nada melembut.
Monaliza menggeleng kuat, "Saya bosan terkurung didalam rumah Pak, saya mau berkerja," ucapnya lagi.
"Iya, tapi kan--," Dirga berhenti sejenak," kau sudah bukan pegawai diperusahaanku lagi, aku sudah memecatmu,"kata Dirga dengan suara memelan.
Monaliza menoleh kearah Dirga yang sudah duduk dibelakang kemudi disebelahnya, saat tatapan mereka saling bertemu, Monaliza cepat-cepat mengalihkan pandangannya pada kaca mobil didepannya.
"Apa salah saya Pak?" Monaliza menatap lurus kedepan dengan perasaan sedih.
"Tidak ada. Aku hanya tidak ingin punya pegawai sepertimu," ucapnya tenang.
Monaliza menoleh lagi, dan tatapan mereka kembali bertemu. Kali ini dirinya menguatkan hatinya untuk memberanikan diri tetap menatap pria yang sewenang-wenang berstatus sebagai suaminya itu.
"Pak Dirga pemimpin yang egois! Kaku! Dingin! Tidak menyenangkan! Kenapa ada manusia seperti Pak Dirga dibumi ini?" ucap Monaliza ketus dengan tatapan menajam dan nampak berkaca-kaca memendam rasa kesal didadanya menghadapi tingkah suaminya selama mereka menikah.
"Hmff" Napas Dirga tertahan, menatap mulut isterinya yang hari ini mengata-ngatai dirinya dengan lidah tidak bertulangnya itu.
"Bukankah Pak Dirga adalah bos-nya? Jadi, kembalikan lagi saya pada posisi pekerjaan itu!" lanjut Monaliza masih dengan mode ketusnya.
"Hmff" kembali Dirga terkaget, tidak menyangka isterinya ternyata menyimpan sikap tidak terduga seperti itu, galak.
"Baiklah, kita berangkat sekarang," ucap Dirga cepat. Ia tidak mau memperpanjang masalah lagi, lebih tepatnya, dirinya belum siap melihat hal lebih dari itu dari isterinya yang mungkin masih menyimpan banyak kejutan akan sifat aslinya.
...***...
__ADS_1
"Mama? Kenapa pagi-pagi ada disini?" tanya Leon yang baru selesai mandi dan menghampiri ibunya dimeja makan.
"Apa tidak boleh? Mama merindukanmu Leon," Kata nyonya Gamsonrich seraya berdiri memeluk putra bungsunya itu.
Leon terpaku, ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada ibunya, entah itu apa? Sudah lama dirinya tidak merasakan pelukan ibunya semenjak dirinya sering bertengkar dengan sang ibu karena masalah Monaliza.
"Hari ini kau tampan sekali, dan sangat rapi. Mau kemana?" tanya nyonya Gamsonrich setelah melepaskan pelukannya. Ia memperhatikan penampilan putranya yang memang terlihat sangat rapi dan wangi, tidak seperti dua malam yang lalu, kusut, berantakan dan bau.
"Ke suatu tempat, ada sesuatu yang akan ku urus Ma," sahut Leon lalu menggandeng tangan ibunya untuk duduk dimeja makan. Itulah yang disukai ibunya, sesering apapun ia bertengkar dengan putranya, Leon akan segera melupakannya dan kembali bersikap hangat padanya.
"Urusan apa itu?" tanya nyonya Gamsonrich penasaran.
"Rahasia," sahut Leon, seraya menyodorkan roti panggang yang telah ia olesi dengan susu coklat kesukaan ibunya.
Mendengar sahutan putranya, nyonya Gamsonrich langsung tertawa kecil. Ia teringat, itu adalah kata-kata andalan Leon sejak dirinya batita. Percuma saja memaksanya untuk bicara, dia tidak akan membongkarnya sebelum dirinya sendiri yang berniat mengatakannya.
"Leon, apakah kau pernah bertemu Monaliza lagi?" tanya nyonya Gamsonrich hati-hati sambil menatap putranya.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Leon yang sedang menelan kunyahan rotinya langsung tersedak, wajahnya memerah merasakan sakit pada tenggorokannya.
"Maafkan Mama Leon," lirih nyonya Gamsonrich.
"Tidak apa-apa Ma, aku hanya tersedak saja. Itu hal yang biasa bila kita sedang makan sambil berbicara," sahut Leon, ia meraih gelas jusnya, lalu meneguknya kembali hingga habis.
"Ma, Leon berangkat dulu. Nanti kita lanjutkan lagi mengobrolnya, Leon buru-buru, ada janji," Leon mendekati ibunya, mencium pipi kiri dan kanan wanita yang telah melahirkannya itu. Ia sengaja menghindar dari obrolan tentang Monaliza, selama ini dirinya sudah berusaha keras untuk melupakan cinta yang tak dapat diraihnya itu.
"Baiklah, hati-hati dijalan," ucap nyonya Gamsonrich melepas kepergian putranya itu. Ia menatap nanar punggung Leon yang pergi menjauh, dan menghilang dibalik pintu apartemennya.
"Putraku masih menyukai perempuan miskin itu," gumam nyonya Gamsonrich lirih, "maafkan Mama Leon, sudah memilih isteri yang salah untukmu," batinnya sambil menyeka bulir air matanya yang hampir terjatuh kepipinya yang masih terlihat kencang.
"Mama berjanji akan mendaptkan apa yang kau inginkan," gumamnya lagi dididalam hati.
__ADS_1
...***...
Firans yang berjalan tepat dibelakang Dirga dan Monaliza tersenyum geli, saat mendengar panggilan Monaliza pada Dirga tidak ada bedanya saat isterinya itu masih menjadi pegawai Dirga. Lebih-lebih saat keduanya berpisah didepan meja resepsionis, sama sekali terlihat bukan pasangan suami isteri.
"Tidak biasanya kau membawa isterimu kemari setelah menikah, bukankah kau selalu mengurungnya takut dilihat orang? Sampai-sampai memberhentikannya tanpa memberitahukan padanya," ledek Firans.
"Terpaksa," sahut Dirga datar seraya masuk kedalam lift.
"Kok terpaksa?" susul Firans dibelakang Dirga, lalu berdiri bersebelahan dengan bos-nya itu.
"Mulut wanita hamil itu ternyata sangat mengerikan," sahut Dirga dengan ekspresi tidak biasa.
"Mengerikan? Mengerikan bagaimana?" Firan nampak kepo.
"Dia katakan kalau aku adalah bos yang egois! Kaku! Dingin! Tidak menyenangkan! Dan kenapa harus ada manusia sepertiku dibumi ini," ucap Dirga mengikuti gayya bahasa Monaliza saat berbicara seperti itu padanya.
Firans langsung terbahak, membuat Dirga sangat tidak suka melihatnya.
"Mendengar tawa puasmu itu seolah kau juga sedang memendam rasa yang sama seperti isteriku yang sedang hamil itu," ucap Dirga masih tidak senang. Bukannya berhenti, Firans malah semakin terbahak, perkataan Dirga itu memang benar untuk dirinya.
Ting! Tong!
Dirga bergegas keluar dari dalam lift tanpa memperdulikan Firans yang terus-terusan mentertawai apa yang telah ia katakan.
Sementara Firans berjalan pelan dibelakang Dirga, sambil memegang perutnya yang sedikit terasa sakit karena mentertawai bos-nya yang terlihat lucu hari ini.
"Sudah puas mentertawaiku?" tanya Dirga datar tanpa melihat kewajah Firans yang memasuki ruangannya.
"Sangat puas, itu mewakili isi hatiku." kata Firans yang sudah menghentikan tawanya. Hanya tersisa senyum geli yang belum bisa ia enyahkan mengingat gaya Dirga mengikuti cara berbicara isterinya.
"Apa maksudmu?" Dirga mengalihkan pandangannya dari berkas yang ada dimejanya
__ADS_1
"Apa kau tidak sadar Dirga, semua yang dikatakan Monaliza itu benar. Bagaimana isterimu itu bisa mencintaimu kalau semua yang dikatakannya itu masih melekat pada dirimu?" ucap Firans berubah serius.
Bersambung...👉